PPDI Kapanewon Depok Dorong Pembentukan Kepengurusan di Kalurahan

Sleman – Pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kapanewon Depok terus berupaya memperkuat organisasi di tingkat kalurahan. Dalam pertemuan yang digelar, Kamis (13/1/2025), di Kampung Banjeng Maguwoharjo, Ketua PPDI Kapanewon Depok, Setyawati Marheni, menegaskan pentingnya pembentukan kepengurusan di setiap kalurahan agar pelayanan bagi penyandang disabilitas semakin merata.

“Saat ini, baru Kalurahan Condongcatur yang telah memiliki kepengurusan resmi dengan program rutin berupa pertemuan bulanan dan Pos Binaan Terpadu (Posbindu) Disabilitas. Sementara itu, Kalurahan Maguwoharjo dan Caturtunggal masih belum memiliki struktur kepengurusan, sehingga memerlukan dukungan penuh dari PPDI Kapanewon Depok,” kata Setyawati.

Dalam pertemuan ini, para pengurus membahas langkah strategis untuk mendorong pembentukan kepengurusan di kedua kalurahan tersebut. Beberapa usulan yang mengemuka di antaranya adalah melakukan sosialisasi lebih intensif kepada warga penyandang disabilitas, menjalin komunikasi dengan pemerintah kalurahan, serta mengadakan kegiatan yang dapat meningkatkan partisipasi dan kesadaran masyarakat.

PPDI Kapanewon Depok berharap bahwa dengan terbentuknya kepengurusan di setiap kalurahan, hak-hak penyandang disabilitas dapat lebih diperhatikan, terutama dalam hal akses layanan kesehatan, pendidikan, serta kesempatan kerja. Selain itu, adanya kepengurusan yang aktif juga dapat menjadi wadah bagi penyandang disabilitas untuk saling mendukung dan berbagi pengalaman dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Pertemuan ini menegaskan komitmen PPDI Kapanewon Depok dalam memperluas jangkauan organisasi hingga ke tingkat kalurahan. Dengan adanya kepengurusan yang aktif, diharapkan penyandang disabilitas dapat lebih terorganisir dan mendapatkan dukungan yang lebih optimal,” tutur Setyawati.

Upaya ini bukan hanya sekadar membentuk struktur organisasi, tetapi juga memastikan bahwa hak-hak dan kesejahteraan para penyandang disabilitas dapat terwujud secara lebih baik di seluruh wilayah Kapanewon Depok. (Tri Suhartati / KIM Depok)




Tingkatkan Kapasitas KIM, Diskominfo DIY Undang Jurnalis Media Elektronik

Sleman – Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) DIY menggelar kegiatan peningkatan kapasitas bagi Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) di RM. Ingkung Grobog Yogyakarta, Kamis (13/2/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan para anggota KIM dalam menyajikan informasi yang akurat dan tepat waktu.

Puluhan peserta dari KIM se-DIY mendapatkan materi tentang dasar-dasar jurnalistik, etika jurnalistik, dan teknik penulisan berita yang baik. Selain mendapatkan pencerahan, mereka juga berkesempatan untuk berlatih menulis berita dan membuat laporan liputan secara langsung.

Wiwik Lestariningrum mewakili Kepala Dinas Kominfo DIY menyampaikan acara ini merupakan upaya pemerintah demi meningkatkan kemampuan dan pengetahuan komunitas tersebut.

“Kami berharap komunitas informasi masyarakat di DIY menjadi lebih profesional dan efektif dalam menyajikan informasi kepada Masyarakat,” kata Wiwik.

Guna menambah wawasan mengenai jurnalime, Dinas Kominfo DIY mengundang wartawan senior media elektronik, Wahyudiono dan Eko Purwono dari jogja selaku narasumber yang berpengalaman di bidang jurnalistik. Keduanya memberikan materi dan sharing pengalaman tentang bagaimana membuat berita yang baik dan memenuhi unsur 5W1H.

Dalam paparannya, Wahyudiono menekankan pentingnya peran pegiat informasi sebagai citizen jurnalism dalam menyajikan informasi yang enak dibaca dan dipahami oleh pembaca.

“KIM memiliki peran yang sangat penting dalam menyajikan berita yang akurat, sehingga masyarakat dapat membuat keputusan yang tepat,” kata Wahyudiono.

Selama menerima penjelasan materi, peserta sangat antusias dan bersemangat yang ditunjukkan dari keaktifan bertanya dan berdiskusi bersama tentang pokok bahasan yang disampaikan, dilanjutkan berlatih membuat berita yang dipandu oleh Eko Purwono dari

Menurut Eko, dengan praktik langsung, peserta akan lebih kritis dalam memilah informasi, mencari fakta yang relevan, serta menghindari hoaks atau bias dalam pelaporan, dan mengasah keterampilan menulis berita yang sesuai dengan kaidah jurnalistik, seperti 5W+1H, dan penggunaan bahasa yang efektif.

“Saya sangat senang dapat mengikuti kegiatan ini, karena dapat mempelajari tentang dasar-dasar jurnalistik dan teknik penulisan berita yang baik,” kata Azzahra salah satu peserta dari KIM Kabupaten Sleman.

Akhirnya, Dinas Kominfo DIY berharap kemampuan dan keterampilan Komunitas Informasi Masyarakat di DIY bisa meningkat sehingga lebih profesional dan efektif dalam menyajikan informasi kepada masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




HPN 2025 di Sleman: Donor Darah, Sembako Gratis, dan Doorprize Sepeda Listrik!

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sleman menggelar bakti sosial donor darah di Aula Bappeda Kabupaten Sleman, Rabu (12/2/2025).

Kegiatan ini bertujuan untuk membantu sesama sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya donor darah. Dari total 114 pendaftar, sebanyak 94 orang berhasil mendonorkan darahnya.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia juga meninjau langsung pelaksanaan donor darah dan ikut serta dalam pengundian hadiah bagi pendonor beruntung.

“Semoga kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran dan antusiasme masyarakat Sleman untuk rutin melakukan donor darah demi membantu sesama,” ujar Danang.

Ketua PWI Sleman, Wisnu Wardhana, menambahkan bahwa donor darah merupakan agenda tahunan yang rutin diselenggarakan PWI Sleman dalam rangka peringatan HPN. Ia berharap jumlah peserta donor darah dapat terus meningkat setiap tahunnya.

Untuk menarik minat masyarakat, acara ini juga menyediakan doorprize utama berupa satu unit sepeda listrik, serta berbagai hadiah lainnya, seperti peralatan elektronik. Diharapkan, dengan adanya hadiah menarik, semakin banyak masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan donor darah.

Selain donor darah, peringatan HPN 2025 di Sleman juga akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan sosial lainnya. Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sleman, Aris Herbandang, mengungkapkan bahwa Pemkab Sleman dan PWI Sleman juga akan mengadakan bakti sosial pembagian sembako, senam massal, dan jalan sehat.

“Sesuai tema HPN 2025, yaitu ‘Pers Mengawal Ketahanan Pangan untuk Kemandirian Bangsa’, kami akan menyalurkan 150 paket sembako kepada masyarakat kurang mampu, terutama pedagang pasar,” ujar Aris.

Pembagian sembako ini akan dilakukan pada Minggu, 16 Februari 2025, di Lapangan Pemda, Tridadi, Sleman, bertepatan dengan pelaksanaan senam massal dan jalan sehat.

Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam senam dan jalan sehat, panitia mengundang mereka untuk hadir pada Minggu (16/2) pukul WIB di Lapangan Pemda Sleman. Setelah senam dan jalan sehat, peserta berkesempatan mendapatkan kupon doorprize secara gratis.

PWI Sleman menargetkan minimal peserta akan turut serta dalam kegiatan senam massal dan jalan sehat ini.

Dengan rangkaian kegiatan sosial tersebut, diharapkan peringatan HPN 2025 tidak hanya menjadi ajang silaturahmi bagi insan pers, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.




DLH Sleman Dorong Grajegan Jadi Kampung Hijau Berkelanjutan

Sleman – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman mengadakan pembinaan Kampung Hijau di Padukuhan Grajegan, Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, pada Rabu (12/2/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan lingkungan bersih dan sehat sekaligus mempersiapkan Grajegan sebagai peserta lomba Kampung Hijau 2025.

Acara yang berlangsung di rumah Dukuh Grajegan ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, RT, RW, Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK, kader lingkungan, serta pengurus bank sampah. Sarjiono, Tata Laksana Kalurahan Margokaton, menyampaikan bahwa terpilihnya Grajegan bukan tanpa alasan. Potensi alam serta wisata pertanian yang sedang berkembang menjadi faktor pendukung bagi padukuhan ini untuk mengikuti program Kampung Hijau.

Rini Nurhidayati, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Seyegan, menegaskan bahwa keberlanjutan program Kampung Hijau harus menjadi fokus utama.

“Grajegan tidak hanya sekadar menjadi peserta lomba, tetapi juga harus terus berupaya menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

Rini juga mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan lingkungan, karena pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu indikator utama dalam lomba tersebut.

Dalam sesi pembinaan, Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Sleman, Eni Yuliani, memaparkan bahwa keberhasilan program Kampung Hijau ditentukan oleh empat komponen utama yang saling berkaitan.

Komponen pertama adalah komponen fisik, yang mencakup penyediaan dan pemanfaatan ruang publik, sarana olahraga, jalan, serta tempat ibadah. Fasilitas-fasilitas ini berperan dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan menunjang aktivitas sosial masyarakat.

Selanjutnya, komponen manajemen menjadi aspek penting dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Hal ini meliputi keberadaan kelembagaan yang kuat, regulasi yang jelas, penganggaran yang tepat, serta sistem komunikasi yang efektif untuk memastikan setiap program dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, partisipasi aktif masyarakat juga menjadi kunci keberhasilan Kampung Hijau. Komponen partisipasi masyarakat mencakup berbagai bidang, mulai dari lingkungan, pendidikan, kesehatan, hingga sosial ekonomi dan pemerintahan. Semakin besar keterlibatan warga, semakin tinggi pula dampak positif yang dihasilkan bagi lingkungan sekitar.

Terakhir, Eni menekankan pentingnya komponen budaya dan tradisi dalam mempertahankan identitas lokal serta memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan. Aspek ini mencakup kesenian daerah, kearifan lokal, permainan tradisional, hingga kegiatan bersih desa yang tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga mempererat kebersamaan warga dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Selain itu, terdapat lima indikator utama penilaian Kampung Hijau, yaitu pengelolaan sampah, penghijauan, partisipasi masyarakat, sanitasi, serta konservasi sumber daya air.

Eni meminta warga Grajegan untuk mempersiapkan berbagai kegiatan berbasis lingkungan dalam tiga bulan ke depan. Selain itu, profil Padukuhan dan dokumentasi partisipasi masyarakat juga harus disusun secara lengkap.

“Kami berharap ada inovasi dalam pengelolaan lingkungan di Grajegan yang bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas dan Peran Serta Masyarakat DLH, Dewi Mustika, menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Lomba Kampung Hijau hanyalah pemantik, tetapi kesadaran untuk hidup bersih dan sehat harus selalu diupayakan,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Tingkatkan Kapasitas, Kader Kesehatan Condongcatur Siap Berdaya di Masyarakat

Sleman – Sebanyak 80 kader kesehatan dari 40 Posyandu di Kalurahan Condongcatur mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas dan penyegaran di Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Rabu, 12 Februari 2025. Kegiatan ini diadakan sebagai bentuk apresiasi sekaligus pembekalan bagi kader kesehatan dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Rombongan yang diberangkatkan menggunakan dua bus ini terdiri dari perwakilan Posyandu, Puskesmas Depok II, Penyuluh KB Kapanewon Depok, serta didampingi Lurah, Carik, Dukuh, dan beberapa staf pamong Kalurahan Condongcatur.

Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, ., selaku pengampu bidang kegiatan, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memberikan penyegaran, meningkatkan motivasi, serta mempererat kekompakan antara kader kesehatan dan mitra kerja seperti Puskesmas Depok II dan Penyuluh KB Kapanewon Depok.

“Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kader kesehatan agar lebih optimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, juga sebagai ajang penyegaran dan motivasi bagi para kader yang sehari-harinya berkutat dengan tugas pelayanan di masyarakat,” ujar Al Thouvik.

Sebagai narasumber, hadir dr. R. Prihanjono Andri Putranto, seorang konsultan dan praktisi kesehatan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), yang membawakan materi bertema “Semangat Kita Menjadi Kader Luar Biasa”. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya peran kader kesehatan dalam mendukung integrasi layanan kesehatan primer di tingkat desa.

Dr. Andri Putranto menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas kader kesehatan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan strategi kolaboratif agar transformasi layanan kesehatan di tingkat desa semakin efektif. Kader kesehatan berperan dalam kegiatan promotif, preventif, serta deteksi dini masalah kesehatan masyarakat.

Ia juga memperkenalkan konsep Andragogi, yaitu metode pembelajaran yang dirancang khusus untuk orang dewasa. Menurutnya, dalam pembelajaran orang dewasa, pendekatan yang digunakan harus lebih kepada membimbing dan membantu mereka dalam menemukan pengetahuan, keterampilan, serta sikap yang tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah kesehatan di masyarakat.

Dalam pemaparannya, dr. Andri Putranto juga memperkenalkan metode 3R (Reason, Response, Result) sebagai pendekatan yang dapat diterapkan oleh kader kesehatan dalam menjalankan tugasnya.

Metode ini menekankan pentingnya kesadaran dan ketepatan dalam bertindak, dimulai dari Reason (Alasan), yaitu memahami secara mendalam alasan di balik setiap tugas dan tanggung jawab yang diemban. Dengan memiliki pemahaman yang jelas mengenai tujuan dari setiap tindakan, kader kesehatan dapat bekerja dengan lebih terarah dan penuh makna.

Tahapan berikutnya adalah Response (Reaksi), yakni kemampuan untuk merespons setiap situasi yang dihadapi di lapangan dengan tepat dan profesional. Kader kesehatan harus mampu menyesuaikan tindakan mereka sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat, baik dalam hal pencegahan, edukasi, maupun penanganan awal masalah kesehatan.

Terakhir, Result (Hasil) menjadi bagian penting dalam evaluasi kinerja. Setiap tindakan yang dilakukan harus dievaluasi untuk melihat sejauh mana dampak positif yang telah dihasilkan. Dengan begitu, kader kesehatan dapat terus meningkatkan efektivitas dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

“Metode ini mengajarkan kita bagaimana bersikap dan berperilaku secara profesional dalam menyelesaikan tugas-tugas pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada seluruh kader kesehatan yang selama ini telah menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan di masyarakat.

“Kader kesehatan itu luar biasa. Mereka adalah orang pertama yang hadir ketika ada warga yang sakit, memastikan bayi mendapatkan pantauan gizi yang tepat, hingga memberikan saran kesehatan kepada masyarakat. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan. Tetap semangat, tetap sehat, dan jangan lupa bahagia!” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan kesempatan untuk menambah wawasan, berbagi pengalaman, serta memperkuat semangat dalam menjalankan tugas mulia sebagai kader kesehatan. “Saya berharap ilmu dari dr. Andri bisa langsung diterapkan di lapangan,” pungkasnya.

Usai sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan refreshing di kawasan Kebun Teh Kemuning, Karanganyar. Dengan ketinggian mencapai 800– mdpl, kawasan ini menawarkan udara sejuk dan pemandangan hamparan kebun teh yang menenangkan. Para peserta juga berkesempatan menikmati dan membawa pulang berbagai produk khas daerah tersebut, seperti teh serai, teh jahe, teh hitam, teh melati, teh mint, teh rosella, teh hijau, serta ubi ungu isi bligo.

Dengan kegiatan ini, diharapkan para kader kesehatan dapat kembali ke Condongcatur dengan semangat baru serta ilmu yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. (Wasana/KIM Depok)