Posbinaan Darbin 3: Upaya Puskesmas Depok II Perkuat Peran Kader dalam Penanggulangan TB dan Kesehatan Jiwa

Sleman – Puskesmas Depok II kembali menggelar pertemuan rutin Posbinaan Darbin 3, yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali secara mobile ke berbagai padukuhan. Pertemuan tersebut berlangsung di rumah Dukuh Ngringin, Rabu (19/2/2025). Pelaksanaan posbinaan kali ini mencakup 12 posyandu di Padukuhan Dero, Ngringin, Ngropoh, dan Gempol.
Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Puskesmas Depok II, dr. Trisni Andayani, beserta tim dari Pudewa. Dalam sambutannya, Trisni mengapresiasi dedikasi para kader posyandu dalam mendukung kesehatan masyarakat. Ia menyampaikan informasi mengenai program PKG (Pemeriksaan Kesehatan Gratis) yang kini dapat diakses di Pudewa mulai 1 Februari 2025 sebagai upaya meningkatkan layanan kesehatan bagi warga.
“Program PKG bisa diakses masyarakat di Pudewa mulai 1 Februari 2025. Program tersebut menjadi upaya pemerintah untuk meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Selanjutnya, materi utama disampaikan oleh dr. Alisya dengan tema ‘Peran Kader dalam Penanggulangan TB’. Ia menjelaskan bahwa tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis dan dapat menyerang paru-paru maupun organ lain dalam tubuh.
“Sebagai garda terdepan dalam kesehatan masyarakat, kader memiliki peran penting dalam penanggulangan TB, antara lain melakukan penemuan kasus di masyarakat dengan mengenali gejala TB, melakukan investigasi kontak bagi anggota keluarga atau orang yang berisiko tertular, mendampingi pasien TB agar menjalani pengobatan hingga tuntas, guna mencegah resistensi obat,” tutur Alisya.
Selain itu, kader juga bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara pencegahan TB, pentingnya pola hidup sehat, serta memastikan pasien mendapatkan akses layanan kesehatan yang memadai.
Selain membahas TB, dalam pertemuan ini juga diadakan diskusi mengenai kesehatan jiwa, khususnya tentang Obsessive – Compulsive Disorder (OCD) yang berisiko dialami oleh kader dan ibu rumah tangga.
OCD adalah gangguan mental yang ditandai dengan pikiran obsesif yang berulang dan perilaku kompulsif yang sulit dikendalikan, seperti ketakutan berlebihan terhadap kotoran, keharusan untuk selalu mengecek sesuatu, atau rutinitas yang harus dilakukan secara berulang.
Adapun dampak OCD pada kader dan ibu rumah tangga meliputi stres dan kecemasan berlebih yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Kemudian kesulitan dalam mengambil keputusan akibat ketakutan yang tidak rasional. OCD pun dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial dan keluarga akibat perilaku obsesif yang berlebihan.
“Cara penanggulangan OCD yaitu pertama mengenali gejala sejak dini dan memahami bahwa OCD adalah kondisi yang bisa diatasi. Kedua menerapkan teknik relaksasi seperti meditasi dan pernapasan dalam untuk mengurangi stres. Ketiga mendapatkan dukungan sosial, baik dari keluarga, teman, maupun rekan kader. Keempat konsultasi dengan tenaga kesehatan mental jika gejala semakin mengganggu kehidupan sehari-hari,” jelas Alisya.
Melalui diskusi ini, diharapkan para kader lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental mereka sendiri, selain tetap berperan aktif dalam mendukung kesehatan masyarakat. Dengan adanya pertemuan ini, kader posyandu semakin dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam mendampingi masyarakat, baik dalam aspek kesehatan fisik maupun mental. (Tri Suhartati / KIM Depok)



