Sleman – Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam, tak terkecuali bagi warga Nahdliyin di Banyuraden. Kemenangan setelah satu bulan berpuasa disambut dengan suka cita dan penuh makna. Bagi Kyai Ahmad Shofi selaku Rois Syuriah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Banyuraden, Idul Fitri adalah lebih dari sekadar perayaan karena perwujudan dari nilai spiritual dan sosial yang harus diresapi bersama.
Dalam sebuah kesempatan halal bihalal yang diselenggarakan oleh PRNU Banyuraden di dusun Modinan , Minggu (13/4/2025) dihadiri Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sleman, Herman Budi Pramono dan Lurah Banyuraden, Sudarisman beserta 150 warga masyarakat , hingga .
Kyai Ahmad Shofi menyampaikan bahwa makna sejati Idul Fitri terletak pada proses penyucian diri dan penguatan ukhuwah yang dijabarkan dalam kata lebaran, luberan, leburan dan laburan.
Menurutnya, lebaran berarti usai atau selesai, yaitu selesainya ibadah puasa Ramadhan. Sedangkan secara maknawi, lebaran diartikan sebagai momen kembali ke fitrah, kembali menjadi suci seperti bayi yang baru lahir. Ini juga merupakan waktu untuk memulai lembaran baru dengan hati yang bersih dari dosa, dendam, dan kebencian. Karenanya, lebaran adalah simbol kemenangan rohani setelah sebulan penuh berjuang melawan hawa nafsu.
“Lebaran bukan hanya mengganti pakaian baru, tapi bagaimana kita mengenakan hati yang baru, bersih dari dengki dan prasangka,” tuturnya.
Sementara, luberan diambil dari kata ‘luber’ yang berarti melimpah. Dalam konteks ini, maknanya adalah melimpahnya berkah, rezeki, dan kebaikan. Tradisi berbagi seperti membagikan zakat fitrah atau amplop lebaran adalah salah satu wujud dari luberan ini. Hal ini mengajarkan nilai kepedulian sosial, bahwa kebahagiaan hari raya harus dirasakan bersama, terutama oleh kaum dhuafa dan anak-anak.
Selanjutnya, leburan memiliki arti melebur atau menghilangkan. Ini merujuk pada meleburkan dosa dan kesalahan. Sebab, Idul Fitri merupakan momen untuk saling memaafkan dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih.
Terakhir, laburan berasal dari kata ‘labur’ yang artinya memutihkan atau membersihkan, seperti proses mengecat dinding agar tampak bersih. Maknanya adalah membersihkan diri dari dosa melalui saling memaafkan dan bertaubat kepada Allah SWT. Ini juga berkaitan dengan simbolisasi hati yang dilabur agar bersih dan suci setelah menjalani bulan penuh pengampunan di Ramadhan.
“Jadi kalau dirangkai lebaran adalah momen luberan berkah, leburan dosa, dan laburan hidup dengan kebaikan,” tegas Kyai Shofi dihadapan jama’ah yang hadir.
Harapannya, setelah sebulan penuh berlatih menahan hawa nafsu, umat Islam hendaknya mampu menjadikan Ramadhan sebagai titik balik menuju pribadi yang lebih sabar, rendah hati, dan penuh kasih sayang. Hal ini, menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang damai dan harmonis.
Seluruh warga Nahdliyin dan masyarakat luas pun diajak untuk memaknai halal bihalal sebagai media introspeksi diri dan rekonsiliasi sosial. Dalam pandangannya, masyarakat modern sering kali terjebak dalam konflik sosial dan perpecahan karena kurangnya ruang untuk berdialog dan saling memaafkan.
Halal bihalal bukan hanya tradisi tahunan, melainkan wujud nyata dari misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Semangat saling memaafkan, berbagi, dan mempererat tali silaturahmi ini harus dijadikan sebagai budaya harian. Mengingat, Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tapi juga agama hubungan sosial yang mulia. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)