Pesantren Lansia: Oase Baru untuk Keimanan di Usia Senja

Sleman – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kapanewon Gamping memperkenalkan terobosan baru dengan membangun Pesantren Lansia di Banyuraden, Kabupaten Sleman. Pesantren ini bukan sekadar tempat untuk belajar agama, tetapi juga ruang pengabdian bagi para lanjut usia yang ingin mengisi masa tua mereka dengan kedamaian, keharmonisan, dan kedekatan dengan Allah SWT.

Menurut Kyai Ahmad Shofi, pengampu Pesantren Lansia, pembangunan pesantren ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap minimnya fasilitas bagi lansia yang ingin memperdalam keimanan. Banyak lansia yang memiliki keinginan besar untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, namun terkendala oleh keterbatasan fasilitas yang ramah usia. “Kami ingin memberikan wadah bagi para lansia untuk tetap bisa belajar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, tanpa merasa terasing atau tidak mampu mengikuti kegiatan,” ujar Kyai Shofi saat ditemui di lokasi pembangunan pada Minggu (20/4/2025).

Pesantren ini dibangun berkat kolaborasi warga Nahdlatul Ulama, para donatur, dan relawan yang bergotong royong. Pembangunan dimulai pada awal tahun 2025, dengan memanfaatkan tanah wakaf seluas 130 meter persegi dari keluarga Mugiyono, warga Tegalyoso Banyuraden, yang sebelumnya berupa sawah. Kini, tanah tersebut sedang berproses menjadi pusat spiritual yang ramah lansia. Setiap langkah pembangunan, dari penyusunan batu hingga pengecoran semen, diiringi dengan doa dan harapan besar agar pesantren ini dapat menjadi tempat yang penuh berkah.

Saat ini, pembangunan fisik pesantren berupa bangunan limasan masih dalam tahap pengerjaan. Beberapa fasilitas utama seperti ruang sholat, kamar mandi, dan dapur umum masih dalam tahap penyelesaian. MWCNU Gamping membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan pesantren ini, baik dengan menyumbang material maupun tenaga.

Respons masyarakat sekitar terhadap pembangunan pesantren lansia ini sangat positif. Banyak keluarga merasa lega karena orang tua mereka akan memiliki tempat yang aman dan penuh berkah. Pesantren ini juga menjadi simbol penghormatan dan cinta kepada generasi tua. Di tengah zaman yang serba cepat dan individualistis, pesantren lansia ini hadir sebagai oase yang menyejukkan, tempat di mana para lansia tidak hanya diterima, tetapi juga dimuliakan.

“Hadirnya pesantren lansia MWCNU Gamping mengingatkan kita bahwa masa tua bukan akhir dari segalanya. Justru, masa tua menjadi awal perjalanan spiritual yang lebih mendalam, ditemani oleh saudara seiman dalam suasana penuh cinta dan keteduhan,” tambah Kyai Shofi.

Pesantren lansia ini diharapkan dapat menjadi pusat pembelajaran dan pengabdian yang terus berkembang, memberikan ruang bagi lansia untuk meningkatkan kualitas keimanan mereka di usia senja. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




POPSI Bhayu Manunggal Kukuhkan Pengurus Baru dan Gelar Syawalan Nasional di Sleman

Sleman— Perguruan Pelopor Pencak Silat Indonesia (POPSI) Bhayu Manunggal menggelar acara Syawalan sekaligus Pengukuhan Pengurus Besar (PB) masa bakti 2025–2030 di Balai Dusun Sambilegi Kidul, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Sabtu (19/4/2025). Kegiatan ini berlangsung semarak dalam suasana guyub dan rukun, dihadiri lebih dari 180 pesilat dari berbagai daerah.

Acara dimulai dengan pembukaan, disusul dengan prosesi Trapsila Perguruan, menyanyikan Lagu Indonesia Raya, pembacaan ikrar Syawalan, sambutan-sambutan, serta penyerahan sabuk kehormatan dan sertifikat kepada sejumlah tokoh.

Ketua Umum PB POPSI Bhayu Manunggal, Agustinus Djoko Susanto, menyampaikan bahwa pencak silat ini didirikan oleh Ki Djoyo Suwito bergelar Pandita Dharmawirya sejak 1 Juni 1930. Secara organisasi, POPSI Bhayu Manunggal resmi berdiri pada 26 Juni 1970 di kawasan Prawirotaman, Yogyakarta.

Ketua Panitia, Heru Bambang Siswanto, melaporkan bahwa peserta berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, hingga Sumatra Selatan. Hadir pula para Majelis Wali Perguruan, Dewan Pendekar, Pendekar Muda, para pelatih, dan keluarga besar POPSI Bhayu Manunggal.

“Mulai dari pesilat yunior hingga para sesepuh, semua antusias hadir. Ini menunjukkan semangat persaudaraan dan keberlanjutan ajaran perguruan,” ungkap Djoko Susanto.

Acara ini juga menampilkan pentas seni pencak silat dari para atlet berprestasi. Selain itu, diselenggarakan Sarasehan dan Workshop Keilmuan Bhayu Manunggal yang diikuti secara daring oleh peserta dari berbagai daerah.

Sutriyono, mewakili Pengurus Daerah DIY, menutup kegiatan dengan harapan agar semangat dan ajaran warisan Guru Besar Eyang Djoyo Suwito terus dilestarikan.

“Semoga kita semua selalu sehat dan mampu mengembangkan warisan leluhur. POPSI Bhayu Manunggal harus terus jaya,” tegasnya. (Edy/KIM Moyudan)




RAT KSPPS Surya Mulia Kamilah: Laporan Kinerja Meningkat, Puluhan Beasiswa Disalurkan

Ngaglik— Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Surya Mulia Kamilah menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2024 di Gedung Serbaguna Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Sabtu (19/4/2025). Dalam RAT ini, pengurus koperasi menyampaikan laporan pertanggungjawaban kinerja, dan secara simbolis menyerahkan 23 beasiswa pendidikan kepada anggota dan masyarakat sekitar.

Acara ini dihadiri sekitar 100 perwakilan anggota koperasi, jajaran pengurus, pengawas, Dewan Pengawas Syariah, serta perwakilan Pusat Koperasi Syariah Forum Masyarakat Ekonomi Syariah (Formes). Kepala Dinas Koperasi DIY berhalangan hadir dalam kegiatan tersebut.

RAT dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dari Surah Ali ‘Imran ayat 130 yang berisi larangan memakan riba dan ajakan untuk bertakwa. Sambutan selamat datang disampaikan oleh Ketua Pengurus KSPPS Surya Mulia Kamilah, Agus Triono, yang mengapresiasi kehadiran para anggota dan berharap keberkahan serta kontribusi dari seluruh pihak demi kemajuan koperasi.

Perwakilan dari Formes, Aji Nur Nugroho, yang turut membuka RAT, menyampaikan bahwa KSPPS Kamilah merupakan anggota aktif dan berkontribusi besar dalam ekosistem ekonomi syariah. Ia juga mengapresiasi peningkatan kinerja koperasi yang terlihat dari laporan keuangan tahun 2024.

“Dari berbagai indikator, KSPPS Kamilah menunjukkan pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan. Kami mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya RAT ini,” ujarnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, KSPPS Kamilah memberikan 23 beasiswa pendidikan masing-masing senilai kepada anggota dan masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, RAT juga dimeriahkan dengan pembagian doorprize kepada peserta yang hadir.

RAT sebagai forum tertinggi koperasi juga menjadi ajang evaluasi dan penyampaian masukan. Dalam laporan tahunannya, pengurus menyampaikan bahwa pada pertengahan 2024, KSPPS Kamilah telah mengubah kembali badan hukum dari koperasi konsumen menjadi Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah, sesuai arahan Dinas Koperasi Kabupaten Sleman dan DIY.

Perubahan ini dilakukan karena cakupan pelayanan koperasi telah meluas hingga mencakup seluruh wilayah DIY. Selama tahun 2024, koperasi juga melakukan berbagai perbaikan internal, termasuk peningkatan layanan, renovasi kantor, serta penguatan kepatuhan syariah melalui pengawasan rutin dari Dewan Pengawas Syariah.

Dalam sesi diskusi, Ketua Paguyuban Pasar Prambanan, Budiono, mengusulkan agar petugas KSPPS Kamilah dapat menyesuaikan waktu pelayanan tabungan untuk pedagang yang beroperasi dini hari. Usulan tersebut diterima dan akan ditindaklanjuti oleh pengurus koperasi.

Secara umum, laporan keuangan menunjukkan peningkatan kinerja koperasi. Aset KSPPS Surya Mulia Kamilah naik dari menjadi , sementara selisih hasil usaha meningkat dari menjadi .

Peningkatan ini mencerminkan kerja sama dan sinergi seluruh pengurus, pengawas, dan anggota koperasi dalam mengembangkan layanan keuangan syariah yang terpercaya dan bermanfaat bagi masyarakat. (Arief Hartanto/KIM Turi)




Panewu Moyudan Resmi Lepas 48 Calon Jamaah Haji: Harapan Kemabruran dan Keselamatan Mengiringi Keberangkatan

Moyudan— Panewu Moyudan, Harsawasana, secara resmi melepas keberangkatan 48 calon jamaah haji asal Kapanewon Moyudan dalam acara Syawalan dan Pamitan Haji yang digelar di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Jumat (18/4/2025). Acara ini dihadiri oleh unsur Forum Pimpinan Kapanewon (Forkopimka), anggota DPRD Kabupaten Sleman Muhammad Yazid, Ketua IPHI Moyudan Sarjono, Lurah Sumbersari Sukadi, tokoh masyarakat, dan para anggota Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI).

Dalam sambutannya, Panewu Moyudan menyampaikan pesan penting kepada para calon jamaah haji agar senantiasa tawadhu’, disiplin, dan bersyukur dalam menunaikan seluruh rangkaian ibadah. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga citra jamaah haji Indonesia yang dikenal tertib dan santun di tanah suci.

“Semoga seluruh calon jamaah diberikan kesehatan, kelancaran dalam ibadah, dan kembali ke tanah air dengan membawa predikat haji yang mabrur serta memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat,” ujar Harsawasana.

Sebelumnya, Ustaz Agung Budiyanto menyampaikan tausiah dan doa keberangkatan. Ia menekankan bahwa calon jamaah haji adalah orang-orang terpilih yang rela meninggalkan urusan duniawi untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Ia juga mengingatkan bahwa inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, yaitu momen untuk memperbanyak istighfar, doa, dan introspeksi diri.

Ustaz Agung juga menguraikan makna dari beberapa rukun haji lainnya seperti thawaf sebagai bentuk ketundukan kepada Allah dan sa’i sebagai wujud tawakal atas segala takdir-Nya. Ia menekankan bahwa ciri-ciri haji yang mabrur tampak dari akhlak sehari-hari seperti ringan bersedekah, membantu sesama, berkata santun, dan menjauhi perbuatan menyakiti orang lain.

“Jaga kesehatan, perbanyak minum air agar tidak dehidrasi, bawa obat pribadi, dan selalu ikuti arahan pembimbing. Jangan lupa saling memaafkan sebelum berangkat sebagai upaya meraih kesucian,” pesannya kepada jamaah.

Ketua IPHI Kapanewon Moyudan, Sarjono, melaporkan bahwa pada tahun 2025 ini terdapat 48 calon jamaah haji dari seluruh kalurahan di wilayah Moyudan yang siap diberangkatkan.

Perwakilan jamaah, Muhammad Irfai, menyampaikan permohonan maaf dan doa restu kepada seluruh hadirin.

“Mohon maaf atas segala kekhilafan kami, mohon doanya agar kami diberi kelancaran dalam menunaikan ibadah haji, sehat dan selamat dari berangkat hingga kembali ke tanah air,” ucap Irfai haru.

Acara ditutup dengan jabat tangan, saling memaafkan antar hadirin, dan diiringi lantunan sholawat sebagai ungkapan kebersamaan dan harapan atas kemabruran haji para calon jamaah.(Edy/KIM Moyudan)




Puskesmas Depok II Tingkatkan Kapasitas Kader Cegah Penyakit Menular Lewat Edukasi Keamanan Pangan

Depok — Puskesmas Depok II menggelar Pertemuan Kader Masyarakat dalam Pencegahan Penyakit Menular, Kamis (17/4), di Aula Puskesmas Depok II. Acara yang dimulai pukul WIB ini diikuti oleh 40 kader dari 40 Posyandu di wilayah Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader dalam mencegah penyakit menular, khususnya melalui penguatan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan. Acara terdiri atas dua sesi materi yang disampaikan oleh narasumber berpengalaman di bidang kesehatan masyarakat.

Sesi pertama menghadirkan Putri yang membawakan materi bertema “Kewaspadaan terhadap Keracunan Pangan.” Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa keracunan pangan terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi mikroorganisme, bahan kimia, atau racun alami. Ia mengidentifikasi tiga jenis cemaran penyebab keracunan pangan, yaitu cemaran biologis, kimia, dan fisik.

Putri menekankan peran penting kader Posyandu sebagai garda terdepan dalam pencegahan. Peran tersebut meliputi edukasi masyarakat, deteksi dini dan pelaporan, pertolongan awal, pendampingan, serta pengawasan dan pencegahan. Ia menutup sesinya dengan pesan, “Kesehatan dimulai dari makanan yang aman dan bersih. Mari tingkatkan kewaspadaan dan edukasi bersama.”

Sesi kedua dilanjutkan oleh Purwan Lestari dari Puskesmas Depok II dengan materi bertema “Higiene dan Sanitasi dalam Pengelolaan Pangan.”  Dalam materinya, Purwan Lestari memperkenalkan Lima Kunci Keamanan Pangan yang sangat penting diterapkan dalam setiap proses pengelolaan makanan. Ia menjelaskan bahwa kunci pertama adalah memilih bahan makanan yang aman, artinya bahan yang digunakan harus segar, bersih, dan tidak mengandung bahan berbahaya.

Kunci kedua adalah menyimpan bahan makanan dengan benar, termasuk memperhatikan suhu penyimpanan dan memisahkan bahan mentah dari bahan matang agar tidak terjadi kontaminasi silang.

Selanjutnya, kunci ketiga adalah menyiapkan makanan secara higienis, seperti mencuci tangan sebelum mengolah makanan dan menggunakan peralatan yang bersih.

Kunci keempat, menyajikan makanan yang aman, menekankan pentingnya menjaga makanan tetap bersih hingga sampai ke tangan konsumen.

Terakhir, kunci kelima adalah menjaga kebersihan selama seluruh proses pengolahan, mulai dari dapur, alat masak, hingga lingkungan tempat pengolahan makanan berlangsung.

Purwan menegaskan bahwa para penjamah makanan—yakni individu yang berinteraksi langsung dengan makanan—wajib memahami dan menerapkan kelima kunci tersebut untuk mencegah penyakit atau keracunan. Ia juga mengingatkan bahwa cemaran pangan dapat bersumber dari bahan kimia, mikroorganisme, maupun benda fisik.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para kader dapat menjadi agen perubahan di masyarakat, khususnya dalam menjaga keamanan pangan dan mencegah penyebaran penyakit menular melalui edukasi yang berkelanjutan dan tindakan nyata. (Tri Suhartati/KIM Depok)