Makanan Halalan Thoyiban Berpengaruh pada Kesehatan Fisik dan Mental

Moyudan – Forum Komunikasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Sumbersari menggelar pengajian rutin di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman, pada Minggu (9/2). Pengajian kali ini menghadirkan Ustadz dr. Alfu Rafdi, Direktur Klinik Pratama Aisyiyah Moyudan, yang membawakan tema “Puasa dan Kesehatan.”

Dalam ceramahnya, dr. Alfu Rafdi menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk manusia yang bertakwa, dengan indikatornya yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu perintah tersebut termaktub dalam Al-Qur’an, Surat Al-A’raf ayat 31, yang menegaskan agar tidak berlebihan dalam makan.

“Jika kita makan berlebihan, bisa menimbulkan berbagai penyakit seperti kolesterol tinggi, gula darah, dan gangguan kesehatan lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya mengonsumsi makanan yang halal dan thoyib sebagaimana diperintahkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 168.

“Makanan harus halal dan bersih. Sebab, makanan yang halal tetapi tidak higienis juga bisa menyebabkan penyakit,” jelasnya.

Menurut dr. Alfu Rafdi, konsep halalan thoyiban menekankan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi. Asupan yang baik akan memberikan energi dan nutrisi yang diperlukan tubuh, sehingga berdampak positif bagi kesehatan fisik maupun mental.

“Selain menjaga kesehatan tubuh, makanan dan minuman yang halalan thoyiban juga membantu keseimbangan mental dan emosional seseorang,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa berpuasa memiliki manfaat kesehatan, terutama dalam proses detoksifikasi tubuh.

“Pada awal hingga pertengahan puasa, tubuh akan beradaptasi. Selanjutnya, tubuh akan mengeluarkan zat-zat yang tidak diperlukan, termasuk penyakit yang menyertai,” imbuhnya.

Sebelum ceramah dimulai, Junaidi selaku pengurus Forum PRM Sumbersari menyampaikan bahwa jumlah peserta pengajian semakin bertambah dari waktu ke waktu. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk meningkatkan ibadah puasa menjelang bulan Ramadan.

(Giek/KIM Moyudan)




Didit Paryono: Petani, Peternak, dan Komandan Regu Satlinmas yang Berdedikasi

Sleman – Didit Paryono, warga Dusun Plosorejo, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, menjalani keseharian yang unik. Selain bekerja sebagai petani dan peternak, ia juga memegang tanggung jawab sebagai Komandan Regu Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) Sardonoharjo. Peran gandanya ini menunjukkan dedikasi tinggi terhadap keamanan dan kesejahteraan desa.

Sejak pagi, Didit sibuk di ladang, merawat tanaman, dan memberi makan ternaknya. Namun, ketika tugas di Satlinmas memanggil, ia segera beralih peran.

“Bertani dan beternak adalah sumber penghidupan saya, tetapi menjaga keamanan desa dan menjadi bagian dari Tim Reaksi Cepat dalam kebencanaan juga merupakan kewajiban saya,” ujarnya saat ditemui pada Minggu (9/2/2025).

Sebagai Komandan Regu Satlinmas, Didit bertanggung jawab atas pengamanan berbagai kegiatan desa, seperti acara budaya, ronda malam, hingga penanganan bencana. Ia dan timnya selalu siaga untuk memastikan ketertiban di wilayah Sardonoharjo tetap terjaga. Bahkan, ia juga kerap mengantarkan warga yang sakit menggunakan ambulans desa.

Kontribusi Didit dalam mengemban dua peran ini mendapat apresiasi luas dari masyarakat dan pemerintah desa. Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho, menyebutnya sebagai sosok yang berdedikasi tinggi.

“Pak Didit adalah contoh nyata warga yang peduli terhadap desa. Ia bukan hanya petani yang ulet, tetapi juga pemimpin yang sigap dalam menjaga keamanan,” katanya.

Banyak warga yang merasa terbantu dengan keberadaan Didit. “Kami selalu melihat Pak Didit aktif di berbagai kegiatan. Entah saat ada acara besar, ronda malam, atau bahkan ketika ada bencana alam. Beliau juga sering mengantarkan warga yang sakit ke rumah sakit,” ujar salah satu warga.

Didit berharap generasi muda lebih peduli terhadap desa dan turut berkontribusi dalam berbagai bidang.

“Jangan ragu untuk bertani atau beternak, karena itu profesi yang penting. Jika bisa sekaligus berkontribusi menjaga keamanan desa, itu akan lebih baik,” pesannya.

Dengan semangat dan pengabdiannya yang tinggi, Didit Paryono membuktikan bahwa seorang petani dan peternak juga bisa menjadi sosok penting dalam menjaga ketertiban desa. Dari ladang hingga tugas Satlinmas, ia terus berkontribusi demi Sardonoharjo yang lebih aman dan sejahtera. (Eka Sastra Kurniawan – KIM DSN Sardonoharjo)




Musyawarah Khusus Tetapkan 100 KPM BLT Desa Caturtunggal 2025

Caturtunggal – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal menggelar Musyawarah Kalurahan Khusus untuk menetapkan daftar penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa Tahun 2025, Kamis (6/2/2025). Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Kalurahan Caturtunggal dan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Penjabat (PJ) Lurah Caturtunggal, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Caturtunggal, serta perwakilan dari lembaga sosial dan masyarakat.

Dalam musyawarah tersebut, diputuskan bahwa jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) BLT Desa Tahun 2025 tetap sama seperti tahun sebelumnya, yakni sebanyak 100 keluarga. Data penerima ini merupakan hasil usulan dari masing-masing padukuhan di wilayah Caturtunggal.

Wakil Ketua BPKal Caturtunggal, Syamsudin, berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Kami berharap bantuan ini benar-benar digunakan untuk kebutuhan mendesak dan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga penerima,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Masrodli, SP, menekankan pentingnya penggunaan BLT secara bijak. “Kami berharap BLT tidak hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga dapat disisihkan sebagai modal usaha agar meningkatkan kesejahteraan keluarga. Selain itu, bantuan ini bisa dikolaborasikan dengan Program Keluarga Harapan (PKH) melalui pelatihan keterampilan bagi penerima manfaat,” jelasnya.

Dengan adanya musyawarah ini, Pemerintah Kalurahan Caturtunggal berharap program BLT Desa Tahun 2025 dapat berjalan secara transparan, tepat sasaran, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat yang membutuhkan. (Oktaviana/KIM Depok)




Cegah Kerugian, Pembudidaya Ikan Banyuraden Dibekali Ilmu Pengendalian Hama

Sleman – Hama dan penyakit ikan menjadi tantangan serius dalam dunia perikanan budidaya. Jika tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat menurunkan produktivitas dan menyebabkan kerugian bagi para pembudidaya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kalurahan Banyuraden bekerja sama dengan Dinas Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan Pelatihan Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan Terpadu pada Kamis (6/2/2025). Kegiatan ini berlangsung di kawasan kolam milik Kelompok Pembudidaya Ikan Modinan, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman.

Pelatihan ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam kepada para pembudidaya mengenai berbagai jenis penyakit ikan, faktor penyebabnya, serta teknik pengendalian yang ramah lingkungan. Acara dibuka secara resmi oleh Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama, didampingi Ulu-Ulu, Sulung Pramono, serta Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan Banyuraden, Edi Waluyo.

Dalam pemaparannya, Hendy menekankan pentingnya mengenali penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan parasit.

“Penyakit ikan dapat menurunkan produksi dan menyebabkan kerugian besar. Oleh karena itu, pembudidaya perlu memahami gejala awal serta metode pencegahannya,” ujarnya.

Peserta pelatihan mendapatkan materi dari petugas Dinas Perikanan DIY, Astuti, serta Penyuluh Perikanan Kapanewon Gamping, Ita Wulan Haryanti. Mereka menjelaskan cara mengidentifikasi hama dan penyakit ikan, teknik penanganan, serta pengendalian lingkungan budidaya agar tetap sehat dan produktif.

Selain itu, peserta juga diajarkan cara mengenali gejala klinis ikan yang terinfeksi, sehingga dapat segera melakukan tindakan pencegahan dan pengobatan yang tepat.

“Dengan memahami karakteristik serta pola serangan hama, pembudidaya dapat mengambil langkah pengendalian yang lebih efektif,” jelas Astuti.

Metode pencegahan dalam pelatihan ini berbasis prinsip keberlanjutan, sehingga ekosistem perikanan tetap terjaga. Salah satu aspek penting yang diperkenalkan adalah manajemen kesehatan ikan berbasis biosekuriti, yaitu menjaga kualitas air, mengatur kepadatan ikan di kolam, dan memberikan pakan sehat dan berkualitas.

Langkah-langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya tahan ikan terhadap penyakit secara alami, tanpa ketergantungan berlebihan pada obat-obatan kimia.

Penyuluh Perikanan Kapanewon Gamping, Ita Wulan Haryanti, berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kesadaran para pembudidaya akan pentingnya menjaga kesehatan ikan secara berkelanjutan.

“Dengan manajemen yang baik, penyebaran penyakit dapat dicegah secara efektif, sehingga produktivitas meningkat dan mendukung ketahanan pangan nasional,” ungkapnya.

Pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kesadaran dan keterampilan pembudidaya dalam menjaga kesehatan ikan. Ke depan, diharapkan lebih banyak pelaku usaha perikanan yang mengikuti pelatihan serupa untuk memastikan budidaya ikan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

(Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Perempuan Berdaya, Keluarga Sakinah Terjaga

Kalasan – ‘Aisyiyah terus berkomitmen dalam memberdayakan kaum perempuan melalui berbagai program, termasuk literasi di berbagai bidang. Salah satu program unggulan yang rutin dilaksanakan adalah “Perempuan ‘Aisyiyah Mengaji”, yang digelar setiap Kamis Wage secara bergilir di berbagai ranting Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kalasan.

Pada Kamis Wage, 6 Februari 2025, kegiatan pengajian ini berlangsung di Masjid Baiturrahman, Bayen, Purwomartani, Kalasan, dengan dihadiri oleh 320 jamaah dari berbagai kalangan. Acara ini juga diikuti dengan pengukuhan kepengurusan Bina Keluarga Sakinah ‘Aisyiyah (BIKKSA) dengan nama Sabilun Najah, serta pengukuhan kepengurusan Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak (GACA) oleh Ketua PCA Kalasan, Fatma Ismiyati.

Hadir sebagai penceramah, Hanik Rosyada, Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sleman, menyampaikan materi bertema “Pondasi Keluarga Sakinah”. Dalam ceramahnya, ia menegaskan bahwa BIKKSA Sabilun Najah dan GACA PCA Kalasan dapat menjadi garda terdepan dalam menangani permasalahan sosial, terutama dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawadah, dan warahmah, serta melindungi anak-anak dari berbagai bentuk kekerasan.

“Selamat atas terbentuknya BIKKSA Sabilun Najah dan GACA PCA Kalasan. Semoga dapat mengemban amanah dan menjalankan tugas dengan baik. Kesuksesan keluarga sakinah menjadi indikator keberhasilan gerakan ‘Aisyiyah,” ujarnya.

Dengan terbentuknya dua gerakan ini, diharapkan kaum perempuan dapat semakin berdaya dalam membangun keluarga yang harmonis dan melindungi anak-anak dari ancaman kekerasan, sehingga menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. (Arief Hartanto/KIM Turi)