Sleman – Sebanyak 24 Ketua Pengurus Pengelola Kalurahan Budaya di Kabupaten Sleman memaparkan potensi unggulan serta program kegiatan untuk tahun 2025 dalam rapat koordinasi terpadu. Kegiatan ini berlangsung di Balai Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, pada Selasa (25/2/2025) dan dihadiri oleh para pendamping Kalurahan Budaya.
Dalam kesempatan ini, para ketua kalurahan secara bergantian menyampaikan pemaparan selama delapan menit di hadapan Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Kalurahan/Kelurahan Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Supartini, serta Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang terdiri dari Joko Saptono, Bugiswanto, Priyo Gani, dan Suparno.
Paparan yang disampaikan para ketua Kalurahan Budaya berfokus pada enam pilar utama yang menjadi fondasi pengembangan kebudayaan di tingkat kalurahan. Pilar pertama mencakup upaya pengembangan, pelestarian, dan perlindungan seni, yang bertujuan menjaga eksistensi seni tradisional agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Selain itu, perhatian juga diberikan pada bahasa, sastra, dan aksara, sebagai bagian penting dari identitas budaya yang perlu terus diwariskan kepada generasi mendatang. Permainan tradisional juga menjadi sorotan, mengingat perannya dalam membangun kreativitas, kebersamaan, dan kearifan lokal di tengah arus modernisasi.
Di bidang kuliner dan pengobatan tradisional, masing-masing kalurahan menampilkan keunikan sajian khas daerahnya serta metode pengobatan warisan leluhur yang masih dipercaya dan digunakan masyarakat.
Sementara itu, aspek tata ruang dan warisan budaya menjadi perhatian dalam upaya menjaga dan melestarikan struktur serta nilai-nilai historis yang melekat pada lingkungan fisik kalurahan. Tak kalah penting, pilar terakhir berfokus pada adat dan tradisi, yang menjadi perekat sosial dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Kalurahan/Kelurahan Budaya Kundha Kabudayan DIY, Supartini, menyampaikan bahwa pendampingan Kalurahan Budaya untuk tahun 2025 akan berlangsung selama sebelas bulan, mulai Februari.
“Pada tahap awal, kami melakukan pemetaan potensi unggulan di masing-masing Kalurahan Budaya. Meski memiliki pilar yang sama, setiap kalurahan memiliki keunikan tersendiri,” ujar Supartini.
Setiap kalurahan, lanjutnya, perlu memiliki ciri khas yang dapat dipatenkan, seperti motif batik khas, gendhing khas, atau tarian khas. Di bidang kuliner, misalnya, beberapa makanan tradisional yang menjadi ikon daerah adalah Apem Wonolelo, Ayam Goreng Kalasan, Bebek Bacem, dan Keripik Gadung.
Menurur Supartini, hasil paparan dari masing-masing Kalurahan Budaya akan menjadi acuan dalam menyusun program pengembangan budaya serta strategi promosi wisata berbasis kearifan lokal.
“Data yang diperoleh akan digunakan untuk mengidentifikasi potensi unggulan tiap kalurahan, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai daya tarik budaya dan wisata,” ujarnya.
Selain itu, informasi tersebut juga akan dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan keikutsertaan kalurahan dalam berbagai ajang seni dan budaya yang difasilitasi oleh Kundha Kabudayan DIY. Beberapa agenda utama yang menjadi wadah bagi Kalurahan Budaya untuk menampilkan kekayaan budayanya antara lain Gelar Potensi Kalurahan Budaya, Pentas Seni Kalurahan Budaya di Malioboro, serta Pentas Seni di Bandara YIA, Kulon Progo.
“Dengan paparan ini, kami dapat mengetahui kekuatan dan keunggulan masing-masing kalurahan. Harapannya, ini dapat menjadi pedoman untuk pengembangan serta promosi budaya yang lebih luas,” pungkas Supartini. (Tri Joko S – KIM Kalasan)