Dukuh Joho Condongcatur Raih Penghargaan Indonesia Melihat Award 2025

Sleman — Dukuh Joho, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, Retnaningsih, menerima penghargaan Indonesia Melihat Award 2025 yang diselenggarakan oleh Yayasan Indonesia Melihat Nusantara. Penghargaan tersebut diberikan dalam malam puncak apresiasi yang digelar di Hotel Riss Malioboro, Yogyakarta, Jumat (11/4/2025).

Acara tersebut turut dihadiri perwakilan dari Kementerian Kesehatan RI, Pemerintah Kota Yogyakarta, para pemangku kepentingan, dan anggota DPD RI perwakilan DIY, R.A. Yasinta Sekar Wangi Mega.

Ketua Panitia Indonesia Melihat Award 2025, Irwan Nirwana, ., ., menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi tahunan kepada individu maupun lembaga yang berkontribusi dalam peningkatan derajat kesehatan mata masyarakat Indonesia. “Acara ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut terlibat aktif dalam upaya pencegahan gangguan kesehatan mata,” ujarnya.

Yayasan Indonesia Melihat Nusantara telah menggelar berbagai kegiatan bakti sosial dari Sabang hingga Merauke, termasuk pemeriksaan mata dan pembagian kacamata baca kepada lebih dari peserta. Pemberian penghargaan ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan tersebut.

Dalam ajang penghargaan tersebut, panitia memberikan apresiasi dalam delapan kategori. Penghargaan tersebut mencakup berbagai bidang yang mendukung kesehatan mata masyarakat. Kategori yang diberikan antara lain Mitra Diklat Terbaik, yang ditujukan kepada mitra pelatihan dengan kontribusi luar biasa, Eye Health Heroes Award, bagi individu yang menjadi inspirasi dalam menjaga kesehatan mata. Young Optometrist Award, untuk optometris muda berprestasi, serta Bright Eyes Champion, yang diberikan kepada tokoh penggerak komunitas peduli kesehatan mata.

Selain itu, terdapat pula penghargaan untuk Mitra Komunitas Terbaik dan Mitra Optik Terbaik, yang dinilai aktif menjalin kerja sama dalam pelaksanaan program pemeriksaan mata. Kategori Sight Savers Excellence Award diberikan kepada mereka yang secara konsisten menunjukkan dedikasi tinggi dalam kegiatan sosial kesehatan mata. Sementara itu, Fasilitator Baksos Indonesia Melihat Terbaik merupakan bentuk penghargaan bagi individu yang berhasil menggerakkan kegiatan bakti sosial di berbagai wilayah secara efektif dan berdampak langsung kepada masyarakat.

Retnaningsih, yang menerima penghargaan sebagai Fasilitator Baksos Terbaik, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas apresiasi yang diterimanya. Ia menyebutkan bahwa kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan di Padukuhan Joho meliputi pemeriksaan mata bagi penderita rabun dekat, khususnya para lansia.

“Penerima manfaat kacamata baca di Padukuhan Joho berjumlah sekitar 50 orang. Semoga penghargaan ini menjadi penyemangat untuk terus menjalankan kerja-kerja sosial yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga mengaku bangga bisa menerima penghargaan berupa piagam dan medali bersama para nominator lainnya, dan berharap kiprahnya dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus membantu sesama melalui kegiatan sosial. (Wasana/KIM Depok)




Pordam Sleman Sosialisasikan Anti-Bullying lewat Outbond Interaktif untuk Siswa MI Sunan Pandanaran

Sleman — Dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak, Pelopor Perdamaian (Pordam) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan sosialisasi anti-bullying melalui outbond edukatif untuk siswa MI Sunan Pandanaran, Sabtu (12/4). Kegiatan ini berlangsung dari pukul hingga WIB di rumah salah satu wali murid di kawasan Pakem, Sleman.

Sebanyak 30 siswa mengikuti kegiatan dengan antusias, didampingi oleh wali kelas, guru, serta sejumlah wali murid. Acara dikemas secara interaktif melalui permainan kelompok, diskusi terbuka, dan simulasi peran yang menggambarkan situasi perundungan. Pendekatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai empati, kasih sayang, dan kerja sama, sekaligus membekali siswa agar mampu menjadi pelopor perdamaian di lingkungan sekolah.

Wali kelas MI Sunan Pandanaran, Salma, mengungkapkan bahwa para siswa menunjukkan respon positif. “Anak-anak sangat antusias, bahkan terjadi diskusi aktif antara siswa dan pendamping. Ini menunjukkan bahwa mereka mulai memahami bahwa tindakan bullying tidak boleh dibiarkan,” ujarnya.

Meski sempat dikhawatirkan terkendala cuaca mendung, kegiatan berjalan lancar hingga selesai. Pordam Sleman berencana melanjutkan program serupa ke sekolah lain dan menyusun laporan kegiatan untuk dilaporkan kepada Dinas Sosial Kabupaten Sleman.

Melalui kegiatan ini, Pordam Sleman berharap dapat menanamkan nilai perdamaian, saling menghargai, dan kepedulian sosial sejak usia dini, guna membentuk generasi yang bebas dari perundungan dan kekerasan di lingkungan pendidikan. (ESK – KIM DSN)




Warga Donoharjo Gotong Royong Bersihkan Pohon Tumbang di Padukuhan Kayunan

Donoharjo — Semangat gotong royong kembali ditunjukkan warga Kalurahan Donoharjo saat membersihkan pohon tumbang yang menimpa rumah warga di Padukuhan Kayunan, Jumat (11/4/2025). Kegiatan ini melibatkan Bhabinkamtibmas Donoharjo Aiptu Fajar I, pamong kalurahan, dan Relawan Destana.

Pohon berukuran besar tersebut tumbang akibat angin kencang pada malam sebelumnya dan menyebabkan kerusakan pada atap salah satu rumah warga. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini sempat mengganggu aktivitas warga dan menimbulkan potensi bahaya jika tidak segera ditangani.

Mendapati laporan dari warga, tim gabungan segera turun ke lokasi untuk melakukan pemotongan dan pembersihan pohon tumbang. Mereka bekerja menggunakan alat pemotong kayu serta membersihkan ranting dan daun yang berserakan di sekitar rumah terdampak. Kegiatan berlangsung tertib dengan semangat kebersamaan dan koordinasi yang baik.

Aiptu Fajar I mengatakan kehadiran aparat keamanan di tengah masyarakat bukan hanya saat menjaga ketertiban, tetapi juga ketika terjadi bencana atau kondisi darurat. “Kami hadir untuk membantu dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ini bagian dari membangun kedekatan dan kepercayaan dengan warga,” ujarnya.

Perwakilan pamong kalurahan menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah kalurahan, relawan, dan warga mencerminkan kuatnya budaya gotong royong di Donoharjo. Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan, termasuk memangkas pohon-pohon besar yang rawan tumbang.

Sementara itu, Ketua Relawan Destana Donoharjo menyatakan bahwa pihaknya siap siaga menghadapi potensi bencana serupa. Ia mendorong warga segera melapor jika menemukan tanda-tanda kerawanan di lingkungannya agar dapat ditangani lebih awal.

Aksi gotong royong ini mendapat apresiasi dari warga setempat. Salah satu warga yang rumahnya tertimpa pohon menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu. “Terima kasih atas bantuan dan kepeduliannya. Ini sangat membantu dan menenangkan kami sekeluarga,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama sebagai wujud syukur dan harapan agar masyarakat Donoharjo senantiasa dilindungi dari musibah. Aksi ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan solidaritas sosial masih tumbuh kuat di tengah masyarakat. (ESK – KIM DSN)




Perlunya Harmonisasi antara Manusia dan Alam di Permukiman Kawasan Lereng Merapi

Sleman – Untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar khususnya monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang belakangan semakin sering terjadi di Dusun Losari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, maka Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Komunitas Pojok Animal Reptile dan Komunitas Kekandhangan Banyuraden melakukan penangkapan, pada Kamis (10/4/2025).

Selama beberapa minggu terakhir, kawanan monyet liar mulai turun dari kawasan hutan di lereng Gunung Merapi menuju permukiman penduduk. Mereka mencari makanan dan sering kali merusak kebun warga terutama tanaman buah alpukat dan sawo, bahkan masuk ke dapur untuk mengambil makanan. Kehadiran satwa tersebut tak hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga menimbulkan rasa takut, terutama bagi anak-anak dan kelompok lanjut usia (Lansia).

Nurrochmah Wisudaningrum selaku Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Istimewa Yogyakarta mengungkapkan bahwa konflik seperti ini bisa berdampak panjang jika tidak segera ditangani. Ketika satwa liar merasa nyaman berada di lingkungan manusia karena ketersediaan makanan dari kebun warga, maka mereka akan terus kembali dan kehilangan naluri liarnya. Hal ini juga bisa merusak keseimbangan ekosistem dan membuat satwa kehilangan habitat asli secara perlahan.

Selain itu, masyarakat perlu diedukasi untuk menjaga lingkungan, terutama dalam hal pengelolaan kebun dan menjaga area sekitar agar tidak mengundang satwa liar turun ke permukiman. Penanganan ini bukan hanya soal menangkap satwa, tetapi juga soal membangun kesadaran dan membentuk kebiasaan baru dalam menjaga harmoni dengan alam.

“Tindakan pengurangan konflik ini menjadi langkah penting dan mendesak untuk memastikan keamanan warga, pelestarian satwa, serta keberlanjutan hidup berdampingan antara manusia dan alam di kawasan rawan konflik seperti lereng Merapi,” ungkap Nurrochmah.

Lebih lanjut, Suginong selaku Ketua Komunitas Pojok Animal Reptile mengatakan bahwa penangkapan ini bukan tanpa tantangan. Monyet-monyet liar tersebut cerdas dan cepat belajar menghindari jebakan. Beberapa bahkan terlihat mengawasi dari atas pohon sebelum turun ke tanah. Oleh karena itu, warga dan petugas harus terus memutar otak mencari strategi baru agar lebih banyak yang bisa diamankan.

Prosedur yang dilakukan pihaknya bersama Unit Mitigasi Konflik Satwa Komunitas Kekandhangan Banyuraden di bawah arahan petugas balai konservasi di awali dengan membuat assesmen data, mencari jejak monyet, hingga penempatan jala dan kandang jebakan di Lokasi yang disinyalir sering dilalui monyet ekor panjang.

Melalui penangkapan ini, BKSDA Yogyakarta sebagai pihak berwenang berupaya untuk merelokasi monyet-monyet tersebut ke habitat yang lebih sesuai, aman, dan jauh dari permukiman warga sebagai bagian dari upaya konservasi dan pengelolaan satwa liar secara bertanggung jawab.

“Ini bagian dari upaya mitigasi konflik antara manusia dengan satwa liar. Kami pasang kandang jebak dan menggunakan umpan buah-buahan,” ujar Suginong.

Proses penangkapan dilakukan secara hati-hati agar tidak menyakiti satwa liar tersebut, sekaligus mengendalikan populasinya dan tidak mengancam keselamatan warga. Penanganan kasus ini jadi pengingat bahwa harmonisasi antara manusia dan alam sangat penting, terutama di daerah rawan konflik seperti kawasan lereng Merapi. Karenanya, butuh kerja sama berkelanjutan dari berbagai pihak agar kejadian serupa tidak terus berulang. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Bupati Sleman Safari Syawalan, Perkuat Silaturahmi dengan Berbagai Elemen Masyarakat

Sleman — Dalam rangka mempererat tali silaturahmi pada momentum Idulfitri 1446 Hijriah, Bupati Sleman, Harda Kiswaya, melaksanakan safari syawalan ke sejumlah organisasi dan kelompok masyarakat di Kabupaten Sleman, Kamis (10/4/2025).

Kegiatan dimulai dengan menghadiri acara syawalan Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Sleman yang digelar di Pendopo DPRD Sleman. Selanjutnya, Bupati bersilaturahmi dengan warga Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, yang berlangsung di Kantor Kalurahan Pondokrejo. Agenda syawalan ditutup dengan pertemuan bersama pengurus dan anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Turi di Kantor Kalurahan Donokerto, Turi.

Dalam sambutannya, Bupati Harda menyampaikan bahwa safari syawalan ini merupakan upaya untuk menguatkan hubungan antara pemerintah daerah dengan berbagai elemen masyarakat.

“Mari kita saling memaafkan dan bersama-sama meningkatkan kerja sama serta kinerja kita dalam membangun Sleman yang lebih baik,” ujar Harda.

Ia juga mengajak seluruh organisasi dan masyarakat untuk terus meningkatkan peran dan fungsi masing-masing. Menurutnya, kontribusi aktif dari masyarakat tak hanya menjadi ladang amal, tetapi juga berperan besar dalam mendukung program-program pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan warga Sleman.