Kapanewon Pakem Gelar Upacara HUT ke-109 Sleman

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-109 Kabupaten Sleman, Kapanewon Pakem menyelenggarakan upacara bendera, pada Kamis (15/5/2025). Upacara digelar di halaman Kapanewon Pakem, dengan mengusung tema ‘Gumolong Hanggayuh Mukti’ yang berarti bersemangat menggapai kemaslahatan.

Panewu Pakem, Dewanto, bertindak sebagai penghageng upacara, dalam amanatnya yang berbahasa Jawa mengapresiasi semangat dan dedikasi seluruh peserta upacara, khususnya para pegawai Kapanewon Pakem yang telah menunjukkan etos kerja tinggi

“Terima kasih kepada para pegawai yang telah bekerja dengan gigih, tekun, dan bijak sehingga tercipta kenyamanan pelayanan terhadap masyarakat,” ungkap Dewanto.

Lebih lanjut, ia menyampaikan capaian positif Kabupaten Sleman, salah satunya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencapai angka 85,73 persen. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan IPM Kota Yogyakarta yang berada di angka 81,31 persen.

Selain itu, dalam penilaian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Kabupaten Sleman meraih status Wajar Tanpa Pengecualian dengan nilai tertinggi. Acara yang penuh hikmat ini diakhiri dengan pemotongan tumpeng HUT Sleman oleh Panewu Pakem. (Asrori Wardan / KIM Ceria Pakem)




Sanggar Cipto Nuraga Membangun Karakter Anak Lewat Denting Gamelan

Sleman – Pembelajaran nabuh gamelan bagi anak sekolah dasar bukan sekadar aktivitas seni semata, tetapi juga sarana membentuk karakter sejak dini. Di balik bilah-bilah logam yang dipukul dengan pelog dan slendro tersebut, tersimpan nilai-nilai pendidikan yang dalam. Anak-anak yang belajar gamelan secara tidak langsung diajarkan tentang kesabaran, kerja sama, kedisiplinan, dan kecintaan pada budaya bangsa.

Agar anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar mengenal, mencintai, dan merasa bangga terhadap warisan budaya bangsa, khususnya seni musik tradisional Jawa maka Sanggar Seni Cipto Nuraga yang dipimpin oleh Wibowo Endar Sulastro memberikan pelatihan nabuh gamelan yang berlangsung di Dowangan, Gamping, Sleman, Rabu (14/5/2025). Hal ini penting dilakukan guna menjaga keberlanjutan budaya di tengah arus globalisasi.

Menurut Endar, gamelan merupakan seni musik tradisional yang menekankan harmoni dan keteraturan. Setiap alat memiliki peran masing-masing dan harus dimainkan secara serempak dan seirama. Melalui praktik bermain bersama, anak-anak belajar mengenai pentingnya mendengarkan orang lain, menahan diri, serta menyesuaikan tempo.

“Latihan ini sangat penting dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemampuan bekerja dalam tim,” jelasnya.

Di tengah era digital yang serba cepat dan individualistis, pembelajaran gamelan menjadi oase yang menyeimbangkan aspek emosional dan sosial anak. Nabuh gamelan melatih konsentrasi dan kontrol diri. Anak-anak diajak memperhatikan isyarat dan pola ritmis, yang secara tidak langsung mengasah kemampuan motorik halus dan kognitifnya.

Lebih dari itu, gamelan menjadi identitas budaya. Ketika anak-anak belajar memainkannya, mereka tidak hanya menguasai alat musik, tetapi juga menyatu dengan akar budayanya sendiri. Hal ini menjadi bentuk nyata pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, di mana anak-anak tumbuh dengan rasa bangga dan cinta terhadap warisan nenek moyang.

Selain itu, pembelajaran nabuh gamelan juga mendorong ekspresi diri secara positif. Anak yang cenderung pendiam bisa menyalurkan emosinya melalui ritme kendang. Sementara anak yang aktif bisa belajar menyeimbangkan dirinya dengan alat yang mengharuskan ketenangan, seperti gong atau gender.

“Ini membentuk keseimbangan emosional dan estetika dalam diri mereka,” imbuh Endar.

Bagi dunia pendidikan, integrasi gamelan dalam pembelajaran tidak hanya relevan untuk tujuan kurikulum seperti P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Namun juga sebagai media pembelajaran lintas bidang yakni seni, sejarah, bahasa, bahkan matematika melalui pola dan hitungan irama. Sehingga, gamelan bisa menjadi ruang belajar yang holistik.

“Dengan segala manfaatnya, pembelajaran nabuh gamelan seharusnya lebih diperluas dan difasilitasi, baik di sekolah maupun di sanggar-sanggar seni masyarakat. Karena melalui nada-nada yang dimainkan anak-anak itu, kita sedang merawat kebudayaan sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan dibawa sampai dewasa,” tandas Endar. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Condongcatur Gelar Malam Tirakatan Hari Jadi ke-109 Kabupaten Sleman

Sleman – Pemerintah Candongcatur mengadakan kegiatan malam tirakatan dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-109 Kabupaten Sleman di Pendopo Kromoredjan Kalurahan Condongcatur, Rabu (14/05/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh pamong Kalurahan Condongcatur, BPKal, Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Condongcatur, serta Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji membacakan sambutan Bupati Sleman yang menyampaikan pesan bahwa malam tirakatan itu tidak hanya sebagai acara tradisi yang di diadakan setiap peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman. Tetapi sebagai sarana untuk kita mengucap syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang maha Esa yang telah memberikan anugrah yang berwujud rezeki yang lancar, keselamatan, rahmat dan berkah.

“Tirakatan yang kita lakukan pada malam ini, walaupun sederhana, tetapi penuh makna dan nasihat yang sangat dalam yaitu menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah kepada Kabupaten Sleman yang telah memasuki usia ke- 109 tahun,” kata Reno membacakan sambutan Bupati Sleman.

“Sehingga pada malam tirakatan ini kita berdoa agar para leluhur yang telah berjuang untuk kemajuan Kabupaten Sleman diberikan ganjaran yang setimpal. Dengan tirakatan ini juga menjadi sarana koreksi diri kita masing-masing agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bekerja dengan semangat melayani masyarakat, disiplin, jujur dan baik,” sambungnya.

Sementara itu Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok, Isti Fajaroh dalam sambutanya mewakili Panewu Depok mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kalurahan Condongcatur yang tetap nguri-nguri (merawat) adat dan melaksanakan malam tirakatan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan berkah dan rahmad-Nya.

“Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman Nomor 12 tahun 1998 tentang Hari Jadi Kabupaten Sleman, bahwa Hari Jadi Kabupaten Sleman ditetapkan pada hari Senin Kliwon, tanggal 15 bulan Mei tahun 1916 atau tanggal 12 Rejeb 1846 tahun Je Wuku Wayang. Hari Jadi Kabupaten Sleman tersebut ditandai dengan Surya Sengkala Rasa Manunggal Hanggatra Negara yang dibaca 1916 (Tahun Masehi) dan Candra Sengkala Anggana Catur Salira Tunggal yang dibaca 1846 (Tahun Jawa),” jelas Isti.

Ditambahkan Isti, sesuai dengan Surat Edaran Pemkab Sleman tentang tentang Pedoman Peringatan Hari Jadi ke-109 Kabupaten Sleman Tahun 2025, lembaga pemerintah, lembaga non pemerintah, badan usaha, dan masyarakat dilingkungan Kabupaten Sleman agar berpartisipasi dengan memasang bendera merah putih, spanduk, umbul-umbul, dan hiasan lain mulai tanggal 1 Mei 2025 sampai dengan 30 Mei 2025 mendatang.

“Kapanewon juga akan menyelenggarakan upacara peringatan hari jadi ke-109 Kabupaten Sleman besok pagi, Kamis 15 Mei 2025 jam WIB dengan menggenakan pakaian tradisional Jawa Yogyakarta (Mataraman Jangkep) dengan menggunkan Bahasa Jawa sedangkan upacara di Kabupaten Sleman akan dilaksanakan pada sore harinya,” ungkapnya. (Wasana / KIM Depok)




Outbond Area Menjadi Tempat Layanan Pengelolaan Sampah di Ruang Publik

Sleman – Pulesari sebuah desa wisata di kawasan Sleman utara, yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga wahana outbond yang mengasikkan. Di mana, desa wista ini tergolong tidak pernah sepi pengunjung.  

Potensi inilah yang mendorong pengelola desa wisata Pulesari untuk meningkatkan layanan pengelolaan sampah di ruang publik. Keterlibatan semua warga yang tersebar di dua RT dan 1 RW dalam satu dusun ini, menjadi modal tersendiri berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat.

Hal inilah yang dilontarkan oleh Sutarto Agus selalu narasumber pada kegiatan sosialisasi Pengelolaan sampah yang difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman pada hari Rabu (14/5/2025) di Pendopo 4 “Cipto Karyo” Dusun Pulesari, Padukuhan Becici, Kalurahan Wonokerto Kapanewon Turi.

Pada kesempatan itu, Sutarto mengajak untuk cheklist sarana pengelolaan sampah mulai dari rumah, kampung atau dusun, ruang publik, dan tempat kerja. Dari kegiatan tersebut, bisa terlihat prasarana penunjang yang belum terfasilitasi dalam menunjang layanan pengelolaan sampah.

Berdasarkan Perda Kabupaten Sleman Nomor 4 tahun 2015 tantang pengelolaan sampah rumah tangga menjadi pijakan dalam pengelolaan sampah secara paripurna. Pengurangan sampah dengan 3 R dan penanganan sampah dengan pemilahan menjadi kata kunci dalam penjabaran Perda tersebut. Perda ini juga mengakomodir pembentukan KSM di tingkat RT/RW/Padukuhan, metode pengelolaan sampah yang disepakati, kerja sama dengan pemerintah dan kerja sama dengan pihak ketiga atau pengepul.

“Perda Nomor 4 tahun 2015 ini semangatnya sama dengan SE Nomor 0350 tahun 2024 tentang pengurangan dan penanganan sampah,” jelas Sutarto.

Pulesari sendiri sudah sejak lama mempunyai lembaga Bank Sampah yang diberi nama Dewi Pule. Namun karena terjadi permasalahan dengan pihak ketiga, kegiatannya menjadi vakum. Sosialisasi yang diadakan sekarang diharapkan membangkitkan kembali semangat pengelolaan sampahnya sehingga dapat menunjang kegiatan outbond yang sudah menjadi trademark Pulesari.

Sutarto juga menyinggung tentang kegiatan ketrampilan daur ulang yang bisa menjadi nilai tambah bagi pulesari sebagai destinasi wisata outbond. Penduduk sekitar banyak yang membuka gerai untuk menjajakan produk kuliner dan buah lokal di area sekitar outbond. Kondisi yang demikian memungkinkan untuk menjajakan juga produk keterampilan daur ulang dari sampah.

“Ibu-ibu bisa menitipkan produk daur ulangnya pada gerai yang dikelola oleh masyarakat, dan ini bisa menjadi kegiatan yang inovatif,” tambah Sutarto.

Sutarto kemudian menjelaskan cara pengelolaan sampah organik dengan teknologi tepat guna yang selain mudah, murah juga langsung bisa dipraktekkan. Pengelolaan sampah organik ini dipilih karena selama ini sampah organik belum terkelola dengan baik.

Diakhir paparannya, Sutarto sampaikan juga tentang pemanfaatan kompos untuk kegiatan budidaya tanaman sayur, tanaman hias dan tanaman obat yang dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT).

“Ini tentu bisa menjadi daya tarik dan ajang edukasi bagi pengunjung dan sekaligus bisa jadi oleh-oleh yang bisa dibawa pulang serta diduplikasi oleh pengunjung,” ujarnya. (Sutarto Agus/Kim Seyegan)




UNJAYA Yogyakarta Serahkan Mahasiswa PKL

Sleman – Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJAYA) Yogyakarta secara resmi menyerahkan mahasiwa untuk melaksakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Padukuhan Baran, Kalurahan Kalitirto, Kapanewon Berbah, pada Rabu (14/05/2025) bertempat di Pendopo Guyubrukun Padukuhan Baran.

Acara itu pun dihadiri oleh para kader KB Padukuhan Baran, Karang Taruna, BKR, RT, RW Padukuhan Baran, Lurah Kalitirto, perwakilan Kapanewon Berbah, dan Puskesmas Berbah.

Salah satu dosen pembimbing, Sujono Riyadi yang menyertai para mahasiswa dalam kata pengantarnya menyampaikan bahwa jurusan S1 Keperawatan UNJAYA Prodi Profesi Ners Angkatan XXIII Stase Keperawatan Komunitas dan Keperawatan Keluarga, dalam melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi diwajibkan untuk melaksakan praktik kerja lapangan. 

“Selanjutnya mohon ijin agar para mahasiswa dapat diterima untuk membersamai kegiatan masyarakat padukuhan Baran terutama terkait keperawatan komunitas, untuk memotret perilaku sehat atau tidak sehat, serta mohon bimbingan dan tegurannya agar dapat berkolaborasi dengan baik dengan masyarakat, untuk memperoleh hasil yang maksimal,” ujar Sujono.

Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Berebah, Andi Kurniawan yang mewakili Panewu Berbah berpesan agar para mahasiswa mendapat kesempatan untuk melengkapi dan menambah wawasan. Salah satunya dengan berinteraksi dan melayani masyarakat secara baik.

Mewakili Kepala Puskesmas Berbah, Kezia Diah Purnama menuturkan nantinya semua kegiatan yang akan dilakukan oleh mahasiswa bersama Puskesmas Berbah. Di mana, akan ada sejumlah program yang dilangsungkan di padukuhan tersebut.

“Padukuhan Baran dipilih karena adanya beberapa kegiatan pendukung yang berjalan dengan baik, seperti Kampung Keluarga Berencana, Bina Keluarga Remaja, Bina Keluarga Lansia. Di samping kegiatan rutin yang dilakukan setiap bulan yaitu pemeriksaan balita dan lansia,” ungkap Kezia.

“Ada program baru cek kesehatan gratis yang belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat,” sambungnya.  (M.A. Sanusi / KIM Tirto Gumregah Berbah)