Pastikan Keamanan Pangan Jelang Lebaran Puskesmas Gamping II Pantau Peredaran Makanan

Sleman – Menjelang Lebaran, konsumsi makanan masyarakat meningkat tajam seiring dengan tradisi berbagi dan menyajikan hidangan khas Lebaran. Namun, peningkatan ini juga berpotensi menyebabkan peredaran makanan yang tidak layak konsumsi, seperti produk kedaluwarsa, mengandung bahan berbahaya, atau tidak memiliki izin edar. Oleh karena itu, pemantauan peredaran makanan menjadi langkah penting untuk memastikan keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat.

Salah satu alasan utama perlunya pemantauan ini adalah untuk mencegah beredarnya makanan yang mengandung bahan berbahaya seperti boraks, formalin, dan pewarna tekstil. Bahan-bahan ini sering ditemukan dalam jajanan pasar atau makanan olahan yang tidak diawasi dengan ketat. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, zat-zat tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, mulai dari gangguan pencernaan hingga risiko penyakit kronis.

Berangkat dari hal tersebut, Tim Pemantau yang terdiri dari Panewu Gamping, Tamzis Sarwana, Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP. Bowo Susilo, Wakil Komandan Koramil 17/Gamping, Kapten Infanteri Wahyani, Kepala Puskesmas Gamping II, dr. Aris Misyari dibantu Jawatan Sosial Kapanewon Gamping dan Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan melakukan pemantauan terhadap peredaran makanan di wilayahnya, Rabu (19/3/2025) untuk memastikan makanan yang dijual di pasar tradisional, minimarket, dan toko-toko kelontong memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.

Kepala Puskesmas Gamping II, dr. Aris Misyari mengatakan pemantauan ini menjadi agenda tahunan guna melindungi masyarakat dari risiko konsumsi makanan yang berbahaya, seperti makanan kedaluwarsa, mengandung bahan berbahaya, atau tidak memiliki izin edar.

Petugas kesehatan dibantu Bhabinkamtibmas dan babinsa setempat melakukan inspeksi langsung ke Pasar Tradisional Tlogorejo, Pasar Pundong, Pasar Jambon, dan Minimarket Indomaret mengambil sampel makanan untuk diuji kandungannya, terutama mendeteksi zat berbahaya seperti formalin, boraks, serta pewarna tekstil yang masih sering ditemukan dalam jajanan pasar.

Pemantauan ini juga berfungsi untuk mengedukasi pedagang agar lebih bertanggung jawab dalam menjual produknya. Melalui sosialisasi dan inspeksi, para pedagang mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menyimpan makanan dengan benar, mencantumkan label kedaluwarsa yang jelas, serta tidak menggunakan bahan tambahan yang berbahaya.

“Dengan meningkatnya kesadaran pedagang, diharapkan peredaran makanan yang tidak layak dapat berkurang secara signifikan,” ungkap dr. Aris.

Dari sisi konsumen, pemantauan ini memberikan jaminan bahwa makanan yang mereka beli telah melewati standar keamanan pangan. Pemeriksaan oleh instansi kesehatan seperti Puskesmas dan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) membantu masyarakat dalam mengenali makanan yang aman dikonsumsi. Kampanye mengenai cara memilih makanan sehat juga bisa meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga pola makan yang lebih baik, terutama saat Lebaran.

Selain dari aspek kesehatan, pemantauan peredaran makanan juga penting dalam menjaga kestabilan ekonomi dan kepercayaan masyarakat terhadap para pelaku usaha. Jika banyak kasus makanan berbahaya ditemukan, masyarakat dapat kehilangan kepercayaan terhadap produk lokal, yang pada akhirnya merugikan para pedagang yang sebenarnya sudah menjalankan usaha dengan baik. Dengan adanya pengawasan ketat, pelaku usaha yang bertanggung jawab akan mendapatkan perlindungan, sementara pedagang yang curang dapat diberikan sanksi tegas.

dr. Aris berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih makanan yang aman, terutama di momen Lebaran ketika konsumsi makanan meningkat tajam. Masyarakat diimbau harus lebih teliti dalam membeli produk makanan, baik dari segi tanggal kedaluwarsa maupun izin edar dari BPOM.

“Masyarakat kami sarankan menghindari makanan yang berbau menyengat atau berwarna mencolok karena bisa jadi mengandung bahan kimia berbahaya,” serunya.

Dengan adanya pengawasan, diharapkan tidak ada kasus keracunan makanan yang terjadi selama Lebaran. Keamanan pangan menjadi tanggung jawab bersama, baik dari pihak pedagang, konsumen, maupun pemerintah. Oleh karena itu, kerjasama antar berbagai pihak sangat diperlukan guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari makanan berbahaya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Telusur Rasa Condongcatur: Santri TPA Kenali Kuliner Lokal

Sleman – DRW Foundation bekerja sama dengan Forum TPA TPQ Kalurahan Condongcatur menggelar kegiatan Telusur Rasa Condongcatur, sebuah field trip kuliner yang mengajak santri TPA menyusuri berbagai produk UMKM di wilayah Kalurahan Condongcatur, Kamis (20/3/2025).

Menurut Ratri dari DRW Foundation, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan produk kuliner UMKM Condongcatur kepada para santri, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap produk lokal.

“Kami ingin anak-anak lebih mengenal dan menghargai kuliner khas daerah mereka sendiri,” ujarnya.

Antusiasme tinggi terlihat dari para santri yang mengikuti kegiatan ini. “Seru sekali! Saya jadi tahu banyak tentang makanan khas di sekitar sini,” kata Aisyah Khairina, salah satu santriwati yang ikut serta.

Destinasi pertama dalam perjalanan ini adalah UMKM milik Ibu Lien di Padukuhan Gejayan, yang dikenal dengan produksi bolen pisang. Dalam kesempatan itu, para santri tidak hanya mencicipi bolen pisang, tetapi juga mendapat wawasan tentang sejarahnya. Pisang bolen, yang kini menjadi salah satu jajanan populer di Indonesia, awalnya berasal dari Bandung dan terinspirasi dari banana bolen khas Belanda.

Kunjungan selanjutnya adalah ke warung Soto Kudus, di mana para santri belajar tentang keunikan hidangan ini. Soto Kudus memiliki ciri khas menggunakan daging kerbau, bukan daging sapi. Hal ini berkaitan dengan sejarah Sunan Kudus, salah satu Wali Songo, yang mengajarkan toleransi terhadap umat Hindu di daerah Kudus. Karena masyarakat Hindu menghormati sapi sebagai hewan suci, Sunan Kudus menganjurkan penggunaan daging kerbau sebagai bentuk penghormatan dan toleransi.

Tri Suhartati, pendamping dari Forum TPA TPQ Kalurahan Condongcatur, menyampaikan apresiasinya kepada DRW Foundation atas terselenggaranya kegiatan ini. “Semoga ke depan ada lebih banyak kerja sama untuk kegiatan edukatif seperti ini,” harapnya.

Kegiatan Telusur Rasa Condongcatur tidak hanya menjadi pengalaman kuliner, tetapi juga sarana edukasi bagi para santri untuk lebih mengenal produk lokal serta mendukung UMKM yg ada di Condongcatur. (Tri Suhartati KIM Depok)




Kisah Para Nabi Jadi Penyemangat Siswa SD Muhammadiyah Semingin Meraih Prestasi

Sleman – Menutup semarak Ramadhan 1446 H, SD Muhammadiyah Semingin menyelenggarakan pengajian dan motivasi, pertemuan paguyuban orang tua atau wali, dan koordinasi pengurus komite, Rabu (19/3/2025), di Gedung KHA Dahlan.

Pengajian kali ini menyasar peserta didik dengan menghadirkan Nur Sholihah atau biasa dipanggil Bunda Likah dari Persaudaraan Pendongeng Muslim Indonesia (PPMI) Yogyakarta. 

Pada kesempatan itu, Bunda Likah tampil dengan boneka, dan penuh ekspresif. Ia menyampaikan kisah para nabi dan sahabat kepada siswa-siswi SD Muhammadiyah Semingin.

Kepala SD Muhammadiyah Semingin, Eny Purwaningsih menegaskan bahwa menanamkan nilai-nilai agama kepada anak tidaklah mudah.  Diperlukan metode dan strategi agar pesan mudah diterima, dipahami, hingga tertanam di hati.  Untuk itu, kisah nabi yang disampaikan akan menginspirasi anak, sehingga nilai-nilai religi tersampaikan.

 “Dengan kisah, anak-anak akan lebih mudah memahami, menerima pesan-pesan agama.  Apalagi disampaikan dengan gembira,” ujarnya. 

Pada kesempatan yang sama juga diselenggarakan pertemuan Paguyuban Orang Tua / Wali Murid di tempat terpisah, serta pertemuan pengurus komite SD Muhammadiyah Semingin. 

“Jadi sore ini ada tiga kegiatan di waktu yang sama, semua bertujuan untuk kemajuan sekolah kita tercinta,” tegas Eny. 

“Melalui tiga kegiatan ini diharapkan terjadi kerja sama sinergis untuk kemajuan dan prestasi siswa dan sekolah,” tandasnya.   (Edy – KIM Moyudan)




Pakembinangun Gelar Musyawarah Kalurahan Ketahanan Pangan Bahas Upaya Penyertaan Modal BUMKal

Sleman – Badan Permusyawaratan Kalurahan Pakembinangun bersama Pemerintah Kalurahan Pakembinangun menyelenggarakan Musyawarah Kalurahan Ketahanan Pangan dalam rangka penyertaan modal Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) ‘Pakem Makmur Murakabi’, Kamis (20/3/2025). Acara dimulai pada pukul WIB di aula kalurahan setempat.

Ketua Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), Supriyadi selaku memimpin acara musyawarah kalurahan, menuturkan bahwa sebelumnya sudah ada musyawarah penyertaan modal untuk BUMKal yang terdiri dari ketahanan pangan (Ketapang) dan non Ketapang.

“Sebelum Musyawarah Kalurahan (Muskal) Ketahanan Pangan (Ketapang) kali ini, sudah ada muskal penyertaan modal untuk BUMKal terdiri dari Ketapang dan non Ketapang. Kemudian kami mengadakan konsolidasi secara intensif guna mempersiapkan muskal ini,” papar Supriyadi.

Penjabat Lurah Pakembinangun, Djoko Mulyono dalam sambutannya menjelasakan bahwa dalam musyawarah kalurahan ini, BUMKal nantinya akan memaparkan beragam usaha yang terkait dengan penyertaan modal BUMKal.

“Proses perencanaan ini sudah ada jadwalnya dan batas akhir 31 maret 2025,” jelas Djoko.

Sementara, Panewu Pakem, Dewanto Tri Nugroho mengenai Keputusan Kemendes.  “PDTT yang baru mengamanatkan 20% dari Dana Desa untuk mendukung ketahanan pangan. Hari ini akan disepakati 20% penanaman modal BUMKal agar bumkal nanti mandiri, bisa mendorong dan meningkatkan produksi dan kualitas produk pangan,” ujar Dewanto.

“Panewu Pakem yang membuka muskal kali ini. Saya apresiasi tinggi-tinggi kepada bapak Supriyadi dan jajarannya yang selalu lembur-lembur sampai mendekati waktu sahur di tempat ini guna mempersiapkan musykal hari ini,” tandasnya.

Acara dilanjutkan dengan musyawarah yang dipimpin oleh Ketua BPKal Pakembinangun, Supriyadi. Pada kesempatan itu, Supriyadi menjelaskan Perda Kabupaten Sleman Nomor 4 tahun 2023 terkait penyertaan modal, dikatakan bahwa penyertaan modal harus melalui musyawarah kalurahan.

“Dalam rangka Ketapang untuk penyertaan modal bumkal ini akan digunakan untuk usaha Penanaman buah kelengkeng, sayur-sayuan dan ternak domba. Setelah sayuran, kita akan menuju kepada ternak. Di mana sayuran yang tadi tidak digunakan atau tidak laku, akan kami fermentasi menjadi pakan ternak,” tuturnya.

“Dari ternak, kita akan menuju kepada pemanfaatan urin menjadi Pupuk Organik Cair dan faeces atau kotoran hewannya akan kami jadikan pupuk organik padat. Jadi semua usaha itu nantinya terintegrasi,” papar Supriyadi.  (Asrori Wardan / Kim Pakem)




Gelar Potensi UMKM Sidomoyo dan Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring, Dorong Inovasi dan Kemandirian Usaha

Sleman– Forkom UMKM Sidomoyo bersama Team Carya menggelar acara Gelar Potensi UMKM Sidomoyo dan Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring di Aula Kalurahan Sidomoyo, Godean, Kamis (20/3/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong inovasi usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi para pelaku UMKM di Sidomoyo.

Ketua Forkom UMKM Sidomoyo, Ari Anggoro menyampaikan bahwa program ini merupakan inisiatif Forkom UMKM Sidomoyo yang mendapat dukungan penuh dari Team Carya, sebuah lembaga pendamping UMKM yang terdiri dari beberapa ketua Forkom UMKM di Kabupaten Sleman.

“Kami ingin membuka peluang bagi UMKM Sidomoyo untuk memiliki produk baru yang potensial dan bisa berkembang di pasaran,” ujarnya.

Ulu-ulu Sidomoyo, Wisnu Hardono menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini dan berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha. “Semoga pelatihan ini bisa menambah ilmu, menciptakan produk baru, dan meningkatkan pendapatan keluarga UMKM di Sidomoyo,” katanya.

Sebanyak 30 UMKM yang tergabung dalam Forkom UMKM Sidomoyo mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Di sesi pertama, Sri Rahayu dari Ayu Berkah Batik bersama Team Carya membahas strategi bisnis kelompok, termasuk bagaimana menentukan target pasar dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Sementara itu, narasumber kedua, Darlina Prihatmanti, pemilik usaha Aneka Sabun Super Q-nclonk sekaligus Ketua Team Carya, memberikan pelatihan pembuatan sabun cuci piring. Ia menjelaskan proses produksi secara lengkap dengan metode yang mudah dipahami oleh peserta.

“Sabun cuci piring adalah produk yang selalu dibutuhkan masyarakat, memiliki segmen pasar luas, dan masa simpan yang lama. Selain itu, produk ini dibuat dengan bahan ramah lingkungan dan harga yang terjangkau,” jelasnya.

Acara ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi UMKM Sidomoyo dalam mengembangkan usaha mereka serta menciptakan produk berkualitas yang dapat bersaing di pasaran. (Andy Ahmad AZ/KIM DSN Sardonoharjo Ngaglik)