Wabup Sleman Lepas Peserta Fun Bike Rocket Infunity, Ajak Masyarakat Rutin Berolahraga

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, melepas peserta Fun Bike Rocket Infunity pada Minggu (23/2/2025) di Rocket Chicken Hall. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Rocket Chicken ke-15 dan turut dihadiri oleh Direktur Rocket Chicken, Nurul Atik.

Dalam sambutannya, Danang Maharsa menyatakan dukungannya terhadap kegiatan Rocket Infunity, yang dinilai sebagai upaya meningkatkan kesehatan masyarakat Sleman. Ia berharap masyarakat dapat menikmati kegiatan ini dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.

“Semoga kegiatan ini dapat meningkatkan kesehatan masyarakat Sleman. Jika tubuh sehat, hati pun senang, umur panjang, dan rezeki semakin lancar. Karena itu, saya berharap bapak dan ibu dapat berolahraga secara rutin agar tetap bugar,” ujar Danang.

Danang juga berharap event olahraga seperti ini semakin berkembang di Kabupaten Sleman. Dengan begitu, olahraga tidak hanya menjadi gaya hidup (lifestyle), tetapi juga kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat.

Sementara itu, Direktur Rocket Chicken, Nurul Atik, mengungkapkan bahwa Rocket Infunity merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT Rocket Chicken ke-15. Sejak 15 Februari 2025, berbagai kegiatan sosial telah dilaksanakan di beberapa daerah, seperti Kalimantan Selatan, Semarang, dan Yogyakarta. Ia menyebut acara ini sebagai bentuk rasa syukur atas pencapaian Rocket Chicken hingga saat ini.

“Kami bersama tim mengadakan syukuran dalam rangka peringatan milad ini. Pada acara pagi ini, kami menggelar fun bike bersama masyarakat. Harapan saya, Rocket Chicken dapat terus eksis dan berkembang di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Selain fun bike, perayaan HUT Rocket Chicken juga dimeriahkan dengan kegiatan donor darah, zumba, dan pentas jathilan. Nurul berharap pencapaian Rocket Chicken saat ini dapat semakin mendekatkan merek tersebut kepada masyarakat. (Humas Sleman)




Pemkab Sleman Gelar Temu Hati Anak Sleman 2025 untuk Kembangkan Potensi Generasi Muda

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) kembali menggelar Temu Hati Anak Sleman 2025. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo DPRD Sleman pada Sabtu (22/2/2025) ini dibuka oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa.

Dalam sambutannya, Danang Maharsa mengapresiasi penyelenggaraan acara ini sebagai sarana bagi anak-anak Sleman untuk mengembangkan diri dan berbagi pengalaman dengan sesama peserta. Ia berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan baik agar memperoleh manfaat yang maksimal.

“Anak muda tidak hanya harus cerdas secara akademis, tetapi juga perlu memiliki sikap yang baik, pandai bersosialisasi, senang berinteraksi, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan. Hal ini sangat penting untuk mencapai kesuksesan,” ujarnya.

Danang juga menyoroti pentingnya generasi muda dalam menghadapi bonus demografi. Ia menekankan bahwa anak-anak muda harus mampu mengoptimalkan potensi diri, menjadi individu yang andal dan berkualitas, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi lingkungan, bangsa, dan negara.

Sementara itu, Kepala Dinas P3AP2KB Sleman, Wildan Solichin, menjelaskan bahwa Temu Hati Anak Sleman 2025 berlangsung selama dua hari, yakni 22–23 Februari 2025. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari DPRD Kabupaten Sleman, Pendamping Forum Anak, serta Lembaga Pemerhati dan Peduli Anak, dengan Forum Anak Kabupaten Sleman bertindak sebagai fasilitator.

“Peserta kegiatan ini berjumlah 140 anak yang berasal dari Sekolah Ramah Anak serta Forum Anak di tingkat kecamatan dan kalurahan di Kabupaten Sleman,” jelasnya.

Adapun tujuan penyelenggaraan Temu Hati Anak Sleman 2025 adalah untuk memilih Duta Anak Sleman, merumuskan Suara Anak Sleman, serta melatih anak-anak dalam mengenali berbagai permasalahan terkait pemenuhan hak anak di lingkungannya. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mendorong anak-anak Sleman agar mampu menyampaikan aspirasi mereka serta berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. (Humas Sleman)




50 Sanggar Seni di Wedomartani Ikuti Pembinaan Kelembagaan

Sleman – Sebanyak 50 sanggar seni dan kelompok kesenian di Kalurahan Wedomartani mengikuti kegiatan Pembinaan Kelembagaan yang berlangsung di Pendapa Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman, pada Jumat (21/2/2025).

Kalurahan Mandiri Budaya Wedomartani memiliki lebih dari 80 sanggar seni dan kelompok kesenian yang tersebar di berbagai padukuhan, bahkan jumlahnya hampir mencapai 100. Namun, banyak di antaranya belum dikelola secara optimal sebagai sebuah organisasi yang terstruktur.

Ketua Kalurahan Mandiri Budaya Wedomartani, Mujiburochman, menjelaskan bahwa sebagian besar sanggar dan kelompok seni bergerak di bidang seni pertunjukan maupun non-pertunjukan. Beberapa berbentuk pendidikan dan pelatihan, sementara yang lain berfungsi sebagai wadah berkumpul untuk melestarikan seni dan menyalurkan hobi. “Sebagian besar anggotanya bersifat tetap dengan rentang usia yang relatif sama,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kalurahan Wedomartani menginisiasi program pembinaan kelembagaan dengan harapan sanggar dan kelompok kesenian dapat dikelola secara lebih baik dan berkembang sebagai organisasi yang maju. Untuk tahap awal, pembinaan ini diikuti oleh 50 sanggar dan kelompok yang bergerak di bidang seni tari, seni religius seperti Hadroh dan Sholawat, serta kesenian tradisional seperti Badui, Jathilan, dan Karawitan.

Joko Saptono, perwakilan Tim Monitoring dan Evaluasi Pendamping Kalurahan Budaya Kundha Kabudayan DIY, menjelaskan bahwa sanggar seni merupakan wadah bagi komunitas yang memiliki latar belakang serta tujuan yang telah disepakati bersama. “Sanggar adalah organisasi nonformal yang umumnya bersifat sosial dan nirlaba. Meski demikian, pengelolaannya tetap harus baik dan transparan,” katanya.

Menurutnya, pendirian sanggar atau kelompok kesenian perlu memiliki visi, misi, serta program kerja yang jelas. “Setiap organisasi harus memiliki mimpi, yaitu keadaan ideal yang ingin dicapai setelah melakukan analisis terhadap kondisi saat ini. Oleh karena itu, pendirian sanggar harus memiliki latar belakang, maksud, dan tujuan yang konkret,” lanjutnya.

Program kerja yang disusun harus mencakup agenda rutin, jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Selain itu, struktur organisasi yang jelas juga diperlukan, termasuk kepengurusan, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta peraturan internal jika memungkinkan. “Saat ini, setiap sanggar juga diwajibkan memiliki Nomor Induk Kebudayaan (NIK) yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan/Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman,” tambahnya.

Joko Saptono juga menekankan pentingnya pencatatan administrasi yang tertata dengan baik. “Profil sanggar harus terdokumentasi secara tertulis, termasuk pencatatan kegiatan harian. Minimal, sebuah sanggar perlu memiliki buku agenda surat keluar/masuk, buku inventaris, buku catatan kegiatan, buku notulen rapat, daftar hadir, buku kas, serta dokumentasi berupa foto kegiatan,” jelasnya.

Menutup sesi pembinaan, Joko Saptono memberikan pesan kepada para pengurus sanggar agar menerapkan prinsip kerja yang sistematis. “Rumus sederhana yang bisa diterapkan adalah: tulis apa yang hendak dikerjakan, kerjakan apa yang sudah ditulis, dan tulis apa yang telah dikerjakan,” pungkasnya. (Tri Joko S – KIM Kalasan)




PKK Sarirejo Belajar Kelola Sampah di KPSM Klakah Elok

Sleman – Pengurus PKK Padukuhan Sarirejo, Maguwoharjo, Depok, Sleman, melakukan kunjungan ke Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) Klakah Elok di Padukuhan Klakah, Sendangtirto, Berbah, Sleman, pada Minggu (23/2/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi guna diterapkan di wilayah Sarirejo.

Ketua PKK Padukuhan Sarirejo, Ani Yuliati, mengucapkan terima kasih kepada KPSM Klakah Elok atas sambutan yang diberikan. “Kami tertarik dengan pengelolaan sampah di Klakah Elok, yang mencakup rumah pilah, pembuatan kompos, eco-enzyme, serta budidaya maggot. Semuanya dikelola dalam satu kawasan,” ujarnya. Ani berharap ilmu yang diperoleh dari kunjungan ini dapat diterapkan sesuai dengan kondisi lingkungan di Sarirejo.

Ketua KPSM Klakah Elok, Siti Maryamah, yang akrab disapa Yaya, menjelaskan bahwa membangun kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah bukan hal yang mudah.

“Awalnya, kami hanya memiliki sedikit nasabah. Namun, seiring waktu, jumlahnya bertambah hingga mendapat perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, yang kemudian memberikan fasilitas rumah pilah,” katanya.

Yaya menekankan pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya. “Sampah anorganik yang tercampur dengan sampah organik akan menurunkan nilai jualnya. Oleh karena itu, pemilahan sejak awal sangat diperlukan,” tambahnya.

Dalam pengelolaan sampah, KPSM Klakah Elok menerapkan dua metode, yaitu Sedekah Sampah (SS) dan Bank Sampah (BS). Pada sistem SS, hasil penjualan sampah tidak dikembalikan kepada nasabah, melainkan digunakan untuk kegiatan sosial. Sementara itu, pada sistem BS, nasabah mendapatkan buku tabungan sampah dan hasil penjualannya dapat diambil sesuai kesepakatan, biasanya setahun sekali.

“Sistem ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung kesepakatan kelompok. Biasanya, SS dan BS hanya menerima sampah anorganik kering yang layak jual,” jelas Yaya.

Selain mengelola sampah anorganik, KPSM Klakah Elok juga memanfaatkan plastik yang tidak layak jual untuk kerajinan tangan dan media tanam yang disebut hypoplast. Namun, media tanam dari plastik ini masih sebatas digunakan untuk tanaman hias, bukan tanaman konsumsi.

Untuk sampah organik, daun dan batang lunak diolah menjadi kompos menggunakan komposter. Sisa dapur dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sementara kulit buah difermentasi selama 90 hari menjadi eco-enzyme yang memiliki banyak manfaat, seperti menyuburkan tanaman, membersihkan rumah, hingga sebagai cairan disinfektan.

Yaya juga menjelaskan tentang budidaya maggot, yaitu pemanfaatan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang tidak menyebarkan penyakit. “BSF hanya hidup selama tujuh hari, tidak memerlukan makanan, hanya air untuk kawin, bertelur, lalu mati. Hasil budidayanya berupa telur maggot dan larva maggot,” ujarnya.

Selain maggot, budidaya ini menghasilkan kasgot, yaitu sisa pakan dan kotoran maggot yang dapat digunakan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi. Kompos dari kasgot dan komposter kemudian dimanfaatkan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk bercocok tanam.

“Sayuran hasil panen dapat digunakan untuk kebutuhan dapur anggota, sementara sisanya bisa dijual,” kata Yaya.

Dengan sistem ini, KPSM Klakah Elok menciptakan sirkular ekonomi berbasis pengelolaan sampah, yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Kusnadi – KIM Berbah)




Warga Padukuhan Sombangan Gelar Kerja Bakti Bersih Makam

Moyudan – Warga Padukuhan Sombangan, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Sleman, menggelar kerja bakti membersihkan area makam pada Minggu (23/2/2025) di Makam Sombangan. Kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi Rumahan Warga, yang bertujuan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan makam.

Kegiatan gotong royong ini dipimpin langsung oleh Dukuh Sombangan, Agus Sartono, serta pengurus Makam Sombangan. Seluruh warga, khususnya yang memiliki ahli waris dimakamkan di lokasi tersebut, turut hadir untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Ketua Pengurus Makam Sombangan, Sugiyanto, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas partisipasi warga dalam kerja bakti serta atas sumbangan yang telah diberikan. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan bersih-bersih makam ini akan dijadikan agenda rutin setiap Minggu Legi.

Selain itu, pengurus makam juga mensosialisasikan peraturan dan tata tertib penggunaan makam, yang kemudian disepakati oleh seluruh warga.

“Dengan adanya kesepakatan ini, aturan penggunaan makam resmi berlaku mulai hari ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sugiyanto menginformasikan rencana pembangunan lanjutan di kompleks makam, yaitu pembuatan talud dan jalan, yang diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp13 juta.

“Untuk mendukung rencana ini, setiap ahli waris makam dimohon berpartisipasi dengan donasi sebesar Rp100 ribu per kepala keluarga (KK). Pembayaran dapat dilakukan secara bertahap mulai hari ini hingga Agustus 2025,” tambahnya.

Acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh H. Wakijo, dilanjutkan dengan makan bersama sebagai bentuk kebersamaan warga. (Giek/KIM Moyudan)