Lantik Pengurus Asosiasi Senam BALY, Bupati Sleman Dorong Edukasi Pola Hidup Sehat di Masyarakat

Sleman — Bupati Sleman Harda Kiswaya melantik 29 pengurus Asosiasi Instruktur Senam Baku, Aerobic, Line Dance, Yoga (BALY) Kabupaten Sleman periode 2025–2030, Senin (28/4/2025), di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman. Pelantikan ini menandai langkah baru dalam upaya memperkuat edukasi pola hidup sehat melalui olahraga kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Harda menekankan pentingnya peran asosiasi ini dalam membantu pemerintah mengedukasi masyarakat tentang gaya hidup sehat melalui aktivitas senam yang terarah dan rutin.

“Saya berharap keberadaan asosiasi ini benar-benar membawa manfaat nyata bagi masyarakat Sleman, dan menjadi ujung tombak dalam mengedukasi pentingnya hidup sehat lewat olahraga,” ujar Harda.

Ia juga mengapresiasi inisiatif pembentukan asosiasi ini sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih aktif dan menjaga kebugaran.

Ketua Asosiasi Instruktur Senam BALY Kabupaten Sleman, Dwi Susilawati, dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa asosiasi ini bertujuan untuk mewadahi para instruktur senam tersertifikat dalam lembaga yang legal dan profesional.

“Kami ingin menjadi mitra pemerintah yang siap mendukung program-program kesehatan masyarakat, serta menyediakan instruktur senam yang kompeten dan terstandar,” jelas Dwi.

Asosiasi BALY Sleman ke depan akan aktif dalam berbagai kegiatan pelatihan, promosi olahraga di masyarakat, serta berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas jangkauan edukasi pola hidup sehat.

Melalui pelantikan ini, diharapkan peran instruktur senam di Sleman semakin strategis dalam membentuk masyarakat yang sehat, bugar, dan memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya menjaga kebugaran tubuh melalui olahraga.




Bupati Harap Penghargaan Pelayanan Publik Jadi Pemacu Peningkatan Kinerja OPD Sleman

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman menyerahkan penghargaan Penilaian Kinerja Penyelenggaraan Pelayanan Publik kepada sembilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagai bentuk apresiasi atas capaian kinerja pelayanan kepada masyarakat. Penghargaan diserahkan langsung oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Pembangunan di Kantor Sekretariat Daerah Sleman, Senin (28/4/2025).

Penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh OPD untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik. Harda menegaskan bahwa pelayanan prima adalah kewajiban seluruh perangkat daerah, bukan hanya bagi penerima penghargaan.

“Selamat bagi OPD penerima apresiasi hari ini. Bagi yang belum, semoga segera menyusul. Kita harus terus membenahi dan meningkatkan layanan untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat Sleman,” ujar Harda.

Dalam penilaian tingkat nasional, tiga OPD membawa Kabupaten Sleman meraih peringkat ketiga nasional untuk kategori kabupaten dengan rata-rata skor 4,63 (kategori A). Ketiga OPD tersebut adalah RSUD Sleman (skor 4,66), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (4,63), dan Dinas Sosial (4,59). Atas prestasi tersebut, Pemkab Sleman memberikan penghargaan berupa satu unit laptop untuk masing-masing OPD.

Pada tingkat internal Sleman, RSUD Prambanan meraih nilai tertinggi di kategori OPD bersifat khusus dengan skor 4,31, disusul Kapanewon Depok (4,175) dan Kapanewon Gamping (4,171).

Sementara itu, untuk kategori OPD Pelaksana Teknis Daerah, Puskesmas Mlati menjadi yang terbaik dengan skor 3,44, diikuti Puskesmas Gamping I (3,43) dan Puskesmas Gamping II (3,32).

Harda juga menargetkan agar seluruh OPD segera menyelesaikan Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan publik dalam bulan ini. Penyusunan SOP ini diharapkan menjadi pedoman jelas bagi OPD dalam memberikan layanan yang cepat, tepat, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

“SOP ini menjadi patokan kita semua. Dengan SOP yang baik, kualitas layanan akan meningkat dan manfaatnya akan langsung dirasakan masyarakat,” tegas Harda.

Penyerahan penghargaan ini menjadi bagian dari komitmen Pemkab Sleman untuk mendorong terciptanya budaya pelayanan yang responsif, profesional, dan berkelanjutan di seluruh lini pemerintahan. (Humas Sleman)




TP PKK Desa Werdi Bhuwana Badung Bali Belajar Pelayanan Masyarakat ke Kalurahan Condongcatur

Condongcatur — Dalam rangka memperkaya wawasan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, Tim Penggerak PKK (TP PKK) Desa Werdi Bhuwana, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, melakukan kunjungan silaturahmi dan orientasi lapangan ke Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Senin (28/4/2024).

Sebanyak 36 peserta yang terdiri dari anggota TP PKK, pendamping Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Badung dan Kecamatan Mengwi, dipimpin langsung oleh Perbekel Werdi Bhuwana, I Ketut Sadia Wijaya. Kunjungan ini bertujuan untuk menggali praktik-praktik terbaik dalam pelayanan publik, pemberdayaan keluarga, serta penguatan program berbasis masyarakat yang telah sukses diterapkan di Condongcatur.

Rombongan disambut secara resmi di Balai Kalurahan Condongcatur oleh Lurah Reno Candra Sangaji, jajaran pamong kalurahan, serta Ketua TP PKK Kalurahan Condongcatur beserta anggota.

Dalam sambutannya, Reno Candra Sangaji menekankan pentingnya kolaborasi antarwilayah untuk memperkuat kualitas pelayanan masyarakat.

“Kami berharap kunjungan ini menjadi ajang berbagi inovasi dan mempererat kerja sama untuk menciptakan desa yang lebih maju, sehat, ramah anak, dan sejahtera,” ujarnya.

Senada dengan itu, Perbekel Werdi Bhuwana, I Ketut Sadia Wijaya, menyatakan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang diterima serta harapannya agar kunjungan ini memperkaya wawasan dalam pelayanan kepada warga.

“Saya memiliki ikatan emosional dengan Yogyakarta, tempat saya menempuh pendidikan di UPN ‘Veteran’. Semoga hubungan ini memperkuat semangat berbagi inovasi dalam membangun masyarakat,” tuturnya.

Sebagai bagian dari orientasi lapangan, Ketua TP PKK Kalurahan Condongcatur, Dewi Nurlaila, memaparkan berbagai program unggulan pemberdayaan keluarga, penguatan perempuan, dan pelayanan berbasis komunitas yang dijalankan di wilayahnya.

Dilanjutkan dengan presentasi oleh Indrayani dari Pokja I TP PKK Condongcatur yang memaparkan praktik pengelolaan Kampung Ramah Anak (KRA) RW 18 Leles.

“Program ini meliputi Pojok Baca Anak, ruang bermain ramah anak, sosialisasi hak-hak anak, dan pelatihan kader perlindungan anak berbasis masyarakat. Ini merupakan bentuk pelayanan nyata dari masyarakat untuk masyarakat,” jelasnya.

Diskusi interaktif dan sesi tanya jawab menggali lebih dalam pengalaman masing-masing wilayah dalam membangun lingkungan yang responsif terhadap kebutuhan warganya, khususnya anak-anak dan keluarga.

Sebagai simbol persahabatan dan komitmen berbagi praktik baik, kedua belah pihak saling bertukar cinderamata sebelum meninjau langsung Kampung Ramah Anak dengan kereta mini. Di lokasi tersebut, rombongan melihat fasilitas dan aktivitas warga yang mendukung terwujudnya lingkungan yang aman dan layak anak.

Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat pelayanan masyarakat berbasis pemberdayaan keluarga, sekaligus membangun jaringan kerja sama antardaerah demi menciptakan desa-desa yang lebih responsif, inovatif, dan sejahtera. (Wasana/KIM Depok)




Forum Budaya Kapanewon Ngaglik Dilantik, Komitmen Baru untuk Pelestarian Budaya Lokal

Ngaglik — Forum Budaya Kapanewon Ngaglik resmi dilantik pada Senin (28/4/2025) di Aula Kapanewon Ngaglik. Pelantikan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat pelestarian budaya lokal dan membangun sinergi antarelemen masyarakat.

Pelantikan yang dihadiri berbagai pihak ini sekaligus menandai dimulainya program-program pengembangan budaya di wilayah Ngaglik. Dalam kesempatan tersebut, pengurus baru segera menyusun rencana tindak lanjut, termasuk koordinasi internal di antara para koordinator dan kolaborasi lebih luas dengan pelaku budaya di seluruh wilayah Ngaglik.

Salah satu fokus utama Forum Budaya adalah mempererat hubungan dengan dunia pendidikan. Pengurus berencana mengundang kepala sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA untuk mengajak para guru dan siswa lebih aktif dalam kegiatan budaya. Pelibatan institusi pendidikan diharapkan menjadi kekuatan baru dalam upaya menjaga dan menghidupkan tradisi budaya lokal.

Tak hanya itu, Forum Budaya Ngaglik juga berencana membentuk Sentral Budaya sebagai pusat kegiatan rutin. Berbagai pelatihan akan digelar, seperti pelatihan MC budaya, sinoman, tari tradisional, mocopat, dan geguritan, dengan tujuan memperbanyak masyarakat yang terampil dalam bidang seni dan budaya.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, Forum Budaya akan membentuk sekretariat sebagai pusat administrasi dan komunikasi antar pengurus. Keterlibatan para sesepuh budaya juga direncanakan untuk memberikan arahan serta menjaga keaslian nilai-nilai budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam arahannya, Ketua Forum Budaya Ngaglik, Sigit Triyanan, menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda. Ia menyatakan bahwa penguatan terhadap para guru perlu dilakukan lebih dulu, agar mereka mampu membimbing siswa memahami dan mencintai kebudayaan lokal.

“Melibatkan siswa dalam kegiatan budaya perlu dimulai dengan membekali para guru. Guru adalah kunci dalam mengarahkan generasi muda untuk mencintai warisan budaya kita,” ujar Sigit.

Ke depan, Forum Budaya Kapanewon Ngaglik akan segera merumuskan program-program prioritas untuk dijalankan secara kolaboratif, memperkuat struktur organisasi, dan mendorong lebih banyak partisipasi masyarakat demi kemajuan budaya lokal.

Dengan pelantikan ini, diharapkan upaya pelestarian budaya di Kapanewon Ngaglik semakin terstruktur, dinamis, dan berkesinambungan. (ESK – KIM DSN)




Melestarikan Budaya Melalui Lomba Mewiru Kain Gaya Jogja

Caturtunggal — Upaya melestarikan budaya lokal terus digelorakan di Kalurahan Caturtunggal. Dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun 2025, Tim Penggerak PKK Kalurahan Caturtunggal menggelar Lomba Mewiru Kain Gaya Jogja di Pendopo Puspadenta pada Sabtu (26/4/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 19 peserta yang merupakan perwakilan dari seluruh padukuhan di Caturtunggal.

Lomba mewiru, yaitu teknik melipat kain tradisional dalam berpakaian adat, menjadi sarana untuk mengenalkan dan melestarikan salah satu kekayaan budaya Jawa di tengah masyarakat modern. Melalui kegiatan ini, budaya berpakaian tradisional diharapkan tetap hidup dan dikenal luas, terutama di kalangan generasi muda.

Acara dibuka dengan doa bersama, diikuti dengan menyanyikan Mars PKK, Mars Caturtunggal, dan lagu Hari Kartini. Penjabat Lurah Caturtunggal, Feri Ferdian secara resmi membuka kegiatan dan menekankan pentingnya menjaga tradisi serta meneladani semangat emansipasi yang diwariskan R.A. Kartini.

Ketua TP PKK Kalurahan Caturtunggal, Siti Juwariyah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas antusiasme peserta. Ia mengajak seluruh perempuan untuk terus berdaya sambil menjaga identitas budaya.

“Saya bangga melihat semangat para peserta hari ini. Semoga ajang ini menjadi pemacu semangat untuk terus menjaga warisan budaya sekaligus mempererat tali persaudaraan di Kalurahan Caturtunggal,” ungkapnya.

Suasana semakin semarak dengan penampilan Tari Sintren, Tari Nusantara oleh anggota TP PKK, serta Tari Tangkasing Ajurit yang dibawakan oleh Nanda Fulfuan Diwangkara Simbarinten.

Dalam perlombaan yang dinilai oleh Faizal Noor Singgih, ., Dra. Jumariah, ., dan Sri Rahayu, terpilih enam peserta terbaik. Juara pertama diraih oleh Padukuhan Papringan, diikuti oleh Padukuhan Gowok di posisi kedua dan Padukuhan Karangmalang di posisi ketiga. Sementara itu, penghargaan Juara Harapan diberikan kepada perwakilan Padukuhan Blimbingsari, Ambarukmo, dan Mrican.

Penyerahan piala dilakukan langsung oleh PJ Lurah, Kamituwo, Ketua TP PKK, dan Ketua Panitia, sementara kenang-kenangan kepada dewan juri diserahkan oleh Warsiatun.

Acara ditutup dengan doa bersama, menandai berakhirnya kegiatan penuh makna ini. Lomba Mewiru Kain Gaya Jogja bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga wujud nyata pelestarian budaya serta penguatan nilai perjuangan Kartini di tengah masyarakat Caturtunggal. (Oktaviana/KIM Depok)