Dinkes Sleman Sosialisasikan KS2TB dan Parijoto Salak Sembada di Kalurahan Condongcatur

Sleman – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyelenggarakan sosialisasi program Keluarga Sehat Tanggap Tangguh Bencana (KS2TB), di ruang Wacana Loka Kompleks Kalurahan Condongcatur, pada Kamis (23/1/2025). Sosialisasi ini menyasar 80 orang kader kesehatan Kalurahan Condongcatur di 40 Posyandu.

 Acara tersebut turut dihadiri PKB dan PLKB Kapanewon Depok, Kamituwa dan Puskesmas Depok ll.

Pada kesempatan itu, perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Agus Triono menjelaskan bahwa KS2TB merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Program ini memiliki beberapa tujuan, di antaranya meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana alam, meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Terakhir, program ini juga ditujukan untuk meningkatkan ketahanan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana dan perubahan lingkungan,” jelas Agus.

Lebih lanjut, Agus mengatakan KS2TB menjadi program dengan strategi memberdayakan dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya kesehatan. Di samping itu, program ini pun mendorong pengembangan keterampilan masyarakat dalam menghadapi bencana dan perubahan lingkungan.

“Strategi dari program ini ialah menggerakkan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan, keselamatan, dan ketahanan. Kemudian membina dan mengembangkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana dan perubahan lingkungan. Terakhir meningkatkan kerja sama dan koordinasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi lainnya dalam menghadapi bencana dan perubahan lingkungan,” ungkapnya.

Tidak hanya program KS2TB, pada kesempatan itu pun program Parijoto Salak Sembada turut didiseminasikan. Secara garis besar, Parijoto Salak Sembada merupakan program dengan Sembilan pilot project kegiatan besar, meliputi Peduli Stunting, Menuju PHBS, Peduli KIA, Siaga Kebakaran Lingkungan, Tanggap Tangguh Bencana Alam, Menuju Keluarga Sehat Berkualitas, Menuju Keuangan Sehat, dan Mewujudkan Keluarga Sehat.

“Dengan begitu, diharapkan kedua program tersebut dapat mewujudkan masyarakat Kabupaten Sleman yang sehat, tanggap, dan tangguh,” tandas Agus. (Tri Suhartati / Kim Depok)




Gerakan Penanaman Bibit Pohon, Menyemai Harapan di Telaga Tritis Gunung Kidul

Sleman – Di tengah pesona Telaga Tritis yang asri di Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, sebuah gerakan positif digalakkan oleh Kamaludin selaku Ketua Komunitas Jaringan Keluarga Tangan Rakyat Untuk Bumi (Jaka Tarub) Sleman yang berada dalam satu atap dengan Komunitas Banyu Bening. Kegiatan penanaman bibit pohon yang berlangsung di Kawasan Telaga Tritis, Rabu (22/1/2025) bukan hanya menjadi upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi simbol gotong royong masyarakat untuk menjaga kekayaan alam yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Telaga Tritis sendiri merupakan sebuah oase di tengah lanskap karst Gunungkidul yang cenderung gersang. Air yang tersimpan di telaga ini menjadi sumber kehidupan bagi penduduk sekitar, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk pertanian. Namun, perubahan iklim dan penggundulan lahan membuat kawasan ini kian terancam. Menyadari hal itu, Kamaludin dengan komunitasnya yang konsentrasi dalam bidang konservasi lahan bersama warga, pemerintah desa, kelompok pecinta alam, serta relawan, memulai langkah kecil dengan menanam bibit pohon di sekitar telaga.

Kegiatan bertajuk konservasi ekologi ini memiliki dua tujuan utama yaitu mencegah erosi dan meningkatkan resapan air di sekitar telaga. Pohon-pohon yang ditanam diharapkan mampu memperkuat struktur tanah dan memperlambat aliran air hujan, sehingga lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah. Dengan begitu, keberadaan Telaga Tritis dapat tetap terjaga, terlebih saat memasuki musim kemarau.

Komunitas Jaka Tarub menyiapkan aneka bibit pohon jenis Ficus siap tanam dengan ketinggian 1 meter lebih. Pemilihan jenis pohon ini dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan lingkungan dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Kegiatan ini direspon sangat baik oleh semua pihak terutama Lurah Ngestirejo, Wahyu Suhendri selaku pengampu wilayah setempat.

Menurutnya, dahulu kala embung atau Telaga Tritis adalah sebuah telaga dengan kondisi air yang bertahan lama bahkan saat musim kemarau. Namun beberapa waktu ini kondisi air telaga sudah berkurang, bahkan setelah terisi air di musim hujan, air tidak dapat bertahan lama karena tanahnya sangat porus.

“Mengeringnya air menjadi pemicu tidak berlanjutnya wisata di kawasan Telaga Tritis ini,” terang Wahyu.

Ia berharap agar kawasan Telaga Tritis bisa kembali dikelola dengan baik dan tetap lestari menjadi warisan budaya di Kabupaten Gunung Kidul. Selain itu, Telaga Tritis dapat dijadikan sebagai salah satu kawasan wisata alam pilihan wisatawan yang ingin menikmati suasana tenang, sejuk, dan alami. Hal ini memberikan variasi destinasi selain pantai yang selama ini menjadi ikon Gunungkidul.

Keberhasilan kegiatan ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk AKBP Urip Umi Hariyati selaku Kepala Subdit Gasum Direktorat Samapta Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta yang membersamai penanaman bibit pohon di Telaga Tritis. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci untuk mencapai tujuan besar.

AKBP Umi menuturkan, pihaknya sangat mendukung sekali kegiatan yang menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan. Dirinya berpesan, lewat relawan atau kelompok pecinta alam, generasi muda perlu dilibatkan secara langsung untuk menanam pohon dan diberi pemahaman cara menanam yang benar berikut perawatannya, sekaligus peran pohon dalam siklus air dan keseimbangan ekosistem.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya menikmati alam saja, tapi juga bertanggungjawab terhadap kelestariannya,” cetusnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Jeojo Volunter Korea Selatan Belajar Penanganan Bencana ke Cangkringan

Sleman – Komunitas relawan Korea Selatan yang tergabung dalam Jeojo Volunter melakukan studi banding di Destana Desa Tangguh Bencana Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Rabu (22/1/2025).

Rombongan berjumlah 40 orang bersama penerjemah diterima di Posko Destana Sor Pelem dusun Bronggang Suruh, oleh Kalakhar bersama tim relawan Destana di antaranya Supriyanto atau akrab dipanggil Ndan Supri Semprit.

Jeojo Volunter sendiri merupakan relawan Korea Selatan yang berasal dari mahasiswa berbagai jurusan dan perguruan tinggi di Korea Selatan, khususnya mereka yang berkiprah dan berkontribusi dibantuan penanganan bencana.

Menurut ketua rombongan, Saitoyo Meinong, pihaknya melakukan studi tiru ke Destana Argomulyo dengan tujuan agar mereka dapat mempelajari strategi penangan bencana di Sleman untuk diterapkan di daerahnya.

”Kami datang dari Korsel ingin tahu tentang Destana dan kerelawanan di sini  khususnya lereng Merapi. Bencana di negara kami seperti banjir dan salju, dan kami ingin tahu bagaimana prosedur dan cara penanganan banjir dan sebagainya,“ ungkapnya.

Acara itu pun diisi dengan beberapa sesi, seperti pemaparan materi Destana dan kerelawanan oleh Ketua FPRB dan Ketua TRC Argomulyo. Kemudian penjelasan terkait kebijakan desa dalam penanggulangan bencana, diskusi, dan dilanjutkan dengan kunjungan ke musium terbuka Bakalan.

Salah satu relawan Destana Argomulyo, Supriyanto dalam kesempatan ini menegaskan bahwa peran relawan dalam menghadapi bencana sangatlah penting. Selain itu, relawan juga perlu diimbangi dengan keterampilan dan pengalaman menolong korban bencana.

“Peran relawan dalam penanggulangan bencana, manajemen kerja relawan dan berbagai pengalaman serta perasaan ketika menolong korban bencana serta berbagai program relawan di TRC Argomulyo,” jelasnya.

Erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 lalu menyebabkan dampak besar bagi wilayah Kabupaten Sleman, Klaten, Boyolali, dan Magelang. Sebanyak 275 orang meninggal dunia, ratusan rumah hancur, dan ratusan ribu orang mengungsi.

Kalurahan Argomulyo di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, menjadi daerah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, karena lokasinya yang berjarak 13,7 kilometer dari puncak Merapi dan dilalui Sungai Gendol.

Tragedi ini menyadarkan masyarakat Kalurahan Argomulyo akan pentingnya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana, mengubah sikap mereka dari kurang peduli menjadi lebih aktif dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.

Sejak erupsi tersebut, berbagai pihak seperti pemerintah melalui BPBD/BNPB, sektor swasta, dan lembaga kemanusiaan seperti Human Initiative, turut berkontribusi dalam penguatan kapasitas masyarakat terdampak. (Arief Hartanto / Kim Turi)




Puskesmas Pakem Lakukan Screening Kesehatan Siswa Kelas X

Sleman – Setiap warga negara termasuk siswa usia sekolah memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan jasmani maupun Rohani. Diperlukan screening atau penjaringan terhadap para siswa untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka, apabila terdapat kelainan atau permasalahan segera terdeteksi dan segera dapat dilakukan tindakan. Hal itu diungkapkan salah satu tenaga medis Puskesmas Kapanewon Pakem Sleman, Cahyaningtyas saat melaksanakan screening di Aula 1 MAN 4 Sleman, Kamis (23/1/2024).

“Screening ini sebagai upaya meningkatkan cakupan kesehatan siswa serta mendukung pencegahan stunting. Hasil screening akan kami rekap dan hasilnya kami laporkan.  Bila ada siswa yang harus dirujuk ke rumah sakit, kami akan beri tahu,” ujarnya.

Penjaringan atau screening kesehatan kali ini meliputi pemeriksaan gula darah, tensi, kesehatan mata, mulut dan gigi, lingkar perut hingga kesehatan jiwa. 

Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf menyambut baik kegiatan itu. Seluruh siswa bahkan sebagian guru mendapat kesempatan untuk screening kesehatan. 

“Sudah beberapa kali kami menjalin kerja sama dalam bidang kesehatan dengan Puskesmas Pakem.  Dengan screening, ini kesehatan 205 siswa kelas X akan terpantau.  Hasilnya akan kami komunikasikan dengan wali atau orang tua,” ujarnya. 

Melalui kegiatan tersebut, siswa-siswi aktivis Palang Merah Remaja (PMR) pun turut membantu. Dengan begitu, mereka memiliki pengalaman dalam pelayanan kesehatan.

Adapun sasarannya ialah para peserta didik Kelas X (sepuluh), yang diselenggarakan mulai Kamis (9/1) sampai dengan Jum’at (25/1).  Cahyaningtyas menjelaskan untuk periode Januari, kegiatan screening kesehatan anak sekolah dilaksanakan di enam sekolah atau madrasah, dengan petugas masing-masing satu dokter dan enam tenaga medis. 

Jadwal pelaksanaan screening kesehatan di enam sekolah tersebut yaitu: a) SMA Muhammadiyah Pakem pada Kamis (9/1); b) SMK Sanjaya dilangsungkan pada Jum’at (10/1); c) SMK Muhammadiyah Pakem dilakukan pada Kamis (16/1); d) SMA Islam 3 diselenggarakan pada Jum’at (17/1); e) MAN 4 Sleman dilaksanakan pada Kamis (23/1); f) SMK Kanisius I Pakem dijadwalkan pada Jum’at (25/1). 

Sementara itu, salah satu guru olah raga, Suranta menyatakan cek kesehatan ini penting dilakukan untuk memantau kondisi kesehatan siswa-siswi. 

“Sehingga bila ada siswa terdeteksi mengidap penyakit, bisa segera diambil tindakan dengan penanganan yang tepat,” ujarnya. 

“Gangguan kesehatan bisa mempengaruhi prestasi belajar, sehingga deteksi dini amat diperlukan,” pungkasnya.  (Edy /KIM Sumber Biwara Moyudan)




Gelar Rakor, Kader KB Kesehatan Condongcatur Evaluasi Kinerja di Tahun 2024

Sleman – Pertemuan dan pembinaan kader KB kesehatan di wilayah Kalurahan Condongcatur kembali dilaksanakan. Kegiatan yang dihadiri oleh Kamituwo Kalurahan Condongcatur, PLKB Kapanewon Depok, dan Puskesmas Depok II itu diselenggarakan di ruang Wacanaloka Kalurahan Condongcatur, Kamis (23/1/2025).

Kegiatan ini pun menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.

Kamituwo Kalurahan Condongcatur, Tofik pada kesempatan itu mengapresiasi capaian yang diraih para kader kesehatan di wilayah Condongcatur selama tahun 2024. Ia mengatakan segala pengabdian yang diberikan kader kesehatan sudah berjalan baik.

“Tetap selalu mengabdi untuk masyarakat dan terus lakukan yang terbaik untuk masyarakat,” ujarnya.

PLKB Kapanewon Depok, Siti Juwariah pun turut mengapresiasi capaian yang diperoleh pada tahun 2024 tersebut. Ia menegaskan, pihaknya akan selalu mendukung semua kegiatan yang dilakukan kader kesehatan di wilayah Condongcatur.

Lebih lanjut, perwakilan Puskesmas Depok II, Ardi pada kesempatan yang sama menyampaikan capaiaan PHBS dan posyandu aktif di wilayah Condongcatur sudah melebihi target yang ditentukan.

“Untuk PHBS target yang diberikan olah Kabupaten Sleman 61%, tapi Kalurahan Condongcatur sudah mencapai 71%,” jelasnya.

Untuk posyandu aktif juga sudah lebih dari target yang dibeikan oleh Kabupaten Sleman.

Sementara, salah satu petugas dari Dinas Kesehatan Sleman pada kesempatan itu mendesiminasikan Gerakan Parijoto Salak Sembada, sebagai program meningkatkan budaya hidup sehat dan tanggap bencana di tengah masyarakat.

“Dengan adanya informasi dan penyuluhan diharapkan kader kesehatan dapat menyampaikan informasi tersebut ke warga masyarakat dan bisa selalu memberikan yang terbaik bagi masyarakat Condongcatur. Karena kader kesehatan merupakankan kepanjangan tangan dari kalurahan dan puskesmas,” ungkapnya. (Lidya/ Kim Depok)