Sleman – Pembelajaran nabuh gamelan bagi anak sekolah dasar bukan sekadar aktivitas seni semata, tetapi juga sarana membentuk karakter sejak dini. Di balik bilah-bilah logam yang dipukul dengan pelog dan slendro tersebut, tersimpan nilai-nilai pendidikan yang dalam. Anak-anak yang belajar gamelan secara tidak langsung diajarkan tentang kesabaran, kerja sama, kedisiplinan, dan kecintaan pada budaya bangsa.
Agar anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar mengenal, mencintai, dan merasa bangga terhadap warisan budaya bangsa, khususnya seni musik tradisional Jawa maka Sanggar Seni Cipto Nuraga yang dipimpin oleh Wibowo Endar Sulastro memberikan pelatihan nabuh gamelan yang berlangsung di Dowangan, Gamping, Sleman, Rabu (14/5/2025). Hal ini penting dilakukan guna menjaga keberlanjutan budaya di tengah arus globalisasi.
Menurut Endar, gamelan merupakan seni musik tradisional yang menekankan harmoni dan keteraturan. Setiap alat memiliki peran masing-masing dan harus dimainkan secara serempak dan seirama. Melalui praktik bermain bersama, anak-anak belajar mengenai pentingnya mendengarkan orang lain, menahan diri, serta menyesuaikan tempo.
“Latihan ini sangat penting dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemampuan bekerja dalam tim,” jelasnya.
Di tengah era digital yang serba cepat dan individualistis, pembelajaran gamelan menjadi oase yang menyeimbangkan aspek emosional dan sosial anak. Nabuh gamelan melatih konsentrasi dan kontrol diri. Anak-anak diajak memperhatikan isyarat dan pola ritmis, yang secara tidak langsung mengasah kemampuan motorik halus dan kognitifnya.
Lebih dari itu, gamelan menjadi identitas budaya. Ketika anak-anak belajar memainkannya, mereka tidak hanya menguasai alat musik, tetapi juga menyatu dengan akar budayanya sendiri. Hal ini menjadi bentuk nyata pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, di mana anak-anak tumbuh dengan rasa bangga dan cinta terhadap warisan nenek moyang.
Selain itu, pembelajaran nabuh gamelan juga mendorong ekspresi diri secara positif. Anak yang cenderung pendiam bisa menyalurkan emosinya melalui ritme kendang. Sementara anak yang aktif bisa belajar menyeimbangkan dirinya dengan alat yang mengharuskan ketenangan, seperti gong atau gender.
“Ini membentuk keseimbangan emosional dan estetika dalam diri mereka,” imbuh Endar.
Bagi dunia pendidikan, integrasi gamelan dalam pembelajaran tidak hanya relevan untuk tujuan kurikulum seperti P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Namun juga sebagai media pembelajaran lintas bidang yakni seni, sejarah, bahasa, bahkan matematika melalui pola dan hitungan irama. Sehingga, gamelan bisa menjadi ruang belajar yang holistik.
“Dengan segala manfaatnya, pembelajaran nabuh gamelan seharusnya lebih diperluas dan difasilitasi, baik di sekolah maupun di sanggar-sanggar seni masyarakat. Karena melalui nada-nada yang dimainkan anak-anak itu, kita sedang merawat kebudayaan sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan dibawa sampai dewasa,” tandas Endar. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)