Pemkab Sleman Resmikan Hasil Padat Karya Tahap I di Cangkringan

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman meresmikan hasil program Padat Karya Tahap I Tahun 2025 yang dilaksanakan di empat titik wilayah, dengan pusat peresmian berada di Padukuhan Salam, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Rabu (21/5/2025). Simbolisasi peresmian dilakukan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sleman, R. Haris Martapa, melalui pemecahan kendi.

Dalam sambutan yang dibacakan Haris, Bupati Sleman menekankan bahwa program padat karya merupakan wujud nyata pemberdayaan masyarakat dengan mengutamakan penggunaan sumber daya lokal, baik tenaga kerja maupun teknologi. Program ini bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi kemiskinan, serta mempercepat pembangunan infrastruktur secara partisipatif.

“Padat karya bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga upaya membangun kebersamaan, gotong-royong, dan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan,” ujar Haris.

Lebih lanjut, ia berharap program ini dapat memperkuat rasa tanggung jawab masyarakat terhadap fasilitas umum yang dibangun, karena pembangunan tersebut dilakukan melalui partisipasi warga setempat.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman, Sutiasih, menjelaskan bahwa hasil padat karya yang diresmikan mencakup pembangunan talud, jalan, dan cor blok. Lokasi-lokasi tersebut berada di empat kapanewon yaitu Kapanewon Cangkringan berupa Talud, jalan, dan cor blok di Salam, Kalurahan Wukirsari, dengan target seluas 103,25 m². Kemudian Kapanewon Prambanan berupa Cor blok jalan di Mlakan, Kalurahan Sambirejo, sepanjang 73,5 meter.

Berikutnya adalah Kapanewon Mlati berupa Saluran irigasi di Jodag, Kalurahan Sumberadi, sepanjang 101,07 meter. Terakhir adalah Kapanewon Tempel yaitu pembangunan Cor blok jalan di Jeglongan, Kalurahan Margorejo, seluas 109,4 m².

Menurut Sutiasih, proyek padat karya ini didanai melalui APBD Kabupaten Sleman dan melibatkan total 297 warga dari tujuh lokasi sasaran. Setiap lokasi melibatkan 42 orang tenaga kerja lokal yang diberi upah sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan dan perputaran ekonomi masyarakat.

“Manfaat dari program ini bukan hanya dari sisi infrastruktur yang dibangun, tapi juga dari pemberdayaan masyarakat yang mendapatkan penghasilan langsung, serta peningkatan akses ekonomi wilayah,” jelas Sutiasih.

Pemkab Sleman menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan program padat karya secara berkelanjutan dan menyasar lebih banyak wilayah. Program ini juga diarahkan untuk mendukung transformasi kalurahan menjadi lebih mandiri dengan ketahanan pangan yang kuat, konektivitas antarwilayah yang baik, serta lingkungan yang sehat dan berdaya saing.




Mewiru Kain, Merawat Budaya; Peran Pemuda dalam Melestarikan Warisan Leluhur

Sleman – Busana Mataraman bukan sekadar soal kain atau potongan pakaian. Melainkan sebuah simbol cara pandang hidup masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi keselarasan, kesopanan, dan keteraturan. Setiap detail dari busana ini, mulai dari blangkon, surjan, jarik, hingga kebaya klasik semuanya menyampaikan pesan moral dan etika. Generasi muda perlu memahaminya agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri. Memahami busana Mataraman sama artinya dengan memahami cara berpikir dan filosofi hidup para leluhur.

Dalam pemakaian jarik wiron yang rapi dan berlipat kecil, terdapat pesan tentang ketelitian dan ketekunan. Begitu pula pemakaian kebaya yang anggun namun sederhana, menunjukkan bahwa keindahan sejati tidak selalu datang dari kemewahan, melainkan dari sikap hidup yang santun dan bersahaja. Jika generasi muda hanya melihat busana adat sebagai kostum acara formal, mereka akan kehilangan pemahaman akan nilai-nilai ini.

Hal tersebut disampaikan Bondan Laras Madya selaku narasumber pelatihan panatacara hari ketiga yang diselenggarakan Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman yang berlangsung di Joglo Witana Puri Mataram, Tridadi, Kabupaten Sleman, Rabu (21/5/2025) kepada 25 anggota Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman.

Menurut Bondan, memahami busana Mataraman juga berarti menjaga identitas dan harga diri budaya bangsa. Di tengah pergaulan internasional, anak muda Indonesia tidak boleh minder terhadap budayanya sendiri.

“Justru dengan memahami dan mencintai budayanya, mereka bisa tampil percaya diri di kancah global. Seorang anak muda yang memahami arti blangkon atau makna batik parang memiliki modal lebih untuk berdialog dengan dunia, bukan sebagai peniru, tetapi sebagai pewaris peradaban,” ujarnya.

Disamping itu, pendidikan budaya yang inklusif dan menyenangkan bisa menjadi kunci. Sekolah dan komunitas perlu menciptakan ruang bagi anak muda untuk mengenal dan memaknai busana tradisional tanpa kesan paksaan. Kegiatan seperti kelas busana adat, peragaan busana bertema budaya, hingga lokakarya membatik atau membuat kebaya, bisa menjadi sarana edukasi yang membumi dan menyenangkan.

Keluarga pun memiliki peran penting dalam membentuk rasa cinta pada busana Mataraman. Dengan menanamkan kebiasaan mengenakan busana adat dalam momen keluarga, seperti saat lebaran, pernikahan, atau hari besar nasional, sehingga anak-anak akan tumbuh dengan kedekatan emosional terhadap budaya sendiri.

“Ketika rasa memiliki sudah tertanam, keinginan untuk mempelajari dan melestarikan akan tumbuh secara alami,” ujar Bondan.

Pada akhirnya, memahami busana Mataraman bukan soal kembali ke masa lalu, tapi tentang membawa nilai-nilai luhur ke masa depan. Generasi muda tidak harus meninggalkan modernitas untuk mencintai tradisinya. Justru dengan menjadi generasi yang melek budaya, mereka bisa menjadi jembatan antara akar dan langit, antara sejarah dan harapan.

Kali ini, peserta harus belajar mewiru kain jarik dan memakainya yang memiliki manfaat besar bagi generasi muda, terutama dalam membangun rasa cinta terhadap budaya sendiri. Mewiru atau melipat kain batik dengan pola yang rapi dan simetris, bukan hanya sekadar keterampilan teknis, tetapi juga latihan ketelitian dan kesabaran.

“Proses ini mengajarkan pemuda untuk menghargai detail dan menjaga kerapian, dua nilai yang penting dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Selain itu, mewiru dan mengenakan kain jarik juga membentuk rasa tanggung jawab budaya. Ketika seorang pemuda mampu memakai busana tradisional dengan baik, ia ikut serta dalam menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat modern. Kain jarik bukan hanya penutup tubuh, melainkan simbol filosofi hidup Jawa yakni keteraturan, keselarasan, dan keteguhan. Memakainya dengan benar adalah bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai tersebut.

Di sisi lain, mengenakan kain jarik juga dapat membangun kepercayaan diri. Banyak anak muda merasa malu atau tidak terbiasa mengenakan busana adat karena dianggap ketinggalan zaman. Padahal, saat dipakai dengan sikap yang percaya diri, kain jarik justru memberi kesan anggun, berwibawa, dan khas. Pemuda yang menguasai cara mewiru dan memakai jarik akan terlihat berbeda dan punya identitas yang kuat di tengah arus mode global.

Lebih dari itu, keterampilan ini juga bisa menjadi peluang kreatif dan ekonomi. Dengan memahami teknik dasar seperti mewiru, generasi muda bisa berkontribusi dalam industri fashion berbasis budaya. Jadi, belajar mewiru dan memakai jarik bukan hanya soal melestarikan tradisi, tapi juga membuka jalan menuju inovasi dan kebanggaan sebagai anak bangsa. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Pemerintah Kalurahan Condongcatur Gelar Rapat Koordinasi Rutin Satgas Kebencanaan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur melaksanakan rapat koordinasi rutin satgas kebencanaan yang terdiri dari unsur Desa Tangguh Bencana (Destana), Kampung Siaga Bencana (KSB), Perlindungan Masyarakat (Linmas), Satlinmas, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan relawan dari unsur masyarakat lainnya. Pertemuan ini berlangsung di Ruang Wacanaloka, Rabu (21/5/2025).

Rapat tersebut bertujuan untuk memperkuat sinergi antar unsur kebencanaan dalam menghadapi potensi ancaman serta meningkatkan efektivitas kerja tim di lapangan.

Dalam sambutannya, Jagabaya Kalurahan Condongcatur, Rudi Antariksawan menyampaikan apresiasinya kepada seluruh anggota satgas kebencanaan yang telah menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi.

“Kami mengucapkan terima kasih atas peran aktif dari anggota Destana, KSB, Linmas, dan relawan lainnya yang selama ini telah berkontribusi dalam berbagai kegiatan, seperti mitigasi bencana, pengamanan lingkungan, pengelolaan sampah, hingga pelayanan sosial seperti pengantaran pasien dan jenazah,” ujar Rudi.

Senada dengan itu, Komandan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Condongcatur, Sahid Fahrudin juga menyampaikan penghargaan dan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam hal fasilitas pendukung. “Masukan dari Bapak Ibu akan menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan mendatang,” katanya.

Sementara itu, Bhabinkamtibmas Bripka Bagiyo mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi kriminalitas, termasuk pencurian. Ia juga mensosialisasikan perubahan prosedur pembuatan SKCK yang kini bisa diakses secara daring melalui aplikasi Polri Presisi. “Bagi warga non-KTP DIY, tetap bisa menggunakan surat domisili,” jelasnya.

Ke depan, satgas kebencanaan akan menggelar patroli keamanan bersama dalam rangka menyambut Hari Libur Keagamaan. Selain itu, akan diadakan program edukasi kebencanaan di tingkat PAUD, TK, dan SD bekerja sama dengan para kepala sekolah se-Kalurahan Condongcatur.

Program edukasi ini bertujuan menanamkan kesadaran sejak dini kepada anak-anak dan masyarakat umum mengenai pentingnya ketahanan diri dalam menghadapi potensi bencana, termasuk bencana heterometeorologi lainnya. (Tri Suhartati / KIM Depok)




Wakili Sleman di Lomba Kalurahan Tingkat DIY 2025, Banyuraden Jalani Klarifikasi Lapangan

Sleman – Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, mewakili Kabupaten Sleman dalam Lomba Kalurahan dan Kelurahan Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun 2025. Penilaian klarifikasi lapangan oleh tim juri berlangsung pada Rabu (21/5/2025) di kantor Kalurahan Banyuraden.

Lomba tahun ini mengusung tema “Ketahanan Pangan Nasional Dimulai dari Swasembada Pangan,” sebagaimana ditetapkan Kementerian Dalam Negeri. Kepala Dinas PMK2PS DIY, KPH. Yudanegara, menyampaikan bahwa lomba ini bertujuan mendorong kreativitas dan inovasi pemerintahan kalurahan dalam meningkatkan kualitas layanan dan pembangunan di wilayahnya.

“Selain memotivasi percepatan pembangunan, lomba ini mendukung program nasional dalam mewujudkan ketahanan pangan dari tingkat lokal,” ujarnya.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, mengaku bangga Banyuraden bisa mewakili Sleman. Ia menilai ajang ini sebagai momentum evaluasi sekaligus pemicu semangat bagi jajaran pemerintah kalurahan untuk terus meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat.

“Partisipasi ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pelayanan yang bersih, sehat, dan berbasis inovasi,” tutur Danang.

Sebagai kalurahan terbaik di Sleman, Banyuraden tampil dengan berbagai inovasi yang relevan dengan tema lomba. Di antaranya adalah pengolahan sampah berbasis Teknologi Thermal Dekomposer, sebuah inovasi ramah lingkungan yang baru pertama kali diinisiasi di DIY.

Di sektor pangan, Banyuraden menjalankan program Lumbung Pangan Gadingan, yang dikelola langsung oleh Kelompok Tani dengan dukungan Kelompok Wanita Tani (KWT) Gapoktan Banyumeneng. Program ini berfokus pada optimalisasi sumber daya lokal demi mewujudkan swasembada pangan.

Tak hanya itu, Kalurahan Banyuraden juga menjalin kerja sama dengan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) untuk meluncurkan SIAP RADEN (Sistem Informasi Pertanahan Banyuraden). Program ini merupakan digitalisasi data pertanahan dalam bentuk peta interaktif guna memudahkan pelayanan dan akses informasi bagi warga.

Lomba Kalurahan dan Kelurahan DIY 2025 diikuti oleh empat kalurahan dan tiga kelurahan dari kabupaten/kota se-DIY. Nantinya, pemenang akan mewakili DIY dalam ajang tingkat regional.

Melalui berbagai inovasi tersebut, Kalurahan Banyuraden diharapkan mampu mengharumkan nama Sleman dan menjadi inspirasi bagi kalurahan lainnya dalam membangun desa yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing tinggi.




BPKal Condongcatur Gelar Jaring Aspirasi dengan Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan

Sleman – BPKal Condongcatur menggelar pertemuan Jaring Aspirasi dengan Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan, pada Rabu (21/05/2025) di Ruang Wacana Loka, Kompleks Kalurahan Condongcatur.

Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai perwakilan dari LKK yang ada di wilayah Kalurahan Condongcatur, perwakilan dari LPMKal, Pokja Kampung KB, Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), PKK, Paguyuban PAUD, Forum TPA, Karang Taruna, Forum Anak, Pokjanal Posyandu, dan lembaga-lembaga lainnya.

Ketua BPKal Condongcatur, H. Sunarto dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para perwakilan LKK dalam kegiatan siang hari ini. Ia menegaskan bahwa kegiatan penjaringan aspirasi ini sangat penting sebagai sarana untuk menampung masukan, usulan, dan permasalahan yang dihadapi masyarakat melalui lembaga-lembaga yang ada.

“Penjaringan aspirasi ini merupakan bagian dari proses perencanaan yang partisipatif agar pembangunan di Condongcatur benar-benar berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan Jaring Aspirasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, membangun sinergi dan koordinasi antar lembaga, serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam proses perencanaan di tingkat kalurahan.

Wakil Ketua BPKal Condongcatur, Novita Safitri  menuturkan melalui forum ini, BPKal diharapkan dapat menyerap aspirasi secara lebih menyeluruh dan merumuskan langkah-langkah strategis yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat Condongcatur.

“Penjaringan aspirasi ini merupakan bagian dari proses perencanaan yang partisipatif agar pembangunan di Condongcatur benar-benar berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat,” ujarnya.  (Tri Suhartati / KIM Depok)