Bupati Sleman Serahkan 144 SK CPNS, Tekankan Integritas dan Dedikasi dalam Pelayanan Publik

Sleman – Sebanyak 144 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kabupaten Sleman resmi menerima Surat Keputusan (SK) Pengangkatan dari Bupati Sleman, Harda Kiswaya, dalam acara yang digelar di Pendopo Parasamya pada Selasa (15/4/2025).

Dalam sambutannya, Harda menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh CPNS yang telah lolos seleksi dan menekankan bahwa pengangkatan ini merupakan awal dari tanggung jawab besar sebagai aparatur negara dan abdi masyarakat.

“Pengangkatan ini bukanlah akhir perjuangan, tetapi justru awal dari pengabdian. Saya mengajak seluruh CPNS untuk segera beradaptasi, mengenali tugas pokok dan fungsi masing-masing, serta memberikan kinerja terbaik,” ujar Harda.

Harda juga menekankan pentingnya menjaga komitmen, loyalitas, disiplin, dan tanggung jawab dalam bekerja. Ia meminta para CPNS untuk proaktif dan menunjukkan dedikasi dalam memberikan pelayanan publik yang bermutu.

“Saudara sekalian adalah orang-orang terpilih. Tunjukkan loyalitas dan dedikasi dalam setiap tugas. Ini adalah amanah yang harus dijaga dan dijalankan dengan integritas,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Sleman, lanjut Harda, berkomitmen untuk terus membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel. Keberadaan para CPNS baru diharapkan menjadi energi baru dalam mendorong transformasi birokrasi menuju pelayanan yang lebih efektif dan efisien.

Harda juga menegaskan pentingnya nilai-nilai etika dan moral dalam bekerja. Ia mengingatkan agar para CPNS menjauhi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta turut membangun budaya kerja yang sehat, kolaboratif, dan produktif.




Perkuat Silaturahmi dan Sinergi, Wabup Sleman Laksanakan Safari Syawalan

Sleman – Dalam rangka mempererat silaturahmi pasca-Idulfitri, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menggelar safari syawalan di beberapa lokasi pada Selasa (15/4). Kegiatan ini menjadi ajang temu sapa sekaligus penguatan kerja sama antara pemerintah daerah dengan berbagai elemen masyarakat.

Dalam agenda pertamanya, Danang menghadiri syawalan bersama sekitar anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sleman yang berlangsung di Pendopo Parasamya. Acara ini diikuti dengan penuh antusias oleh para peserta yang memanfaatkan momentum Idulfitri untuk saling memaafkan dan mempererat kebersamaan.

Selanjutnya, Danang menghadiri syawalan bersama komunitas Carik Sembada, yang merupakan perkumpulan para carik (sekretaris desa) se-Kabupaten Sleman. Acara tersebut digelar di Hotel Prima SR.

“Kesempatan ini tidak hanya menjadi ajang untuk saling memaafkan, tetapi juga menjadi momen penting untuk meningkatkan kebersamaan dan kerja sama dalam memajukan Kabupaten Sleman,” ujar Danang dalam sambutannya.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat melalui peningkatan kinerja di masing-masing wilayah kerja. Menurutnya, sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.




Menguatkan Persaudaraan dalam Balutan Tradisi Syawalan PHBI Ambarketawang

Sleman – Setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan, syawalan menjadi momentum untuk saling memaafkan dan menyatukan hati. Bagi warga Ambarketawang, kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momen menyatukan kembali semangat gotong royong dan kekeluargaan.

Dalam sambutannya, Tamzis Sarwana selaku Panewu Gamping mengatakan perayaan syawalan yang berlangsung di Gedung Serbaguna Ambarketawang, Senin (14/4/2025) ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga momentum penting untuk meneguhkan semangat persaudaraan, memperkuat tali silaturahmi, dan mempererat sinergi antara pemerintah kalurahan dengan masyarakat.

“Saya mengapresiasi langkah panitia peringatan hari besar Islam Kalurahan Ambarketawang yang secara konsisten menjaga tradisi ini agar tetap hidup dan bermakna bagi kita semua,” katanya.

Menurut Tamzis, di tengah dinamika kehidupan saat ini, masyarakat membutuhkan ruang seperti ini untuk berkumpul tanpa sekat jabatan, usia, atau latar belakang. Karena pada hakikatnya, semua adalah bagian dari keluarga besar Ambarketawang yang memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga keharmonisan dan kemajuan wilayah.

Ia mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk menjaga semangat gotong royong, terus mendukung program-program pembangunan kalurahan, dan menjaga kondusivitas lingkungan.

Sementara, Lurah Ambarketawang, Sumaryanto menambahkan bahwa syawalan juga menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan kembali nilai-nilai persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Dirinya mengajak masyarakat untuk menguatkan tiga ukhuwah yang menjadi dasar hubungan sosial yang sehat dan harmonis.

Hubungan yang pertama yaitu ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama muslim. Ikatan ini merupakan fondasi yang harus dirawat agar tidak mudah terpecah oleh perbedaan pendapat atau perbedaan pilihan. Sehingga terwujud saling menghargai, saling mendukung dalam kebaikan, dan terus menjaga suasana damai di tengah masyarakat.

Selanjutnya, ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan dalam satu bangsa. Sebagai warga negara Indonesia yang tinggal di Ambarketawang, masyarakat punya tanggung jawab untuk menjaga persatuan, menjaga nilai-nilai Pancasila, dan terus berkontribusi untuk kemajuan bangsa. Hal itu dapat dimulai dari lingkungan diri sendiri di tengah masyarakat yang majemuk.

Sedangkan, ukhuwah basyariyah, tentang persaudaraan sesama manusia yang berupa kepedulian kepada siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama, suku, ataupun status sosial. Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap individu harus mampu menumbuhkan empati, saling membantu, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

“Semoga semangat syawalan ini terus hidup dan menjadi budaya yang mempererat persaudaraan kita semua,” harap Sumaryanto.

Puncak acara diisi dengan prosesi saling bermaafan. Di mana, seluruh warga dari berbagai usia, pria dan wanita berbaris untuk berjabat tangan. Semua merasakan betapa pentingnya kebersamaan, dan betapa indahnya ketika perbedaan bisa dipersatukan dalam semangat syawalan.

Syawalan Peringatan Hari Besar Islam Ambarketawang bukan hanya merayakan kemenangan setelah Ramadhan, tetapi juga menjadi simbol kuatnya ikatan sosial di tengah masyarakat. Selama nilai saling menghormati dan kebersamaan tetap dijaga, syawalan akan terus hidup dan menjadi warisan budaya yang menyatukan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Menyemai Hikmah Lebaran Bersama PRNU Banyuraden sebagai Penyucian Diri

Sleman – Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam, tak terkecuali bagi warga Nahdliyin di Banyuraden. Kemenangan setelah satu bulan berpuasa disambut dengan suka cita dan penuh makna. Bagi Kyai Ahmad Shofi selaku Rois Syuriah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Banyuraden, Idul Fitri adalah lebih dari sekadar perayaan karena perwujudan dari nilai spiritual dan sosial yang harus diresapi bersama.

Dalam sebuah kesempatan halal bihalal yang diselenggarakan oleh PRNU Banyuraden di dusun Modinan , Minggu (13/4/2025) dihadiri Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sleman, Herman Budi Pramono dan Lurah Banyuraden, Sudarisman beserta 150 warga masyarakat , hingga .

Kyai Ahmad Shofi menyampaikan bahwa makna sejati Idul Fitri terletak pada proses penyucian diri dan penguatan ukhuwah yang dijabarkan dalam kata lebaran, luberan, leburan dan laburan.

Menurutnya, lebaran berarti usai atau selesai, yaitu selesainya ibadah puasa Ramadhan. Sedangkan secara maknawi, lebaran diartikan sebagai momen kembali ke fitrah, kembali menjadi suci seperti bayi yang baru lahir. Ini juga merupakan waktu untuk memulai lembaran baru dengan hati yang bersih dari dosa, dendam, dan kebencian. Karenanya, lebaran adalah simbol kemenangan rohani setelah sebulan penuh berjuang melawan hawa nafsu.

“Lebaran bukan hanya mengganti pakaian baru, tapi bagaimana kita mengenakan hati yang baru, bersih dari dengki dan prasangka,” tuturnya.

Sementara, luberan diambil dari kata ‘luber’ yang berarti melimpah. Dalam konteks ini, maknanya adalah melimpahnya berkah, rezeki, dan kebaikan. Tradisi berbagi seperti membagikan zakat fitrah atau amplop lebaran adalah salah satu wujud dari luberan ini. Hal ini mengajarkan nilai kepedulian sosial, bahwa kebahagiaan hari raya harus dirasakan bersama, terutama oleh kaum dhuafa dan anak-anak.

Selanjutnya, leburan memiliki arti melebur atau menghilangkan. Ini merujuk pada meleburkan dosa dan kesalahan. Sebab, Idul Fitri merupakan momen untuk saling memaafkan dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih.

Terakhir, laburan berasal dari kata ‘labur’ yang artinya memutihkan atau membersihkan, seperti proses mengecat dinding agar tampak bersih. Maknanya adalah membersihkan diri dari dosa melalui saling memaafkan dan bertaubat kepada Allah SWT. Ini juga berkaitan dengan simbolisasi hati yang dilabur agar bersih dan suci setelah menjalani bulan penuh pengampunan di Ramadhan.

“Jadi kalau dirangkai lebaran adalah momen luberan berkah, leburan dosa, dan laburan hidup dengan kebaikan,” tegas Kyai Shofi dihadapan jama’ah yang hadir.

Harapannya, setelah sebulan penuh berlatih menahan hawa nafsu, umat Islam hendaknya mampu menjadikan Ramadhan sebagai titik balik menuju pribadi yang lebih sabar, rendah hati, dan penuh kasih sayang. Hal ini, menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang damai dan harmonis.

Seluruh warga Nahdliyin dan masyarakat luas pun diajak untuk memaknai halal bihalal sebagai media introspeksi diri dan rekonsiliasi sosial. Dalam pandangannya, masyarakat modern sering kali terjebak dalam konflik sosial dan perpecahan karena kurangnya ruang untuk berdialog dan saling memaafkan.

Halal bihalal bukan hanya tradisi tahunan, melainkan wujud nyata dari misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Semangat saling memaafkan, berbagi, dan mempererat tali silaturahmi ini harus dijadikan sebagai budaya harian. Mengingat, Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tapi juga agama hubungan sosial yang mulia. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Pasbuja Sleman Rayakan Keberhasilan Buku Omah dengan Tasyakuran

Sleman – Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi, Kabupaten Sleman, menggelar tasyakuran untuk merayakan keberhasilan penjualan buku antologi cerita cekak (cerkak) berjudul Omah. Acara yang berlangsung di RM. Kembang Ndhesso Senuko, Sleman, pada Minggu (13/04/2025) ini dihadiri oleh para penulis dan tim editor. Momen ini menjadi tonggak semangat baru dalam dunia sastra lokal, khususnya sastra Jawa yang kini semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Buku Omah merupakan hasil karya 40 anggota Pasbuja yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari guru, mahasiswa, ilustrator, novelis, hingga anggota Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Antologi ini berisi kumpulan cerkak bertema rumah, baik dalam makna harfiah maupun filosofis, yang menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat Jawa. Dalam tasyakuran tersebut, para penulis menyampaikan rasa syukur dan harapan agar karya mereka dapat menginspirasi lebih banyak orang.

Novelis senior Budi Sardjono, yang mewakili Ketua Pasbuja Kawi Merapi yang berhalangan hadir, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh anggota dan pengurus paguyuban yang mendorong terbitnya buku ini. Ia menyebut bahwa buku Omah bukan hanya tentang cerita, tetapi juga tentang perjuangan melestarikan bahasa dan budaya Jawa di tengah arus modernisasi.

“Alhamdulillah, dalam waktu dua bulan, sebanyak 30 eksemplar buku Omah terjual habis, dengan mayoritas pembeli adalah mahasiswa,” ujar Budi Sardjono.

Buku Omah memiliki peran penting bagi mahasiswa Sastra Jawa, khususnya dalam penyusunan skripsi, karena merepresentasikan sastra modern yang tetap berakar pada nilai-nilai tradisional Jawa. Buku ini menjadi sumber primer yang mencerminkan perkembangan sastra daerah dan memberikan ruang analisis mendalam. Cerkak yang terdapat dalam buku ini menyajikan cerita kontemporer yang sarat makna budaya dan lokalitas, yang sangat relevan untuk diteliti oleh mahasiswa.

Selain itu, penggunaan bahasa Jawa dalam cerkak menjadi daya tarik tersendiri, baik dalam konteks akademik maupun pelestarian bahasa daerah. Buku ini juga menjadi bukti nyata bahwa karya sastra berbahasa Jawa masih hidup dan berkembang. Mahasiswa linguistik atau pendidikan bahasa Jawa sering menjadikan buku ini sebagai bahan analisis mengenai struktur kebahasaan, gaya tutur, dan keberlanjutan bahasa daerah dalam dunia literasi modern.

Antologi Omah juga merupakan hasil kolaborasi dari anggota paguyuban sastra lokal, yang memberikan nilai tambah bagi mahasiswa yang tertarik meneliti gerakan sastra komunitas. Menurut Budi Sardjono, buku ini bukan hanya karya sastra, tetapi juga produk budaya hasil gotong royong, di mana seluruh biaya pencetakan ditanggung secara swadaya oleh anggota paguyuban. Hal ini menunjukkan bagaimana komunitas sastra berperan dalam pelestarian dan pengembangan bahasa serta budaya lokal di era modern.

“Model kolaboratif ini membuktikan bahwa semangat kebersamaan masih hidup dan menjadi kekuatan utama dalam berkarya,” tegas Budi Sardjono di hadapan para penulis.

Lebih lanjut, Budi Sardjono, yang didampingi oleh Akhiyadi selaku editor dan anggota paguyuban lainnya, mengumumkan rencana pembuatan buku antologi cerkak dengan tema misteri yang akan diterbitkan pada Juni 2025. Selain itu, mereka juga berencana membuat antologi cerkak bertemakan Kali (Sungai) sebagai bagian dari perayaan hari jadi Paguyuban pada akhir tahun 2025.

Dengan tasyakuran ini, Pasbuja Kawi Merapi Kabupaten Sleman menegaskan komitmennya untuk terus berkarya dan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal. Keberhasilan buku Omah membuktikan bahwa karya sastra berbahasa daerah masih memiliki tempat dan pembaca setia, sebuah langkah kecil namun berarti menuju pelestarian budaya yang berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)