Jeojo Volunter Korea Selatan Belajar Penanganan Bencana ke Cangkringan

Sleman – Komunitas relawan Korea Selatan yang tergabung dalam Jeojo Volunter melakukan studi banding di Destana Desa Tangguh Bencana Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Rabu (22/1/2025).
Rombongan berjumlah 40 orang bersama penerjemah diterima di Posko Destana Sor Pelem dusun Bronggang Suruh, oleh Kalakhar bersama tim relawan Destana di antaranya Supriyanto atau akrab dipanggil Ndan Supri Semprit.
Jeojo Volunter sendiri merupakan relawan Korea Selatan yang berasal dari mahasiswa berbagai jurusan dan perguruan tinggi di Korea Selatan, khususnya mereka yang berkiprah dan berkontribusi dibantuan penanganan bencana.
Menurut ketua rombongan, Saitoyo Meinong, pihaknya melakukan studi tiru ke Destana Argomulyo dengan tujuan agar mereka dapat mempelajari strategi penangan bencana di Sleman untuk diterapkan di daerahnya.
”Kami datang dari Korsel ingin tahu tentang Destana dan kerelawanan di sini khususnya lereng Merapi. Bencana di negara kami seperti banjir dan salju, dan kami ingin tahu bagaimana prosedur dan cara penanganan banjir dan sebagainya,“ ungkapnya.
Acara itu pun diisi dengan beberapa sesi, seperti pemaparan materi Destana dan kerelawanan oleh Ketua FPRB dan Ketua TRC Argomulyo. Kemudian penjelasan terkait kebijakan desa dalam penanggulangan bencana, diskusi, dan dilanjutkan dengan kunjungan ke musium terbuka Bakalan.
Salah satu relawan Destana Argomulyo, Supriyanto dalam kesempatan ini menegaskan bahwa peran relawan dalam menghadapi bencana sangatlah penting. Selain itu, relawan juga perlu diimbangi dengan keterampilan dan pengalaman menolong korban bencana.
“Peran relawan dalam penanggulangan bencana, manajemen kerja relawan dan berbagai pengalaman serta perasaan ketika menolong korban bencana serta berbagai program relawan di TRC Argomulyo,” jelasnya.
Erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 lalu menyebabkan dampak besar bagi wilayah Kabupaten Sleman, Klaten, Boyolali, dan Magelang. Sebanyak 275 orang meninggal dunia, ratusan rumah hancur, dan ratusan ribu orang mengungsi.
Kalurahan Argomulyo di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, menjadi daerah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, karena lokasinya yang berjarak 13,7 kilometer dari puncak Merapi dan dilalui Sungai Gendol.
Tragedi ini menyadarkan masyarakat Kalurahan Argomulyo akan pentingnya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana, mengubah sikap mereka dari kurang peduli menjadi lebih aktif dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.
Sejak erupsi tersebut, berbagai pihak seperti pemerintah melalui BPBD/BNPB, sektor swasta, dan lembaga kemanusiaan seperti Human Initiative, turut berkontribusi dalam penguatan kapasitas masyarakat terdampak. (Arief Hartanto / Kim Turi)



