Strategi Pengelolaan KIM yang Efektif, Kunci Hadapi Tantangan Informasi di Era Digital

Sleman – Di tengah derasnya arus informasi digital, peran Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi semakin strategis. Namun, agar tetap relevan dan berdaya guna, KIM membutuhkan strategi pengelolaan yang efektif, sistematis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Untuk memperkuat peran KIM sebagai wadah diseminasi informasi dan aspirasi publik, Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan peningkatan kapasitas bagi para pegiat informasi di Aula Kresna Dinas Kominfo DIY, Jumat (16/5/2025). Kegiatan ini menghadirkan Ketua Forum KIM Sembada Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahjo, sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Adnan menekankan bahwa pengelolaan KIM tidak sekadar urusan administratif, tetapi mencakup kemampuan membangun jejaring, manajemen konten, dan pemanfaatan teknologi informasi yang tepat. “Tanpa strategi yang terarah, KIM bisa kehilangan relevansi dan hanya menjadi nama tanpa fungsi di tengah gempuran informasi digital,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa keberagaman karakteristik masyarakat menjadi salah satu tantangan utama. Karena itu, KIM perlu melakukan pemetaan kebutuhan informasi secara akurat agar pesan yang disampaikan benar-benar kontekstual dan mudah dipahami oleh warga.
Adnan juga menegaskan pentingnya peran KIM dalam literasi informasi di tingkat kalurahan maupun kapanewon. KIM bukan hanya bertugas menyebarkan informasi, tetapi juga menyaring, mengelola, dan menyampaikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan lokal. “Inilah pentingnya strategi pengelolaan yang terarah dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Pengembangan sumber daya manusia menjadi aspek penting lainnya. Pengurus dan anggota KIM perlu dibekali keterampilan komunikasi publik, penulisan berita, pembuatan konten kreatif, dan pemahaman dasar jurnalistik warga. Ia mendorong pelatihan dilakukan secara rutin, baik oleh dinas terkait maupun mitra lembaga lain.
Pemanfaatan teknologi digital juga menjadi keharusan. KIM harus aktif masuk ke ruang-ruang digital tempat masyarakat berinteraksi, seperti media sosial, grup WhatsApp, kanal YouTube, dan podcast lokal. “Ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan keniscayaan jika KIM ingin menjangkau generasi muda dan tetap eksis,” tambahnya.
Adnan mencontohkan praktik baik yang dilakukan sejumlah KIM di Kabupaten Sleman yang bekerja sama dengan Puskesmas dalam menyosialisasikan program imunisasi. Mereka membuat konten edukatif berbasis lokal, menyebarkannya melalui grup WhatsApp warga, bahkan memproduksi video testimoni dari penerima manfaat. “Strategi ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan spanduk atau baliho,” imbuhnya.
Meski demikian, teknologi saja tidak cukup. KIM harus memperkuat jaringan dan kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti pemerintah kalurahan, BUMKal, media lokal, komunitas pemuda, hingga perguruan tinggi. Melalui kemitraan yang luas, KIM dapat memperluas dampak dan memperoleh dukungan dalam bentuk pelatihan, pendanaan, hingga distribusi informasi.
Dengan strategi pengelolaan yang tepat, KIM diyakini mampu menjadi ujung tombak literasi informasi di masyarakat serta mitra strategis pemerintah dalam pembangunan berbasis data dan komunikasi yang efektif. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)



