Tetes Mata dari Langit, Inovasi Sekolah Air Hujan Sleman untuk Kesehatan Mata

Sleman – Di tengah gemuruh perubahan iklim dan kelangkaan air bersih, sebuah inisiatif unik lahir dari Sleman, Yogyakarta. Sekolah Air Hujan Banyu Bening menjadi pelopor pengolahan air hujan untuk berbagai keperluan, termasuk yang paling menarik perhatian adalah pemanfaatan air hujan sebagai tetes mata. Di sinilah air hujan tidak hanya ditampung, tapi juga diproses dengan teknologi sederhana untuk menjadikannya sebagai produk kesehatan yang aman digunakan.

Banyu Bening, yang artinya air jernih, bukan sekadar nama simbolik. Sekolah ini mengembangkan sistem pengumpulan dan filtrasi air hujan berbasis pendekatan ilmiah dan kearifan lokal. Air hujan ditampung melalui talang atap khusus yang anti-karat, disaring melalui beberapa lapis media seperti arang aktif, pasir silika, dan keramik, kemudian disterilisasi dengan sinar ultraviolet. Proses ini menghasilkan air ultra murni yang aman untuk penggunaan sensitif seperti mata.

Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang berlokasi di Tempursari, Kabupaten Sleman menjadi pusat pembelajaran alternatif mengenai pemanfaatan air hujan yang ramah lingkungan menerima kunjungan kelompok ibu-ibu Muslimat yang berasal dari Kebun Pemulihan Gresik, Selasa (27/5/2025). Rombongan diterima langsung oleh Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih yang mengajak untuk merubah pola pikir terhadap air hujan.

Wahyuningsih mengungkapkan bahwa inisiatif pengolahan air hujan ini bermula dari kekhawatiran akan semakin terbatasnya akses air bersih di beberapa wilayah, serta meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap produk farmasi impor. Tim di Banyu Bening percaya, jika alam menyediakan air hujan yang bersih, mengapa tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin, dengan pendekatan ilmiah agar tetap aman dan layak digunakan?

Program tetes mata dari air hujan ini sempat mengundang skeptisisme. Namun setelah melalui serangkaian uji laboratorium, termasuk uji mikrobiologi di laboratorium independen, hasilnya mengejutkan: air hasil olahan Banyu Bening memiliki tingkat kejernihan dan sterilitas yang setara, bahkan dalam beberapa kasus melampaui air suling komersial. Hasil ini kemudian digunakan untuk memproduksi tetes mata dalam skala terbatas.

“Tetes mata air hujan buatan Banyu Bening tidak dijual bebas, melainkan dibagikan sebagai bagian dari program edukasi di sekolah dan masyarakat sekitar,” terang Wahyuningsih. Setiap botol dilabeli tanggal produksi, metode filtrasi, dan diberikan edukasi tentang cara penggunaan dan penyimpanan menjadi bagian penting dari distribusi, demi menjaga keamanan dan efektivitas produk.

Sekolah Air Hujan Banyu Bening pun menggandeng mahasiswa dan akademisi dari Universitas Gadjah Mada untuk terus mengembangkan standar keamanan dan efektivitas. Mereka berambisi membuat panduan terbuka bagi komunitas lain agar bisa mereplikasi sistem ini. Tujuannya bukan untuk menciptakan produk komersial, tetapi membangun kemandirian air dan memperkuat literasi air bersih di kalangan masyarakat.

Menurut Wahyuningsih, lebih dari sekadar inovasi teknologi, pengolahan air hujan sebagai tetes mata ini mengajarkan sebuah filosofi sederhana namun kuat bahwa air hujan adalah anugerah yang bisa menjadi solusi, bukan sekadar limpahan cuaca. Dengan pendekatan yang tepat, air dari langit bisa menjadi pelindung bagi penglihatan manusia, bukan sekadar pembasah tanah.

“Di saat dunia sibuk mencari solusi mahal untuk krisis air dan kesehatan, Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Sleman membuktikan bahwa solusi bisa turun bersama hujan, asal ada niat, ilmu, dan cinta pada alam yang menyertainya,” tandasnya.

Sebagai bagian dari kampanye edukatif, peserta diajak untuk melakukan praktik penggunaan air hujan sebagai tetes mata pada setiap peserta yang dilanjutkan dengan tur keliling melihat dan mengamati secara langsung sistem penampungan air hujan di sekitar sekolah. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Puskesmas Seyegan Fasilitasi Pelatihan Pemanfaatan Beling Kaca dan Styrofoam Menjadi Batako

Sleman – Sebanyak 20 pengurus bank sampah atau sedekah sampah yang ada di wilayah Seyegan menjadi peserta pelatihan pemanfaatan limbah kaca atau beling menjadi batako, yang digelar Puskesmas Seyegan pada, Selasa (27/5/2025) di Aula lantai II. Bimtek pengelolaan sampah tersebut menghadirkan praktisi sampah dari Sukunan yang merupakan desa wisata sampah di wilayah Gamping.

Pelatihan tersebut dilatarbelakangi oleh meningkatnya angka penderita penyakit demam berdarah di wilayah Seyegan. Tentu, hal ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Puskesmas Seyegan.

Kepala Tata Usaha Puskesmas Seyegan, Susilowati dalam sambutannya menyampaikan bahwa sampah rumah tangga harus dikelola dengan sungguh sungguh. Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan tujuan utama dalam pengelolaan sampah skala rumah tangga.

“Keterampilan pengelolaan sampah sangat penting, kemampuan itu harus disebarluaskan kepada masyarakat dengan tujuan meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat,” harap Susilowati.

Bimtek ini juga merupakan kegiatan inovatif untuk mencegah penyakit yang berbasis lingkungan.

Pengelola Sampah dari Sukunan, Suharto selaku narasumber pada kesempatan tersebut menyampaikan tentang pemilahan sampah rumah tangga. Ia menekankan untuk melakukan pemilahan minimal menjadi dua, yaitu sampah organik dan anorganik.

“Untuk pengelolaan sampah organik dapat dilakukan dengan teknologi tepat guna yang selain mudah, murah juga langsung bisa dipraktekkan,” ujarnya.

Suharto kemudian menjelaskan tentang biopori, biopot, dan komposter sebagai sarana pengelolaan sampah organik. Ia pun menjelaskan cara membuat, fungsi dan cara memanen kompos yang dihasilkan.

“Selain penanganan sampah, diharapkan masyarakat juga melakukan pengurangan sampah dengan metode 3 R,” jelas Suharto.

Secara khusus, Suharto menjelaskan tentang keterampilan daur ulang dengan memanfaatkan sampah yang tidak laku jual termasuk styrofoam dan beling atau kaca. Sampah yang banyak dijumpai di masyarakat tersebut bahkan sering membahayakan bilamana tidak dikelola dengan benar.  Perlu adanya usaha yang sifatnya kreatif untuk memanfaatkan sampah tersebut. Salah satu ide kreatif yang dilakukan adalah membuat batako dengan beling/kaca dan Styrofoam sebagai campurannya.

Suharto menjelaskan, styrofoam sebelum digunakan digiling terlebih dahulu dengan mesin parut kelapa. Adapun campurannya adalah 1 bagian semen, 3 bagian pasir dan 3 bagian styrofoam.

“Yang perlu diperhatikan adalah sebelum dicampurkan, styrofoam yang sudah digiling tersebut di rendam air supaya menambah berat dan tidak berterbangan,” jelasnya.

Untuk batako dengan campuran sampah beling atau kaca sebelum dicampurkan beling digiling terlebih dulu dengan mesin pencacah. Setelah itu baru dicampurkan dengan bahan lain dengan perbandingan 1 bagian semen, 3 bagian pasir dan 3 bagian beling/kaca.

“Berdasarkan pengalaman, kualitas batako yang dihasilkan dengan campuran beling/kaca lebih bagus daripada dengan campuran Styrofoam,” ujarnya.

Setelah mendapatkan penjelasan, peserta diajak untuk praktek langsung pembuatan batako dengan campuran beling/kaca di halaman Puskesmas Seyegan. Secara keseluruhan kegiatan ini sangat penting mengingat pengelolaan sampah memerlukan ide kreatif dan inovatif yang dapat secara langsung dipraktekkan oleh masyarakat sekaligus menjawab permasalahan yang terjadi di lapangan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Kelompok Tani Kalitirto Ikuti Sosialisasi Waspada Leptospirosis

Sleman – Waspada leptospirosis, kelompok tani Kalurahan Kalitirto mengikuti sosialisasi terkait edukasi bahaya penyakit leptospirosis. Kegiatan tersebut berlangsung di Padukuhan Baran, Selasa, (27/5/2025).

Acara itu dihadiri oleh Dukuh Baran, pengurus dan anggota Kelompok Tani Manunggal Baran, Kelompok Wanita Tani Padukuhan Baran, dan narasumber dari Mahasiswa Profesi Ners UNJAYA Angkatan XXIII 2025, Afrianka Rahmawati dan Nur Aisya Kahri.

“Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan bakteri Leptospira. Penyakit ini merupakan zoonosia, artinya menular dari hewan ke manusia. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang banyak ditemukan pada urin hewan terinfeksi, terutama tikus,” demikian paparan Afrianka Rahmawati selaku narasumber pertama.

Gejala awal, menurutnya, mirip flu, seperti sakit kepala, demam, nyeri otot, mual, nafsu makan menurun. Kemudian meningkat sesak nafas, mimisan dan yang lebih serius bisa gagal ginjal dan berisiko kematian.

Pada kesempatan yang sama, Nur Aisya Kahri selaku narasumber kedua menyarankan agar para petani selalu berhati-hati dan menjaga kebersihan. “Disarankan kepada para petani khususnya, untuk berhati-hati dan selalu menjaga kebersihan. Cuci tangan dengan sabun setelah kontak dengan tanah, air, atau hewan. Hindari makan dan minum ditempat yang berisiko terkontaminasi,” tandasnya. (M.A. Sanusi / KIM Tirto Gumregah Berbah)




Latsar Bela Negara; Upaya Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Sleman – Di tengah dinamika kehidupan modern yang penuh tantangan, Kapanewon Gamping terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga semangat kebangsaan. Salah satu wujud nyata dari komitmen itu adalah upaya seriusnya dalam mengimplementasikan nilai-nilai bela negara di lingkungan masyarakat. Bagi Gamping, bela negara bukan sekadar jargon, melainkan praktik keseharian yang harus hidup dalam setiap lapisan masyarakat.

Implementasi bela negara tercermin dalam berbagai program seperti latihan dasar (Latsar) bela negara yang berlangsung di Graha Mangesti Hanggo, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (27/5/2025) atas inisiasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman.

Latsar bela negara yang bertajuk mewujudkan masyarakat sadar akan bela negara untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa tersebut diikuti oleh Jagabaya, Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), Jaga Warga, dan pemuda sejumlah 60 orang yang berasal dari 12 padukuhan se-Kalurahan Trihanggo. Dengan instruktur AKP Rochmadi dan Bripka Sugiyatno dari Kepolisian Resort Kota Sleman, Serka Sugiyono dan Serda Beny dari Komando Rayon Militer 17/Gamping yang ditugaskan oleh Komando Distrik Militer 0732/Sleman, serta Sunardi selaku Alumni Bela Negara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Gamping, Bambang Nurdianto mewakili Panewu Gamping, dalam paparan materinya menekankan bahwa tantangan kebangsaan kini tak lagi datang dalam bentuk fisik semata, melainkan melalui ancaman non-tradisional seperti radikalisme, disinformasi, hingga individualisme ekstrem.

“Kesadaran bela negara adalah benteng moral bangsa yang tumbuh dari pikiran jernih dan hati yang rela berkorban,” tuturnya.

Bambang menyebutkan kesadaran bela negara juga diterapkan dalam pengelolaan konflik sosial. Warga dilibatkan secara aktif dalam menjaga ketertiban lingkungan dan menyelesaikan persoalan secara musyawarah. Di tengah keberagaman yang dimiliki wilayah Gamping, hal ini menjadi bukti bahwa semangat persatuan dapat dijaga jika nilai-nilai bela negara benar-benar dihidupi.

Salah satu bentuk nyata adalah keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tanggap bencana dan aksi sosial. Hal ini menjadi cermin bahwa rasa cinta tanah air tidak hanya muncul saat ada ancaman besar, tetapi juga saat kita saling tolong-menolong dalam kehidupan sehari-hari. Gamping membuktikan bahwa solidaritas lokal adalah bagian penting dari kekuatan nasional.

Perluasan implementasi bela negara dapat dilakukan melalui digitalisasi pelayanan publik, pelatihan literasi digital, dan kampanye melawan hoaks. Dalam dunia digital yang rawan provokasi, masyarakat Gamping diajak menjadi pengguna cerdas media sosial yang menjaga suasana kondusif dan tidak menyebar kebencian.

Dengan berbagai upaya tersebut, Kapanewon Gamping menjadi contoh bahwa bela negara tidak harus menunggu momentum besar. Sebab bisa dibangun lewat kesadaran kolektif, kepedulian sosial, dan kerjasama antar warga.

Dari wilayah Gamping, semangat menjaga Indonesia tetap hidup dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. “Bela negara bukan hanya tentang bertahan dari serangan musuh, tapi bagaimana kita menjaga desa ini tetap rukun, produktif, dan berdaya,” pungkas Bambang. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




SMADITA Menyapa, Ajang Perkenalan SMA Angkasa Adisucipto sebagai Sekolah Berafiliasi TNI AU

Sleman – Pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Putra Dirgantara Sekolah Menengah Atas (SMA) Angkasa Adisutjipto Yogyakarta, pada Selasa (27/5/2025) kembali menggelar program ‘SMADITA Menyapa’. Kali ini kegiatan tersebut berlangsung di SMP Muhammadiyah 2 Kalasan, Sleman.

Ketua OSIS SMA Angkasa Adisutjipto, Teuku Perkasa Alam Raditya Rasya mengatakan bahwa program ini dimaksudkan sebagai salah satu ajang promosi sekolah yang beralamatkan di Kompleks TNI AU Adisutjipto, Maguwoharjo, Depok, Sleman.

“SMA kami adalah salah satu sekolah unggulan di bawah naungan yayasan yang berafiliasi dengan TNI Angkatan Udara,” ujar Teuku.

“Lingkungannya asri dan aman, memiliki budaya belajar disiplin, dan berfokus pada pengembangan karakter peserta didik,” lanjutnya.

Dengan latar belakang tersebut, membuat pembelajaran di SMA Angkasa Adisutjipto Yogyakarta tidak semata berfokus pada dunia akademik, tetapi turut mengedepankan nilai-nilai moral dan kedisiplinan tinggi.

“Sekolah kami memiliki komitmen kuat untuk mencetak generasi muda yang siap menghadapi tantangan dunia modern di masa depan,” jelasnya.

SMA yang memiliki visi mewujudkan insan berakhlak mulia, disiplin, berbudaya, serta berwawasan global ini, Teuku mengatakan SMA Angkasa Adisutjipto Yogyakarta ditunjang oleh banyak kegiatan ektrakulikuler yang dapat menjadi pilihan, di antaranya kesamaptaan, voli, sepak bola, futsal, aeromodelling, tari modern dan tradisional, basket, tonti, bela diri, jurnalistik, pramuka, dan seni musik.

Selain itu, terdapat sepuluh program unggulan yang menjadi ciri khas sekolah, antara lain angkasa berkarakter, angkasa full day school, angkasa berbakat, angkasa berkarya, angkasa cerdas spiritual, angkasa jago bahasa Inggris, angkasa cinta lingkungan, angkasa cinta dirgantara, dan angkasa juara.

“Hal ini memberi warna berbeda pada pola pendidikan yang diterapkan di SMA Angkasa Adisutjipto Yogyakarta. Di mana, siswa tidak hanya diajarkan untuk berprestasi secara akademis, tetapi juga disiplin, mandiri, dan berintegritas,” ujar Teuku.

Di sisi lain, SMA Angkasa Adisutjipto Yogyakarta turut aktif dalam berbagai program pendidikan karakter yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air.

“Disiplin yang diterapkan bukan sekadar aturan ketat, tetapi bertujuan membentuk kebiasaan baik untuk masa depan, terutama bagi yang bercita-cita menjadi seorang pemimpin,” tukasnya. (Athiful/KIM Depok)