Pemerintah Kalurahan Tamanmartani Dukung Tradisi Sadranan dengan Bantuan Jodang

Kalasan – Pemerintah Kalurahan Tamanmartani memberikan bantuan Jodang kepada beberapa padukuhan yang menyelenggarakan upacara adat dan tradisi Sadranan dalam rangka peringatan bulan Ruwah atau Ruwahan dalam penanggalan Jawa.
Lurah Tamanmartani, Gandang Harjanata, menyatakan bahwa bantuan ini merupakan wujud komitmen pemerintah kalurahan dalam melestarikan adat dan tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat. Selain itu, bantuan ini juga menjadi respons terhadap keinginan warga yang secara turun-temurun menjaga warisan leluhur melalui tradisi gotong royong.
“Sebagai Kalurahan Budaya, kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga, mengembangkan, dan melindungi adat serta tradisi yang masih hidup di masyarakat. Tradisi Sadranan di Tamanmartani masih berjalan dengan baik, meskipun hari pelaksanaannya berbeda-beda di setiap dusun, tergantung pada kebiasaan yang diwariskan oleh para leluhur. Namun, semuanya tetap berpegang pada penanggalan Jawa. Oleh karena itu, kami merasa wajib untuk mendukungnya,” ujar Gandang, Rabu (5/2/2025).
Kamituwa Tamanmartani, Awan Parades, menjelaskan bahwa untuk Ruwahan tahun ini, Pemerintah Kalurahan Budaya Tamanmartani telah mengalokasikan 16 unit Jodang, dengan nilai per unit sebesar .
Dari jumlah tersebut, alokasi bantuan dibagikan antara lain Padukuhan Randugunting sebanyak 8 unit, Padukuhan Caturharjo sebanyak 2 unit, dan Padukuhan Tegalrejo sebanyak 6 unit.
Selain itu, masih ada 8 unit Jodang yang sedang dalam proses pengadaan dan rencananya akan diberikan kepada Padukuhan Cageran.
Jodang merupakan wadah tradisional yang digunakan untuk membawa berbagai ubo rampe dalam prosesi kenduri. Meskipun umumnya digunakan dalam tradisi Sadranan atau Nyadran, Jodang juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai upacara adat lainnya.
“Jodang ini memang biasa digunakan dalam tradisi Nyadran, tetapi sifatnya fleksibel karena bisa dimanfaatkan dalam berbagai acara masyarakat lainnya yang membutuhkan wadah untuk membawa perlengkapan kenduri,” jelas Awan yang juga menjabat sebagai Ketua Pengelola Kalurahan Budaya.
Tradisi Ruwahan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tamanmartani sejak dahulu kala. Implementasinya beragam di setiap wilayah. Ada yang hanya melakukan Nyekar atau berziarah ke makam leluhur, sementara lainnya menambahkan Tahlilan dan doa bersama di tempat yang telah ditentukan, seperti halaman rumah tokoh masyarakat atau lokasi yang dianggap sakral.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat akan berkumpul bersama sanak saudara sambil membawa ubo rampe kenduri sebagai bentuk sedekah. Usai Tahlilan dan doa bersama, acara ditutup dengan makan bersama tanpa membedakan status sosial.
Tanggal pelaksanaan Ruwahan juga bervariasi sesuai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Beberapa masyarakat melakukannya pada tanggal Selikuran (21 Ruwah), Telulikuran (23 Ruwah), atau Nemlikuran (26 Ruwah), bergantung pada kebiasaan yang telah berjalan sejak zaman leluhur.
Dengan adanya dukungan dari pemerintah kalurahan, diharapkan tradisi Ruwahan dan Sadranan dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Jawa yang sarat akan nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan. (Tri Joko S – KIM Kalasan Bersahabat)



