Cegah Komplikasi, Pasien Prolanis Harus Ruitn Lakukan Cek Lab

Sleman— Sebanyak 80 pasien Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) mengikuti pemeriksaan laboratorium rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Puskesmas Mlati II pada Rabu (28/5/2025). Kegiatan ini digelar di area parkir Puskesmas dan bertujuan untuk memantau kondisi pasien penderita hipertensi dan diabetes melitus agar tetap stabil dan terkendali.

Prolanis merupakan program dari BPJS Kesehatan yang bertujuan membantu pasien penyakit kronis dalam mengelola kondisi kesehatannya serta meningkatkan kualitas hidup. Melalui pendekatan proaktif, program ini melibatkan kerja sama antara pasien, fasilitas kesehatan, dan BPJS Kesehatan.

“Prolanis merupakan program yang mendorong pemeliharaan kesehatan jangka panjang, khususnya bagi penderita penyakit kronis. Program ini mencakup berbagai layanan mulai dari pemeriksaan rutin hingga edukasi,” ujar dr. Zulia Arini dari Puskesmas Mlati II.

Menurut Zulia, kegiatan cek laboratorium tahunan ini juga merupakan bentuk penghargaan bagi pasien agar tetap berkomitmen menjalani perawatan dan hidup berdampingan dengan penyakit yang diderita. Ia juga aktif memberikan edukasi melalui grup WhatsApp pasien Prolanis untuk menjawab pertanyaan serta mendampingi proses pengelolaan penyakit.

Hipertensi dan diabetes melitus tercatat sebagai dua penyakit kronis dengan prevalensi tertinggi di wilayah Sleman. Sayangnya, tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani kontrol rutin masih rendah, yakni di bawah 50 persen. Karena itu, program Prolanis diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kedisiplinan pasien melalui pendekatan yang berkelanjutan.

Selain pemeriksaan laboratorium, Puskesmas Mlati II juga menyediakan layanan konsultasi medis, penyuluhan tentang gaya hidup sehat, serta kegiatan senam Prolanis setiap akhir pekan. Jenis senam yang diberikan meliputi senam jantung sehat, senam lansia, dan senam aerobik yang dirancang khusus bagi pasien dengan kondisi kronis.

Adapun jenis pemeriksaan laboratorium yang dilakukan dibedakan berdasarkan kondisi pasien. Untuk pasien hipertensi, pemeriksaan meliputi profil lemak (kolesterol total, HDL, LDL), trigliserida, dan fungsi ginjal (ureum, BUN, dan kreatinin). Sementara untuk pasien diabetes, selain pemeriksaan profil lemak dan fungsi ginjal, juga dilakukan pengecekan HbA1C sebagai indikator kadar gula darah dalam jangka panjang.

Hasil pemeriksaan laboratorium dapat diambil dua minggu setelah pelaksanaan, dan selanjutnya dapat dikonsultasikan kepada dokter saat kunjungan rutin bulanan.

Melalui program ini, Puskesmas Mlati II berharap pasien Prolanis dapat lebih sadar akan pentingnya pengelolaan penyakit secara mandiri dan berkesinambungan, sehingga komplikasi serius di kemudian hari dapat dicegah sedini mungkin. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Menumbuhkan Kreativitas Sejak Dini Lewat Lomba Mewarnai

Sleman – Sebanyak 140 anak dari jenjang PAUD hingga SD antusias mengikuti Lomba Mewarnai yang digelar di Balai Desa Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Kamis (29/5/2025). Kegiatan ini diinisiasi oleh Komunitas Bingkai Kreatif sebagai bentuk upaya menumbuhkan kreativitas dan kepercayaan diri anak-anak desa sejak dini.

“Talenta melukis tidak hanya lahir dari anak-anak kota. Anak-anak desa pun punya potensi besar,” ujar Herry Santosa, pimpinan Komunitas Bingkai Kreatif. Ia menambahkan, pemilihan lokasi di balai desa, bukan di pusat perbelanjaan, bertujuan agar anak-anak desa merasa lebih dekat dan berani menampilkan karya mereka di depan umum.

Selain sebagai ajang kompetisi sehat, lomba ini menjadi sarana anak-anak mengekspresikan imajinasi serta melatih kemampuan visual, koordinasi mata dan tangan, ketelitian, fokus, dan menyelesaikan tugas secara mandiri.

Komunitas Bingkai Kreatif secara rutin menggelar kegiatan serupa, termasuk pelatihan seni melukis, musik, dan tari. Mereka berharap, kegiatan ini dapat menumbuhkan minat seni dan desain, serta membangun karakter melalui interaksi sosial di antara peserta.

“Selain untuk menyalurkan kreativitas, lomba ini juga menjadi sarana hiburan positif bagi anak-anak, sekaligus melepas kepenatan dari rutinitas sekolah,” tambah Herry.

Dengan jumlah peserta yang cukup besar dari satu desa saja, kegiatan ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap seni dan potensi besar yang perlu terus difasilitasi sejak dini. (Sadhono Hadi/KIM Tempel)




SMK Muhammadiyah 2 Sleman Sinkronkan Kurikulum demi Selaraskan Kebutuhan Industri

Sleman – SMK Muhammadiyah 2 Sleman menggelar kegiatan sinkronisasi kurikulum tahun ajaran 2025/2026 pada Rabu (28/5/2025) di ruang pertemuan sekolah. Kegiatan ini melibatkan tim pengembang kurikulum, guru kejuruan, serta perwakilan mitra industri.

Mengusung tema “Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Teaching Factory dalam Pembelajaran”, kegiatan ini bertujuan menyelaraskan kompetensi peserta didik dengan kebutuhan riil dunia kerja serta menyesuaikan kebijakan terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia.

Kepala SMK Muhammadiyah 2 Sleman, Ahmad Maftuhin, menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan dunia industri guna menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap bersaing di era global.

“Sinkronisasi kurikulum ini bukan hanya formalitas, tetapi langkah nyata untuk membekali peserta didik dengan keterampilan yang relevan dan dibutuhkan dunia industri,” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan paparan dari masing-masing ketua program keahlian mengenai profil jurusan, struktur kurikulum, capaian pembelajaran, serta kesesuaian materi dengan kebutuhan lapangan kerja. Selanjutnya, dilakukan diskusi intensif antara guru produktif dan narasumber dari industri untuk menyusun kurikulum yang aplikatif, kontekstual, dan berbasis proyek.

Menurut Maftuhin, pendekatan deep learning dan model teaching factory akan semakin diperkuat sebagai ciri khas pembelajaran di SMK. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi teknis dan non-teknis siswa secara seimbang.

“Melalui sinkronisasi ini, kami menunjukkan komitmen dalam mewujudkan pendidikan vokasi yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan masa depan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa hasil sinkronisasi ini akan segera diimplementasikan pada tahun ajaran baru mendatang. SMK Muhammadiyah 2 Sleman, lanjut Maftuhin, terus berupaya memperkuat sinergi dengan dunia industri, dunia usaha, dan dunia kerja. (Athiful/KIM Depok)




Program Lada Manis Gratiskan Transfusi Darah bagi Warga Sleman

SLEMAN – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman terus menggalakkan Program Lada Manis (Layanan Darah Sleman Gratis), yaitu layanan transfusi darah tanpa biaya bagi warga Sleman yang membutuhkan. Program ini telah berjalan sejak 1 Januari 2019 dan bertujuan mempermudah akses layanan kesehatan, khususnya bagi pasien yang memerlukan transfusi darah.

Hal tersebut kembali ditegaskan oleh Sekretaris PMI Kabupaten Sleman, Jazim Sumirat, S.H., , dalam Rapat Kerja Tahunan PMI Kapanewon Cangkringan yang digelar Rabu (28/5/2025) di Kopi Dalan Anyar, Glagaharjo, Cangkringan.

“Melalui Lada Manis, kami ingin memastikan tidak ada warga Sleman yang kesulitan mendapatkan darah karena alasan biaya. Ini bentuk komitmen kemanusiaan PMI,” ujar Jazim.

Ia juga mengapresiasi kinerja PMI Kapanewon Cangkringan yang dinilai berhasil menggerakkan partisipasi masyarakat secara masif dalam kegiatan donor darah. “Cangkringan selalu mencatatkan jumlah pendonor terbanyak di Sleman. Ini menjadi bukti kuat bahwa gerakan kemanusiaan bisa mengakar jika dikelola bersama,” tambahnya.

Raker tahunan PMI Cangkringan turut dihadiri berbagai pihak, termasuk pengurus PMI Kabupaten Sleman, perwakilan Kapanewon Cangkringan, Polsek, Puskesmas, PT Merapi Golf, IGTK, TKSK, Karang Taruna, serta para penggiat donor darah dan relawan kemanusiaan di wilayah tersebut.

Endri, Ketua PMI Kapanewon Cangkringan, dalam kesempatan tersebut menyampaikan rencana kerja tahun 2025 yang akan menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan PMI di wilayahnya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini telah mendukung program kemanusiaan PMI.

“Kami tidak henti-hentinya bersyukur atas kolaborasi yang luar biasa dari berbagai elemen masyarakat. Tanpa dukungan mereka, kegiatan donor darah dan misi kemanusiaan lainnya tak akan berjalan lancar seperti sekarang,” ucap Endri.

Program Lada Manis diharapkan terus memperkuat solidaritas sosial masyarakat Sleman, serta memastikan bahwa kebutuhan darah selalu tersedia untuk siapa pun yang membutuhkan, tanpa terkendala biaya. (Mujiyanta/KIM Wara Aji Cangkringan)




KKMP Sumbersari Targetkan 1.000 Anggota untuk Kuatkan Ekonomi Desa

Moyudan – Pemerintah Kalurahan Sumbersari resmi membentuk Koperasi Kalurahan Merah Putih (KKMP) melalui Musyawarah Kalurahan Khusus (Muskalsus) yang digelar pada Rabu (28/5/2025) di Pendopo Kalurahan Sumbersari. Koperasi ini ditargetkan memiliki anggota pada tahap awal sebagai langkah strategis memperkuat kemandirian ekonomi desa.

Pembentukan KKMP merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kalurahan Merah Putih. Inpres ini mendorong pembentukan koperasi dengan kegiatan usaha yang tidak terbatas, termasuk pengadaan sembako, simpan pinjam, klinik, apotek, gudang logistik, hingga sektor produktif lainnya yang sesuai dengan potensi desa.

Kegiatan Muskalsus dihadiri oleh perwakilan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman, Kepala Jawatan Kemakmuran dan Jawatan Projo Kapanewon Moyudan, serta Lurah Sumbersari beserta jajaran pamong, staf kalurahan, Ketua BPKal dan anggota, serta sejumlah ketua lembaga kalurahan.

Dalam forum tersebut disepakati susunan pengurus dan pengawas KKMP, serta penetapan besaran simpanan pokok dan simpanan wajib. Carik Sumbersari, Junaidi, menyampaikan bahwa KKMP menargetkan anggota, dengan simpanan pokok sebesar dan simpanan wajib per bulan per anggota. “Dengan target tersebut, modal awal dari simpanan pokok akan mencapai Rp100 juta, dan simpanan wajib akan menghasilkan Rp10 juta per bulan,” ungkap Junaidi.

Guna merealisasikan target tersebut, pengurus akan segera melakukan sosialisasi kepada seluruh warga Sumbersari.

Perwakilan Dinas Koperasi UMKM Sleman, Dewi, menjelaskan bahwa pembentukan KKMP bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa melalui akses pembiayaan, layanan ekonomi, serta peningkatan nilai tambah produk lokal. “KKMP diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja di tingkat desa, memperkuat ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hingga mengurangi angka kemiskinan ekstrem,” jelas Dewi.

Ia juga menambahkan bahwa koperasi dapat menjadi solusi konkret bagi petani dan pelaku UMKM untuk memasarkan produknya secara kolektif, dengan dukungan pengemasan, branding, dan akses pasar yang lebih luas.

“Dengan koperasi ini, masyarakat bisa saling menopang secara ekonomi. Koperasi desa menjadi pilar pembangunan ekonomi dari akar rumput,” tegas Dewi. (Giek/KIM Moyudan)