Putaran Ketiga Tarling Kapanewon Ngaglik di Masjid Al Ikhlas: Mempererat Silaturahmi dan Meningkatkan Keamanan Lingkungan

Sardonoharjo, Ngaglik – Kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) Kapanewon Ngaglik memasuki putaran ketiga yang digelar di Masjid Al Ikhlas, Kalurahan Sardonoharjo, pada Jumat malam (7/3/2025). Acara ini dihadiri oleh jajaran Forkompimkap Ngaglik, tokoh agama, serta masyarakat setempat.

Salat Isya dan Tarawih dipimpin oleh Salamun Sodri, Rois setempat. Jamaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian ibadah yang tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga simbol kebersamaan dan penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat.

Panewu Ngaglik, Agung Endarta, dalam sambutannya mengapresiasi semangat warga dalam menjaga tradisi keagamaan di Masjid Al Ikhlas. Ia berharap kegiatan ini tidak hanya berlangsung selama Ramadan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bulan suci Ramadan adalah kesempatan besar bagi kita untuk meningkatkan ibadah dan kebaikan. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa saja yang berbuat kebajikan di bulan ini. Mari manfaatkan momen ini sebaik-baiknya,” ujarnya.

Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho, selaku tuan rumah, menyampaikan terima kasih kepada warga Tempursari, Padukuhan Prumpung, yang telah bersedia menjadi lokasi pelaksanaan Tarling putaran ketiga. Ia juga mengapresiasi tingginya antusiasme warga dalam mengikuti kegiatan ini.

“Kami sangat bersyukur dan bangga atas partisipasi warga yang luar biasa. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi kita semua dan semakin memperkuat kebersamaan di Sardonoharjo,” katanya.

Acara diakhiri dengan tausiyah oleh penceramah Sukamta, yang mengangkat tema keberkahan Ramadan. Ia mengajak jamaah untuk memperbanyak amal ibadah serta meningkatkan kepedulian sosial.

“Di bulan Ramadan, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Jangan sia-siakan kesempatan ini,” tutur Sukamta.

Dengan suksesnya putaran ketiga ini, Tarling Kapanewon Ngaglik diharapkan terus menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan ketakwaan masyarakat. Kegiatan ini akan berlanjut ke putaran selanjutnya di lokasi berbeda, dengan harapan semakin banyak masyarakat yang terlibat dan mendapatkan manfaat. (Eka Sastra Kurniawan – KIM DSN Ngaglik)




Kekandhangan Banyuraden Kirim Perahu dan Personil, Bantu Evakuasi Korban Banjir

Sleman – Dalam upaya membantu evakuasi warga terdampak banjir di wilayah Pondok Gede Bekasi, komunitas Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman mengirimkan bantuan berupa dua unit perahu Jonboat dan Katamaran beserta perlengkapkan dan personilnya yang diberangkatkan dari Kantor Sekretariat Kekandhangan, Kamis (6/3/2025). Perahu-perahu yang dilengkapi pelampung dan dayung tersebut merupakan buatan Thetrekkers Sleman, salah satu pabrikan yang aktif dalam pembuatan perahu berbahan aluminium untuk keperluan penyelamatan dan penanganan bencana.

Pengiriman bantuan ini merupakan respons cepat terhadap bencana banjir yang melanda beberapa kawasan di Bekasi, akibat curah hujan tinggi sejak awal Maret 2025. Banyak permukiman warga terendam air, sehingga akses untuk evakuasi dan distribusi logistik menjadi terbatas. Perahu jenis Jonboat dan Katamaran berkapasitas 4-5 orang dinilai sangat efektif dalam situasi ini, karena desainnya yang stabil dan mudah dikendalikan di daerah terdampak banjir.

Berdasarkan keterangan dari Aryo Tejo selaku Koordinator Relawan Kekandhangan Banyuraden, pengiriman bantuan ini bertujuan untuk mendukung tim penyelamat dan relawan di Posko Pondok Gede dalam proses evakuasi warga serta pendistribusian bantuan.

“Melihat kebutuhan alat transportasi air sangat mendesak di wilayah terdampak banjir, maka kami berinisiatif mengirimkan perahu yang bisa digunakan oleh tim penyelamat,” ujar Tejo.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa Perahu Jonboat yang dikirimkan memiliki daya apung tinggi dan mampu menampung beberapa orang sekaligus, sedangkan Perahu Katamaran dirancang untuk mobilitas lebih cepat di air dengan stabilitas yang baik.

Proses pengiriman perahu dilakukan melalui jalur darat menggunakan kendaraan bak terbuka. Mengingat, beberapa akses jalan menuju lokasi banjir masih bisa dilalui meskipun dalam kondisi terbatas agar kedua perahu tersebut dapat segera digunakan tim penyelamat dalam operasi evakuasi serta disribusi logistik.

Tejo berharap bantuan dari pihaknya dapat meringankan beban warga yang terdampak banjir serta mempercepat proses pemulihan kondisi di wilayah Pondok Gede. Dirinya juga mengajak masyarakat luas untuk turut serta dalam aksi solidaritas ini dengan memberikan bantuan sesuai kebutuhan di lapangan.

Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, diharapkan penanganan bencana banjir di Pondok Gede dan sekitarnya dapat berjalan lebih optimal. Bantuan Perahu Jonboat dan Katamaran ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kolaborasi komunitas dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat yang sedang menghadapi situasi darurat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Sinduharjo Komitmen Rawat Budaya Lokal

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sinduharjo, berkomitmen merawat kebudayaan warisan leluhur. Hal itu diungkapkan oleh Lurah Sinduharjo, Sudarja, saat memberikan sambutan pada rapat koordinasi pendamping Kalurahan Budaya, se-Kabupaten Sleman, Kamis (6/3/2025), di balai kalurahan setempat.

Rakor tersebut dihadiri Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Kalurahan Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Supartini beserta Tim Monev Tri Joko, Bugiswanto, Suparno dan Priyo Gani W.

Sudarja mengatakan, Kalurahan Sinduharjo telah berstatus mandiri budaya. Di mana, pilar Kalurahan Budaya harus dikembangkan dan dilindungi agar tetap lestari. Adapun pilar dimaksud adalah kesenian, adat dan tradisi, bahasa, sastra dan aksara, permainan dan pengobatan tradisional, serta tata ruang dan warisan budaya.

“Itu semua dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan tersetruktur melibatkan pengurus Desa Perempuan Indonesia Maju (Prima), pengurus Desa Pariwisata dan pengurus Desa Preneur. Itulah kuwajiban kita sebagai Warga DIY,” pungkas Sudarja.

Sementara itu Kasi Pengembangan Kapasitas Kalurahan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Supartini memberikan apresiasi atas kemajuan Kalurahan Mandiri Budaya Sinduharjo dengan keterlibatnya Pendamping Budaya Nurjayanto Prasetyo. Hal demikian bisa terus dikembangkan seperti halnya Kalurahan yang lain.

Terkait dengan pola baru sistem pelaporan, kepada para pendamping, Supartini menjelaskan bahwa perlunya profil Kalurahan Budaya, program unggulan Kalurahan Budaya, rencana kerja terukur dan target yang hendak dicapai.

“Dengan demikian setiap tahun bisa diketahui sejauh mana capaian terhadap program dan perkembangan secara umum,” ujar Supartini.

Terkait dengan fasilitasi kegiatan, pentas seni Selasa Wagen dan Gelar Potensi serta Pentas Seni di Bandara YIA, merupakan bonus terhadap pembinaan yang dilakukan oleh Kalurahan Budaya. Dalam Han ini untuk pelaksanaan tahun 2025 teknis pelaksanaan sedang dalam rumusan.

“Yang pasti karena efisiensi jumlahnya mengalami penurunan. Maka peta unggulan Kalurahan menjadi pertimbangan,” tandasnya.

Lebih jauh, hingga saat ini di Kabupaten Sleman terdapat 24 Kalurahan Budaya, dengan status Mandiri, Maju, Berkembang dan Tumbuh. (Tri Joko S – KIM Kalasan)




Safari Tarling Perdana Kalurahan Sukoharjo di Masjid Assalam Yapah

Sleman – Memasuki hari ke-6 Ramadhan, jama’ah Masjid Assalaam Padukuhan Yapah, Kalurahan Sukoharjo menyambut rombongan Pemerintah Kalurahan Sukoharjo yang hendak melaksanakan kegiatan safari tarawih keliling, pada Kamis (6/3/2025).

Dalam kesempatan itu, Lurah Sukoharjo, Hadi Subronto menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan hangat masyarakat Padukuhan Yapah kepada rombongan safari tarawih keliling Kalurahan Sukoharjo.

“Apresiasi kepada seluruh masyarakat Padukuhan Yapah yang bersemangat dalam beribadah dan memakmurkan masjid di bulan suci Ramadhan 1446 H,” ujarnya.

Lurah Sukoharjo juga berpesan kepada seluruh orangtua agar selalu membimbing anak-anaknya, dan menjauhkan dari hal-hal negatif, seperti klitih dan tawuran. Dengan harapan seluruh masyarakat Sukoharjo dapat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan denga naman dan nyaman.

“Malam ini adalah pertama kalinya di Ramadhan 1446 H, kegiatan safari tarawih keliling Kalurahan Sukoharjo dilaksanakan yang dimulai dari Masjid Assalaam Yapah.  Dilanjutkan ke 5 padukuhan yang sudah dijadwalkan oleh Pemerintahan Kalurahan Sukoharjo. Mohon do’anya semoga seluruh kegiatan yang diagendakan bisa terlaksana dengan lancar,” ujarnya Hadi.

Pada kesempatan itu, Pemerintah Kalurahan Sukoharjo menyalurkan uang infaq untuk masjid Assalaam Padukuhan Yapah. Dana tersebut diharapkan dapat membantu berjalannya kegiatan yang berlangsung di masjid setempat.

Kegiatan safari tarawih keliling di akhiri dengan tausiyah yang di sampaikan oleh Ustaz Abdul Hanan. Dalam tausiyahnya, Hanan menuturkan betapa mulianya bulan suci Ramadhan.

“Beruntungnya kita semua jama’ah salat Isya dan tarawih Masjid Assalaam atas limpahan karunia-Nya kita semua di beri kesempatan untuk istiqomah beribadah dibulan suci Ramadhan. Semoga Allah meridhoi semua niat baik kita dan diberikan pahala yang berlipat ganda. Untuk itu marilah kita semua umat muslim berlomba – lomba berbuat kebaikan dengan menjalankan semua perintah wajib dan sunah-Nya,” tutur Hanan.  (HY/KIM Sukoharjo Ngaglik)




Gandeng SAH Banyu Bening Sleman, SMK Negeri 5 Yogyakarta Bentuk Generasi Unggul dari Kemurnian Air Hujan

Sleman – Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dalam mendukung program pengembangan sekolah Adiwiyata, sekaligus meningkatkan wawasan mengenai pentingnya pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya alami yang dapat diolah untuk kebutuhan sehari-hari, SMK Negeri 5 Yogyakarta menggandeng Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman menggelar seminar bertajuk ‘Membentuk Generasi Unggul dari Kemurnian Air Hujan’ yang berlangsung di Aula Sekolah setempat, Kamis (6/3/2025).

Kepala SMK Negeri 5 Yogyakarta, Sihono didampingi Komite Sekolah, Sudarsono dalam sambutannya menyampaikan harapan agar pihaknya dapat segera mengaplikasikan konsep pemanfaatan air hujan serta menegaskan pentingnya implementasi alat pemanen air hujan di sekolah. Menurutnya, sekolah dapat membuat instalasi pengolah air hujan sebagai percontohan bagi guru dan orangtua siswa di rumah. Hal itu bisa dimulai dari pemasangan talang hingga instalasi elektrolisa airnya yang dapat dikembangkan di beberapa tempat di setiap jurusan.

“Melalui kegiatan ini, SMKN 5 Yogyakarta dapat menjadi pelopor dalam pengelolaan air hujan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” tegas Sihono.

Lebih lanjut, Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih dalam paparannya menjelaskan mengapa air hujan menjadi pilihan penting dalam menghadapi krisis air. Ia menyoroti dampak perubahan iklim yang menyebabkan keterbatasan air di berbagai daerah.

Salah satu poin utama dalam seminar ini adalah pentingnya pengelolaan air yang bijak. Termasuk di dalamnya membahas perbandingan antara air hujan, air tanah, dan air sumur. Di mana, air tanah sering kali mengandung partikel berbahaya akibat limbah domestik dan industri. 

Wahyuningsih memperkenalkan konsep 5M, yaitu Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri. Dirinya menyebutkan proses penampungan air hujan yang baik memerlukan wadah bersih yang tertutup rapat dan terlindung dari sinar matahari. Ia pun menayangkan video dokumenter ‘Menambang Langit’. Sebuah video yang menggambarkan perjuangan masyarakat dalam mendapatkan air bersih, dan berbagai cara pengelolaan air yang efisien. 

“Sebelum ditampung, air hujan sebaiknya dibiarkan turun selama 10-15 menit agar partikel polusi tidak ikut terkumpul,” terangnya. 

Peserta yang terdiri dari guru-guru yang sebelumnya diminta membawa sampel air dari rumahnya masing-masing melakukan pengecekan menggunakan alat Total Dissolved Solids (TDS) Tester. Hasil menunjukkan bahwa air sumur memiliki kandungan partikel tinggi, dengan rata-rata di atas 100 ppm, sementara air hujan hanya 3 ppm, yang menunjukkan tingkat kemurniannya lebih tinggi disbanding air sumur. 

Dalam diskusi interaktif, para guru dibagi menjadi empat kelompok untuk melakukan praktik pemasangan alat penampungan air hujan dan demonstrasi alat elektrolisa air hujan. Hal itu bertujaun untuk memisahkan kandungan asam dan basa yang terkandung dalam air hujan. Hasilnya, air dengan kandungan basa dapat dikonsumsi sebagai air minum untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara air dengan kandungan asam dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan luar. 

Dengan adanya seminar ini, diharapkan para siswa SMK Negeri 5 Yogyakarta dapat menjadi generasi unggul yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya pemanfaatan air hujan secara bijak. Pemahaman ini diharapkan dapat mereka terapkan tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)