Sebanyak 108 Pendamping JSLU Sleman Ikuti Peningkatan Kapasitas

Sleman – Sebanyak 108 orang pendamping Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) se-Kabupaten Sleman mengikuti acara peningkatan kapasitas yang digelar Dinas Sosial Kabupaten Sleman, pada Rabu (16/4/2025) di ruang aula dinas setempat.

Adapun narasumbernya ialah Koordinator JSLU DIY, Sukirman, perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Sigit Indarto, yang menyampaikan berbagai materi untuk peningkatan kapasitas, pemantapan dasar-dasar aturan dan sistem bagi para pendamping JSLU se-Kabupaten Sleman.

Menurut Gunanto JSLU (Ngaglik) dan Restu Hitna (Minggir) selaku peserta acara, kegiaatan peningkatan kapasitas kali ini fokus pada peningkatan pelayanan pendampingan dan pembuatan laporan bulanan, bagi para pendamping JSLU.

“Kegiatan kali ini digelar untuk peningkatan pelayanan pendampingan dan pembuatan laporan tiga bulan sekali dan perbulan minimal lima kali kunjungan ke lansia, serta pembagian Korsa JSLU, id card dan mantel hujan,” terang Gunanto.

Sementara, Sigit Indarto selaku perwakilan dari Dinas Sosial Kabupaten Sleman menjelaskan bahwa Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) adalah program bantuan sosial yang dikoordinasikan oleh Dinas Sosial DIY, untuk membantu lansia yang berstatus miskin dan atau telantar, serta tidak menerima bantuan dari program lain seperti PKH atau BPNT. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan memenuhi hak dasar, serta memberikan perlindungan sosial.

“Adapun penerima manfaat dari program ini adalah lansia berusia 60 tahun ke atas yang memenuhi kriteria miskin dan atau telantar, serta tidak menerima bantuan dari PKH atau BPNT yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial DIY, dengan kerjasama Bank BPD DIY dan Dinas Sosial Kabupaten/Kota,” ujarnya.

Hal ini diwujudkan berupa paket sembako yang meliputi beras, minyak, gula, sayuran, buah, dan lain-lain dengan penyaluran bantuan dilakukan secara teratur dan berkelanjutan, dengan pemantauan dan evaluasi yang dilakukan secara berkala.

Semangat pelayanan ini nampak dalam jargon yang diucapkan para pendamping dengan kompak yakni ‘JSLU Berdampak, Dinas Sosial DIY melayani mrantasi’. (Arif Hartanto / Kim Turi).




Pemkab Sleman Dorong Pelestarian Budaya Lewat Pementasan Dalang Cilik

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan seni budaya tradisional melalui dukungan aktif terhadap berbagai kegiatan seni lokal. Salah satu bentuk nyata dukungan tersebut ditunjukkan Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, dengan menghadiri pementasan wayang kulit dalang cilik yang digelar Sanggar Sunu Aji Budaya, di Dusun Ketingan, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Rabu (16/4) malam.

Pagelaran tersebut menampilkan tiga dalang cilik berbakat: Syarif Maulana Ramadhan (15), Muhammad Ramzi (10), dan Apta Diharja (12), yang memainkan lakon wayang sebagai wujud regenerasi pelestari seni pertunjukan tradisional.

Dalam sambutannya, Danang Maharsa menegaskan bahwa Pemkab Sleman tidak hanya mendukung, tetapi juga mendorong penguatan budaya lokal melalui kegiatan seni yang melibatkan generasi muda.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Melibatkan anak-anak dalam pelestarian budaya merupakan langkah strategis untuk menjaga warisan budaya kita tetap hidup di tengah arus globalisasi,” ujar Danang.

Ia menyatakan bahwa Pemkab Sleman melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata terus membuka ruang dan fasilitas bagi sanggar-sanggar seni serta komunitas budaya untuk berkembang. Dukungan ini meliputi pelatihan, dokumentasi pertunjukan, hingga fasilitasi keikutsertaan dalam ajang festival seni.

“Kami mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk aktif mengawal kegiatan seperti ini. Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenang, tetapi harus dilibatkan langsung ke generasi muda,” tegasnya.

Danang juga mengajak seluruh masyarakat Sleman untuk ikut serta menjaga budaya lokal sebagai bagian dari jati diri bangsa.

Sementara itu, pemilik Sanggar Sunu Aji Budaya, Harjono, menjelaskan bahwa pementasan tersebut juga akan didokumentasikan dalam bentuk video untuk diikutsertakan dalam Festival Dalang Cilik yang diselenggarakan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

“Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga bentuk nyata kontribusi kami dalam menjaga eksistensi wayang sebagai seni tradisional. Kami ingin memotivasi anak-anak untuk mencintai dan melestarikan budaya sejak dini,” ungkap Harjono.

Keikutsertaan dalam festival, lanjutnya, menjadi sarana pengembangan bakat sekaligus bentuk kolaborasi antara komunitas budaya dan pemerintah daerah dalam menghidupkan kembali seni tradisional di kalangan generasi muda.




Tanamkan Sadar Lingkungan Kepala MAN 1 Sleman Lantik Kader Adi Wiyata

Sleman – Peduli lingkungan harus tertanam pada setiap peserta didik agar tercipta lingkungan belajar nyaman dan menyenangkan.  Apalagi peserta didik adalah generasi penerus.  Diperlukan langkah nyata peduli lingkungan di kalangan peserta didik dan seluruh warga sekolah.

Seperti MAN 1 Sleman secara resmi melantik 12 (dua belas) peserta didik sebagai Kader Adiwiyata sebagai penggerak dan pelopor peduli lingkungan. Pelantikan dilaksanakan pada, Senin (14/4/2025) di halaman madrasah setempat.  

Sebanyak 12 peserta didik dilantik, terdiri dari enam orang siswa kelas X dan enam siswa kelas XI. Setiap kelas diwakili oleh satu peserta didik sebagai bentuk representasi dan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan madrasah. Pelantikan berlangsung khidmat di lapangan upacara MAN 1 Sleman, dan disaksikan oleh seluruh warga madrasah.

Adapun siswa yang dilantik sebagai Kader Adiwiyata, antara lain Muhammad Fathy (kelas X E1), Muhammad Daffa Miteranto (kelas X E2), Farra Dyah Sari Dewi (kelas X E3), Zahra Nur Aini (kelas X E4), Achmad Ramadhani (kelas X E5), Qurrota A’yun Alfaza Arif (kelas X E6),  Raisha Gita Cahyani (kelas XI F1), Cahya Putri Anggraini (kelas XI F2), Arya Bayu Wicaksono (kelas XI F3), Firoh Huwaida (kelas XI F4), Aisyah Ghozia (kelas XI F5),  dan  Aulia Fahma Dina dari kelas XI F6.

Pembina Kader Adiwiyata, Murina Rusmanti menegaskan bahwa pembentukan kader ini dilatarbelakangi keprihatinan terhadap permasalahan pengelolaan sampah di Yogyakarta.  Banyaknya permasalahan sampah membutuhkan partisipasi aktif lembaga pendidikan seperti sekolah dan madrasah dengan aksi nyata. 

“Kita melihat pengelolaan sampah di Jogja masih menjadi persoalan serius. Melalui kader Adiwiyata, kami ingin menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini dan menjadikan madrasah sebagai contoh kebersihan serta berbudaya lingkungan,” ujar Murina di Ruang Kerja, Rabu (16/4/2025).

Murina menegaskan Kader Adiwiyata diharapkan menjadi agen perubahan aktif di berbagai kegiatan lingkungan, seperti memilah sampah, kampanye kebersihan kelas, dan menggerakkan program daur ulang dan penghijauan di lingkungan madrasah.  MAN 1 Sleman pun menegaskan komitmennya sebagai madrasah ramah lingkungan, dan mendukung program Adiwiyata yang berkelanjutan. (Edy – KIM Moyudan)




DPRD Sleman Dorong UMKM Naik Kelas dan Lansia Tetap Produktif

Sleman – Gerakan Lanjut Usia (Lansia) Produktif, Tangguh, dan Berguna merupakan inisiatif yang ditujukan untuk mengubah paradigma tentang lansia di tengah masyarakat. Pemerintah Kabupaten Sleman, bersama komunitas dan lembaga sosial menyediakan pelatihan keterampilan seperti kerajinan tangan, kuliner, dan bahkan kewirausahaan ringan yang dapat dikerjakan di rumah. Tujuannya bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga menjaga kesehatan mental para lansia agar tetap merasa dihargai dan berguna.

Sebagai upaya mewujudkan gerakan tersebut, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sleman, Gustan Ganda, bersama Anggota Komisi A DPRD DIY, Yuni Satia Rahayu, menyambangi pelaku UMKM di Sekretariat Kelompok Usaha Bersama Lansia Tangguh, Somodaran, Gamping, Rabu (16/4/2025).

Dalam sambutannya, Gustan Ganda menyebutkan gerakan UMKM naik kelas bukan sekadar wacana, melainkan diimplementasikan melalui kebijakan terintegrasi, bantuan langsung dan pendampingan berkelanjutan. Pemerintah bersama anggota legislatif menyadari bahwa pelaku usaha merupakan tulang punggung ekonomi daerah yang perlu diperkuat secara strategis.

Salah satu langkah konkret yang telah diambil yakni penyediaan program pelatihan berbasis kebutuhan pasar. Pemerintah Kabupaten Sleman menggandeng akademisi dan praktisi industri untuk memberikan pelatihan kewirausahaan, manajemen keuangan, hingga digitalisasi bisnis kepada pelaku usaha.

“Pemkab Sleman sudah cukup bagus mendorong UMKM, tapi kata naik kelasnya itu yang belum optimal,” tutur Gustan.

Untuk itu, rencana ke depan produk UMKM yang ada akan didata dan dikurasi agar layak dipasarkan lebih luas. Melalui pendataan, pemerintah dapat mengetahui siapa saja pelaku usahanya, bahan baku yang digunakan, metode produksi, hingga sebaran pasarnya. Hal ini penting untuk pengambilan keputusan strategis, seperti pemberian bantuan, pelatihan, atau fasilitasi perizinan. Sedangkan kurasi dilakukan untuk menyeleksi produk-produk unggulan yang layak dipromosikan lebih luas, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional.

Selain itu, adanya kurasi dapat mendorong pelaku usaha meningkatkan kualitas produknya dari segi rasa, kemasan, hingga standar kebersihan dan keamanan pangan, sekaligus termotivasi untuk berinovasi dan menaikkan daya saing produknya.

“Produk yang lolos kurasi dapat dikembangkan menjadi identitas kuliner khas daerah yang memiliki nilai jual tinggi dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” terangnya.

Lebih lanjut, Anggota Komisi A DPRD DIY, Yuni Satia Rahayu menyinggung tentang gerakan lansia produktif, tangguh, dan berguna sebagai upaya untuk memberdayakan para lanjut usia agar tetap aktif, sehat, dan memiliki peran positif dalam masyarakat. Lansia memiliki pengalaman hidup, pengetahuan, dan keterampilan yang sangat berharga. Dengan mendorong mereka untuk tetap produktif dan tangguh, gerakan ini berusaha mengubah cara pandang masyarakat terhadap lansia, dari yang pasif menjadi lebih mandiri dan berdaya guna.

“Gerakan ini mendukung lansia agar tetap merasa dihargai dan memiliki makna dalam hidup, dan menjadi inspirasi bagi generasi muda tentang pentingnya hidup sehat dan aktif di usia lanjut,” jelasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Syawalan Suryo Ndadari, Bupati Sleman Tekankan Kekompakan Lurah dan Pamong

Sleman – Paguyuban lurah dan pamong kalurahan se-Kabupaten Sleman yang tergabung dalam komunitas Suryo Ndadari menggelar acara syawalan bersama Bupati Sleman, Harda Kiswaya, di Pendopo Parasamya Sleman, Rabu (16/4/2025). Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan sinergi antara pemerintah daerah dan jajaran pamong kalurahan.

Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas PMK2PS DIY KPH Yudanegara, Ketua DPRD Sleman Gustan Ganda, Sekda Sleman Susmiarto, serta sejumlah pejabat pemerintah daerah lainnya.

Dalam sambutannya, Bupati Harda menekankan pentingnya kekompakan antara lurah, pamong, dan seluruh pemangku kebijakan di Sleman. Menurutnya, kekompakan ini harus tercermin tidak hanya dalam kegiatan seremonial, tetapi juga dalam pelayanan publik dan pelaksanaan pembangunan.

“Harapan saya, kekompakan ini juga terwujud dalam pelayanan kepada masyarakat dan dalam mendukung program pembangunan Kabupaten Sleman,” ujar Harda.

Ia menambahkan, sinergi antar pemangku kepentingan dari tingkat kalurahan hingga pusat harus terus dijaga demi mempercepat pencapaian kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, KPH Yudanegara menyampaikan pesan dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, agar lurah dan pamong kalurahan senantiasa menjadi teladan yang baik bagi masyarakat. Mereka diharapkan memimpin dengan welas asih dan sikap ngemong tanpa pamrih, demi mewujudkan reformasi kalurahan di DIY.

“Paguyuban bukan sekadar kegiatan, tetapi merupakan wujud kebersamaan, kepedulian, dan kekompakan. Karena kekompakan adalah fondasi dari pelaksanaan kebijakan yang efektif,” tegas Yudanegara.

Ketua Suryo Ndadari, Irawan, menjelaskan bahwa syawalan tahun 2025 ini mengangkat tema “Reformasi Birokrasi Kalurahan, Menuju Profesionalisme Kalurahan.” Ia berharap kegiatan ini dapat mempererat komunikasi, memperkuat koordinasi, serta mendorong terciptanya tata kelola kalurahan yang lebih profesional.

“Selain sebagai ajang silaturahmi, syawalan ini juga menjadi wadah penyampaian aspirasi dan inisiasi dari para pamong kalurahan,” ujar Irawan.