MWCNU Gamping dan Ranting NU Banyuraden Berbagi Berkah Ramadhan, Santuni 115 Mustahiq

Sleman – Dalam semangat berbagi dan mempererat ukhuwah Islamiyah, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kapanewon Gamping bersama Ranting Nahdlatul Ulama Banyuraden menggelar kegiatan Berbagi Berkah Ramadhan 1446 H di Gedung Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Minggu (23/3/2025). Acara ini bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian sosial serta membantu masyarakat yang membutuhkan.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Kapanewon Gamping, Silahudin Jamil, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen Nahdlatul Ulama dalam menebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. “Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga momentum untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama. Semoga kegiatan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujarnya.

Dalam acara ini, sebanyak 115 mustahiq menerima bantuan, yang terdiri dari kaum dhuafa, anak yatim, petugas lapangan pengumpul koin, kaum rois, serta guru ngaji. Bantuan yang disalurkan mencakup paket sembako, uang santunan, dan makanan berbuka puasa. Keikhlasan para donatur serta partisipasi aktif warga menjadi faktor utama suksesnya acara ini.

Turut hadir dalam kegiatan ini Bupati Sleman, Harda Kiswaya, Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Sleman, Herman Budi Pramono, serta Rois Syuriah MWCNU Gamping, KH. Ahmad Mabarun. Dalam sambutannya, Bupati Sleman mengapresiasi inisiatif ini dan menekankan pentingnya semangat berbagi di bulan suci Ramadhan.

“Momentum ini hendaknya dimanfaatkan untuk meningkatkan amal ibadah, termasuk berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Kepedulian dan kebersamaan seperti ini memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat,” ungkap Harda Kiswaya.

Selain itu, Ketua Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh (LAZIS) Kabupaten Sleman, Hani Rochmanudin, turut menyerahkan bantuan pendidikan bagi santri dari keluarga kurang mampu. Ia menekankan bahwa program ini merupakan hasil donasi masyarakat yang dikembalikan kepada mereka yang membutuhkan.

“Dengan berbagi, kita tidak hanya memberi manfaat kepada orang lain, tetapi juga merasakan kebahagiaan yang hakiki,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut serta dalam aksi sosial demi kesejahteraan bersama. Semoga semangat berbagi ini tidak hanya berhenti di bulan Ramadhan, tetapi terus menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




Masjid Al-Falah Gelar Praktik Rukti Jenazah, Tingkatkan Pemahaman Jamaah

Moyudan – Dalam rangka mengisi kegiatan Ramadhan 1446 H, Masjid Al-Falah Sombangan, Sumbersari, Moyudan, Sleman menggelar praktik perawatan (rukti) jenazah pada Minggu (23/3/2025). Kegiatan ini bertempat di Masjid Al-Falah dan menghadirkan Hamzah Aulannas, bagian kerohanian RS PKU Muhammadiyah Gamping, sebagai narasumber.

Dalam penjelasannya, Hamzah menekankan pentingnya persiapan sebelum melakukan perawatan jenazah. “Peralatan yang harus disiapkan antara lain air secukupnya, sarung tangan, sabun, sampo, kapur barus yang sudah digerus, serta kain penutup aurat,” jelasnya.

Tahapan perawatan dimulai dengan menidurkan jenazah dengan posisi kepala di sebelah utara dan sedikit lebih tinggi. Selanjutnya, kotoran dalam tubuh dikeluarkan dengan cara menekan perut jenazah, lalu dilakukan penyiraman air ke anggota badan yang terkena wudu. “Setelah itu, siram seluruh tubuh dengan air, sabuni tubuhnya, dan cuci rambutnya dengan sampo,” tambah Hamzah.

Setelah proses pemandian selesai, jenazah dikafani sesuai ketentuan, yakni tiga lapis kain untuk laki-laki dan lima lapis untuk perempuan.

Kegiatan ini tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik langsung agar para peserta dapat lebih memahami proses perawatan jenazah secara detail. Para peserta mengikuti praktik ini dengan antusias dan penuh perhatian.

Sebelum acara dimulai, Sugiyanto, Koordinator Bidang Perawatan Jenazah Takmir Masjid Al-Falah, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membekali jamaah dengan pemahaman yang benar dalam merawat jenazah. “Sebagai bentuk kewajiban sesama muslim, kita perlu memiliki pemahaman yang tepat tentang perawatan jenazah agar bisa membantu keluarga, saudara, atau tetangga yang meninggal dunia sesuai tuntunan syariat,” ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan lebih banyak masyarakat yang memiliki keterampilan dalam perawatan jenazah sehingga dapat membantu sesama dalam menjalankan kewajiban keagamaan. (Giek/KIM Moyudan)




Solidaritas Warga RW 45 Kayen, 15 Tahun Konsisten Berbagi Bingkisan Lebaran

Sleman – Menjelang Hari Raya Idulfitri, pengurus RW 45 Padukuhan Kayen, Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman kembali menggelar tradisi tahunan berbagi bingkisan lebaran kepada warga. Kegiatan yang telah berjalan selama 15 tahun ini bertujuan mempererat silaturahmi dan menunjukkan kepedulian sosial. Tahun ini, sebanyak 132 paket bingkisan lebaran senilai Rp150 ribu dibagikan kepada seluruh warga RW 45. Pendistribusian dilakukan oleh Pemuda-Pemudi RW 45 yang tergabung dalam IMAMIKA ’45 pada Minggu (23/3/2025).

Ketua RW 45 Kayen, Sukirman, yang telah menjabat selama tiga periode, mengungkapkan bahwa awalnya bingkisan hanya diberikan kepada warga kurang mampu. Namun, dalam sepuluh tahun terakhir, seiring meningkatnya dana kas RW, bingkisan kini diberikan kepada seluruh warga RW 45, termasuk dukuh, ketua sub-unit LPMK, dan rois.

“Bingkisan ini merupakan bentuk apresiasi atas kerja sama yang baik antara warga dan pengurus RW. Biayanya berasal dari kas RW serta beberapa donatur khusus. Tujuannya adalah berbagi kebahagiaan di momen lebaran, menumbuhkan kepedulian sosial, dan memperkuat semangat berbagi,” ujar Sukirman.

Setiap paket bingkisan berisi bahan kebutuhan pokok seperti sirup, minyak goreng, gula pasir, roti kaleng, kecap, saus, mi instan, kopi, permen, dan camilan. Proses penyediaannya dikelola oleh ibu-ibu pengurus RT/RW, sementara pendistribusiannya dilakukan langsung ke rumah-rumah warga oleh pemuda-pemudi RW 45.

Bendahara RW 45, Darisman, menekankan bahwa pengelolaan kas RW dilakukan secara transparan dengan prinsip dari warga, oleh warga, untuk warga. Setiap pertemuan rutin warga pada malam Selasa Kliwon, laporan pemasukan dan pengeluaran kas RW disampaikan. Selain itu, laporan tertulis mengenai arus kas juga dibagikan kepada warga setiap enam bulan sekali sebagai bentuk akuntabilitas pengurus RW.

“Sumber utama kas RW berasal dari jimpitan atau iuran uang ronda yang dikumpulkan setiap malam, kecuali malam Minggu, di mana hasilnya dikelola oleh pemuda untuk kas organisasi kepemudaan. Dana kas RW ini digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pemeliharaan aset, pembangunan sarana dan prasarana RW, belanja inventaris seperti kursi, tikar, serta dana sosial bagi warga yang membutuhkan,” jelasnya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari warga, termasuk Fitria Dewi, salah satu warga RT 07 RW 45.

“Alhamdulillah, bingkisan ini sangat bermanfaat. Semoga pengurus RW 45 selalu diberi kesehatan dan terus menjaga kebersamaan di antara warga,” ucapnya.

Kegiatan berbagi bingkisan lebaran ini diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat serta memperkuat ikatan sosial di lingkungan RW 45 Padukuhan Kayen Condongcatur. Selain itu, diharapkan tradisi ini bisa menginspirasi RW atau wilayah lain untuk melakukan hal serupa sebagai bentuk apresiasi dan kepedulian terhadap warga. (Wasana/KIM Depok)




Pencak Silat POPSI Bhayu Manunggal Berbagi Takjil di Bulan Ramadhan

Sleman – Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1446 H, Pencak Silat Pelopor Pencak Silat Indonesia (POPSI) Bhayu Manunggal menggelar aksi sosial berbagi takjil di Perempatan Demakijo, Sleman, Jumat (21/3/2025). Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk membantu sesama, tetapi juga sebagai bentuk sosialisasi perguruan pencak silat tersebut kepada masyarakat.

Sasaran utama aksi sosial ini adalah para pengendara sepeda motor, pedagang asongan, hingga sopir angkutan yang tengah melintas di lokasi. Relawan dari POPSI Bhayu Manunggal, mengenakan atribut dan identitas perguruan, turun langsung ke jalan membagikan paket takjil gratis kepada masyarakat.

“Alhamdulillah, sore ini kami berbagi takjil kepada saudara-saudara muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Semoga membawa keberkahan bagi kita semua, dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT,” ujar Agus Windiarto, salah satu pengurus sekaligus pelatih POPSI Bhayu Manunggal wilayah Sleman Utara, didampingi Sigit Jauhari.

Selain aksi berbagi, kegiatan ini juga menjadi ajang untuk mengenalkan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.

“Pencak silat adalah seni bela diri asli Indonesia, warisan nenek moyang yang harus kita rawat dan kembangkan. Banyak perguruan pencak silat di Indonesia, dan POPSI Bhayu Manunggal adalah salah satunya,” ujar Sigit Jauhari, yang juga merupakan wasit juri di berbagai kejuaraan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Dana untuk kegiatan berbagi takjil ini berasal dari sumbangan anggota, pengurus, serta simpatisan POPSI Bhayu Manunggal, baik dari Yogyakarta maupun luar daerah.

“Atas nama Pengurus Daerah (Pengda) DIY, saya mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan dukungan. Alhamdulillah, sore ini donasi tersebut kami salurkan dalam bentuk Jumat Berkah dengan takjil gratis,” ujar Sutriyono, perwakilan Pengda DIY.

Ia juga mengapresiasi semangat para pelatih dan Srikandi POPSI Bhayu Manunggal yang tulus membantu dalam aksi sosial ini. Menurutnya, dukungan yang datang dari berbagai cabang mencerminkan kuatnya persaudaraan di antara para pesilat POPSI Bhayu Manunggal.

“Kegiatan ini bukan sekadar berbagi, tetapi juga bukti bahwa pencak silat bukan hanya tentang olahraga dan bela diri, melainkan juga membangun karakter, kebersamaan, dan kepedulian sosial,” pungkas Sutriyono. (Edy – KIM Moyudan)




Jadikan Ramadhan sebagai Pendidikan Spiritual SD hingga S3

Sleman – Dalam upaya menjalin kedekatan dengan masyarakat, Bhabinkamtibmas Sumbersari melaksanakan kunjungan ke jamaah di berbagai mushala di wilayah Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Sleman. Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut adalah tausiah yang disampaikan oleh Aipda Endri Destanta N, Bhabinkamtibmas Sumbersari, di Mushala Al-Husna II dan Mushala Jetis Nasri III pada Jumat (21/3) dan Sabtu (22/3).

Dalam tausiahnya, Aipda Endri Destanta N. atau yang akrab disapa Desta, mengajak jamaah untuk menjadikan bulan Ramadhan sebagai momen pendidikan spiritual yang ia analogikan dengan jenjang pendidikan formal, dari SD hingga S3.

Desta menjelaskan bahwa SD adalah Sholat Dhuha, yang memiliki banyak keutamaan dan manfaat dalam kehidupan. Sementara itu, SMP berarti Sholat Malam Pertahankan, yakni menjaga kebiasaan sholat tarawih yang telah dilakukan selama Ramadhan dan meningkatkan kualitas serta kekhusyukannya.

Untuk jenjang SMA, ia menekankan pentingnya Selalu Membaca Al-Qur’an hingga khatam selama Ramadhan. “Baca dua lembar setelah sholat wajib, sehari akan hatam satu juz,” ujarnya, memberikan tips sederhana agar jamaah bisa menyelesaikan satu kali khataman dalam sebulan. Sebagai bentuk apresiasi, Desta memberikan hadiah uang tunai kepada jamaah yang telah berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an. Dedy Theo dan Firia Damayanti masing-masing mendapat hadiah setelah menjawab bahwa mereka rutin membaca dan telah menyelesaikan khataman.

Jenjang berikutnya, S1, mengacu pada Shodaqoh, yang pahalanya berlipat ganda di bulan Ramadhan. Sementara itu, S2 berarti Selalu Silaturahmi, yang mencerminkan pentingnya menjaga hubungan baik dan mempererat persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

Terakhir, S3 merupakan Selalu Sholat Subuh Berjamaah. Desta dan timnya mengajak jamaah untuk membiasakan sholat subuh berjamaah di masjid atau mushala sebagai bagian dari upaya menjadi muslim yang kaffah (sempurna dalam menjalankan ajaran Islam).

“Singkatan SD hingga S3 ini hanya sebagai cara mudah untuk mengingat dan mengamalkan ibadah selama Ramadhan,” ujar Desta.

Setelah memberikan tausiah, Bhabinkamtibmas Sumbersari melanjutkan patroli keamanan di sekitar Pasar Krempyeng Sumbersari. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, terutama menjelang waktu sahur dan berbuka puasa.

Dengan adanya pendekatan seperti ini, diharapkan peran kepolisian tidak hanya terbatas pada menjaga keamanan, tetapi juga turut serta dalam membangun kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. (Edy – KIM Moyudan)