Perlunya Pelatihan Budidaya Ayam Kampung Unggul Balitbangtan bagi Generasi Muda

Sleman – Generasi muda perlu mempersiapkan masa depan dari sekarang dan harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dunia. Saat ini teknologi membuat percepatan perubahan dunia dalam aspek kehidupan. Hal tersebut disampaikan Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama dihadapan 25 anggota Karang Taruna Wira Muda dalam pelatihan beternak ayam Kampung Unggul Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang berlangsung di Instalasi Penerapan dan Pengujian Standar Instrumen Pertanian (IP2SIP), Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (31/12/2024).

Untuk mendapatkan ilmu pengembangbiakan ayam kampung pedaging dan petelur unggul tersebut, puluhan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Wira Muda Banyuraden menimba ilmu peternakan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) yang diberikan oleh drh. Anastasia Sischa Jati Utami selaku Medik Veteriner Ahli Muda Instalasi Penerapan dan Pengujian Standar Instrumen Pertanian.

“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan beternak ayam kampung unggul dan membuka peluang usaha mandiri bagi para pemuda,” tutur Hendy saat memberikan sambutannya.

Pihaknya berharap pelatihan ini dapat dijadikan dorongan bagi generasi muda menatap masa depan. Dipilihnya ayam KUB karena merupakan ayam kampung asli inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dari hasil seleksi selama enam generasi. Selain itu, ayam jenis ini dapat digunakan sebagai induk untuk penyediaan ayam umur sehari atau bibit ayam maupun untuk memenuhi kebutuhan daging dan telur ayam kampung di masyarakat.

Dalam pelatihan, peserta mendapatkan teori dasar tentang karakteristik ayam KUB, teknik perawatan kandang, dan pengelolaan pakan yang efektif yang diuraikan oleh drh. Sischa. Dilanjutkan simulasi pengendalian penyakit pada ayam untuk memastikan keberhasilan usaha peternakan yang berkelanjutan.

Ia pun menyebutkan bahwa ayam varietas ini dikhususkan untuk meningkatkan produktivitas ayam lokal dengan berbagai keunggulan, antara lain memiliki tingkat produksi telur yang lebih baik dibanding ayam kampung biasa yaitu mencapai sekitar 160–180 butir per tahun, lebih tahan terhadap penyakit yang sering menyerang unggas, sehingga lebih cocok untuk peternakan skala kecil dan menengah, dan memiliki kemampuan mengubah pakan menjadi energi lebih efisien, sehingga lebih hemat dalam biaya operasional peternakan.

“Masa panen untuk ayam KUB pedaging lebih cepat dibanding ayam kampung biasa, sehingga cocok untuk memenuhi kebutuhan pasar ayam potong,” imbuh drh. Sischa.

Selain teori, peserta pelatihan diajak praktik langsung, mulai dari persiapan kandang, pemberian pakan alternatif, hingga cara memonitor kesehatan ayam. Metode ini dirancang agar peserta memiliki pemahaman komprehensif dan siap memulai usaha ternak ayam KUB usai mengikuti pelatihan.

Pelatihan ini juga mengedepankan aspek pemasaran untuk mendorong keberhasilan para peternak. Pemateri juga menerangkan strategi menjual ayam KUB, baik untuk pasar lokal maupun melalui platform digital. Hal ini bertujuan meningkatkan jangkauan dan nilai tambah produk peternakan.

Jajaran Pemerintah Kalurahan Banyuraden berharap, pelatihan ternak ayam KUB ini dapat menjadi langkah awal bagi Karang Taruna Wira mandiri untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi lokal. Upaya ini selaras dengan visi pemerintahannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis pemberdayaan pemuda.

“Dengan bimbingan dari para ahli, kami yakin bisa memulai usaha ternak yang berdaya saing. Kami juga akan membentuk kelompok usaha untuk mengelola ini secara kolektif,” cetus Hendy. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Takmir Masjid Al Ikhlas Tegalrejo Gelar Pengajian, Ajak Jamaah Perbaiki Ibadah di Bulan Rajab

Sleman – Menyambut datangnya bulan Rajab dan tahun baru Masehi, takmir Masjid Al Ikhlas Tegalrejo Tapanrejo mengadakan pengajian Isra Mikraj Nabi Muhhammad SAW, bersama ustadz Muhhammad Harowi dari Kanoman Boyolali, dengan diiringi Hadroh Ass-Siffa. Pengajian berlangsung di halaman masjid Al Ikhlas Tapanrejo, Tajem, Maguwoharjo, Depok Sleman, pada Rabu (1/1/2025) pukul WIB.

Pengajian diawali lantunan ayat suci Ak Quran oleh Aqila dan Firda. Hadir dalam pengajian Mbah Wanto anggota DPRD kabupaten Sleman, ketua dan pengurus takmir Masjid Al Ikhlas beserta masyarakat Tegalrejo dan Tapanrejo.

Ketua Takmir Masjid Al Ikhlas Tapanrejo, Saptoyuari mengucapkan slamat datang kepada tamu undangan dan jamaah Masjid Al Ikhlas Tapanrejo.

“Semoga pengajian ini memberi banyak manfaat bagi jamaah masjid Al Ikhlas Tapanrejo, sebagai modal untuk menyambut bulan Ramadhan,” ucap Saptoyuari.

Anggota DPRD Sleman dari komisi D merasa bangga atas terselenggaranya pengajian malam hari ini. Karena keagamaan merupakan salah satu ruang lingkup komisi D DPRD Sleman Bidang Kesehatan Rakyat.

” Semoga program komisi D bisa disinergikan dengan kebutuhan masyarakat, untuk kesejahteraan masyarakat kabupaten Sleman,” kata Mbah Wanto.

Sementara, Ustaz Muhammad Harowi selaku pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Hidratul Anwar Kanoman Boyolali menyampaikan bahwa bulan Rajab merupakan bulan mulia milik Allah, bulan Sya’ban/ Ruwah merupakan bulan milik Nabi, sementara bulan Ramadhan diperuntukkan bagi umat nabi Muhammad.

Maka menurut tuntunan Islam, bulan Rajab merupakan bulan menanam benih ibadah kebaikan, memperbaiki ibadah, memperbanyak silaturahmi, tidak bermusuhan dan saling memaafkan. Adapun doa yang ketika menjumpai bulan Rajab adalah Allahumma barik lana fi Rajaba wasya’bana wabalighna ramadhana, yang artinya ‘Ya Allah berkailah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadhan’.

“Pada bulan Rajab menanam benih ibadah kebaikan, pada bulan Sya’ban memupuk dan merawat ibadah dan akan menuai hasil amal kebaikan pada bulan Ramadhan dengan mendapatkan pahala berlipat lipat,” ucap Ustaz Harowi.

Merajuk hadist riwayat Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa ibadah yang disukai Allah adalah salat tepat waktu, berbakti kepada kedua orang tua dan jihad di jalan Allah. Untuk jihad sendiri, pengertian jihat tidak semata-mata mengangkat sejata.

“Jihat yang disesuaikan dengan kondisi saat ini adalah dengan ikut pengajian bisa menambah ilmu dan meningkatkan kualitas ibadah,” kata Ustaz Harowi.

Ia pun menjelaskan bahwa bulan Rajab tanggal 27 merupakan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, salah satunya menerima perintah salat lima waktu. Sholat merupakan ibadah pokok, dan saat masa pembalasan nanti, amal yang pertama dihisab adalah salat.

Menurut Iman Ghozali bahwa salat yang khusuk itu sangat sulit dilakukan, namun upaya memperbaiki salat harus dilakukan dengan tuma’minah. Ketika sujud dalam salat kepala berada pada posisi terendah karena kepala yang terdapat mulut, hidung, mata, telinga adalah pangkal dari semua dosa.

“Saat di lakukan hisab nanti ketika salatnya baik maka baiklah semua amalnya. Namun ketika saat dihisab salatnya jelek maka jeleklah semua amal,” tandas Ustaz Harowi. (Kusnadi / KIM Berbah)




Budhi dan Pinky Mengajarkan Nilai Positif kepada Anak Secara Kreatif dan Menyenangkan

Sleman – Ada sebuah cerita menarik tentang dedikasi seorang ibu dalam menanamkan nilai keislaman dengan cara yang kreatif dan unik dari Padukuhan Susukan, Margokaton, Kapanewon Seyegan.

Adalah Dhian Navitri, ibu dengan tiga orang anak yang aktif dalam persyarikatan Cabang Aisyiyah Seyegan, dan tergabung dalam PPMI (Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia). Perempuan yang akran disapa Bunda Dhian atau Budhi ini menggunakan metode yang unik dalam mengajarkan agama Islam kepada anak-anak, yaitu dengan memanfaatkan boneka yang dapat berbicara dengan suara khas.

Salah satu Wakil Ketua Aisyiyah Seyegan, Gustiasih menuturkan metode pendidikan yang digunakan Bunda Dhian merupakan inovasi yang diterapkan untuk menarik perhatian anak-anak. Metode tersebut selain sebagai media penyaluran pesan, juga menjadi strategi mengalihkan sifat ketergantungan anak terhadap digital.  

“Menanamkan nilai Islam dan kebaikan yang disampaikan dengan menggunakan boneka diberi nama Pinky bisa menjadi pendekatan lain di era digital ini. Bunda Dhian (Budhi) mencoba berinovasi dengan menarik perhatian anak-anak dan orang tua untuk sejenak beralih dari dunia digital dengan cara berdongeng bersama Pinky,” kata Gustiasih, Rabu (2/1/2025).

Kecintaannya pada agama Islam dan keinginannya menyebarkan nilai-nilai kebaikan mendorong Budhi mengenalkan boneka Pinky di Taman Pendidikan Al-qur’an (TPA) di Padukuhan Susukan. Dengan penuh semangat, anak-anak mendengarkan setiap ucapan dan cerita yang disampaikan oleh Budhi dan Pinky.

Pinky yang selalu menemani Budhi, berhasil mencuri perhatian banyak orang tua dan anak-anak dengan kisah-kisah Islami yang penuh makna. Boneka Pinky dengan rambut merah muda dan senyum cerahnya, menjadi teman setia Budhi dalam setiap sesi mendongeng.

Dengan boneka ini, Budhi berhasil menghidupkan kisah-kisah Nabi, sahabat Rasulullah, serta cerita-cerita dari Al-Qur’an yang sarat dengan nilai moral dan ajaran agama Islam.

“Anak-anak sangat antusias setiap kali melihat Pinky,” ujar Budhi.

“Mereka lebih mudah memahami dan mengingat cerita-cerita Islami ketika disampaikan melalui boneka yang mereka suka,” tandasnya.

Bermula dari dakwah di TPA, kini Budhi mulai diundang di sekolah taman kanak-kanak maupun yayasan yang bergerak di dunia anak-anak di Kabupaten Sleman. Pinky selalu ikut bersamanya. Budhi dan Pinky selalu menceritakan kisah-kisah yang mengajarkan kejujuran, kesabaran, keberanian, dan cinta kepada sesama dengan penuh kasih. (Arief Hartanto / KIM Turi)