Menggali Toponimi, Menjaga Jejak Sejarah Melalui Cerita Tutur

Sleman — Upaya pelestarian sejarah lokal terus digalakkan, salah satunya melalui penggalian toponimi atau asal-usul nama tempat. Pemerintah Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggandeng komunitas Pasbujo Kawi Merapi untuk memulai penulisan toponimi kampung-kampung yang ada di wilayah tersebut.
“Atas dasar pentingnya menjaga identitas dan warisan budaya lokal, kami memulai upaya mandiri ini untuk mendokumentasikan asal-usul nama kampung di Wedomartani,” ujar Kamituwa Kalurahan Wedomartani, H. Mujiburrohman dalam pertemuan penulis toponimi di Balai Kalurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Minggu (18/5/2025).
Toponimi, menurut Mujiburrohman, bukan sekadar penamaan tempat, melainkan bagian dari memori kolektif masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, karena minimnya dokumentasi tertulis dan bergantung pada cerita tutur, sejarah tersebut rawan hilang, apalagi seiring bertambahnya usia para sesepuh kampung.
Salah satu pendamping penulisan, Budi Sarjono, penulis senior yang dikenal dengan karya berbahasa Jawa dan Indonesia, menyampaikan bahwa menulis toponimi membutuhkan kepekaan dan intuisi layaknya menulis karya sastra.
“Kemampuan menyatukan informasi dari narasumber, artefak, dan referensi lain menjadi narasi utuh sangat penting. Penulis toponimi harus cermat dan kreatif,” ungkap Budi, yang akrab disapa BudSar.
Ia menambahkan, gaya penulisan toponimi mengadopsi pendekatan feature: bebas, informatif, menghibur, bahkan bisa subyektif, namun tetap mengedepankan kaidah jurnalistik 5W+1H (what, who, when, where, why, how).
“Dalam menulis toponimi, tidak perlu menyebut ‘aku’ atau ‘penulis’, juga tidak perlu menceritakan perjalanan mencari data. Tetap hormati narasumber, jangan menyanggah cerita yang disampaikan,” tegas BudSar.
Pendamping lain, Nyadi Kasmoredjo, menegaskan bahwa setiap tulisan toponimi dibatasi maksimal kata. Oleh karena itu, materi yang ditulis harus terpilih dan representatif. Ia juga mengingatkan agar penulis tidak mencantumkan batas wilayah dusun atau informasi administratif lain yang menjadi wewenang pemerintah kalurahan.
“Judul sebaiknya singkat, informatif, dan menarik agar memicu rasa penasaran pembaca. Kalimat pembuka juga harus kuat karena akan menentukan apakah tulisan dibaca hingga akhir,” ujarnya.
Hal ini diamini oleh pendamping lainnya, Toto Sugiarto, yang turut memberikan arahan teknis dalam penulisan.
Melalui program ini, Kalurahan Wedomartani berharap dapat menyelamatkan sejarah lokal dari kepunahan. Cerita-cerita masa lalu yang selama ini hanya hidup dari mulut ke mulut, kini mulai ditulis dan didokumentasikan untuk diwariskan kepada generasi mendatang. (Kusnadi/KIM Berbah)



