Sebanyak 25 Warga Gentan Ikuti Pelatihan Budidaya Ayam Joper

Sleman – Sebanyak 25 orang mendapat pelatihan sekaligus pendampingan budidaya ayam Jawa Super atau lebih dikenal dengan Joper (Jowo Super), dalam program sekolah lapang yang digelar di Gentan VI Padukuhan Tegal Gentan, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Rabu (21/5/2025).
Kegiatan ini berasal dari Pokir Dewan, yang bekerja sama dengan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman. Kegiatan pembukaan sekolah lapang tersebut dihadiri oleh Lurah Margoagung, anggota DPRD Kabupaten Sleman, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Kawat Kemakmuran dan Ketua KIM Kapanewon Seyegan.
Anggota DPRD Kabupaten Sleman dari Komisi C, Bambang Sigit Sulaksono dalam sambutannya menyampaikan peran lembaga legislatif dalam mendukung pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di Kabupaten Sleman. Bambang pun menyemangati para peserta untuk ikut berperan dalam pemenuhan protein hewani yang menjadi salah satu upaya menurunkan angka stunting. Demikian juga dengan pengelolaan yang baik sehingga budidaya ayam Joper ini tidak berhenti di 60 hari pertama pendampingan.
“Motivasi berwiraswasta harus kuat, mencapai keuntungan usaha menjadi target dan tidak gampang mengeluh bila harga turun,” pesan Bambang kepada peserta yang dibentuk menjadi satu kelompok tersebut.
Plt. Kepada Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto pada kesempatan yang sama menyampaikan bahwa keberlanjutan kegiatan ini menjadi target yang utama. Sehingga, prosesnya tidak berhenti pada kegiatan sekolah lapang saja.
“Kegiatan sekolah lapang budidaya ayam Joper ini biayanya mahal, sehingga diharapkan kelompok yang mendapat hibah ini serius dalam mengembangkan usaha. Sehingga mempunyai dampak dalam meningkatkan ekonomi keluarga,” jelas Rofiq.
“Kami harap dengan sekolah lapang ini target budidaya untuk 500 ekor ayam dengan berat 8 ons sampai 1 kg dapat tercapai. Jumlah pasokan pakan cukup untuk 60 hari, evaluasi budidaya per minggu bisa dilaksanakan dan perlunya menjaga hak hak pihak lain berkaitan dengan budidaya ayam, terutama masalah lingkungan,” tandasnya.
Ia pun mengingatkan kepada peserta bahwa budidaya ayam Joper ini merupakan bentuk dukungan menuju swasembada pangan, terlebih dalam rangka peningkatan gizi untuk mencegah stunting. Rofiq kemudian membuka secara resmi kegiatan sekolah lapang tersebut sekaligus penandatangan keberlanjutan usaha yang dibuat antara kelompok yang diwakili oleh Sarjono sebagai Ketua Kelompok dengan Anggita DPRD dan Dinas Pertanian.
Salah satu praktisi dari Super Farm, Muhammad Fadil Ilham menjadi pemateri pertama yang menyampaikan tentang peluang usaha ayam Joper. Fadil menjelaskan, menurut data konsumsi Indonesia, konsumsi ayam menempati rangking dua dengan prosentase 0,154 di bawah konsumsi telur yang mencapai 2,193. Adapun jenis ayam yang dikonsumsi ialah broiler, layer afkir, pejantan, kampung super atau Joper dan ayam kampung.
Fadil melanjutkan dengan Teknik pemeliharaan ayam Joper, mulai dari bertelur, pengeraman telur, pengasuhan anak sampai degan persiapan bertelur kembali. Kemudian penetasan, cara pembesaran anak, umur panen dan kebutuhan pakan. Sementara terkait persiapan kandang, Fadil mengingatkan untuk mengutamakan adanya sirkulasi udara, pencahayaan dan kondisi lantai yang bersih dan kering.
“14 – 21 hari pertama adalah masa kritis ayam, perlu pemanasan yang tepat karena berpengaruh terhadap daya serap makanan pada ayam,” jelas Fadil.
Diakhir materinya, Fadil mengulas tentang masalah utama peternak unggas yaitu berkaitan dengan tata niaga, permodalan, penyakit dan wabah, limbah dan lingkungan.
Selanjutnya, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Sri Haryantini menutup pertemuan pertama bagi kelompok budidaya ayam Joper tersebut dengan materi persiapan budidaya, yaitu tentang perkandangan ternak ayam. Sri Haryantini lebih banyak berdialog dengan peserta berkaitan dengan kandang yang akan dipersiapkan termasuk ukuran kandang, kondisi kandang dan fungsi kandang sendiri.
“Kelompok budidaya ayam Joper selama 60 hari ke depan akan didampingi oleh PPL, Dokter Hewan dan pengawas pakan,” jelasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



