Konsolidasi Ansor Untuk Indonesia Maju, GP Ansor Sleman Dukung Pembangunan Bangsa

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) XVII di Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Yogyakarta, Minggu (5/1/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan kader Ansor dari berbagai wilayah di Kabupaten Sleman, serta tamu undangan dari berbagai kalangan, termasuk para ulama, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintahan. Dengan mengusung tema ‘Konsolidasi Ansor untuk Indonesia Maju’ acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi organisasi dalam mendukung pembangunan bangsa.

Konferensi ini dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menjadi simbol pentingnya nilai-nilai agama dalam setiap langkah perjuangan pemuda. Dalam sambutannya, Koordinator Wilayah VIII Gerakan Pemuda Ansor Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, H.M. Mochammad Hanies Cholil Barro’ menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan di kalangan pemuda untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Menurutnya, konferensi tidak hanya menjadi ajang pemilihan kepengurusan baru, tetapi juga forum konsolidasi kader.

“Konsolidasi ini penting untuk memastikan seluruh potensi kader Ansor dapat berkontribusi maksimal dalam membangun Indonesia yang lebih maju,” tutur Gus Hanies dihadapan ratusan kader Ansor.

Suasana khidmat dan penuh semangat terlihat di wajah para peserta yang siap menyuarakan aspirasi dan harapan mereka demi kemajuan bangsa. Sejumlah agenda strategis dibahas dalam Konfercab XVII ini, termasuk evaluasi program kerja periode sebelumnya, perumusan strategi ke depan, serta penegasan kembali komitmen Ansor terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila. Salah satu isu utama yang diangkat adalah penguatan peran Ansor di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi sebagai wujud nyata kontribusi organisasi bagi masyarakat.

Sesi diskusi pun berlangsung hangat, di mana para peserta aktif bertukar pikiran tentang berbagai isu yang dihadapi oleh generasi muda saat ini. Isu pendidikan, ekonomi, dan lingkungan menjadi topik hangat yang menarik perhatian. Diskusi ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi strategis yang dapat diimplementasikan oleh Ansor dalam menjalankan program-programnya ke depan.

Kegiatan rutin empat tahunan ini juga menjadi ajang silaturahmi antar-kader dan pengurus Gerakan Pemuda Ansor se-Kabupaten Sleman. Para peserta bersepakat bahwa kekompakan dan kebersamaan merupakan kunci utama guna menghadapi tantangan zaman. Selain itu, mereka menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan yang visioner dan berintegritas agar organisasi terus relevan dalam mengawal cita-cita bangsa.

Pada sidang kelima konferensi, terpilih H. Mochammad Najib Yuliantoro sebagai Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman masa khidmat 2025 – 2029.  Dalam pidato pertamanya, Gus Najib menyampaikan visi dan misinya untuk membawa Ansor Sleman lebih maju. Ia berjanji akan melanjutkan program-program strategis yang telah ada dan berinovasi untuk mengatasi tantangan yang demi memperkuat peran Ansor di tengah masyarakat.

“Saya berharap seluruh kader Ansor dapat bekerja bersama demi terwujudnya Indonesia yang lebih maju dan Sejahtera,” tegasnya.

Dirinya pun menekankan pentingnya peran Ansor sebagai garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan. Termasuk harus menjadi kekuatan yang kokoh untuk memperjuangkan kemajuan Indonesia, tanpa melupakan akarnya sebagai penjaga tradisi Islam ahlussunnah wal jamaah.

seluruh peserta menyepakati resolusi konferensi yang berisi komitmen untuk terus mendukung program pemerintah dan menjaga harmoni sosial. Semangat ini diharapkan akan menjadi fondasi kuat bagi Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman dalam mengemban tugasnya sebagai penjaga bangsa dan agama.

Konferensi Cabang XVII ini menjadi bukti bahwa GP Ansor Sleman tidak hanya fokus pada konsolidasi internal saja, tetapi juga pada penguatan perannya di tingkat lokal dan nasional. Dengan tema ‘Konsolidasi Ansor untuk Indonesia Maju’ konferensi ini diharapkan mampu membawa semangat baru bagi organisasi dan anggotanya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Kelompok Ternak Kambing Galih Makmur Makin Berkembang

Moyudan – Kelompok ternak kambing Galih Makmur yang berlokasi di Padukuhan Kedunggalih Gerakan, Sumbersari Moyudan, Sleman terus berkembang. Kelompok ternak tersebut berdiri sejak bulan Juli 2012.

Bariman (67), salah satu pengurus saat ditemui di kandang kelompok Kamis (2/1/2025) menuturkan bahwa pembentukan kelompok ternak berawal dari bantuan Kelompok Usaha Bersama ( Kube) sebesar 20 juta rupiah. Dari bantuan tersebut dibelikan kambing 20 ekor untuk 20 anggotanya.

Untuk menjaga kelestarian kelompok ternak tersebut dilakukan pertemuan rutin setiap malam Minggu Legi.

” Selain pertemuan rutin juga dilakukan Posyandu kambing yang didatangi dari Puskeswan Kapanewon Moyudan setiap 4 bulan sekali,” ungkap Bariman.

Lebih lanjut Ia juga menuturkan bahwa untuk menjaga kesehatan hewan dari Puskeswan juga memberikan bantuan obat-obatan  seperti obat cacing dan vitamin.

Mujiyono ketua Kelompok ternak kambing Galih Makmur menerangkan bahwa pembinaan juga selalu dilakukan oleh PPL Moyudan FX. Naryanto. Selain itu sebagai wujud tanggung jawab bersama demi kelangsungan kelompok ternak tersebut setiap anggota yang menjual terbaknya wajib memberikan dana kepada kelompok sebesar 5 persen dari labanya. Lebih lanjut Muji juga menjelaskan bahwa kelompok ternaknya telah mendapat bantuan dana dari pemerintah sebesar 6 juta rupiah pada tahun 2019 berupa dana pemberdayaan.

“Selanjutnya pada tahun 2023 mendapat bantuan 11 ekor kambing dari Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan ( DP3) Kabupaten Sleman,” tambah Muji.

Dukuh Gesikan Handoko Intan Prasetyo memberikan apresiasi atas eksistensi dari kelompok ternak Galih Makmur, Ia juga berharap agar tetap dikelola dengan baik.

“Saya selaku Dukuh sangat mengapresiasi keberadaan kelompok ternak kambing Galih Makmur, semoga bisa meningkatkan ekonomi dan mewujudkan kesejahteraan keluarga,” ungkapnya. (Giek/KIM Moyudan)




Dimakmurkan dan Memakmurkan Masjid Demi Ciptakan Harmoni Sosial Masyarakat

Sebagai lembaga yang membawahi masjid-masjid, Dewan Masjid Indonesia (DMI) diharapkan dapat menyatukan berbagai elemen masyarakat melalui program-program yang inklusif, sehingga masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah saja, melainkan juga ruang yang menguatkan kebersamaan umat.

Selain itu, Dewan Masjid Indonesia dapat menjadi media silaturahmi antar masjid yang mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat karena masjid memiliki peran strategis sebagai pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan kebudayaan seperti disampaikan Panewu Gamping, Tamzis Sarwana sesaat sebelum pengukuhan pengurus DMI Gamping, Kabupaten Sleman masa bakti 2025 – 2030 yang berlangsung di Pendhapa Gamping, Sabtu (4/1/2025).

Dengan menjadi media silaturahmi antar masjid, maka DMI dapat mendorong kolaborasi dalam mengelola sumberdaya, seperti berbagi pengetahuan, pengalaman, atau fasilitas untuk mendukung kegiatan keagamaan dan sosial. Sementara itu, upaya merangkul seluruh lapisan masyarakat, termasuk kaum muda, perempuan, dan kelompok marginal, menunjukkan bahwa masjid harus bersifat terbuka dan inklusif sehingga semua orang merasa dilibatkan dan diberdayakan.

“Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat ritual, tetapi juga pendorong transformasi sosial yang menyentuh seluruh kalangan,” ujar Tamzis.

Langkah ini diharapkan dapat menciptakan harmoni sosial, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan memastikan bahwa masjid berfungsi sebagai pusat peradaban yang melayani kebutuhan umat di berbagai aspek kehidupan.

Senada hal tersebut, Ketua Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Sleman, H.M. Masuko Haryono menuturkan pengukuhan ini menjadi awal baru yang diharapkan dapat membawa semangat baru dalam pengelolaan masjid. Dengan semangat dimakmurkan dan memakmurkan masjid, pengurus DMI Gamping bertekad untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang memberdayakan umat secara menyeluruh.

“Dengan dimakmurkan, masjid akan menjadi ruang inklusif yang mampu membangun keimanan dan keilmuan umat,” imbuhnya.

Menurut H. Masuko, tema yang diangkat dalam pengukuhan pengurus DMI Gamping mencerminkan dua dimensi utama dalam pengelolaan masjid. Dimakmurkan berarti menjaga kebersihan, keindahan, dan kenyamanan masjid agar jamaah merasa betah beribadah. Sedangkan memakmurkan berarti menghidupkan kegiatan keagamaan seperti kajian, pengajian, serta kegiatan sosial-ekonomi.

Ia pun berharap kepada pengurus baru yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, pemuda, dan akademisi secara bersama-sama berkomitmen untuk menghidupkan fungsi masjid secara optimal. Bagi pemuda diharapkan mampu menghadirkan program-program inovatif yang tidak hanya bersifat ritualistik tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Lebih lanjut, Eet Susita selaku Ketua DMI Gamping mengatakan kegiatan masjid perlu lebih banyak melibatkan generasi muda karena mereka adalah penerus yang akan menjaga keberlangsungan peran masjid di masa depan. Dengan melibatkan para pemuda, masjid dapat menjadi tempat yang relevan dan menarik bagi mereka untuk belajar, berkontribusi, serta memperkuat nilai-nilai keislaman dan sosial. Keterlibatan ini juga penting untuk membangun kepedulian generasi muda terhadap kehidupan beragama dan sosial di komunitasnya.

Generasi muda memiliki potensi besar dalam membawa ide-ide segar dan kreativitas yang dapat memperkaya program-program masjid. Mereka dapat menginisiasi kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan zaman, seperti program digitalisasi, pelatihan keterampilan, seminar motivasi, hingga aktivitas sosial berbasis teknologi. Keterlibatan ini juga membantu masjid menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas dan dinamis.

Adapun, pelibatan generasi muda dalam kegiatan masjid dapat mencegah mereka dari pengaruh negatif lingkungan, seperti pergaulan bebas atau penggunaan teknologi secara tidak produktif. Dengan aktif di masjid, para pemuda mendapatkan lingkungan yang positif dan mendukung, sehingga dapat tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia dan berkontribusi bagi masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Perlunya Pelatihan Budidaya Ayam Kampung Unggul Balitbangtan bagi Generasi Muda

Sleman – Generasi muda perlu mempersiapkan masa depan dari sekarang dan harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dunia. Saat ini teknologi membuat percepatan perubahan dunia dalam aspek kehidupan. Hal tersebut disampaikan Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama dihadapan 25 anggota Karang Taruna Wira Muda dalam pelatihan beternak ayam Kampung Unggul Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang berlangsung di Instalasi Penerapan dan Pengujian Standar Instrumen Pertanian (IP2SIP), Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (31/12/2024).

Untuk mendapatkan ilmu pengembangbiakan ayam kampung pedaging dan petelur unggul tersebut, puluhan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Wira Muda Banyuraden menimba ilmu peternakan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) yang diberikan oleh drh. Anastasia Sischa Jati Utami selaku Medik Veteriner Ahli Muda Instalasi Penerapan dan Pengujian Standar Instrumen Pertanian.

“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan beternak ayam kampung unggul dan membuka peluang usaha mandiri bagi para pemuda,” tutur Hendy saat memberikan sambutannya.

Pihaknya berharap pelatihan ini dapat dijadikan dorongan bagi generasi muda menatap masa depan. Dipilihnya ayam KUB karena merupakan ayam kampung asli inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dari hasil seleksi selama enam generasi. Selain itu, ayam jenis ini dapat digunakan sebagai induk untuk penyediaan ayam umur sehari atau bibit ayam maupun untuk memenuhi kebutuhan daging dan telur ayam kampung di masyarakat.

Dalam pelatihan, peserta mendapatkan teori dasar tentang karakteristik ayam KUB, teknik perawatan kandang, dan pengelolaan pakan yang efektif yang diuraikan oleh drh. Sischa. Dilanjutkan simulasi pengendalian penyakit pada ayam untuk memastikan keberhasilan usaha peternakan yang berkelanjutan.

Ia pun menyebutkan bahwa ayam varietas ini dikhususkan untuk meningkatkan produktivitas ayam lokal dengan berbagai keunggulan, antara lain memiliki tingkat produksi telur yang lebih baik dibanding ayam kampung biasa yaitu mencapai sekitar 160–180 butir per tahun, lebih tahan terhadap penyakit yang sering menyerang unggas, sehingga lebih cocok untuk peternakan skala kecil dan menengah, dan memiliki kemampuan mengubah pakan menjadi energi lebih efisien, sehingga lebih hemat dalam biaya operasional peternakan.

“Masa panen untuk ayam KUB pedaging lebih cepat dibanding ayam kampung biasa, sehingga cocok untuk memenuhi kebutuhan pasar ayam potong,” imbuh drh. Sischa.

Selain teori, peserta pelatihan diajak praktik langsung, mulai dari persiapan kandang, pemberian pakan alternatif, hingga cara memonitor kesehatan ayam. Metode ini dirancang agar peserta memiliki pemahaman komprehensif dan siap memulai usaha ternak ayam KUB usai mengikuti pelatihan.

Pelatihan ini juga mengedepankan aspek pemasaran untuk mendorong keberhasilan para peternak. Pemateri juga menerangkan strategi menjual ayam KUB, baik untuk pasar lokal maupun melalui platform digital. Hal ini bertujuan meningkatkan jangkauan dan nilai tambah produk peternakan.

Jajaran Pemerintah Kalurahan Banyuraden berharap, pelatihan ternak ayam KUB ini dapat menjadi langkah awal bagi Karang Taruna Wira mandiri untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi lokal. Upaya ini selaras dengan visi pemerintahannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis pemberdayaan pemuda.

“Dengan bimbingan dari para ahli, kami yakin bisa memulai usaha ternak yang berdaya saing. Kami juga akan membentuk kelompok usaha untuk mengelola ini secara kolektif,” cetus Hendy. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Takmir Masjid Al Ikhlas Tegalrejo Gelar Pengajian, Ajak Jamaah Perbaiki Ibadah di Bulan Rajab

Sleman – Menyambut datangnya bulan Rajab dan tahun baru Masehi, takmir Masjid Al Ikhlas Tegalrejo Tapanrejo mengadakan pengajian Isra Mikraj Nabi Muhhammad SAW, bersama ustadz Muhhammad Harowi dari Kanoman Boyolali, dengan diiringi Hadroh Ass-Siffa. Pengajian berlangsung di halaman masjid Al Ikhlas Tapanrejo, Tajem, Maguwoharjo, Depok Sleman, pada Rabu (1/1/2025) pukul WIB.

Pengajian diawali lantunan ayat suci Ak Quran oleh Aqila dan Firda. Hadir dalam pengajian Mbah Wanto anggota DPRD kabupaten Sleman, ketua dan pengurus takmir Masjid Al Ikhlas beserta masyarakat Tegalrejo dan Tapanrejo.

Ketua Takmir Masjid Al Ikhlas Tapanrejo, Saptoyuari mengucapkan slamat datang kepada tamu undangan dan jamaah Masjid Al Ikhlas Tapanrejo.

“Semoga pengajian ini memberi banyak manfaat bagi jamaah masjid Al Ikhlas Tapanrejo, sebagai modal untuk menyambut bulan Ramadhan,” ucap Saptoyuari.

Anggota DPRD Sleman dari komisi D merasa bangga atas terselenggaranya pengajian malam hari ini. Karena keagamaan merupakan salah satu ruang lingkup komisi D DPRD Sleman Bidang Kesehatan Rakyat.

” Semoga program komisi D bisa disinergikan dengan kebutuhan masyarakat, untuk kesejahteraan masyarakat kabupaten Sleman,” kata Mbah Wanto.

Sementara, Ustaz Muhammad Harowi selaku pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Hidratul Anwar Kanoman Boyolali menyampaikan bahwa bulan Rajab merupakan bulan mulia milik Allah, bulan Sya’ban/ Ruwah merupakan bulan milik Nabi, sementara bulan Ramadhan diperuntukkan bagi umat nabi Muhammad.

Maka menurut tuntunan Islam, bulan Rajab merupakan bulan menanam benih ibadah kebaikan, memperbaiki ibadah, memperbanyak silaturahmi, tidak bermusuhan dan saling memaafkan. Adapun doa yang ketika menjumpai bulan Rajab adalah Allahumma barik lana fi Rajaba wasya’bana wabalighna ramadhana, yang artinya ‘Ya Allah berkailah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadhan’.

“Pada bulan Rajab menanam benih ibadah kebaikan, pada bulan Sya’ban memupuk dan merawat ibadah dan akan menuai hasil amal kebaikan pada bulan Ramadhan dengan mendapatkan pahala berlipat lipat,” ucap Ustaz Harowi.

Merajuk hadist riwayat Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa ibadah yang disukai Allah adalah salat tepat waktu, berbakti kepada kedua orang tua dan jihad di jalan Allah. Untuk jihad sendiri, pengertian jihat tidak semata-mata mengangkat sejata.

“Jihat yang disesuaikan dengan kondisi saat ini adalah dengan ikut pengajian bisa menambah ilmu dan meningkatkan kualitas ibadah,” kata Ustaz Harowi.

Ia pun menjelaskan bahwa bulan Rajab tanggal 27 merupakan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, salah satunya menerima perintah salat lima waktu. Sholat merupakan ibadah pokok, dan saat masa pembalasan nanti, amal yang pertama dihisab adalah salat.

Menurut Iman Ghozali bahwa salat yang khusuk itu sangat sulit dilakukan, namun upaya memperbaiki salat harus dilakukan dengan tuma’minah. Ketika sujud dalam salat kepala berada pada posisi terendah karena kepala yang terdapat mulut, hidung, mata, telinga adalah pangkal dari semua dosa.

“Saat di lakukan hisab nanti ketika salatnya baik maka baiklah semua amalnya. Namun ketika saat dihisab salatnya jelek maka jeleklah semua amal,” tandas Ustaz Harowi. (Kusnadi / KIM Berbah)