Kiat Menjadi Caregiver Lansia yang Bahagia dan Membahagiakan

Sleman — Merawat lansia bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga soal mental, empati, dan kesabaran. Peran caregiver, baik profesional maupun anggota keluarga, menjadi semakin penting di tengah meningkatnya angka harapan hidup dan jumlah lansia di masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Pendampingan Caregiver untuk Lansia yang diselenggarakan oleh Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) bekerja sama dengan Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) DIY, Minggu (25/5/2025) di Padukuhan Blendung, Sumbersari, Moyudan. Kegiatan ini diikuti oleh 18 kader Bina Keluarga Lansia (BKL) Mugi Waras.
Dalam sambutannya, Dr. Riana dari IPPI menjelaskan bahwa caregiver adalah orang yang memberikan perawatan kepada individu yang membutuhkan bantuan karena sakit, usia lanjut, atau kondisi khusus lainnya. Peran ini bisa dijalankan oleh tenaga medis profesional maupun anggota keluarga biasa.
“Menjadi caregiver bukan hanya soal merawat secara teknis, tetapi juga soal membangun hubungan emosional dan menciptakan kebahagiaan bersama lansia,” ujar Dr. Riana.
Salah satu pemateri utama, Dr. Aisah Indati, psikolog senior dari Universitas Gadjah Mada (UGM), membagikan pengalaman langsungnya sebagai caregiver sekaligus praktisi. Ia menggarisbawahi pentingnya memahami beragam kepribadian lansia, karena pendekatan yang tepat bisa membantu merawat dengan lebih efektif dan penuh kasih.
Kelima tipe kepribadian lansia yang umum dijumpai, menurutnya, adalah, lansia matang dan bijaksana ( mudah diajak komunikasi dan kooperatif), lansia pemalas (cenderung pasif, suka diperintah), lansia pemarah (mudah tersinggung dan sensitif), lansia defensif ( tidak mau disalahkan, merasa selalu benar), dan lansia yang menyalahkan diri sendiri (sering meratapi masa lalu dan rendah diri)
“Caregiver perlu paham karakter lansia, bukan untuk menghakimi, tapi agar bisa membangun pendekatan yang penuh empati,” ujar Dr. Aisah.
Menurut Dr. Aisah, untuk menjadi caregiver yang bahagia dan membahagiakan, dibutuhkan kesiapan mental, emosional, dan spiritual, antara lain sabar dan lapang hati (ati segara dalam istilah Jawa), ikhlas menerima peran tanpa pamrih, semangat dan optimisme dalam menjalani peran, fisik dan mental yang kuat, serta pengetahuan dasar tentang kebutuhan lansia, termasuk aspek psikologis dan medis
Dalam paparannya, ia juga memberikan contoh-contoh nyata yang sering terjadi di masyarakat, sekaligus kiat menghadapi situasi sulit tanpa kehilangan kendali emosi.
Acara ini turut dihadiri Dukuh Blendung, Rizky Anas Ikhwanudin serta Ketua BKL Mugi Waras, Hj. Djumanah, yang memberikan sambutan sekaligus apresiasi atas perhatian yang diberikan bagi peningkatan kapasitas para kader lansia.
Sebagai penutup, Dr. Triana Noor Edwina selaku koordinator kegiatan dari UMBY menyerahkan sertifikat kepada para pemateri dan kepada Ketua BKL Mugi Waras sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan partisipasi aktif.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas kader BKL dalam memberikan pendampingan kepada lansia dengan lebih profesional, empatik, dan menyenangkan—baik bagi caregiver maupun yang dirawat. (Eny Ms / KIM Sumber Biwara Moyudan)



