Manusia Pasca Ramadhan Harus Istiqamah dalam Ibadah

Gamping – Setelah sebulan penuh beribadah di bulan Ramadhan, umat Islam kembali menjalani rutinitas harian mereka. Namun, bekas-bekas spiritual yang ditinggalkan selama Ramadhan seharusnya menjadi bekal untuk membentuk pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan berserah diri kepada Allah SWT. Syawalan menjadi momen penting untuk mengingatkan bahwa ibadah tidak terbatas pada bulan Ramadhan saja, tetapi harus menjadi gaya hidup sehari-hari.

Syawalan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah kesempatan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah. Acara ini bertujuan untuk saling memaafkan, memperbaharui niat, dan menghidupkan kembali semangat beribadah setelah Ramadhan.

Dalam acara Syawalan yang digelar di Masjid Al Hidayah Modinan, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (20/4/2025), Ustaz Prof. Dr. H. Agung Budiyanto mengajak masyarakat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT, meskipun tanpa pengakuan atau pujian dari manusia. Ia menekankan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari sorotan dunia, melainkan dari kualitas ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.

“Kadang kita merasa kecil karena tidak terkenal, tidak punya banyak followers, atau tidak pernah dipuji. Tapi Allah SWT tahu isi hati kita. Keikhlasan, dan amal-amal kecil yang tersembunyi itulah yang membuat kita besar di akhirat,” ujar Ustaz Agung di hadapan jamaah.

Ustaz Agung menjelaskan bahwa banyak orang berlomba-lomba mencari ketenaran di dunia, namun Islam mengajarkan hal yang berbeda. Kemuliaan seorang umat tidak diukur dari seberapa banyak ia dikenal di bumi, tetapi seberapa besar ia dikenal di langit, oleh para malaikat, dan yang paling utama, oleh Allah SWT.

Ia juga mengingatkan jamaah untuk tidak mengukur nilai diri dengan popularitas atau materi dunia, karena dunia ini bersifat sementara, sedangkan akhirat kekal. Orang yang sederhana di dunia, tetapi senantiasa mendekat kepada Allah SWT dengan shalat yang khusyuk, sedekah yang ikhlas, dan akhlak yang baik, dialah yang luar biasa di akhirat.

“Hanya Allah SWT yang tahu siapa yang paling tulus dalam ibadahnya. Maka, jangan risau jika kita tidak dikenal manusia,” tegas Ustaz Agung.

Di akhir acara, Ketua Takmir Masjid Al Hidayah, Darmadi, mengajak para jamaah untuk menjadikan momen Syawalan ini sebagai awal baru dalam memperbaiki hubungan dengan sesama manusia dan dengan Allah SWT. Ia mendorong jamaah untuk saling mendoakan, mendukung, dan terus meramaikan masjid dengan kegiatan bermanfaat agar menjadi hamba Allah yang sederhana di dunia, namun luar biasa di akhirat.

“Jangan sampai semangat ibadah hanya hangat saat Ramadhan, tapi padam setelahnya. Masjid kita ini harus terus menjadi tempat berkumpulnya hati-hati yang rindu Allah,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




Gaya Hidup Halal: Pondasi Kehidupan Penuh Berkah

Gamping – Hidup halal lebih dari sekadar makanan dan minuman; ia mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari cara mencari rezeki hingga berinteraksi sosial. Di tengah arus modernisasi yang kerap mengabaikan nilai-nilai agama, penting untuk kembali mengingatkan diri pada prinsip hidup halal. Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) menggelar pengajian tentang gaya hidup halal di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Gamping, Sleman, pada Minggu (20/4/2025), untuk memperkuat pemahaman masyarakat akan pentingnya menjalani kehidupan yang penuh keberkahan.

Menurut dr. H. Bambang Edi Susyanto, narasumber dalam pengajian tersebut, gaya hidup halal bukan hanya soal konsumsi makanan yang sesuai dengan syariat Islam, tetapi juga mencakup seluruh aktivitas kehidupan yang selaras dengan ajaran agama. “Gaya hidup halal adalah pilihan fantastis yang dapat meningkatkan kualitas hidup kita secara keseluruhan,” ujarnya di hadapan puluhan jamaah Seroja.

Prinsip halal dalam kehidupan sehari-hari mencakup pemilihan makanan, pakaian, dan kegiatan yang bermanfaat serta menghindari yang haram. Bambang menjelaskan bahwa makanan halal harus pula thayyib, yaitu baik, bersih, dan menyehatkan. Oleh karena itu, kehalalan konsumsi bukan hanya soal label, tetapi juga tentang manfaat yang diberikan bagi tubuh.

Selain itu, prinsip halal juga harus diterapkan dalam cara memperoleh rezeki. Rezeki yang diperoleh melalui cara yang tidak halal, seperti korupsi, penipuan, atau riba, akan berdampak negatif bagi kehidupan seseorang. Sebaliknya, rezeki yang bersih akan membawa ketenangan batin, menghindarkan dari rasa gelisah, dan membuka pintu keberkahan.

Dalam konteks kehidupan sosial, dr. Bambang menambahkan bahwa hidup halal juga berarti menjaga etika dalam berinteraksi. Hal ini mencakup tidak menyakiti orang lain, menjaga lisan, dan menepati janji. “Di era digital seperti sekarang, menyebarkan berita bohong atau ujaran kebencian di media sosial jelas bertentangan dengan prinsip hidup halal,” tambahnya.

Pentingnya hidup halal juga sangat terkait dengan nilai spiritualitas. Ketika seseorang berusaha menjauh dari hal-hal yang meragukan dan berpegang pada yang halal, ia sedang membangun hubungan yang lebih kuat dengan Allah SWT. Kehidupan yang dijalani dengan prinsip halal akan lebih tenang karena semua yang dilakukan berada dalam kerangka yang diridhoi-Nya.

Lebih jauh, dr. Bambang menjelaskan bahwa hidup halal tidak berarti membatasi diri dari kemajuan atau kesenangan. Sebaliknya, hidup halal mengarahkan seseorang untuk menikmati hal-hal yang baik dengan bijaksana, seperti memilih produk kecantikan atau fashion yang tidak mengandung unsur haram dan memperhatikan keberlanjutan serta tanggung jawab sosial dalam konsumsinya.

Kesadaran untuk hidup halal harus ditanamkan sejak dini, baik melalui pendidikan formal maupun keluarga. Dengan menjadikan halal sebagai bagian dari gaya hidup, masyarakat akan menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan memiliki integritas tinggi. Hal ini akan berdampak positif tidak hanya pada individu, tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi secara luas.

Secara keseluruhan, hidup halal merupakan bentuk komitmen pribadi dan sosial untuk menciptakan tatanan kehidupan yang lebih baik. Dengan menjadikan halal sebagai pedoman hidup, setiap langkah kehidupan akan dipenuhi keberkahan dan kebahagiaan yang sejati. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




SD Muhammadiyah Semingin Raih 4 Trofi Kejuaraan Kompetisi Minat dan Bakat

Moyudan – Empat siswa-siswi SD Muhammadiyah Semingin baru-baru ini berhasil meraih empat trofi kejuaraan dalam ajang Kompetisi Minat dan Bakat yang diselenggarakan oleh SMP Muhammadiyah 1 Moyudan, Sleman, pada Sabtu (19/4/2025). Prestasi gemilang ini meliputi juara dalam lomba MHQ, adzan, pildacil, dan menyanyi, serta dua piala apresiasi untuk lomba kaligrafi.

Kepala SD Muhammadiyah Semingin, Eny Purwaningsih, mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi yang diraih para siswanya. “Alhamdulillah, sekolah kita kembali mengukir prestasi dengan mendapatkan empat piala kejuaraan, serta dua piala apresiasi. Barokah untuk kita semua,” ungkap Eny saat memberikan laporan kepada Pengurus Komite Sekolah. Selain itu, Eny juga menambahkan bahwa sekolah mendapat apresiasi atas keikutsertaan dalam lomba kaligrafi dan e-sport.

Adapun rincian prestasi yang diraih oleh siswa-siswi SD Muhammadiyah Semingin adalah Juara 1 Lomba MHQ, Juara II Lomba Menyanyi, Juara III Lomba Adzan, dan Juara IV Lomba Pildacil. Keberhasilan ini mendapatkan apresiasi dari pengurus komite sekolah. Suhari, salah satu pengurus komite, menyampaikan ucapan selamat kepada para peraih juara. “Alhamdulillah, selamat untuk anak-anak shaleh dan shalihah. Tetap semangat,” kata Suhari.

Sebagai bentuk apresiasi, Anton Rahmat Widodo, Ketua Komite SD Muhammadiyah Semingin, menyampaikan bahwa peraih Juara 1 MHQ akan diberi kesempatan untuk tampil di berbagai acara pengajian di wilayah Moyudan. “Kami ingin menyemangati anak-anak untuk terus berprestasi,” ujar Anton, yang disetujui oleh anggota komite lainnya. Sementara itu, Aris Nugroho, anggota komite, juga berharap prestasi siswa dapat dipublikasikan di website sekolah dan diviralkan di media sosial sebagai bentuk apresiasi yang lebih luas.

Komite Sekolah mendukung penuh partisipasi siswa dalam berbagai kompetisi, termasuk kompetisi yang diikuti oleh guru-guru sekolah. Eny Purwaningsih menambahkan, “Keikutsertaan dalam berbagai kompetisi ini merupakan wahana untuk mengasah prestasi, menguatkan mental dan karakter, serta membentuk pribadi juara sesuai bidang yang ditekuni.”

Dengan prestasi yang membanggakan ini, SD Muhammadiyah Semingin terus mendorong semangat berkompetisi dan berprestasi bagi seluruh siswanya, sebagai bagian dari pengembangan karakter dan kemampuan mereka. (Edy – KIM Moyudan)




Pesantren Lansia: Oase Baru untuk Keimanan di Usia Senja

Sleman – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kapanewon Gamping memperkenalkan terobosan baru dengan membangun Pesantren Lansia di Banyuraden, Kabupaten Sleman. Pesantren ini bukan sekadar tempat untuk belajar agama, tetapi juga ruang pengabdian bagi para lanjut usia yang ingin mengisi masa tua mereka dengan kedamaian, keharmonisan, dan kedekatan dengan Allah SWT.

Menurut Kyai Ahmad Shofi, pengampu Pesantren Lansia, pembangunan pesantren ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap minimnya fasilitas bagi lansia yang ingin memperdalam keimanan. Banyak lansia yang memiliki keinginan besar untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, namun terkendala oleh keterbatasan fasilitas yang ramah usia. “Kami ingin memberikan wadah bagi para lansia untuk tetap bisa belajar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, tanpa merasa terasing atau tidak mampu mengikuti kegiatan,” ujar Kyai Shofi saat ditemui di lokasi pembangunan pada Minggu (20/4/2025).

Pesantren ini dibangun berkat kolaborasi warga Nahdlatul Ulama, para donatur, dan relawan yang bergotong royong. Pembangunan dimulai pada awal tahun 2025, dengan memanfaatkan tanah wakaf seluas 130 meter persegi dari keluarga Mugiyono, warga Tegalyoso Banyuraden, yang sebelumnya berupa sawah. Kini, tanah tersebut sedang berproses menjadi pusat spiritual yang ramah lansia. Setiap langkah pembangunan, dari penyusunan batu hingga pengecoran semen, diiringi dengan doa dan harapan besar agar pesantren ini dapat menjadi tempat yang penuh berkah.

Saat ini, pembangunan fisik pesantren berupa bangunan limasan masih dalam tahap pengerjaan. Beberapa fasilitas utama seperti ruang sholat, kamar mandi, dan dapur umum masih dalam tahap penyelesaian. MWCNU Gamping membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan pesantren ini, baik dengan menyumbang material maupun tenaga.

Respons masyarakat sekitar terhadap pembangunan pesantren lansia ini sangat positif. Banyak keluarga merasa lega karena orang tua mereka akan memiliki tempat yang aman dan penuh berkah. Pesantren ini juga menjadi simbol penghormatan dan cinta kepada generasi tua. Di tengah zaman yang serba cepat dan individualistis, pesantren lansia ini hadir sebagai oase yang menyejukkan, tempat di mana para lansia tidak hanya diterima, tetapi juga dimuliakan.

“Hadirnya pesantren lansia MWCNU Gamping mengingatkan kita bahwa masa tua bukan akhir dari segalanya. Justru, masa tua menjadi awal perjalanan spiritual yang lebih mendalam, ditemani oleh saudara seiman dalam suasana penuh cinta dan keteduhan,” tambah Kyai Shofi.

Pesantren lansia ini diharapkan dapat menjadi pusat pembelajaran dan pengabdian yang terus berkembang, memberikan ruang bagi lansia untuk meningkatkan kualitas keimanan mereka di usia senja. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




POPSI Bhayu Manunggal Kukuhkan Pengurus Baru dan Gelar Syawalan Nasional di Sleman

Sleman— Perguruan Pelopor Pencak Silat Indonesia (POPSI) Bhayu Manunggal menggelar acara Syawalan sekaligus Pengukuhan Pengurus Besar (PB) masa bakti 2025–2030 di Balai Dusun Sambilegi Kidul, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Sabtu (19/4/2025). Kegiatan ini berlangsung semarak dalam suasana guyub dan rukun, dihadiri lebih dari 180 pesilat dari berbagai daerah.

Acara dimulai dengan pembukaan, disusul dengan prosesi Trapsila Perguruan, menyanyikan Lagu Indonesia Raya, pembacaan ikrar Syawalan, sambutan-sambutan, serta penyerahan sabuk kehormatan dan sertifikat kepada sejumlah tokoh.

Ketua Umum PB POPSI Bhayu Manunggal, Agustinus Djoko Susanto, menyampaikan bahwa pencak silat ini didirikan oleh Ki Djoyo Suwito bergelar Pandita Dharmawirya sejak 1 Juni 1930. Secara organisasi, POPSI Bhayu Manunggal resmi berdiri pada 26 Juni 1970 di kawasan Prawirotaman, Yogyakarta.

Ketua Panitia, Heru Bambang Siswanto, melaporkan bahwa peserta berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, hingga Sumatra Selatan. Hadir pula para Majelis Wali Perguruan, Dewan Pendekar, Pendekar Muda, para pelatih, dan keluarga besar POPSI Bhayu Manunggal.

“Mulai dari pesilat yunior hingga para sesepuh, semua antusias hadir. Ini menunjukkan semangat persaudaraan dan keberlanjutan ajaran perguruan,” ungkap Djoko Susanto.

Acara ini juga menampilkan pentas seni pencak silat dari para atlet berprestasi. Selain itu, diselenggarakan Sarasehan dan Workshop Keilmuan Bhayu Manunggal yang diikuti secara daring oleh peserta dari berbagai daerah.

Sutriyono, mewakili Pengurus Daerah DIY, menutup kegiatan dengan harapan agar semangat dan ajaran warisan Guru Besar Eyang Djoyo Suwito terus dilestarikan.

“Semoga kita semua selalu sehat dan mampu mengembangkan warisan leluhur. POPSI Bhayu Manunggal harus terus jaya,” tegasnya. (Edy/KIM Moyudan)