Sleman – Pasar Kumandhang di Lojajar, Margorejo, Tempel, Sleman, menggelar kegiatan Sinau Tembang Kethoprak dan Panatacara sebagai upaya melestarikan budaya Jawa, Sabtu (15/3/2025). Acara ini menghadirkan para ahli di bidang tembang, panatacara, dan kethoprak serta diikuti lebih dari 30 peserta dari berbagai kalangan.
Sugiman Dwi Nurseto, salah satu narasumber, menekankan bahwa tembang memiliki peran penting dalam dunia panatacara dan kethoprak. Seorang Master of Ceremony (MC) atau pembawa acara harus mampu menyelaraskan tembang dengan suasana yang ada.
“Seorang MC bukan sekadar membawakan acara, tetapi juga memberikan hiburan bagi tamu. Oleh karena itu, tembang yang dinyanyikan harus sesuai dengan situasi dan kondisi,” ujar Sugiman saat membuka sesi pelatihan.
Untuk memperkaya wawasan peserta, Sugiman juga memutar rekaman tembang dari berbagai era, mulai dari tahun 1960-an, 1970-an, hingga 2000-an. Materi pelatihan semakin menarik dengan kehadiran empat narasumber utama, yaitu Angger Sukisna, Dalijo Angkring, Sugiman Dwi Nurseta, dan Budi Sutawiyasa.
Dalam sesi materi, Angger Sukisna menjelaskan bahwa tembang dalam budaya Jawa terbagi menjadi tiga jenis utama, masing-masing dengan karakteristik dan fungsi yang berbeda.
Pertama, Tembang Gedhé, yang umumnya berisi kisah percintaan dengan susunan kata atau ungkapan yang tidak dapat diubah. Jenis tembang ini memiliki struktur baku yang harus dipertahankan agar maknanya tetap utuh.
Kedua, Tembang Tengahan, yang sering digunakan untuk menggambarkan kisah kepahlawanan atau epos. Tembang ini biasanya memiliki nuansa heroik dan digunakan dalam berbagai pertunjukan seni tradisional, seperti kethoprak dan wayang.
Ketiga, Tembang Macapat, yang memiliki aturan ketat dalam penyusunannya, dikenal dengan konsep guru wilangan (jumlah suku kata dalam setiap larik), guru lagu (vokal akhir pada setiap larik), dan guru gatra (jumlah larik dalam satu bait). Macapat banyak digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa, baik dalam pendidikan, pertunjukan seni, maupun upacara adat.
Dalam kethoprak, tembang sering digunakan untuk mengiringi adegan-adegan romantis, baik yang bernuansa sedih maupun gembira. Oleh karena itu, pemahaman tentang jenis tembang sangat penting bagi pemain kethoprak dan pembawa acara.
Selain memahami jenis tembang, narasumber juga membahas teknik vokal yang diperlukan agar suara tetap prima. “Seorang MC atau pemain kethoprak harus menjaga kebugaran dengan cukup istirahat agar suara tetap bagus. Selain itu, memahami cara menggunakan mikrofon juga penting agar suara terdengar nyaman,” kata Angger Sukisna.
Sementara itu, Budi Sutowiyasa atau yang akrab disapa Mbah Suto menambahkan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk melatih vokal. Berbagai aplikasi berbasis IT seperti sound card dan jet audio dapat membantu latihan tembang agar hasilnya lebih baik.
Dalam sesi yang lebih santai, Dalijo Angkring memaparkan bagaimana unsur humor dapat disisipkan dalam tembang. Diskusi pun berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta, yang berbagi pengalaman mereka dalam membawakan tembang di berbagai acara.
Mewakili Pasar Kumandhang, Dr. Sumaryadi menyampaikan terima kasih kepada peserta dan menjelaskan konsep pasar ini sebagai tempat untuk melestarikan budaya Jawa. “Pasar saat ini seolah sudah ilang kumandhange (hilang gemanya). Agar pasar tetap ngumandang (bergaung), tidak hanya ada transaksi jual beli, tetapi juga kegiatan seni dan budaya,” ujarnya.
Pasar Kumandhang secara rutin mengadakan berbagai kegiatan seni, seperti pelatihan tembang, pameran seni rupa, teater, dan pertunjukan budaya lainnya. Selain itu, pasar ini juga menjadi wadah bagi pelaku usaha kuliner, produk seni kain, kostum pentas, serta produk kreatif lainnya untuk memasarkan hasil karyanya.
“Bagi kelompok seni yang ingin tampil, kami menyediakan kesempatan pentas secara gratis, bahkan mendapat subsidi untuk konsumsi dan transportasi. Harapannya, Pasar Kumandhang bisa menjadi Pasar Senine Wong Sleman (Pasar Seninya Orang Sleman). Rencananya, pasar ini akan diresmikan setelah Lebaran,” pungkas Sumaryadi. (Edy – KIM Moyudan)