Sebagai lembaga yang membawahi masjid-masjid, Dewan Masjid Indonesia (DMI) diharapkan dapat menyatukan berbagai elemen masyarakat melalui program-program yang inklusif, sehingga masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah saja, melainkan juga ruang yang menguatkan kebersamaan umat.
Selain itu, Dewan Masjid Indonesia dapat menjadi media silaturahmi antar masjid yang mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat karena masjid memiliki peran strategis sebagai pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan kebudayaan seperti disampaikan Panewu Gamping, Tamzis Sarwana sesaat sebelum pengukuhan pengurus DMI Gamping, Kabupaten Sleman masa bakti 2025 – 2030 yang berlangsung di Pendhapa Gamping, Sabtu (4/1/2025).
Dengan menjadi media silaturahmi antar masjid, maka DMI dapat mendorong kolaborasi dalam mengelola sumberdaya, seperti berbagi pengetahuan, pengalaman, atau fasilitas untuk mendukung kegiatan keagamaan dan sosial. Sementara itu, upaya merangkul seluruh lapisan masyarakat, termasuk kaum muda, perempuan, dan kelompok marginal, menunjukkan bahwa masjid harus bersifat terbuka dan inklusif sehingga semua orang merasa dilibatkan dan diberdayakan.
“Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat ritual, tetapi juga pendorong transformasi sosial yang menyentuh seluruh kalangan,” ujar Tamzis.
Langkah ini diharapkan dapat menciptakan harmoni sosial, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan memastikan bahwa masjid berfungsi sebagai pusat peradaban yang melayani kebutuhan umat di berbagai aspek kehidupan.
Senada hal tersebut, Ketua Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Sleman, H.M. Masuko Haryono menuturkan pengukuhan ini menjadi awal baru yang diharapkan dapat membawa semangat baru dalam pengelolaan masjid. Dengan semangat dimakmurkan dan memakmurkan masjid, pengurus DMI Gamping bertekad untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang memberdayakan umat secara menyeluruh.
“Dengan dimakmurkan, masjid akan menjadi ruang inklusif yang mampu membangun keimanan dan keilmuan umat,” imbuhnya.
Menurut H. Masuko, tema yang diangkat dalam pengukuhan pengurus DMI Gamping mencerminkan dua dimensi utama dalam pengelolaan masjid. Dimakmurkan berarti menjaga kebersihan, keindahan, dan kenyamanan masjid agar jamaah merasa betah beribadah. Sedangkan memakmurkan berarti menghidupkan kegiatan keagamaan seperti kajian, pengajian, serta kegiatan sosial-ekonomi.
Ia pun berharap kepada pengurus baru yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, pemuda, dan akademisi secara bersama-sama berkomitmen untuk menghidupkan fungsi masjid secara optimal. Bagi pemuda diharapkan mampu menghadirkan program-program inovatif yang tidak hanya bersifat ritualistik tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Lebih lanjut, Eet Susita selaku Ketua DMI Gamping mengatakan kegiatan masjid perlu lebih banyak melibatkan generasi muda karena mereka adalah penerus yang akan menjaga keberlangsungan peran masjid di masa depan. Dengan melibatkan para pemuda, masjid dapat menjadi tempat yang relevan dan menarik bagi mereka untuk belajar, berkontribusi, serta memperkuat nilai-nilai keislaman dan sosial. Keterlibatan ini juga penting untuk membangun kepedulian generasi muda terhadap kehidupan beragama dan sosial di komunitasnya.
Generasi muda memiliki potensi besar dalam membawa ide-ide segar dan kreativitas yang dapat memperkaya program-program masjid. Mereka dapat menginisiasi kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan zaman, seperti program digitalisasi, pelatihan keterampilan, seminar motivasi, hingga aktivitas sosial berbasis teknologi. Keterlibatan ini juga membantu masjid menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas dan dinamis.
Adapun, pelibatan generasi muda dalam kegiatan masjid dapat mencegah mereka dari pengaruh negatif lingkungan, seperti pergaulan bebas atau penggunaan teknologi secara tidak produktif. Dengan aktif di masjid, para pemuda mendapatkan lingkungan yang positif dan mendukung, sehingga dapat tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia dan berkontribusi bagi masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)