Wabup Sleman Resmikan Gedung Asisi Charitas Hospital Klepu

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, meresmikan Gedung Asisi milik Charitas Hospital Klepu, yang berlokasi di Sendangmulyo, Minggir, pada Selasa (25/2/2025). Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Danang, yang kemudian dilanjutkan dengan hospital tour untuk meninjau fasilitas kesehatan di gedung tersebut.

Dalam sambutannya, Danang menyampaikan apresiasi kepada Charitas Hospital Klepu atas kontribusinya dalam menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Minggir dan sekitarnya.

“Kesehatan adalah prioritas yang harus disediakan pemerintah. Kehadiran Charitas Hospital dengan pengembangannya ini tentu sangat membantu dalam memberikan pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat di Sleman bagian barat,” ujar Danang.

Direktur Charitas Hospital Klepu, dr. Lovelia Sukamtini, menjelaskan bahwa Gedung Asisi akan difungsikan untuk berbagai layanan kesehatan, termasuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), ICU, PICU, NICU, dan Perinatologi.

“Kami berharap kehadiran gedung ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas, sesuai dengan tema peresmian hari ini: ‘Menjadi Terang, Menjangkau yang Lemah’,” ungkap Lovelia.




24 Kalurahan Budaya di Sleman Paparkan Potensi Unggulan untuk 2025

Sleman – Sebanyak 24 Ketua Pengurus Pengelola Kalurahan Budaya di Kabupaten Sleman memaparkan potensi unggulan serta program kegiatan untuk tahun 2025 dalam rapat koordinasi terpadu. Kegiatan ini berlangsung di Balai Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, pada Selasa (25/2/2025) dan dihadiri oleh para pendamping Kalurahan Budaya.

Dalam kesempatan ini, para ketua kalurahan secara bergantian menyampaikan pemaparan selama delapan menit di hadapan Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Kalurahan/Kelurahan Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Supartini, serta Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang terdiri dari Joko Saptono, Bugiswanto, Priyo Gani, dan Suparno.

Paparan yang disampaikan para ketua Kalurahan Budaya berfokus pada enam pilar utama yang menjadi fondasi pengembangan kebudayaan di tingkat kalurahan. Pilar pertama mencakup upaya pengembangan, pelestarian, dan perlindungan seni, yang bertujuan menjaga eksistensi seni tradisional agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Selain itu, perhatian juga diberikan pada bahasa, sastra, dan aksara, sebagai bagian penting dari identitas budaya yang perlu terus diwariskan kepada generasi mendatang. Permainan tradisional juga menjadi sorotan, mengingat perannya dalam membangun kreativitas, kebersamaan, dan kearifan lokal di tengah arus modernisasi.

Di bidang kuliner dan pengobatan tradisional, masing-masing kalurahan menampilkan keunikan sajian khas daerahnya serta metode pengobatan warisan leluhur yang masih dipercaya dan digunakan masyarakat.

Sementara itu, aspek tata ruang dan warisan budaya menjadi perhatian dalam upaya menjaga dan melestarikan struktur serta nilai-nilai historis yang melekat pada lingkungan fisik kalurahan. Tak kalah penting, pilar terakhir berfokus pada adat dan tradisi, yang menjadi perekat sosial dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Kalurahan/Kelurahan Budaya Kundha Kabudayan DIY, Supartini, menyampaikan bahwa pendampingan Kalurahan Budaya untuk tahun 2025 akan berlangsung selama sebelas bulan, mulai Februari.

“Pada tahap awal, kami melakukan pemetaan potensi unggulan di masing-masing Kalurahan Budaya. Meski memiliki pilar yang sama, setiap kalurahan memiliki keunikan tersendiri,” ujar Supartini.

Setiap kalurahan, lanjutnya, perlu memiliki ciri khas yang dapat dipatenkan, seperti motif batik khas, gendhing khas, atau tarian khas. Di bidang kuliner, misalnya, beberapa makanan tradisional yang menjadi ikon daerah adalah Apem Wonolelo, Ayam Goreng Kalasan, Bebek Bacem, dan Keripik Gadung.

Menurur Supartini, hasil paparan dari masing-masing Kalurahan Budaya akan menjadi acuan dalam menyusun program pengembangan budaya serta strategi promosi wisata berbasis kearifan lokal.

“Data yang diperoleh akan digunakan untuk mengidentifikasi potensi unggulan tiap kalurahan, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai daya tarik budaya dan wisata,” ujarnya.

Selain itu, informasi tersebut juga akan dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan keikutsertaan kalurahan dalam berbagai ajang seni dan budaya yang difasilitasi oleh Kundha Kabudayan DIY. Beberapa agenda utama yang menjadi wadah bagi Kalurahan Budaya untuk menampilkan kekayaan budayanya antara lain Gelar Potensi Kalurahan Budaya, Pentas Seni Kalurahan Budaya di Malioboro, serta Pentas Seni di Bandara YIA, Kulon Progo.

“Dengan paparan ini, kami dapat mengetahui kekuatan dan keunggulan masing-masing kalurahan. Harapannya, ini dapat menjadi pedoman untuk pengembangan serta promosi budaya yang lebih luas,” pungkas Supartini. (Tri Joko S – KIM Kalasan)




16 Calon Pamong Condongcatur Siap Mengikuti Ujian Seleksi 2025

Sleman – Panitia Pengisian dan Pengangkatan Pamong Kalurahan Condongcatur Tahun 2025 menggelar pembekalan bagi 16 peserta seleksi pamong di Ruang Wacana Loka, Selasa (25/2/2025).

Acara ini dihadiri oleh tim DRPM Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Lurah Condongcatur, Panewu Depok, serta perwakilan Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Ketua Panitia, Siswantoro, menyampaikan bahwa 9 calon Jagabaya, 3 calon Dukuh Ngropoh, dan 4 calon Dukuh Kayen telah lolos seleksi administrasi dan siap mengikuti ujian di UNY pada 27 Februari 2025.

Lurah Condongcatur, Reno Sangaji, menekankan pentingnya seleksi yang objektif dan transparan.

“Seleksi ini bekerja sama dengan UNY yang sudah terbukti kredibel. Saya harap peserta mengikuti ujian dengan jujur dan menunjukkan kemampuan terbaik,” ujarnya.

Ujian seleksi pamong Kalurahan Condongcatur akan dilaksanakan secara bertahap sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Menurut Prof. Dr. Sudji Munadi, ., dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ujian mencakup berbagai aspek untuk menilai kompetensi peserta, mulai dari tes akademik (CAT), praktik komputer, psikologi, pidato, hingga wawancara.

Seleksi akan dimulai pada pukul WIB dengan sesi pembukaan, diikuti oleh tes psikologi pada WIB. Setelah jeda istirahat, peserta akan melanjutkan dengan tes praktik komputer pada WIB, kemudian menjalani tes akademik berbasis komputer (CAT) pada WIB.

Setelah istirahat siang, ujian berlanjut dengan tes wawancara dan pidato pada pukul WIB. Rangkaian seleksi ini akan ditutup dengan pengumuman hasil ujian pada pukul WIB.

Peserta diwajibkan berpakaian atasan putih, bawahan hitam, membawa KTP/SIM, Kartu Ujian, dan alat tulis. Penggunaan alat komunikasi dilarang selama ujian berlangsung.

“Dengan format ujian yang ketat dan profesional ini, diharapkan seleksi dapat berjalan secara transparan, objektif, dan menghasilkan pamong yang berkualitas,” ujar Sudji.

Kepala Jawatan Praja Kapanewon Depok, Feri Ferdian, menegaskan bahwa seleksi ini sesuai dengan Perda Sleman No. 10 Tahun 2019.

“Condongcatur adalah salah satu kalurahan terbaik di Indonesia. Kami berharap terpilih pamong yang kompeten dan siap memajukan kalurahan,” katanya.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama panitia, peserta, dan tim seleksi UNY. (Wasana/KIM Depok)




Pokja Ibu PAUD Banyuraden Gandeng TNI-Polri, Bahas Program Kerja 2025

Sleman – Kelompok Kerja (Pokja) Ibu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Banyuraden menggandeng Puskesmas Gamping II, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa dalam rapat kerja yang membahas program kerja tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung di Gedung TK Among Siwi Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Senin (24/2/2025).

Ketua Tim Penggerak PKK Banyuraden, Kwintartiningsih Pospoputri, menyampaikan bahwa agenda utama rapat ini adalah menyusun program yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini serta memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan kepolisian dan TNI. Salah satu program yang dibahas adalah “Polisi Sahabat Anak,” sebuah inisiatif yang melibatkan Bhabinkamtibmas dalam kegiatan edukasi bagi anak-anak PAUD.

“Program ini bertujuan untuk mengenalkan peran polisi sebagai pelindung masyarakat serta menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan keselamatan sejak dini,” ujar Kwintartiningsih dalam sambutannya.

Bripka Suyanto, selaku Bhabinkamtibmas Banyuraden, menekankan pentingnya peran kepolisian dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Menurutnya, program “Polisi Sahabat Anak” akan membantu anak-anak mengenal polisi sebagai sosok yang melindungi dan mengayomi masyarakat.

“Kami ingin membangun kedekatan dengan anak-anak agar mereka tidak merasa takut terhadap polisi, melainkan melihat kami sebagai sahabat yang dapat membantu mereka,” jelas Bripka Suyanto.

Dalam program ini, polisi akan berperan aktif dalam berbagai kegiatan di PAUD, seperti bercerita, bermain bersama anak-anak, serta memberikan penyuluhan ringan dengan metode yang menyenangkan dan mudah dipahami. Babinsa Banyuraden, Serda Heri Prabowo, menambahkan bahwa edukasi ini juga akan melibatkan orang tua dan pendidik agar bersama-sama menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.

Selain program edukasi kepolisian, Pokja PAUD Banyuraden juga merancang workshop parenting sebagai bagian dari program kerja 2025. Workshop ini bertujuan membekali orang tua dengan pengetahuan mengenai pola asuh yang baik serta peningkatan gizi anak untuk mencegah stunting.

Ayu Wulandari, ahli gizi dari Puskesmas Gamping II, menekankan pentingnya asupan gizi seimbang bagi anak-anak. Ia mengajak para orang tua dan tenaga pendidik untuk memperhatikan pola makan anak dengan memberikan makanan bergizi, seperti protein hewani, sayuran, buah-buahan, serta membiasakan konsumsi air putih yang cukup.

“Di sekolah, anak-anak dapat diajarkan mengenali makanan sehat melalui aktivitas yang menyenangkan, seperti bercerita, praktik membuat bekal sehat, dan berkebun,” ungkap Ayu.

Puskesmas Gamping II juga mendorong kerja sama antara Pokja PAUD, orang tua, dan tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan pertumbuhan anak secara berkala. Hal ini penting untuk mendeteksi tanda-tanda keterlambatan pertumbuhan sedini mungkin agar dapat segera ditangani.

Rapat kerja ditutup dengan komitmen bersama untuk menjalankan program-program yang telah dirumuskan. Diharapkan, hasil pertemuan ini dapat membawa dampak positif bagi pendidikan anak usia dini, khususnya di Banyuraden. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




Cegah Leptospirosis, Warga Godean Dapat Edukasi dari Dinkes Sleman

Sleman – Pemerintah Kapanewon Godean menggelar sosialisasi pencegahan penyakit leptospirosis pada Selasa (24/2/2025). Kegiatan ini diikuti oleh pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) se-Kapanewon Godean. Sosialisasi menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Torik, serta dr. Lia dari Puskesmas Godean 1.

Sosialisasi ini digelar sebagai respons terhadap kasus leptospirosis yang baru-baru ini ditemukan di wilayah tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, dua pasien telah dinyatakan positif terinfeksi bakteri Leptospira, penyebab utama penyakit ini.

Pada kesempatan tersebut, dr. Torik mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala leptospirosis, yang meliputi demam tinggi secara tiba-tiba, tubuh terasa lemas, mata memerah, serta sakit kepala hebat. Selain itu, penderita juga dapat mengalami perubahan warna kulit menjadi kekuningan serta nyeri pada betis.

“Jika mengalami gejala-gejala tersebut, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan medis yang tepat, termasuk pemberian antibiotik dan perawatan sesuai gejala,” ujar Torik.

Sementara itu, dr. Lia menambahkan bahwa untuk mencegah penyebaran leptospirosis, masyarakat dianjurkan menerapkan berbagai langkah pencegahan. Paparan sinar matahari yang cukup dapat membantu membunuh bakteri di lingkungan sekitar. Selain itu, mencuci tangan dan kaki dengan sabun setelah beraktivitas sangat penting untuk mengurangi risiko infeksi. Tempat penyimpanan air juga harus ditutup rapat agar tidak terkontaminasi oleh kotoran atau urine hewan pembawa bakteri.

“Langkah pencegahan lainnya mencakup vaksinasi pada hewan peliharaan, terutama yang sering berada di luar rumah, guna mengurangi risiko penularan. Pengendalian populasi tikus juga perlu dilakukan dengan memasang jebakan atau menggunakan racun tikus secara aman dan terkontrol,” ungkapnya.

Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan masyarakat lebih waspada serta dapat menerapkan pola hidup bersih dan sehat untuk mencegah penyebaran leptospirosis di lingkungan sekitar. (Jumeni/KIM Godean)