Pendadaran sebagai Puncak Gladhi, Siapkan Generasi Panatacara yang Tangguh

Sleman – Pendadaran Gladhi Panatacara memiliki peran penting sebagai proses akhir yang menentukan kualitas dan kesiapan peserta dalam menjalankan tugas sebagai panatacara. Melalui pendadaran, peserta tidak hanya diuji secara teknis, tetapi juga mental dan kemampuan beradaptasi dalam situasi nyata. Hal ini penting untuk memastikan bahwa panatacara yang lahir dari program pelatihan benar-benar mampu tampil profesional dan membanggakan.

Proses pendadaran bagi 25 anggota Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman yang diselenggarakan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman yang berlangsung di Puri Mataram, Tridadi, Sleman, Kamis (22/5/2025) pun menjadi sarana pembentukan kepercayaan diri peserta pelatihan panatacara. Dengan tampil di hadapan Iwan Heru Nuryanto selaku penilai dari Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) dan audiens, para calon panatacara belajar mengelola rasa gugup, menyusun kata secara runtut, dan menjaga ketepatan bahasa serta intonasi.

“Tanpa proses ini, peserta mungkin belum menyadari kekuatan atau kelemahan mereka yang perlu dibenahi sebelum tampil di tengah masyarakat,” tutur Iwan.

Lebih dari sekadar ujian, pendadaran menjadi ruang aktualisasi diri dan pembuktian bahwa generasi muda masih peduli terhadap nilai-nilai budaya lokal. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab generasi tua, tetapi juga bagian dari proses pendidikan karakter pemuda masa kini.

Dengan adanya pendadaran, maka kualitas panatacara yang dihasilkan akan lebih terjamin, baik secara kemampuan maupun etika berbahasa dan bersikap. Hal ini menjadi langkah konkret untuk menjaga marwah budaya Jawa, sekaligus memastikan keberlanjutan peran panatacara dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat yang makin majemuk.

Sementara itu, Riyang Sukrisman selaku Ketua Tim Kerja Kelembagaan dan Kemitraan Pemuda Dispora Kabupaten Sleman menjelaskan bahwa pihaknya menyelenggarakan pendadaran atau pambiji sebagai tahap evaluasi akhir dari proses pelatihan panatacara yang telah dijalani para peserta selama tiga hari. Tujuan utama pendadaran ini adalah untuk mengukur sejauh mana kemampuan teknis dan etika para calon panatacara dalam menguasai materi yang telah diberikan, baik dari sisi penggunaan bahasa Jawa krama, teknik vokal, penguasaan panggung, hingga pemahaman terhadap struktur dan filosofi sebuah tata acara adat.

Selain sebagai bentuk uji kompetensi, pendadaran juga bertujuan membentuk karakter panatacara yang berwibawa, komunikatif, dan mampu menjaga nilai-nilai budaya Jawa dalam setiap penampilannya termasuk cara berbusana Jawa. Peserta didorong untuk tidak hanya sekadar membaca naskah, tetapi juga mampu menciptakan suasana, membangun komunikasi dengan audiens, dan menyampaikan pesan acara dengan tata tutur yang santun dan berkesan.

“Di tengah arus modernisasi, kehadiran panatacara yang paham akar budaya menjadi salah satu cara efektif menjaga jati diri bangsa melalui jalur seni tutur dan kepemimpinan dalam sebuah perhelatan,” jelas Riyang.

Ia pun berharap pelatihan ini bukan hanya membekali keterampilan secara teknis saja, namun sekaligus menanamkan rasa bangga terhadap budaya daerah. Sehingga, pemuda Sleman tidak hanya piawai dalam teknologi, tetapi juga punya jati diri budaya yang kuat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Keren; Satu Kata yang Dihadiahkan Tim Evaluasi Kampung Hijau bagi Pondok Kulon

Sleman – Tim juri Evaluasi Kampung Hijau menyerahkan slogan baru kepada Padukuhan Pondok Kulon, Kalitirto, Berbah, usai mengikuti proses penilaian administrasi dan cek lapangan, Kamis (22/05/2025).

Adapun slogan awal Padukuhan Pondok Kulon ialah ‘Karep, Kerep, Kurup’. Namun setelah mendapatkan tambahan hadiah kata ‘keren’ dari tim juri, slogannya menjadi ‘Karep, Kerep, Kurup, Keren’. Kata Keren disematkan setelah tim juri mengamati dan merasakan dari awal penyambutan kedatangan sampai akhir evaluasi.

“Antusias serta partisapi masyarakat dalam penyambutan, pengalungan bunga, sajian tarian, suguhan pangan godokan uwi, kacang dan jagung, juga persiapan yang dilakukan berbulan-bulan sangat baik dan istimewa. Tentunya membuat nilai plus akan kekompakan warga Padukuhan Pondok Kulon,” ucap Nur Partiningsih (OISCA) salah satu perwakilan tim juri Evaluasi Kampung Hijau.

Salah satu hal yang membanggakan adalah tampilnya pemuda karang taruna dalam pengelolaan sampah.  Penempatan drob box tempat pengumpulan sampah botol, pada titik tertentu dengan bertuliskan karang taruna. Dari sini menandakan partisipasi yang tinggi terhadap pengelolaan sampah.

“Partisipasi kelompok pemuda karang taruna dalam pengelolaan sampah tidak kita temukan dalam sepuluh lokasi evaluasi Kampung Hijau sebelumnya. Sedangkan Pondok Kulon merupakan lokasi evaluasi Kampung Hijau ke sebelas,” pungkas Nur.

Selanjutnya, Panewu Berbah, Tri Akhmeriyadi mengucapkan terima kasih kepada tim juri yang sudah melakukan evaluasi Kampung Hijau untuk Padukuhan Pondok Kulon.

Evaluasi adalah salah satu semangat untuk melakukan kegiatan menjadi lebih baik. Kalaupun nanti mendapatkan juara itu hanyalah bonus dari semua yang warga lakukan keseharian.

“Yang terpenting adalah tindakan dalam menjaga kampung menjadi hijau, lingkungan yang sehat, bersih indah dan nyaman untuk ditempati dan berkehidupan warga,” ucap Tri.

Panewu Berbah juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Padukuhan Pondok Kulon, dukuh, Lurah Kalitirto atas kerja keras dalam mempersiapkan dan melaksanan kegiatan berkaitan dengan upaya menata Kampung Hijau. Semangat berkegiatan juga dalam upaya memperingati Hari Jadi ke-109 Kabupaten Sleman.

“Harapannya setelah evaluasi warga menjadi lebih peduli kepada lingkungan, dan mengelola sampah lebih bersemangat,” tegasnya.

Lurah Kalitirto, Arihadi dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada tim juri semoga apa yang talang dilakukan warga mendapatkan apresiasi yang baik. Karena semua yang ditampilkan adalah cerminan tindakan dari warga. Bisa dilihat hamparan rumput dihalaman rumah dukuh Pondok Kulon yang hijau segar, tanaman di halaman sayuran dan tanaman obat dihalaman warga. Sebagai upaya pemanfaatan lahan kosong pekarangan sebagai upaya ketahanan pangan.

“Kami tidak mengada ada, adanya ya seperti byang terlihat dalam pandangan mata. Semua adalah warna hijau kesesuaian evaluasi Kampung Hijau,” pungkas lurah Kalitirto.

Dukuh Pondok Kulon, Riadi Purnawan dalam paparan menyampaikan bahwa pemanfaatan pekarang dengan menanam berbagai sayuran dan tanaman obat, budidaya lele dalan galon air mineral sebagai upaya mengurangi pengeluaran biaya dapur. Sedangkan untuk konservasi sumber air dilakukan dengan menanam tanaman keras yang bisa menyimpan air tanah. Pemakaian shower saat mandi juga penampungan sisa air wudhu merupakan upaya pemanfaatan dan penghematan air bersih.

“Di samping itu warga juga menanam sayuran atau tanaman yang bisa bermanfaat menjadi menjadi olahan yang bisa dinikmati sendiri ataupun dijual untuk menambah ekonomi keluarga. Seperti minuman menyegarkan dari lidah buaya. Hal itu dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT),” jelas Riadi. (Kusnadi / KIM Berbah)




Rakordasi Kader KB Kesehatan Kalurahan Condongcatur Tegaskan Komitmen dan Sinergitas Kader Posyandu

Sleman – Sebanyak 80 kader dari 40 Posyandu se-Kalurahan Condongcatur mengikuti Rapat Koordinasi dan Konsolidasi (Rakordasi) Kader KB Kesehatan yang digelar pada, Kamis (22/05/2025) di Ruang Wacana Loka, Kompleks Kalurahan Condongcatur.

Kegiatan ini dibuka oleh Kamituwa Condongcatur, Al Thovik Sofisalam yang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para kader atas dedikasi dan kerja keras mereka sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

“Kader KB dan kesehatan adalah ujung tombak pelayanan langsung kepada masyarakat. Terima kasih atas dedikasi yang luar biasa,” ungkapnya dalam sambutan.

Penyuluh KB Kapanewon Depok, Siti Juwariyah selaku narasumber pada kesempatan itu memberikan informasi terkait pelaksanaan Pendataan Keluarga (PK) tahun 2025 yang akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Ia mengajak seluruh kader untuk aktif mendukung kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan rencana pelaksanaan layanan KB gratis berupa pemasangan IUD dan implan yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2025.

Kabar menggembirakan juga datang dari KKB Condongcatur yang saat ini mewakili lomba di tingkat Provinsi DIY. “Alhamdulillah, Condongcatur berkesempatan mewakili DIY. Semoga memperoleh hasil terbaik,” ujar Siti Juwariyah.

Narasumber kedua dari Puskesmas Depok II, Pramidya Ujiana menyampaikan materi terkait kewaspadaan terhadap penyakit leptospirosis, program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG), serta upaya pencegahan dan penanganan Penyakit Tidak Menular (PTM).

Sementara narasumber ketiga ialah perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Winardi. Ia memaparkan materi mengenai Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) dan mekanisme Pengangkatan Anak sesuai PP Nomor 54 Tahun 2007 pasal 1 ayat 2. Ia menekankan bahwa permasalahan anak, baik dalam pengasuhan maupun lingkungan, perlu dicegah melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah kalurahan, dan aparat penegak hukum.

“Salah satu pendekatan pencegahan adalah melalui Therapeutic Community yang mencakup manajemen perubahan perilaku, emosi, intelektual, serta pengembangan life skill,” jelas Winardi.

Rakordasi ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dan kapasitas kader dalam mendukung program-program kesehatan dan sosial di tingkat kalurahan, serta menciptakan masyarakat yang lebih sehat, aman, dan sejahtera. (Tri Suhartati/ KIM Depok)




Sebanyak 25 Warga Gentan Ikuti Pelatihan Budidaya Ayam Joper

Sleman – Sebanyak 25 orang mendapat pelatihan sekaligus pendampingan budidaya ayam Jawa Super atau lebih dikenal dengan Joper (Jowo Super), dalam program sekolah lapang yang digelar di Gentan VI Padukuhan Tegal Gentan, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Rabu (21/5/2025).

Kegiatan ini berasal dari Pokir Dewan, yang bekerja sama dengan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman. Kegiatan pembukaan sekolah lapang tersebut dihadiri oleh Lurah Margoagung, anggota DPRD Kabupaten Sleman, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Kawat Kemakmuran dan Ketua KIM Kapanewon Seyegan.

Anggota DPRD Kabupaten Sleman dari Komisi C, Bambang Sigit Sulaksono dalam sambutannya menyampaikan peran lembaga legislatif dalam mendukung pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di Kabupaten Sleman. Bambang pun menyemangati para peserta untuk ikut berperan dalam pemenuhan protein hewani yang menjadi salah satu upaya menurunkan angka stunting. Demikian juga dengan pengelolaan yang baik sehingga budidaya ayam Joper ini tidak berhenti di 60 hari pertama pendampingan.

“Motivasi berwiraswasta harus kuat, mencapai keuntungan usaha menjadi target dan tidak gampang mengeluh bila harga turun,” pesan Bambang kepada peserta yang dibentuk menjadi satu kelompok tersebut.

Plt. Kepada Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto pada kesempatan yang sama menyampaikan bahwa keberlanjutan kegiatan ini menjadi target yang utama. Sehingga, prosesnya tidak berhenti pada kegiatan sekolah lapang saja.

“Kegiatan sekolah lapang budidaya ayam Joper ini biayanya mahal, sehingga diharapkan kelompok yang mendapat hibah ini serius dalam mengembangkan usaha. Sehingga mempunyai dampak dalam meningkatkan ekonomi keluarga,” jelas Rofiq.

“Kami harap dengan sekolah lapang ini target budidaya untuk 500 ekor ayam dengan berat 8 ons sampai 1 kg dapat tercapai. Jumlah pasokan pakan cukup untuk 60 hari, evaluasi budidaya per minggu bisa dilaksanakan dan perlunya menjaga hak hak pihak lain berkaitan dengan budidaya ayam, terutama masalah lingkungan,” tandasnya.

Ia pun mengingatkan kepada peserta bahwa budidaya ayam Joper ini merupakan bentuk dukungan menuju swasembada pangan, terlebih dalam rangka peningkatan gizi untuk mencegah stunting. Rofiq kemudian membuka secara resmi kegiatan sekolah lapang tersebut sekaligus penandatangan keberlanjutan usaha yang dibuat antara kelompok yang diwakili oleh Sarjono sebagai Ketua Kelompok dengan Anggita DPRD dan Dinas Pertanian.

Salah satu praktisi dari Super Farm, Muhammad Fadil Ilham menjadi pemateri pertama yang menyampaikan tentang peluang usaha ayam Joper. Fadil menjelaskan, menurut data konsumsi Indonesia, konsumsi ayam menempati rangking dua dengan prosentase 0,154 di bawah konsumsi telur yang mencapai 2,193. Adapun jenis ayam yang dikonsumsi ialah broiler, layer afkir, pejantan, kampung super atau Joper dan ayam kampung.

Fadil melanjutkan dengan Teknik pemeliharaan ayam Joper, mulai dari bertelur, pengeraman telur, pengasuhan anak sampai degan persiapan bertelur kembali. Kemudian penetasan, cara pembesaran anak, umur panen dan kebutuhan pakan. Sementara terkait persiapan kandang, Fadil mengingatkan untuk mengutamakan adanya sirkulasi udara, pencahayaan dan kondisi lantai yang bersih dan kering.

“14 – 21 hari pertama adalah masa kritis ayam, perlu pemanasan yang tepat karena berpengaruh terhadap daya serap makanan pada ayam,” jelas Fadil.

Diakhir materinya, Fadil mengulas tentang masalah utama peternak unggas yaitu berkaitan dengan tata niaga, permodalan, penyakit dan wabah, limbah dan lingkungan.

Selanjutnya, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Sri Haryantini menutup pertemuan pertama bagi kelompok budidaya ayam Joper tersebut dengan materi persiapan budidaya, yaitu tentang perkandangan ternak ayam. Sri Haryantini lebih banyak berdialog dengan peserta berkaitan dengan kandang yang akan dipersiapkan termasuk ukuran kandang, kondisi kandang dan fungsi kandang sendiri.

“Kelompok budidaya ayam Joper selama 60 hari ke depan akan didampingi oleh PPL, Dokter Hewan dan pengawas pakan,” jelasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Sleman Suguhkan Sinjang Matram dalam Gelaran Diplomasi Budaya

Sleman – Dalam rangka diplomasi budaya, kontingen Kabupaten Sleman siap menampilkan seni peragaan pada perhelatan Misi Kebudayaan ke Dalam dan Luar Negeri, yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah.

Tahun ini, kontingen Kabupaten Sleman mendapat kesempatan menampilkan seni peragaan busana dengan tajuk ‘Sinjang Matram’. Di mana, gladi bersih sekaligus pelepasan kontingen dilaksanakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Khunda Kabudayan) Sleman, Edy Winarya, di Balai Budaya Kalurahan Tamanmartani, Rabu (21/5/2025).

Gladi bersih ini juga dihadiri oleh Tim Monev Kalurahan Budaya, Tri Joko dan Kamituwa Tamanmartani, Awan Parades itu. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman dalam sambutanya berpesan agar para pelaku seni kontingen Kabupaten Sleman dapat tampil secara optimal.

“Karena dipundak kontingen itulah tersirat mandat serta kepercayaan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Sleman. Tampilan dengan maksimal, tunjukkan kemampuan berekspresi karena prestasi merupakan cermin harga diri,” kata Edy.

Sementara, Kepala Seksi Seni Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Bowo Laksono menyampaikan kegiatan tersebut merupakan program tahun 2025 dengan tujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan kekayaan seni budaya bangsa Indonesia, khususnya kesenian tradisional Kabupaten Sleman.

“Untuk itu Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman memacu dan memberikan ruang kreasi bagi seniman. Di samping itu juga bertujuan meningkatkan pengetahuan dan wawasan kebangsaan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Dalam penampilan yang dijadwalkan berlangsung tanggal 23 sampai 24 Mei 2025 di Anjungan DIY Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Kontingen Kabupaten Sleman menampilkan kemasan seni peragaan busana, yang didukung sepuluh pelaku seni dengan Sutra Dara Feri Catur Harjanto.

Dikisahkan, sinjang (Jarik) merupakan warisan Kerajaan Mataram. Sinjang merupakan kain panjang bermotif batik yang digunakan masyarakat Jawa dalam kontek pakaian adat. Setiap motif pada sinjang mempunyai arti dan makna doa dan harapan. Hal itu tidak terlepas dari sejarah dan filosofi.

Pada misi kebudayaan tahu 2025 kontingen Kabupaten Sleman akan mengeksplorasi filosofi sinjang motif parang, truntum dan kawung yang secara keseluruhan bermakna kehidupan, cinta dan kebijaksanaan. Digambarkan pula karena motif batik tidak lekang oleh waktu. Dengan tetap memiliki arti nilai tradisional, mendapat sentuhan karya modern, motif batik tetap menjadi saya tarik generasi muda dan menjadikan pula sebagai gaya hidup masyarakat. (KIM Kalasan-Tri Joko S)