Semarak HUT ke-75 IGTKI-PGRI; Merayakan Martabat Guru TK demi Anak Indonesia Hebat

Sleman – Ribuan guru Taman Kanak-Kanak dari berbagai penjuru DIY berkumpul merayakan Hari Ulang Tahun ke-75 Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) yang berlangsung di halaman Stadion Maguwoharjo, Depok, Sleman (22/5/2025). Dengan tema besar ‘Guru Taman Kanak-kanak Bermartabat, Anak Indonesia Hebat’ peringatan ini menjadi momentum penting dalam menegaskan peran strategis guru Taman Kanak-Kanak (TK) dalam membentuk karakter generasi bangsa.

Melalui peringatan ini, IGTKI-PGRI ingin menegaskan bahwa guru TK bukan sekadar pengasuh, tetapi pendidik profesional yang membentuk pondasi kehidupan anak. Profesi ini menuntut keikhlasan, kecerdasan emosional, dan kesabaran luar biasa dengan nilai-nilai yang terus diperjuangkan agar guru TK mendapat tempat yang layak di mata publik dan pemerintah.

Kegiatan disemarakkan dengan senam massal yang menggambarkan semangat hidup sehat, kebugaran, dan kecintaan terhadap profesi sebagai pendidik anak usia dini. Senam massal ini bukan sekadar ajang olahraga semata, namun menjadi simbol dari semangat kolektif para guru TK untuk terus menjaga kebugaran fisik dan mental dalam menjalankan peran strategis mereka sebagai pendidik usia dini.

Lewat senam massal, IGTKI-PGRI juga ingin menunjukkan bahwa guru TK bukan hanya sosok pendidik, tetapi juga panutan dalam menjalani hidup seimbang dan produktif. Semangat kebersamaan dan kebugaran ini diharapkan menjadi inspirasi untuk terus memperkuat peran pendidik anak usia dini sebagai ujung tombak pembentukan karakter anak-anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan bahagia.

Sebagai puncak acara, dilakukan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang IGTKI-PGRI yang telah memasuki usia ke-75 tahun. Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi berkesempatan memotong tumpeng secara simbolis dan menyerahkannya kepada Wakil Ketua IGTKI-PGRI DIY, Darmi AUD disaksikan oleh Ketua IGTKI-PGRI Kabupaten Sleman, Martiyem.

Dalam sambutannya, Mustadi menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan semangat para guru Taman Kanak-Kanak dalam mencerdaskan anak-anak bangsa. Menurutnya IGTKI-PGRI menjadi garda terdepan dalam mendidik anak-anak sejak usia dini.

“Semoga semangat ini terus terjaga dan menjadi energi positif untuk kemajuan pendidikan di Sleman dan DIY,” ucapnya.

Menurut Mustadi, tema peringatan kali ini sangat relevan dengan kondisi dan kebutuhan zaman. Guru TK merupakan peletak dasar nilai-nilai kehidupan bagi anak-anak. Mereka bukan hanya mengajar membaca dan berhitung, tetapi juga menanamkan karakter, budi pekerti, dan kemandirian sejak usia dini.

Pihaknya berkomitmen untuk terus mendukung penguatan kapasitas guru Taman Kanak-Kanak melalui berbagai pelatihan, peningkatan kompetensi, serta mendorong kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan pendidik PAUD dan TK. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, karenanya membutuhkan kolaborasi dan sinergi bersama IGTKI-PGRI untuk mewujudkan pendidikan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Harapannya, kegiatan seperti ini bisa terus digalakkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini di Yogyakarta. Dengan penuh semangat, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa guru-guru TK di Sleman dan DIY siap melangkah bersama menuju masa depan yang lebih gemilang bagi pendidikan anak usia dini di Indonesia.

“Teruslah menjadi pilar pendidikan anak usia dini yang penuh cinta, keteladanan, dan semangat kebangsaan. Semoga seluruh guru TK di Sleman senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan dalam setiap langkah pengabdiannya,” tutup Mustadi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Pemkab Sleman Raih ANRI Award 2025 atas Komitmen dalam Pengelolaan Kearsipan

Sleman — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman meraih penghargaan ANRI Award 2025 atas komitmennya dalam mengembangkan dan membudayakan sistem kearsipan di wilayahnya. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini, didampingi Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Mego Pinandito, dalam Rapat Koordinasi Nasional Kearsipan 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (22/5).

Penghargaan ini diberikan kepada Pemkab Sleman atas pencapaian dalam kategori “Nilai Terbaik Hasil Pengawasan Kearsipan” dengan predikat sangat memuaskan. Sleman dinilai berhasil menyelenggarakan pengelolaan arsip yang efektif, transparan, dan adaptif terhadap transformasi digital, serta menjadi salah satu contoh terbaik di tingkat nasional.

Kegiatan penyerahan penghargaan juga bertepatan dengan peringatan Hari Kearsipan ke-54 yang jatuh pada 18 Mei. Tahun ini, peringatan Hari Kearsipan mengusung tema “Prakarsa Mahardika: Ekosistem Kearsipan Digital untuk Pemerintahan Berdayaguna, Kemajuan Ilmu Pengetahuan, dan Budaya Bangsa.”

Bupati Sleman Harda Kiswaya, yang hadir langsung dalam acara tersebut, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas penghargaan yang diraih Kabupaten Sleman. Menurutnya, penghargaan ini merupakan buah dari kinerja kolektif seluruh jajaran Pemkab dalam membangun sistem kearsipan yang profesional dan terintegrasi.

“Saya bersyukur hari ini kinerja kita bersama di bidang kearsipan mendapat apresiasi dari ANRI. Ini adalah hasil kerja keras seluruh perangkat daerah yang telah mendukung pengelolaan arsip secara tertib dan inovatif,” ungkap Harda.

Harda menegaskan, penghargaan ini akan menjadi motivasi bagi pemerintah dan masyarakat Sleman untuk terus memperkuat budaya kearsipan yang tertib dan transparan sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan yang baik. Ia berharap prestasi tersebut dapat membawa manfaat nyata bagi pelayanan publik dan menjadi teladan bagi daerah lain.

ANRI Award sendiri merupakan bentuk apresiasi tahunan dari Arsip Nasional Republik Indonesia kepada lembaga pemerintah pusat dan daerah yang dinilai konsisten dan berhasil dalam membangun sistem kearsipan yang mendukung efisiensi birokrasi, pelestarian dokumen penting, dan keterbukaan informasi.




Pasar Murah di Candibinangun, Wujud Komitmen Pemkab Sleman Ringankan Beban Ekonomi Warga

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Sosial menyelenggarakan kegiatan Pasar Murah di Kalurahan Candibinangun, Kapanewon Pakem, Kamis (22/5). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-109 Kabupaten Sleman yang bertujuan untuk meringankan beban ekonomi masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pokok.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, turut hadir dan membuka secara langsung kegiatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa pasar murah ini merupakan wujud nyata dari komitmen Pemkab Sleman dalam memperluas jangkauan kesejahteraan bagi masyarakat, terutama mereka yang berada di wilayah pedesaan.

“Kegiatan ini adalah salah satu upaya untuk mendekatkan bantuan secara langsung kepada masyarakat. Kami berharap pasar murah seperti ini bisa membantu meringankan beban pengeluaran warga, khususnya untuk kebutuhan pokok sehari-hari,” ujar Danang dalam sambutannya.

Menurut Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Sigit Indarto, kegiatan ini menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasar, serta pakaian bekas layak pakai dengan harga yang sangat terjangkau.

Beberapa komoditas yang disediakan antara lain, beras sebanyak 400 paket (2,5 kg/paket) dengan harga Rp , telur ayam sebanyak 400 paket seharga Rp , gula pasir sebanyak 500 paket seharga Rp , minyak goreng sebanyak 600 paket seharga Rp , dan pakaian bekas layak pakai mulai dari harga Rp

“Total ada sekitar 400 warga yang kami undang untuk bisa berbelanja di pasar murah ini. Subsidi yang diberikan pemerintah pada kegiatan ini mencapai Rp 8 juta,” jelas Sigit.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini selaras dengan tema Hari Jadi ke-109 Sleman yaitu Gumolong Hanggayuh Mukti, yang bermakna gotong royong untuk meraih kesejahteraan bersama.

Warga Candibinangun menyambut baik pelaksanaan pasar murah ini. Sejak pagi, mereka tampak antusias memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan sembako dengan harga lebih murah dibandingkan harga pasar. Selain untuk meringankan beban ekonomi, kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi dan mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Wakil Bupati Sleman berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin di berbagai wilayah lainnya di Sleman. “Saya harap kegiatan seperti ini bisa diperluas cakupannya dan menjadi agenda rutin yang digelar oleh Pemkab Sleman,” pungkas Danang.




Pendadaran sebagai Puncak Gladhi, Siapkan Generasi Panatacara yang Tangguh

Sleman – Pendadaran Gladhi Panatacara memiliki peran penting sebagai proses akhir yang menentukan kualitas dan kesiapan peserta dalam menjalankan tugas sebagai panatacara. Melalui pendadaran, peserta tidak hanya diuji secara teknis, tetapi juga mental dan kemampuan beradaptasi dalam situasi nyata. Hal ini penting untuk memastikan bahwa panatacara yang lahir dari program pelatihan benar-benar mampu tampil profesional dan membanggakan.

Proses pendadaran bagi 25 anggota Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman yang diselenggarakan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman yang berlangsung di Puri Mataram, Tridadi, Sleman, Kamis (22/5/2025) pun menjadi sarana pembentukan kepercayaan diri peserta pelatihan panatacara. Dengan tampil di hadapan Iwan Heru Nuryanto selaku penilai dari Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) dan audiens, para calon panatacara belajar mengelola rasa gugup, menyusun kata secara runtut, dan menjaga ketepatan bahasa serta intonasi.

“Tanpa proses ini, peserta mungkin belum menyadari kekuatan atau kelemahan mereka yang perlu dibenahi sebelum tampil di tengah masyarakat,” tutur Iwan.

Lebih dari sekadar ujian, pendadaran menjadi ruang aktualisasi diri dan pembuktian bahwa generasi muda masih peduli terhadap nilai-nilai budaya lokal. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab generasi tua, tetapi juga bagian dari proses pendidikan karakter pemuda masa kini.

Dengan adanya pendadaran, maka kualitas panatacara yang dihasilkan akan lebih terjamin, baik secara kemampuan maupun etika berbahasa dan bersikap. Hal ini menjadi langkah konkret untuk menjaga marwah budaya Jawa, sekaligus memastikan keberlanjutan peran panatacara dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat yang makin majemuk.

Sementara itu, Riyang Sukrisman selaku Ketua Tim Kerja Kelembagaan dan Kemitraan Pemuda Dispora Kabupaten Sleman menjelaskan bahwa pihaknya menyelenggarakan pendadaran atau pambiji sebagai tahap evaluasi akhir dari proses pelatihan panatacara yang telah dijalani para peserta selama tiga hari. Tujuan utama pendadaran ini adalah untuk mengukur sejauh mana kemampuan teknis dan etika para calon panatacara dalam menguasai materi yang telah diberikan, baik dari sisi penggunaan bahasa Jawa krama, teknik vokal, penguasaan panggung, hingga pemahaman terhadap struktur dan filosofi sebuah tata acara adat.

Selain sebagai bentuk uji kompetensi, pendadaran juga bertujuan membentuk karakter panatacara yang berwibawa, komunikatif, dan mampu menjaga nilai-nilai budaya Jawa dalam setiap penampilannya termasuk cara berbusana Jawa. Peserta didorong untuk tidak hanya sekadar membaca naskah, tetapi juga mampu menciptakan suasana, membangun komunikasi dengan audiens, dan menyampaikan pesan acara dengan tata tutur yang santun dan berkesan.

“Di tengah arus modernisasi, kehadiran panatacara yang paham akar budaya menjadi salah satu cara efektif menjaga jati diri bangsa melalui jalur seni tutur dan kepemimpinan dalam sebuah perhelatan,” jelas Riyang.

Ia pun berharap pelatihan ini bukan hanya membekali keterampilan secara teknis saja, namun sekaligus menanamkan rasa bangga terhadap budaya daerah. Sehingga, pemuda Sleman tidak hanya piawai dalam teknologi, tetapi juga punya jati diri budaya yang kuat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Keren; Satu Kata yang Dihadiahkan Tim Evaluasi Kampung Hijau bagi Pondok Kulon

Sleman – Tim juri Evaluasi Kampung Hijau menyerahkan slogan baru kepada Padukuhan Pondok Kulon, Kalitirto, Berbah, usai mengikuti proses penilaian administrasi dan cek lapangan, Kamis (22/05/2025).

Adapun slogan awal Padukuhan Pondok Kulon ialah ‘Karep, Kerep, Kurup’. Namun setelah mendapatkan tambahan hadiah kata ‘keren’ dari tim juri, slogannya menjadi ‘Karep, Kerep, Kurup, Keren’. Kata Keren disematkan setelah tim juri mengamati dan merasakan dari awal penyambutan kedatangan sampai akhir evaluasi.

“Antusias serta partisapi masyarakat dalam penyambutan, pengalungan bunga, sajian tarian, suguhan pangan godokan uwi, kacang dan jagung, juga persiapan yang dilakukan berbulan-bulan sangat baik dan istimewa. Tentunya membuat nilai plus akan kekompakan warga Padukuhan Pondok Kulon,” ucap Nur Partiningsih (OISCA) salah satu perwakilan tim juri Evaluasi Kampung Hijau.

Salah satu hal yang membanggakan adalah tampilnya pemuda karang taruna dalam pengelolaan sampah.  Penempatan drob box tempat pengumpulan sampah botol, pada titik tertentu dengan bertuliskan karang taruna. Dari sini menandakan partisipasi yang tinggi terhadap pengelolaan sampah.

“Partisipasi kelompok pemuda karang taruna dalam pengelolaan sampah tidak kita temukan dalam sepuluh lokasi evaluasi Kampung Hijau sebelumnya. Sedangkan Pondok Kulon merupakan lokasi evaluasi Kampung Hijau ke sebelas,” pungkas Nur.

Selanjutnya, Panewu Berbah, Tri Akhmeriyadi mengucapkan terima kasih kepada tim juri yang sudah melakukan evaluasi Kampung Hijau untuk Padukuhan Pondok Kulon.

Evaluasi adalah salah satu semangat untuk melakukan kegiatan menjadi lebih baik. Kalaupun nanti mendapatkan juara itu hanyalah bonus dari semua yang warga lakukan keseharian.

“Yang terpenting adalah tindakan dalam menjaga kampung menjadi hijau, lingkungan yang sehat, bersih indah dan nyaman untuk ditempati dan berkehidupan warga,” ucap Tri.

Panewu Berbah juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Padukuhan Pondok Kulon, dukuh, Lurah Kalitirto atas kerja keras dalam mempersiapkan dan melaksanan kegiatan berkaitan dengan upaya menata Kampung Hijau. Semangat berkegiatan juga dalam upaya memperingati Hari Jadi ke-109 Kabupaten Sleman.

“Harapannya setelah evaluasi warga menjadi lebih peduli kepada lingkungan, dan mengelola sampah lebih bersemangat,” tegasnya.

Lurah Kalitirto, Arihadi dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada tim juri semoga apa yang talang dilakukan warga mendapatkan apresiasi yang baik. Karena semua yang ditampilkan adalah cerminan tindakan dari warga. Bisa dilihat hamparan rumput dihalaman rumah dukuh Pondok Kulon yang hijau segar, tanaman di halaman sayuran dan tanaman obat dihalaman warga. Sebagai upaya pemanfaatan lahan kosong pekarangan sebagai upaya ketahanan pangan.

“Kami tidak mengada ada, adanya ya seperti byang terlihat dalam pandangan mata. Semua adalah warna hijau kesesuaian evaluasi Kampung Hijau,” pungkas lurah Kalitirto.

Dukuh Pondok Kulon, Riadi Purnawan dalam paparan menyampaikan bahwa pemanfaatan pekarang dengan menanam berbagai sayuran dan tanaman obat, budidaya lele dalan galon air mineral sebagai upaya mengurangi pengeluaran biaya dapur. Sedangkan untuk konservasi sumber air dilakukan dengan menanam tanaman keras yang bisa menyimpan air tanah. Pemakaian shower saat mandi juga penampungan sisa air wudhu merupakan upaya pemanfaatan dan penghematan air bersih.

“Di samping itu warga juga menanam sayuran atau tanaman yang bisa bermanfaat menjadi menjadi olahan yang bisa dinikmati sendiri ataupun dijual untuk menambah ekonomi keluarga. Seperti minuman menyegarkan dari lidah buaya. Hal itu dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT),” jelas Riadi. (Kusnadi / KIM Berbah)