Margomulyo Gelar Pembinaan Kalurahan Siaga Bencana

Kalurahan Margomulyo menggelar Pembinaan Kalurahan Siaga Bencana pada Rabu (18/12/2024). Kegiatan dihadiri oleh Panewu Seyegan, Pamong Kalurahan, anggota Kampung Siaga Bencana ( KSB), anggota Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltana), Relawan, BPKal, LPMKal dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman sebagai Narasumber.
Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyanto dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya kepada anggota KSB, Kaltana dan Relawan yang selama ini telah berpartisipasi dalam pencegahan dan penanganan tanggap bencana. Khusus kepada KSB yang pembentukannya difasilitasi oleh Dinas Sosial dan telah melaksanakan kegiatan penyaluran Bansos di wilayah Margomulyo serta telah dilakukan Monev tiga bulanan terhadap pelaksanaan kegiatannya.
“Mohon pengarahan dan pembinaan dari Dinas terkait sehingga keberadaan KSB bisa dirasakan dan lebih bermanfaat bagi masyarakat khususnya di Margomulyo,” harap Eko mengakhiri sambutannya.
Samino, Panewu Seyegan dalam pengarahannya menyampaikan bahwa Kalurahan Siaga Bencana merupakan kegiatan lintas sektoral dan Margomulyo telah dapat menjaga komitmennya untuk selalu meng-upgrade untuk tugas tugas kerelawanan.
Samino mengingatkan KSB untuk dapat bersinergi dalam kerangka edukasi dan mitigasi bencana kepada masyarakat. Hal ini termasuk tugas relawan untuk mengeliminir resiko bencana dengan memfasilitasi masyarakat untuk merespon dan bertindak sehingga tingkat keparahan dapat diminimalisir.
“Mengurangi dampak dan resiko lebih diutamakan dalam menghadapi bencana dengan penanganan jangka pendek dan jangka panjang,” ungkap Samino diakhir pengarahannya.
St. Haenry Dharma Widjaja, SH, M. PD, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sleman yang bertindak selaku Narasumber, membuka pembinaannya dengan menyampaikan tentang Definisi Desa atau Kalurahan Tangguh Bencana menurut Perka BNPB No. 1 tahun 2012.
“Kata kunci dari definisi tersebut terletak pada kemampuan mandiri Kalurahan dalam menghadapi potensi bencana dan memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan”, jelas Haenry.
Selanjutnya dijelaskan juga oleh Haenry tentang 16 prinsip Kaltana, mulai dari Bencana adalah urusan bersama sampai dengan penyelenggara tanggap bersama oleh lintas sektor.
Adapun strategi pengembangan Kaltana dimulai dari pelibatan masyarakat, pemanfaatan sumberdaya lokal, keberlanjutan, dukungan Pemerintah, peningkatan pengetahuan dan kesadaran, pengurangan kerentanan dan peningkatan Kapasitas. Khusus untuk pengembangan kapasitas Kaltana dapat dilakukan dengan pelatihan untuk pemerintah Kalurahan, Relawan dan warga masyarakat.
Dibagian akhir, disampaikan oleh Haenry tentang penyelenggaraan Penanggulangan bencana yang meliputi peta dan analisa resiko, peta jalur evakuasi dan tempat pengungsian serta sistem peringatan Dini.
Kegiatan pembinaan ditutup dengan forum tanya jawab dengan peserta. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



