Musda Pelopor Perdamaian ke-3 Sleman Perkuat Sinergi dalam Menangani Permasalahan Sosial

Sleman – Dinas Sosial Kabupaten Sleman menggelar Musyawarah Daerah (Musda) Pelopor Perdamaian ke-3 di Aula Nakula, Dinas Sosial Kabupaten Sleman, pada Selasa (20/2/2025). Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran Pelopor Perdamaian (Pordam) dalam menangani berbagai permasalahan sosial, termasuk bencana sosial dan bencana alam, dengan semangat kebersamaan dan gotong royong.

Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Sigit Indarto, dalam sambutannya menegaskan bahwa Pelopor Perdamaian memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial di masyarakat.

“Peran serta masyarakat dalam membangun ketahanan sosial sangat diperlukan, terutama dalam menghadapi dinamika sosial yang semakin kompleks. Musyawarah ini menjadi momen penting untuk memperkuat sinergi berbagai elemen dalam menangani permasalahan sosial secara bersama-sama,” ujarnya.

Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen pilar sosial, termasuk Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Kampung Siaga Bencana (KSB) Kabupaten Sleman. Para peserta mendiskusikan berbagai isu sosial yang dihadapi di Sleman, seperti penanganan korban konflik sosial, penguatan jejaring perdamaian, serta peningkatan peran aktif masyarakat dalam mitigasi bencana.

Musyawarah ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang akan menjadi pedoman dalam upaya penanganan bencana sosial dan bencana alam di Sleman. Diharapkan, pertemuan ini semakin memperkuat kolaborasi antarstakeholder dalam membangun ketahanan sosial yang berkelanjutan.

Sebagai penutup, Musda ini diakhiri dengan deklarasi komitmen bersama untuk terus berperan aktif dalam menciptakan lingkungan sosial yang harmonis, damai, dan tanggap terhadap berbagai permasalahan sosial.

Selain menjadi forum diskusi, Musda ke-3 ini juga menjadi ajang pembentukan pengurus baru. Secara musyawarah mufakat, Suwanto dari Tempel kembali terpilih sebagai Ketua untuk periode tiga tahun ke depan. Struktur kepengurusan masih diisi oleh wajah-wajah lama, namun dengan beberapa perubahan dan tambahan bidang baru, salah satunya Bidang Media Sosial.

Dengan kepengurusan baru ini, Pelopor Perdamaian Kabupaten Sleman diharapkan tetap solid dalam menjalankan perannya sebagai bagian dari pilar sosial dan kemanusiaan di lingkungan sekitar.

(Eka Sastra Kurniawan – KIM DSN Sardonoharjo)




Optimalkan Dana Desa, Ngaglik Perkuat Ketahanan Pangan 2025

Sleman – Pemerintah Kapanewon Ngaglik menggelar rapat koordinasi terkait pemanfaatan Dana Desa untuk ketahanan pangan tahun 2025 pada Selasa (18/2/2025) di Aula Kapanewon Ngaglik. Kegiatan ini dihadiri oleh ulu-ulu serta perwakilan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) se-Kapanewon Ngaglik. Hadir pula narasumber dari Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP4) serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman.

Jawatan Praja Kapanewon Ngaglik, Hadi Nugroho, yang mewakili Panewu Ngaglik, menyampaikan apresiasi kepada para narasumber dan peserta yang hadir. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang seragam terkait penggunaan Dana Desa dalam mendukung ketahanan pangan sesuai dengan arahan Dinas PMK Kabupaten Sleman.

Perwakilan Dinas PMK Sleman dalam paparannya menjelaskan bahwa Dana Desa dapat dimanfaatkan untuk berbagai program ketahanan pangan di tingkat desa.

“Dana Desa harus dimanfaatkan secara optimal untuk memastikan ketersediaan pangan yang berkelanjutan. Melalui BUMKal, desa dapat mengembangkan sektor pertanian, peternakan, hingga distribusi hasil pangan dengan sistem yang lebih profesional,” jelasnya.

Dalam rapat koordinasi ini, beberapa strategi utama dibahas guna memastikan pemanfaatan Dana Desa yang optimal untuk mendukung ketahanan pangan di tingkat desa. Salah satu fokus utama adalah pemanfaatan lahan tidur agar dapat diubah menjadi lahan pertanian produktif. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan lokal sekaligus memaksimalkan sumber daya alam yang tersedia di desa.

Selain itu, pengembangan hortikultura dan peternakan berbasis desa menjadi prioritas untuk menciptakan kemandirian pangan. Dengan memberdayakan masyarakat dalam sektor pertanian dan peternakan, desa dapat menghasilkan produk pangan berkualitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri serta berpotensi menjadi komoditas unggulan.

Aspek pengolahan pascapanen juga menjadi perhatian penting. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan nilai jual produk pertanian dan peternakan melalui berbagai inovasi pengolahan, sehingga hasil panen tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang lebih kompetitif di pasar.

Di era digital saat ini, optimalisasi pemasaran berbasis digital turut menjadi bagian dari strategi yang dibahas. Pemanfaatan platform digital diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar, meningkatkan efisiensi distribusi, serta mempermudah akses konsumen terhadap produk-produk lokal desa.

Terakhir, sinergi antara petani lokal dan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) juga menjadi poin penting dalam strategi ketahanan pangan. Dengan adanya kerja sama yang erat, diharapkan keberlanjutan produksi pangan dapat terjamin, sekaligus menciptakan sistem distribusi yang lebih efisien dan menguntungkan bagi masyarakat desa.

Diharapkan, dengan sinergi antara pemerintah desa, BUMKal, dan masyarakat, ketahanan pangan di Kapanewon Ngaglik semakin kuat, mendukung kemandirian desa, serta meningkatkan kesejahteraan warga.

(Eka Sastra Kurniawan – KIM DSN Ngaglik)




Warga Keditan Lestarikan Tradisi Nyadran sebagai Bentuk Penghormatan Leluhur

Sleman – Warga Padukuhan Keditan, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, menggelar tradisi Nyadran pada Senin (17/2/2025). Kegiatan yang dilaksanakan menjelang bulan Ramadan ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Tradisi turun-temurun ini sarat akan nilai spiritual, sosial, dan budaya yang tetap dijaga oleh masyarakat setempat.

Persiapan Nyadran dilakukan beberapa hari sebelumnya dengan kegiatan gotong royong membersihkan makam para leluhur dan memasang tenda. Selain menjaga kebersihan area pemakaman, gotong royong ini juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga, mempererat kebersamaan, dan memperkuat nilai-nilai sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada hari pelaksanaan, warga berkumpul di makam untuk menggelar doa bersama yang dipimpin oleh Slamet Sarmadi selaku kaum atau rois. Prosesi diawali dengan pembacaan tahlil dan dzikir untuk mendoakan arwah para leluhur. Selain memimpin doa, Slamet juga menyampaikan wejangan kepada warga tentang pentingnya berbakti kepada orang tua yang telah wafat, menjaga kerukunan antarwarga, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Ritual ini perlu dilakukan sebagai momen refleksi diri dan mengenang jasa para pendahulu kita,” ujar Slamet.

Usai prosesi doa, warga menggelar kenduri atau makan bersama. Hidangan yang disajikan berupa nasi gurih, ingkung ayam kampung, serta berbagai lauk tradisional dan buah-buahan. Setiap keluarga membawa makanan dari rumah masing-masing untuk dinikmati bersama, mencerminkan nilai kebersamaan dan solidaritas antarwarga.

Dukuh Salakan, Suyana, menuturkan bahwa selain aspek spiritual, Nyadran juga memiliki dimensi budaya yang kuat. Musik gamelan turut mengiringi jalannya acara, sementara beberapa warga mengenakan pakaian adat Jawa sebagai bentuk pelestarian budaya.

“Secara tidak langsung, tradisi ini menjadi ajang pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda,” kata Suyana.

Anak-anak dan remaja pun dilibatkan dalam prosesi Nyadran agar memahami makna dan filosofi di balik tradisi ini. Gus Zamzami, salah satu sesepuh desa, memberikan penjelasan mengenai sejarah Nyadran dengan harapan agar generasi muda tetap melestarikan warisan budaya ini di tengah arus modernisasi.

Meskipun zaman terus berkembang, warga Keditan tetap mempertahankan Nyadran sebagai bagian dari identitas mereka. Mereka meyakini bahwa menghormati leluhur dan menjaga tradisi adalah bagian dari keberkahan hidup. Oleh karena itu, setiap tahun Nyadran selalu dilaksanakan dengan penuh kekhidmatan.

Lebih dari sekadar ritual tahunan, Nyadran menjadi perwujudan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui tradisi ini, warga Keditan terus menjaga keharmonisan, memperkuat persaudaraan, serta menanamkan rasa syukur. Dengan tetap melestarikan Nyadran, mereka turut menjaga warisan budaya dan spiritual yang berharga bagi generasi mendatang. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




KWT Sumber Boga Tamanan Gelar Bimtek untuk Tingkatkan SDM dan Daya Saing UMKM

Sleman – Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Boga Tamanan, Padukuhan Tamanan, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, mengadakan bimbingan teknis (Bimtek) bagi pelaku UMKM pada Selasa (18/2/2025). Kegiatan ini terselenggara berkat fasilitas Corporate Social Responsibility (CSR) dari BRI dan bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman.

Ketua KWT Sumber Boga Tamanan, Nurul Khomariah, menyampaikan bahwa subsidi CSR BRI yang diterima dimanfaatkan untuk peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan pengadaan sarana produksi. Peningkatan SDM dilakukan melalui kegiatan eksternal dan internal. Secara eksternal, anggota KWT telah mengikuti pelatihan “Sinau Bareng” tentang pengolahan lidah buaya dan produksi jamur tiram di Kulon Progo. Sementara itu, secara internal, dilakukan Bimtek sehari dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman, yang diikuti oleh anggota KWT dan pelaku UMKM di Tamanan.

Dalam pemaparannya, narasumber dari Dinas Koperasi dan UMKM Sleman, Rahmad Sudrajat, menekankan pentingnya legalitas produk, kemasan yang menarik, serta strategi pemasaran. Ia mengusung tema UMKM Sleman Bermuatan Lokal dan Berdaya Saing Global.

“Hal yang harus diperhatikan dalam usaha mencakup SDM, produksi, keuangan, pemasaran, kelembagaan, dan digitalisasi. Selain itu, setiap pelaku usaha harus memiliki visi dan misi yang jelas agar memiliki arah dan strategi untuk mencapai tujuan,” ujar Rahmad.

Ia berharap para peserta memahami kiat dan syarat utama dalam mengembangkan usaha agar KWT Sumber Boga dan UMKM Tamanan semakin maju dan mandiri. Rahmad juga menegaskan bahwa legalitas produk harus dipastikan, kemasan harus menarik, serta strategi pemasaran harus matang. Hal ini mencakup segmentasi pasar, bauran pemasaran, strategi produk, harga, distribusi, dan promosi.

Bimtek ini dibuka secara resmi oleh Ketua KK LPMD Padukuhan Tamanan, Joko Saptono, serta dihadiri oleh Ketua PKK Wahyu Widayati dan perwakilan Forum UMKM Kalurahan Tamanmartani, Erna W. Dalam sambutannya, Joko Saptono berharap peserta dapat mengikuti Bimtek dengan serius agar dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh demi kemajuan usaha dan peningkatan ekonomi keluarga. (Tri Joko/KIM Kalasan)




Sleman Gelar Mancing Bareng Wartawan untuk Tingkatkan Serapan Ikan Konsumsi

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman menggelar kegiatan “Mancing Bareng Wartawan” pada Selasa, 18 Februari 2025, sebagai bagian dari upaya meningkatkan serapan ikan konsumsi melalui pemancingan. Acara ini merupakan bentuk sosialisasi pemasaran ikan, yang diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap konsumsi ikan serta memperkuat perekonomian sektor perikanan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Suparmono, mengungkapkan bahwa pemancingan tidak hanya menjadi sarana hiburan dan rekreasi, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat serta kesadaran akan pentingnya ekosistem perairan.

“Di Sleman terdapat 91 lokasi pemancingan dengan berbagai sistem, seperti kiloan, harian, borongan, maupun galatama. Dari pemancingan ini, ikan yang terserap konsumen bisa mencapai 4-8 ton per hari,” jelas Suparmono.

Ia menambahkan bahwa tren pemancingan semakin berkembang seiring kemajuan teknologi dan maraknya konten hobi memancing di media sosial. Selain itu, berbagai ikan hasil produksi, seperti nila, bawal, lele, dan ikan mas, dapat dipasarkan melalui pemancingan, mendukung pertumbuhan ekonomi di sektor perikanan.

Menurut data tahun 2024, produksi ikan konsumsi di Sleman mencapai ton, dengan rata-rata ton per bulan. Namun, angka ketersediaan ikan sebesar 37,3 kg per kapita per tahun masih belum mencukupi kebutuhan 1,12 juta penduduk Sleman, yang juga harus memenuhi permintaan dari mahasiswa dan wisatawan di daerah tersebut.

Mekanisme pemasaran ikan di Sleman dilakukan dengan beberapa tahapan, mulai dari pembudidaya ikan yang menangkap hasil budidayanya, kemudian menyalurkannya ke pedagang untuk diseleksi sesuai ukuran yang diminta konsumen. Ukuran umum ikan konsumsi meliputi nila 4-6 ekor/kg, lele 7-10 ekor/kg, dan gurame 0,5-0,8 kg/ekor.

Selain itu, Suparmono menegaskan bahwa Pemkab Sleman terus berupaya meningkatkan produksi, memperluas pengolahan dan pemasaran, serta mengembangkan manajemen usaha perikanan. Di sektor hulu, Sleman telah memproduksi hingga 1,5 miliar ekor benih ikan pada tahun 2024, menjadikannya sebagai Kawasan Penyangga Benih Ikan Nasional. Sementara itu, di sektor hilir, Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang dibina pemerintah menghasilkan berbagai produk olahan, seperti nugget ikan, dawet, dimsum, pangsit, dan tahu ikan, untuk meningkatkan minat konsumsi ikan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

“Melalui kegiatan “Mancing Bareng Wartawan,” pemerintah berharap pemancingan dapat semakin dikenal sebagai salah satu cara efektif untuk memasarkan ikan konsumsi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi ikan bagi kesehatan,” pungkas Suparmono.