Kapanewon Godean Gelar Amalan Dzikir Bersama Gus Ridho

Godean – Kapanewon Godean menggelar amalan dzikir yang dipimpin oleh Gus Ridho dari Sidoarum, Minggu (9/2/2025). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kapanewon Godean ini diselenggarakan oleh Forum Rois se-Kapanewon Godean dan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Panewu Godean Rohmiyanto, perwakilan kepolisian, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Godean 1 dan 2.

Dalam sambutannya, Ketua Forum Rois Godean, Sarbini, menyampaikan terima kasih kepada Panewu Godean yang telah memfasilitasi acara ini. Ia juga mengapresiasi kehadiran seluruh peserta, termasuk para ustaz dan tokoh masyarakat. Sarbini menambahkan bahwa Forum Rois Godean memiliki dua program rutin, yakni pertemuan pada bulan Syakban dan Muharam.

Panewu Godean, Rohmiyanto, dalam sambutannya mengabsen kehadiran lintas instansi dan para ustaz yang hadir. Ia berharap, dengan terpilihnya bupati dari wilayah Godean, anggaran dan kegiatan untuk para rois dapat lebih ditingkatkan ke depannya.

Dalam tausiyah yang disampaikan oleh H. Iwan Santoso, dijelaskan bahwa terdapat empat ciri ahli surga, yaitu wajah yang berseri-seri  yang artinya memiliki ekspresi yang menyenangkan dan selalu tersenyum.

Ciri berikutnya adalah hati yang selalu berniat baik, yaitu senantiasa memiliki niat yang baik dalam setiap tindakan.

Berikutnya adalah lisan yang menyenangkan orang lain, yaitu berbicara dengan sopan dan memberikan kebahagiaan kepada sesama.

“Terakhir adalah tangan yang ringan untuk bersedekah, gemar membantu dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan,” tegasnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan semakin mempererat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan semangat beribadah bagi masyarakat Godean. (H. Iwan Santoso / KIM Godean)




Kejurda Angkat Berat DIY 2025: Ajang Pertarungan Para Monster Besi

Sleman – Kejuaraan Daerah (Kejurda) Angkat Berat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2025 sukses digelar di GOR Kalurahan Condongcatur, Minggu (9/2/2025). Ajang ini menjadi pertarungan penuh semangat dan adrenalin bagi para lifter terbaik DIY dalam membuktikan kekuatan mereka di atas besi-besi berat.

Ketua KONI DIY, yang diwakili oleh Triyana, secara resmi membuka kejuaraan ini. Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pengda PABERSI) DIY, Reno Candra Sangaji, yang juga Lurah Condongcatur, menyampaikan sambutannya.

 “Kejurda ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ajang pencarian The Next Beast yang akan membawa nama DIY ke level tertinggi, khususnya di Porda DIY 2025 di Gunungkidul dan PON 2028,” ujar Reno.

Ia menambahkan bahwa dengan enam kelas putra dan putri yang dipertandingkan, kejuaraan ini menjadi wadah bagi bibit-bibit baru untuk muncul dan menyalakan harapan baru bagi dunia angkat berat DIY. “Ini bukan hanya soal angka di barbel, tetapi juga tentang semangat, gengsi, dan harga diri,” pungkasnya.

Reno juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu bergabung dalam dunia angkat berat. “Bagi yang ingin terjun ke olahraga ini, jangan ragu! Mereka yang bertanding di sini memiliki mental baja, otot baja, dan semangat membara! PON 2025, DIY siap tempur! PABERSI DIY, Dari Besi, Untuk Prestasi!” serunya.

Kejurda Angkat Berat DIY 2025 menjadi bukti bahwa olahraga ini terus berkembang dan siap melahirkan atlet-atlet berprestasi yang akan membawa nama DIY ke kancah nasional maupun internasional. (Wasana/KIM Depok)




PCM-PCA Turi Gelar Baitul Arqam untuk Penguatan Ideologi dan Konsolidasi Organisasi

Sleman – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kapanewon Turi menggelar Baitul Arqam sebagai upaya peneguhan ideologi Muhammadiyah dan konsolidasi organisasi, Minggu (9/2/2025). Acara ini berlangsung di Boyong Kalegan Resto, Kalireso, Candibinangun, Pakem, dengan diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai unsur organisasi Muhammadiyah.

Ketua panitia acara, Edy Purwanto menjelaskan bahwa peserta berasal dari utusan cabang dan ranting Muhammadiyah serta Aisyiyah, pimpinan majelis PCM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, kepala sekolah, serta guru SD, SMP, dan SMK Muhammadiyah se-Kapanewon Turi.

Ketua PCM Turi, Bambang Rahmanto, dan Ketua PCA Turi, Sri Widayati, berharap agar para pengurus cabang dan ranting dapat menerapkan materi yang disampaikan dalam acara ini guna memperkuat ideologi Muhammadiyah serta mengokohkan konsolidasi organisasi di wilayah masing-masing.

Sesi pertama menghadirkan H. Nasirun dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman dengan tema Muhammadiyah Harus Maju dan Berkembang. Dalam paparannya, ia berbagi kisah perjuangannya dalam membeli loji (rumah peninggalan Belanda) senilai Rp2,2 miliar yang kini difungsikan sebagai pusat dakwah Muhammadiyah Minggir.

“Gedung tersebut kini menjadi kantor PCM yang megah, lengkap dengan masjid dan minimarket “Loji Mart”,” ujarnya.

Sesi berikutnya, H. M. Isnawan, S.E., membawakan materi Berideologi Muhammadiyah Sebagai Sarana Dakwah. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya menjadi kader persyarikatan yang kuat dan tangguh dalam amar ma’ruf nahi munkar, berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta tidak mudah terpengaruh oleh arus yang merusak semangat perjuangan.

Wakil Rektor Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Dr. Iwan Setiawan, juga turut memberikan materi tentang ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yang sejalan dengan amanah ideologi Muhammadiyah sebagaimana termaktub dalam Risalah Islam Berkemajuan (RIB).

Dalam sesi tanya jawab, peserta aktif mengajukan pertanyaan yang memperkaya pemahaman mereka terhadap materi yang disampaikan. Diskusi yang interaktif ini semakin memperjelas implementasi dari konsep-konsep yang dibahas.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama para peserta dan narasumber dalam suasana penuh semangat berkemajuan. Baitul Arqam ini diharapkan dapat memperkuat komitmen para kader Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah dan memperkokoh persyarikatan di wilayah Kapanewon Turi.

(Arief Hartanto/KIM Kapanewon Turi)




Film Dokumenter Menambang Langit, Refleksi Pentingnya Menghargai Air

Sleman – Mahasiswa semester V Angkatan 2022 Akademi Komunikasi Radya Binatama (AKRB) Yogyakarta yang berada di Kabupaten Sleman menggelar malam screening film dokumenter di Bento Kopi Sorowajan, Banguntapan, Bantul, Sabtu (8/2/2025). Acara ini merupakan puncak dari mata kuliah Produksi Dokumenter, menampilkan 10 karya yang dinilai dalam empat kategori: penyutradaraan, sinematografi, editing, dan karya terbaik.

Dewan juri terdiri dari Sari F. Nainggolan (penyutradaraan), Antonius Janu Haryono (sinematografi), Fadeyanto Prabowo (editing), serta Ghalif Putra Sadewa (karya terbaik), yang semuanya merupakan dosen AKRB Yogyakarta.

Salah satu film dokumenter yang menarik perhatian adalah Menambang Langit, yang diproduseri oleh Rimawati dengan sutradara Titah Tifani Tamaya. Film ini melibatkan Axel Lelaki Prasetya sebagai penulis naskah, Muhammad Ryan Alghamar sebagai penata kamera dan suara, serta Alfan Alfian sebagai penyunting gambar dan asisten kamera.

Film ini dinobatkan sebagai dokumenter terbaik kedua dan mengangkat kisah Sri Wahyuningsih, pemilik Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Berawal dari kegelisahan seorang wanita terhadap konflik air, dokumenter ini menyoroti pentingnya menghargai air sebagai sumber daya yang tak tergantikan.

Menambang Langit menggambarkan perjuangan masyarakat di daerah kering menghadapi krisis air bersih serta inovasi dalam pengelolaan air secara berkelanjutan. Dengan visual yang menarik dan narasi yang kuat, film ini mengajak penonton untuk merenungkan bagaimana manusia memperlakukan sumber daya air.

Sri Wahyuningsih, yang akrab disapa Bu Ning, dalam film ini memperlihatkan bagaimana air hujan dapat dikelola secara mandiri untuk mengatasi kekeringan di musim kemarau. Ia mengedukasi masyarakat agar tidak membiarkan air hujan terbuang sia-sia dan memanfaatkannya dengan bijak.

“Salah satu pesan utama dalam Menambang Langit adalah bahwa air bukan sekadar komoditas, tetapi anugerah Tuhan yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan bijak,” ujarnya.

Film ini juga menyoroti perilaku boros terhadap air, yang masih dianggap sebagai sumber daya tak terbatas oleh banyak orang. Selain itu, dokumenter ini mengkritik kebijakan yang lebih berpihak kepada industri besar dibandingkan kepentingan masyarakat kecil. Eksploitasi sumber daya air oleh perusahaan besar sering kali menyebabkan ketimpangan distribusi, di mana masyarakat setempat mengalami kekurangan sementara sektor industri menggunakannya secara berlebihan.

Lebih dari sekadar film dokumenter, Menambang Langit menjadi sebuah seruan untuk bertindak. Dengan berbagai contoh nyata yang ditampilkan, film ini menginspirasi individu, komunitas, dan pemerintah untuk mencari solusi dalam pengelolaan air yang lebih bijaksana.

Harapannya, kegiatan screening film dokumenter di AKRB Yogyakarta dapat terus berkembang dan mencetak sumber daya manusia unggul di bidang perfilman serta industri kreatif. Melalui karya-karya mereka, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai tantangan sosial di masa depan. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Sanggar Tari Anuraga Gelar Uji Kompetensi Bersama Didik Nini Thowok

Sleman – Sanggar Tari Anuraga Wonolelo menggelar Uji Kompetensi Tari bersama maestro tari Didik Nini Thowok di Atrium Shinta, Sleman City Hall, Jumat (7/2). Sebanyak 84 siswa dari sanggar tersebut menampilkan tujuh tarian dalam ajang ini.

Ketua Sanggar Tari Anuraga Wonolelo, Irfan Adnan Arifin, menyampaikan bahwa sanggar yang didirikannya sejak 2017 ini bersifat nirlaba dan telah terdaftar di Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman sejak Juli 2022. Hingga saat ini, sanggar yang berlokasi di Pondok Wonolelo II, Widodomartani, Ngemplak, memiliki sekitar 90 peserta didik, dengan 84 anak mengikuti uji kompetensi.

Dalam ajang ini, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelas, mulai dari kelas dasar hingga kelas F. Mereka membawakan berbagai tarian tradisional, di antaranya Tari Kencana Wingka, Tari Arutala, Tari Lenggot Siwi, Tari Sasmita Manunggal, Tari Sembah Pambuka, Tari Adikara, dan Jaran Kore.

Menurut Irfan, pendirian sanggar ini berangkat dari kepedulian terhadap pelestarian budaya, terutama seni tari. “Kami ingin anak-anak sejak dini mengenal, belajar, hingga mencintai seni tari. Kami bersyukur mendapatkan dukungan penuh dari para orang tua,” ujarnya.

Dalam evaluasi penampilan, Didik Nini Thowok menekankan pentingnya penggunaan kostum yang mencerminkan identitas lokal, seperti nyamping atau jarik dengan motif khas daerah masing-masing. “Kostum tari harus menunjukkan keunikan setiap daerah, bukan diseragamkan dengan daerah lain,” tegasnya.

Didik juga mengapresiasi semangat para peserta dan dukungan orang tua dalam pelestarian seni tari. Ia menegaskan bahwa laki-laki tidak perlu takut menjadi penari, dan orang tua tidak perlu khawatir jika anak laki-lakinya tertarik pada dunia tari. “Jangan takut dibilang wandu karena menjadi penari laki-laki,” ungkapnya.

Acara ini juga dihadiri oleh Pendamping Kalurahan Budaya Anis Damayanti, Galuh, Ngadini, serta tim monitoring dan evaluasi yang dipimpin oleh Joko Saptono. (Tri Joko S – KIM Kalasan)