Belajar Demokrasi, Sebanyak 192 Pelajar dan 13 Guru SMPN 1 Ngaglik Kunjungi DPRD Kabupaten Sleman

Sleman – DPRD Kabupaten Sleman menerima kunjungan 200 siswa SMPN 1 Ngaglik, pada Kamis (16/1/2025). Pertemuan yang berlangsung di ruang Pendopo DPRD Sleman itu dilakukan dalam rangka penguatan berbagai kompetensi melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Kegiatan itu pun merupakan bagian dari kurikulum merdeka. Di mana P5 menjadi pembelajaran lintas disiplin imu yang mengamati dan mencari solusi mengenai berbagai masalah masalah yang ada di sekitar, salah satu demokrasi.

Untuk itu,

DPRD Sleman dipilih sebagai tempat para siswa SMPN 1 Ngaglik untuk belajar demokrasi, sebagai representasi perwakilan rakyat di Kabupaten Sleman.

Menanggapi hal itu, salah satu anggota DPRD Kabupaten Sleman, Respati Agus Sasangka mengatakan, kunjungan tersebut merupakan sebuah kegiatan positif yang membantu para peserta didik untuk mengetahui secara detai mengenai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) DPRD.

“Kegiatan ini sangat positif, para siswa bisa bertemu langsung dengan anggota dewan dan mengetahui Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) DPRD. Para siswa adalah generasi penerus bangsa. Bukan tidak mungkin ke depan, ketika mereka dewasa, juga menjadi bagian dalam kontestasi pemilihan umum untuk menjadi anggota DPRD atau DPR RI,” tutur Respati

Ia pun menjelaskan bahwa DPRD baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintah daerah. Di mana, kedudukan DPRD dan kepala daerah itu sama, yakni sebagai penyelenggara pemerintah daerah. Konsep ini dikenal juga dengan istilah trias politika.

“DPRD kabupaten/kota memiliki tiga buah fungsi dalam pemerintahan daerah meliputi, fungsi legislasi yakni DPRD kabupaten/kota membuat peraturan daerah bersama-sama bupati/walikota.  Fungsi anggaran adalah membahas dan menyetujui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bersama-sama bupati/walikota,” jelas Respati.

“Sedangkan fungsi pengawasan adalah untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan, peraturan bupati/walikota, keputusan bupati/walikota, dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah,” tandasnya.

Para siswa sangat antusias mengikuti kegiatan diskusi yang berlangsung dengan suasana hangat. Kegiatan itu kemudian dilanjutkan dengan pengenalan lingkungan DPRD Sleman. (Arief Hartanto / Kim Turi)




Harga Cabai di Atas HPP, Sleman Siapkan Langkah Stabilisasi

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya mengatasi tingginya harga cabai saat ini yang berada di atas ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Kementerian Pertanian RI. Hal tersebut merupakan dampak dari perubahan iklim, yang menyebabkan pasokan komoditas cabai di pasar berkurang. 

Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Immawan Nur Syaifuddin Ahmad menuturkan instabilitas harga komoditas cabai dipengaruhi oleh faktor cuaca. Di mana, cuaca ekstrem dan intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan tanaman mati atau mengalami fusarium (penyakit layu pada tanaman).

Immawan menyebut, kondisi ini terjadi di semua daerah yang menjadi sentra cabai di Jawa. Meski begitu, ketersediaan cabai di Kabupaten Sleman per harinya mencapai lebih kurang 1-2 ton.

“Kondisi harga cabai saat ini tinggi di atas ketentuan HPP Kementan, wajar. Karena pasokan cabai di pasar berkurang banyak akibat dari pertanaman cabai dipetani yang rusak atau mati karena hujan dengan intensitas tinggi selama Desember 2024 kemarin,” kata Immawan, Kamis (16/1/2025).

“Cabai kalo di Sleman panen sepanjang tahun. Bulan Desember 2024 – Januari 2025 cuaca ekstrem, hujan deras dan intensitasnya tinggi, banyak pertanaman yang mati kena busuk batang dan fusarium kerusakan mencapai 70%, sehingga produksi atau panen menurun. Namun kecenderungan harga akan turun di bulan depan, sudah ada panenan di sentra cabai Jawa timur,” ungkapnya.

Immawan menjelaskan, di pasaran komoditas cabai rawit dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu ORI dan RM. Cabai rawit ORI merupakan jenis cabai rawit yang berkulit tebal, lebih tahan lama, dan kurang pedas. Sedangkan cabai rawit RM (Gorga) cirinya berkulit tipis, tidak bisa bertahan lama, dan rasanya lebih pedas dibandingkan jenis ORI.

“Kalau OER TAVI itu jenis cabai rawit tahan virus. Di pasaran ini masuk jenis ORI. Kalau ELX jenis cabai merah keriting yang tahan virus,” tuturnya.

Berdasarkan data DP3 Sleman per 15 Januari 2025, harga lelang komoditas cabai rawit merah (RM cabai rawit) sebesar Rp62 ribu per kilo. Kemudian harga ORI cabai rawit mencapai Rp70 ribu per kilo, dan ORI K cabai rawit sebesar Rp62 ribu per kilo.

Selanjutnya, harga OER TAVI cabai rawit mencapai Rp63 ribu per kilo. Sementara, harga ELX cabai merah keriting Rp48 ribu per kilo.

Immawan menegaskan, harga lelang cabai setiap harinya mengalami perubahan. Namun harga tersebut tidak berlangsung lama, sebab trennya akan menurun. Adapun dari segi pemasaran, Perkumpulan Petani Holtikultura Puncak Merapi (PPHPM) memasarkan komoditas cabai ke pasar lokal sebesar 30%, dan 70% diserap oleh pedagang lokal.

Sejauh ini, pemerintah setempat telah mengambil langkah strategis dalam menjaga stabilisasi harga dan ketersediaan cabai di Sleman. Mitigasi yang dilakukan Pemkab Sleman di antaranya melaksanakan gerakan penanaman cabai di pekarangan. Aksi ini digalakkan pada 30 Oktober 2024 lalu, dan proses pemanenan diperkirakan berlangsung pada awal Februari mendatang.

Selain itu, Pemkab Sleman juga mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) dan masyarakat, agar memanfaatkan pekarangan sebagai lahan menanam aneka sayuran, dan komoditas tertentu dengan harga pasaran yang mengalami kenaikan.

Untuk mendukung program tersebut, DP3 Sleman menyediakan sekaligus menyalurkan sejumlah bantuan, berupa bibit atau benih aneka sayuran termasuk benih cabai, polybag, dan pupuk organik. Bantuan itu dapat diakses oleh kelompok masyarakat melalui Bidang Ketahanan Pangan DP3 Kabupaten Sleman.

“Kegiatan ini sudah berjalan beberapa tahun dan untuk saat ini beberapa KWT juga ada yang panen, seperti di KWT Mekar Lestari Kapanewon Gamping,” ungkap Immawan.




Tari Syang Karwa Bentuk Generasi Muda Berpendidikan dan Cinta Seni Budaya Lokal

Sleman – SD Negeri Tegalrejo 1 Yogyakarta kembali menciptakan sebuah tarian untuk membentuk generasi muda Indonesia yang tidak hanya berpendidikan, tetapi juga memiliki semangat cinta terhadap seni dan budaya lokal.

Tarian tersebut diberi nama Tari Syang Karwa, yang merupakan hasil koreografer senior, Umi Krismiati. Seni tari ini ditampilkan hadapan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, beserta puluhan tamu undangan lainya, dalam perayaan HUT ke-74 SD Negeri Tegalrejo 1, yang dilangsungkan di halaman sekolah setempat, Kamis (16/1/12025).

Pertunjukan itu turut disaksikan oleh pengawas sekolah, komite sekolah, guru, para alumni, orang tua murid, dan karyawan.

 Kepala Sekolah SD Negeri Tegalrejo 1, Ni Putu Sri Sutari dalam sambutannya menuturkan bahwa melestarikan seni tradisional menjadi salah satu bagian dari pendidikan karakter.

“Tari Syang Karwa adalah identitas kita. Melalui seni ini, kami ingin menanamkan rasa bangga pada budaya lokal di hati anak-anak didik kami,” ujarnya.

Acara yang berlangsung meriah ini tidak hanya menjadi momen perayaan. Tetapi juga wujud komitmen sekolah dalam melestarikan seni dan budaya lokal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai pendidikan.

Lebih lanjut, salah satu pengampu kegiatan, Yogo Triarso mengatakan bahwa Tari Syang Karwa memiliki arti maju bersama. Sebuah karya inisiatif yang lahir dari kedalaman dan kekayaan budaya nusantara untuk membentuk generasi muda Indonesia yang tidak hanya berpendidikan, tetapi juga memiliki semangat cinta terhadap seni dan budaya lokal.

Menurutnya, tarian ini diangkat menjadi ikon sekolah karena nilai-nilai filosofisnya selaras dengan visi dan misi SD Negeri Tegalrejo 1 dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, berbudi luhur, dan mencintai budaya nusantara.

Dalam pertunjukan kali ini, sebanyak 20 siswa kelas 4 hingga kelas 6 terlibat sebagai penari utama. Mereka telah berlatih selama dua bulan atau sebanyak 11 kali pertemuan dan 1 gladi bersih. Latihan tersebut di bawah bimbingan instruktur tari professional, Umi Krismiati.

Gerakan yang anggun dan dinamis dari para penari berhasil memukau para tamu undangan, serta menciptakan suasana sakral di halaman sekolah yang disulap menjadi panggung seni.

“Dalam prosesnya, anak-anak diajak untuk belajar tentang berbagai seni tradisional, musik, tarian, dan bahasa daerah, serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya,” terang Yogo.

Lewat pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, Tari Syang Karwa menciptakan lingkungan belajar yang memotivasi anak-anak untuk berpartisipasi aktif dan merasa bangga dengan kekayaan budaya Indonesia.

Selain itu, Syang Karwa juga mengajak masyarakat luas, termasuk orang tua, dan guru untuk berperan serta dalam mendukung pendidikan budaya ini. Dengan menciptakan sinergi antara berbagai elemen dapat membangun komunitas yang peduli dan berkomitmen untuk melestarikan dan memajukan budaya Indonesia. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)