Mahasiswa Kansai University Jepang Kunjungi LLT Banyuraden, Pelajari Pemberdayaan Lansia

Sleman – Mahasiswa dari Kansai University of International Studies, Jepang, mengunjungi Layanan Lansia Terintegrasi (LLT) Lantip di Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, untuk mempelajari sistem pemberdayaan lansia di Indonesia, Senin (10/2/2025) Kunjungan ini bertujuan untuk memahami program peningkatan kualitas hidup lansia yang telah diterapkan di komunitas serta menjalin kerja sama akademik antara Kansai University dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Rombongan mahasiswa diterima langsung oleh Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama, didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Banyuraden, Kwintartiningsih Pospoputri, di Aula Banyuraden. Mereka mendapat pemaparan mengenai program-program LLT Lantip yang disampaikan oleh Ketua LLT Lantip, Sayekti Rahayu.
“Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi komunitas LLT Lantip, terutama bagi para kader lansia binaan, sehingga semakin sehat dan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari,” ujar Hendy Indra Utama.
Mahasiswa Jepang diajak melihat langsung berbagai aktivitas pemberdayaan lansia, seperti senam, menari, memasak, merajut, serta pelatihan keterampilan lainnya. Mereka juga berdiskusi dengan lansia dan tenaga pendamping untuk memahami tantangan serta manfaat program yang telah berjalan.
Akhmadi, dosen pendamping dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, menjelaskan bahwa pendekatan multidisiplin sangat penting dalam pelayanan lansia. “Kesehatan lansia tidak hanya bergantung pada aspek medis, tetapi juga faktor psikososial dan lingkungan yang mendukung. Keterlibatan komunitas dalam pemberdayaan lansia menjadi faktor utama dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah lansia,” tuturnya.
Mahasiswa Kansai University terkesan dengan konsep gotong royong yang diterapkan dalam LLT Lantip. Mereka mencatat bahwa di Jepang, layanan lansia lebih banyak dikelola oleh institusi formal, sementara di Indonesia, komunitas berperan aktif dalam mendukung kesejahteraan lansia.
“Kami sangat terinspirasi oleh pendekatan berbasis komunitas yang diterapkan di sini. Harapannya, beberapa elemen dapat diadaptasi dalam sistem pelayanan lansia di Jepang,” ujar salah satu mahasiswa.
Dengan adanya pertukaran ilmu dan pengalaman ini, diharapkan kedua negara dapat saling belajar dan mengembangkan solusi yang lebih baik dalam mendukung kehidupan lansia yang sehat, aktif, dan sejahtera. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)



