Gamping – Menyambut bulan suci Ramadhan 1446 Hijriyah, Tim Penggerak PKK Banyuraden bekerja sama dengan Perusahaan Wings Food menggelar lomba memasak kreasi Ramadhan di Gedung Serbaguna Banyuraden, Jumat (7/3/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk menggali kreativitas para ibu dalam menciptakan hidangan khas Ramadhan yang lezat, bergizi, dan inovatif.
Lomba ini diikuti oleh delapan kelompok ibu-ibu PKK dari berbagai padukuhan di Banyuraden. Setiap tim diberi waktu 30 menit untuk memasak dengan tema sup ayam kampung. Panitia telah menyediakan berbagai peralatan memasak, seperti kompor gas, panci, peniris minyak goreng, spatula, dan talenan, sementara para peserta membawa sendiri bahan-bahan masakan. Setelah hidangan selesai dimasak, setiap tim menyajikan satu porsi untuk dinilai oleh juri.
Ketua Tim Penggerak PKK Banyuraden, Kwintartiningsih Pospoputri, mengapresiasi antusiasme peserta dalam mengikuti lomba ini. Ia berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana berbagi ilmu, meningkatkan kreativitas, dan mempererat silaturahmi antarwarga.
“Masing-masing tim harus menyiapkan hidangan berbuka puasa yang kreatif dan menarik. Mereka bebas berkreasi dengan bahan yang tersedia, namun tetap memperhatikan nilai gizi dan cita rasa,” ungkapnya.
Para juri yang terdiri dari perwakilan Wings Food dan PKK tingkat Kapanewon Gamping menilai hasil masakan dengan cermat berdasarkan tiga aspek utama. Inovasi resep menjadi poin pertama, di mana kreativitas peserta dalam mengolah bahan dasar menjadi hidangan berbuka yang unik dan menarik sangat diperhitungkan.
Selanjutnya, presentasi hidangan juga menjadi faktor penting dalam penilaian. Peserta diharapkan tidak hanya menyajikan makanan yang lezat, tetapi juga memperhatikan estetika penyajian.
Terakhir, rasa masakan menjadi aspek utama yang menentukan kualitas hidangan. Perpaduan bumbu yang seimbang, cita rasa khas yang menggugah selera, serta tekstur yang pas menjadi indikator keunggulan dari setiap masakan yang disajikan.
Selain itu, penggunaan bahan lokal dan bumbu penyedap rasa juga menjadi nilai tambah dalam penilaian.
Lomba berlangsung dalam suasana kompetitif namun tetap penuh keakraban. Aroma sup ayam kampung yang menggugah selera memenuhi ruangan, menambah semangat para peserta. Setelah waktu memasak habis, setiap tim memaparkan hasil kreasinya kepada juri. Beberapa peserta bahkan menyertakan kisah inspiratif di balik resep mereka, menambah daya tarik dalam penilaian.
Lurah Banyuraden, Sudarisman, berharap kegiatan ini dapat menginspirasi masyarakat untuk lebih inovatif dalam memanfaatkan bahan-bahan lokal serta menerapkan pola makan seimbang selama Ramadhan.
“Makanan yang baik bukan hanya lezat, tetapi juga bergizi dan menyehatkan. Semoga kreasi masakan dalam lomba ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam menyajikan hidangan berbuka puasa yang berkualitas,” ujarnya.
Ia juga mengajak warga untuk terus menjaga semangat kebersamaan dan gotong royong, baik dalam kegiatan kuliner maupun dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, melestarikan budaya kuliner khas Indonesia juga merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Banyuraden.
Setelah melalui proses penjurian yang ketat, para juri akhirnya menetapkan pemenang dalam Lomba Memasak Kreasi Ramadhan dan Lomba Yel-Yel. Setiap tim telah menunjukkan kreativitas, keahlian, dan semangat kompetitif yang luar biasa dalam ajang ini.
Dalam Lomba Memasak Kreasi Ramadhan, Padukuhan Dowangan berhasil meraih Juara I berkat inovasi dan cita rasa masakan yang unggul. Padukuhan Sukunan menyusul sebagai Juara II, sementara Padukuhan Somodaran menempati posisi Juara III, dengan hidangan khas yang menggugah selera dan kaya akan nilai gizi.
Sementara itu, dalam Lomba Yel-Yel, tim dari Padukuhan Modinan tampil penuh semangat dan kekompakan hingga berhasil menyabet Juara I. Padukuhan Somodaran kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara II, dan Padukuhan Kaliabu melengkapi daftar pemenang sebagai Juara III.
Dengan berakhirnya lomba, seluruh peserta merasa senang dan terinspirasi oleh berbagai inovasi masakan yang disajikan. Lomba ini tidak hanya meningkatkan keterampilan memasak, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan antarwarga. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)