Kelompok Tani Sekarsari Pelajari Pemanfaatan Air Hujan di Sekolah Banyu Bening

Sleman – Kelompok Tani Sekarsari Warungboto, Kemantren Umbulharjo, Yogyakarta, mengunjungi Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Tempursari, Sleman, pada Jumat (14/2/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi serta memperdalam pemahaman tentang pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya alternatif.

Para petani disambut oleh tim pengelola Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Kegiatan diawali dengan perkenalan, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh pendiri sekolah, Sri Wahyuningsih. Ia menjelaskan pentingnya air hujan sebagai sumber air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Dalam sesi praktikum, anggota Kelompok Tani Sekarsari membawa berbagai sampel air dari lingkungan mereka, termasuk air sumur, air konsumsi harian, dan air minum kemasan, untuk diuji menggunakan alat Total Dissolved Solids (TDS). Hasil uji menunjukkan bahwa rata-rata air yang mereka gunakan mengandung bakteri dalam kadar cukup tinggi. Sebagai perbandingan, air hujan yang diuji dengan alat yang sama memiliki kadar TDS lebih rendah. Beberapa peserta bahkan mencoba langsung air hujan dan mengakui kesegarannya.

“Air hujan yang dikelola dengan baik dapat menjadi alternatif sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Sri Wahyuningsih.

Peserta juga berkesempatan melihat berbagai instalasi pemanenan air hujan, termasuk sistem filtrasi sederhana yang memungkinkan air hujan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Selain itu, mereka diajarkan cara membuat sumur resapan guna menjaga keseimbangan air tanah.

Selain aspek teknis, acara ini menjadi ajang diskusi tentang pentingnya menjaga ekosistem air dan menerapkan pola hidup hemat air. Para peserta berbagi pengalaman mengenai tantangan serta solusi dalam pengelolaan air hujan di daerah mereka masing-masing. Diskusi ini memperkuat kesadaran akan peran komunitas dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Kunjungan ini juga mempererat hubungan antaranggota kelompok tani serta membangun jaringan dengan komunitas lain yang memiliki visi serupa. “Semoga edukasi ini dapat menginspirasi masyarakat luas untuk mempertimbangkan air hujan sebagai solusi keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya air,” tambah Sri Wahyuningsih, yang baru saja menerima penghargaan praktik terbaik penyelenggara 5 Pilar STBM Paripurna di Sleman.

Kegiatan ini membuktikan bahwa kolaborasi antara komunitas tani dan lembaga edukasi lingkungan dapat memberikan dampak positif. Diharapkan, semakin banyak masyarakat yang memahami manfaat air hujan sehingga muncul gerakan bersama untuk menjaga ketersediaan air bersih di masa depan.

(Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




HUT ke-79 SMPN 1 Sleman, Wabup Apresiasi Inovasi Tumitlangkung sebagai Wujud Sekolah Adiwiyata Nasional

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 SMP Negeri 1 Sleman pada Jumat (14/2/2025). Acara yang digelar di halaman sekolah ini juga menjadi momentum penguatan inovasi Tumitlangkung (Tujuh Menit untuk Kelas dan Lingkungan) serta peluncuran Podcast Infinity, yang digagas oleh guru dan siswa SMPN 1 Sleman.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir anggota DPRD DIY, Haris Sugiharta, serta anggota DPRD Sleman, Suryana dan Wahyudi Kurniawan.

Danang, mewakili Pemerintah Kabupaten Sleman, mengucapkan selamat atas usia ke-79 SMPN 1 Sleman. Ia berharap sekolah ini terus meningkatkan kredibilitas, kualitas, dan mutu pendidikan guna mencetak generasi muda yang mandiri, cerdas, serta berdaya saing.

“Saya merasa bangga dan mengapresiasi SMP Negeri 1 Sleman atas eksistensi serta prestasi yang telah diraih selama ini. Semoga ke depan terus meningkatkan mutu pendidikan, inovasi dalam metode pembelajaran, serta menjadi teladan bagi institusi pendidikan lainnya,” ujar Danang.

Ia juga mengapresiasi upaya SMPN 1 Sleman dalam mempertahankan predikat Sekolah Adiwiyata Nasional melalui inovasi Tumitlangkung. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa dalam menjaga kebersihan dan lingkungan sekolah.

“Inovasi ini membuktikan bahwa predikat Sekolah Adiwiyata Nasional yang disandang SMP Negeri 1 Sleman benar-benar memiliki dampak nyata. Penghargaan ini bukan hanya kebanggaan bagi sekolah, tetapi juga refleksi atas perubahan positif yang terjadi,” tambahnya.

Danang menegaskan bahwa Pemkab Sleman mendukung penuh program Sekolah Adiwiyata, baik dari segi kebijakan maupun operasional. Ia berharap upaya ini tidak hanya bertujuan memperoleh penghargaan, tetapi juga menciptakan lingkungan sekolah yang asri dan meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Sleman, Agus Istiyadi, menjelaskan bahwa Tumitlangkung adalah aksi kolektif yang melibatkan seluruh warga sekolah. Program ini menggunakan sistem blok, di mana siswa kelas 7, 8, dan 9 bertanggung jawab atas area tertentu di lingkungan sekolah.

“Dengan semangat gotong royong, siswa membersihkan dan menata area sekolah hanya dalam tujuh menit. Pembagian tugas berdasarkan sistem blok ini membuat kegiatan lebih efektif dan efisien,” jelas Agus.

Ia berharap inovasi ini memberikan dampak positif bagi seluruh siswa dan warga sekolah dalam membudayakan hidup bersih serta menjaga lingkungan.

“Tumitlangkung bukan sekadar kegiatan kebersihan, tetapi sebuah gerakan membangun budaya peduli lingkungan di SMP Negeri 1 Sleman,” pungkasnya.




Wabup Sleman Apresiasi Kontribusi Umat Kristen dalam Pembangunan Daerah

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menghadiri Sarasehan dalam rangka Musyawarah Daerah (Musda) Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) DPD Sleman tahun 2025. Kegiatan tersebut berlangsung di aula lantai 3 Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sleman.

Hadir dalam acara tersebut Ketua DPW MUKI DIY, Pdt. Dr. Jacky Latupeirisa, Ketua DPD MUKI Sleman, Pdt. Arif Ariyanto, Ketua DPD MUKI Kabupaten/Kota se-DIY, Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia (API) DIY, Pdt. Indrianto Adiatmo, serta sejumlah tokoh lintas agama.

Dalam sambutannya, Danang mengapresiasi peran MUKI Sleman yang telah membantu pemerintah daerah dalam mendampingi serta memberikan pelayanan bagi umat Kristen di Sleman. Ia juga mengucapkan terima kasih atas kontribusi umat Kristen dalam mendukung program pembangunan di Kabupaten Sleman.

“Ini selaras dengan komitmen Pemkab Sleman dalam mewujudkan Sleman sebagai rumah bersama bagi seluruh elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama, etnis, dan budaya,” ujar Danang.

Ia berharap Musda ini dapat menghasilkan keputusan strategis yang mendukung program pembangunan daerah serta memperkuat kemitraan antara Pemkab Sleman dan MUKI Sleman.

Sementara itu, Ketua DPD MUKI Sleman, Pdt. Arif Ariyanto, menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Sleman atas dukungan dan fasilitasi dalam penyelenggaraan Musda MUKI 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 150 pengurus MUKI Sleman dan diawali dengan ibadah bersama.

“Tahun 2025 akan penuh tantangan. Kami berharap MUKI tetap menjadi wadah bagi umat Kristen untuk berkarya serta berkontribusi dalam pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Sleman,” ungkapnya.




UNNES Jalin Kerja Sama dengan Komunitas Banyu Bening Sleman Lewat Magang

Sleman – Ainaya Nurfadila, mahasiswi jurusan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Semarang (UNNES) memilih Komunitas Banyu Bening Sleman sebagai tempat menyelesaikan tugas akhir dan magangnya. Ia pun menjadi peneliti pertama dari UNNES yang tertarik dengan pengelolaan air hujan yang dilakukan oleh komunitas yang beralamat di Tempursari, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Program magang ditujukan untuk menghubungkan ilmu sosiologi dan antropologi dengan praktik nyata dalam pengelolaan sumber daya air. Mahasiswa diharapkan dapat mengamati, menganalisis, dan berkontribusi dalam berbagai kegiatan komunitas, seperti pembuatan sistem penampungan dan pengolahan air hujan, edukasi lingkungan, serta advokasi kebijakan lokal terkait pengelolaan air.

Salah satu fokus utama Ainaya dalam magang ini yaitu mempelajari pola interaksi sosial dalam pengelolaan air hujan. Hal tersebut Ia katakan saat melakukan observasi terhadap cara masyarakat setempat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian air di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamis (13/2/2025). Untuk melengkapi datanya dilakukan wawancara dengan warga dan pengurus komunitas guna menggali lebih dalam tentang tantangan serta solusi yang telah diterapkan.

Di bawah bimbingan Sugianto selaku Volunteer Banyu Bening yang mengajarkan berbagai teknik pengelolaan air hujan, Ainaya mempelajari berbagai teknik pengelolaan air hujan menggunakan cara-cara sederhana namun efektif untuk menampung dan menyaring air hujan agar dapat dimanfaatkan sebagai air minum dan terapi kesehatan.

“Magang adalah kesempatan berharga untuk belajar, mengembangkan keterampilan, serta mengaplikasikan teori ke dalam praktik nyata dari dunia pendidikan,” kata Sugianto.

Adapun salah satu momen yang paling berkesan bagi Ainaya yaitu saat berbincang dengan Sri Wahyuningsih sebagai pendiri Komunitas Banyu Bening dan Sekolah Air Hujan. Mengingat, magang di Komunitas Banyu Bening memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat tantangan lingkungan dari perspektif lokal. Mereka menyadari bahwa solusi terhadap permasalahan lingkungan tidak bisa hanya berbasis teknologi, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat.

“Air hujan, jika diproses dengan benar, tidak hanya aman untuk dikonsumsi, tetapi juga berkualitas tinggi,” terang Kamaludin selaku Kepala Sekolah Air Hujan.

Pengalaman magang di Komunitas Banyu Bening memberikan Ainaya banyak pelajaran berharga tentang pengelolaan air hujan dan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian alam. Ia belajar bahwa air hujan adalah salah satu sumberdaya alam yang harus dijaga, dan dengan pemahaman serta teknologi yang tepat, masyarakat bisa memanfaatkannya secara bijaksana untuk kehidupan sehari-hari.

Komunitas Banyu Bening telah menunjukkan betapa pentingnya pendidikan dan perubahan pola pikir dalam menciptakan kehidupan yang lebih harmonis dengan alam. Ainaya pun berharap dapat membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya itu ke kampus, untuk menginspirasi mahasiswa UNNES lainnya, agar lebih peduli terhadap berbagai isu lingkungan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




KSB Sleman Evakuasi Lansia Terlantar di Cangkringan

Sleman – Seorang lansia berusia lebih dari 75 tahun asal Dusun Ngaglik, Desa Bateh, Kecamatan Candimulyo, Magelang, ditemukan terlantar di wilayah Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, pada Kamis (13/2/2025). Warga yang tidak diketahui identitasnya itu kemudian dievakuasi dan diamankan di Polsek Cangkringan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Ketua Kampung Siaga Bencana (KSB) Kabupaten Sleman, Susilo, segera berkoordinasi dengan Polsek Cangkringan dan relawan untuk memastikan langkah terbaik bagi lansia tersebut. Setelah berkomunikasi dengan Gunawan, penanggung jawab Rumah Singgah Penitipan Sementara (RPS) dari Dinas Sosial Kabupaten Sleman, akhirnya lansia tersebut dipindahkan ke RPS untuk mendapatkan perawatan sementara.

“Warga terlantar ini sudah kami amankan di RPS Dinas Sosial Sleman. Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk keluarganya, agar yang bersangkutan bisa segera dijemput dan mendapatkan perawatan lebih lanjut,” ujar Susilo.

Sementara itu, Dinas Sosial Kabupaten Sleman memastikan bahwa selama berada di RPS, lansia tersebut akan mendapatkan perhatian dan perawatan yang layak hingga pihak keluarga menjemputnya.

(Eka Sastra Kurniawan | KIM DSN Sardonoharjo)