Outbond Area Menjadi Tempat Layanan Pengelolaan Sampah di Ruang Publik

Sleman – Pulesari sebuah desa wisata di kawasan Sleman utara, yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga wahana outbond yang mengasikkan. Di mana, desa wista ini tergolong tidak pernah sepi pengunjung.  

Potensi inilah yang mendorong pengelola desa wisata Pulesari untuk meningkatkan layanan pengelolaan sampah di ruang publik. Keterlibatan semua warga yang tersebar di dua RT dan 1 RW dalam satu dusun ini, menjadi modal tersendiri berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat.

Hal inilah yang dilontarkan oleh Sutarto Agus selalu narasumber pada kegiatan sosialisasi Pengelolaan sampah yang difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman pada hari Rabu (14/5/2025) di Pendopo 4 “Cipto Karyo” Dusun Pulesari, Padukuhan Becici, Kalurahan Wonokerto Kapanewon Turi.

Pada kesempatan itu, Sutarto mengajak untuk cheklist sarana pengelolaan sampah mulai dari rumah, kampung atau dusun, ruang publik, dan tempat kerja. Dari kegiatan tersebut, bisa terlihat prasarana penunjang yang belum terfasilitasi dalam menunjang layanan pengelolaan sampah.

Berdasarkan Perda Kabupaten Sleman Nomor 4 tahun 2015 tantang pengelolaan sampah rumah tangga menjadi pijakan dalam pengelolaan sampah secara paripurna. Pengurangan sampah dengan 3 R dan penanganan sampah dengan pemilahan menjadi kata kunci dalam penjabaran Perda tersebut. Perda ini juga mengakomodir pembentukan KSM di tingkat RT/RW/Padukuhan, metode pengelolaan sampah yang disepakati, kerja sama dengan pemerintah dan kerja sama dengan pihak ketiga atau pengepul.

“Perda Nomor 4 tahun 2015 ini semangatnya sama dengan SE Nomor 0350 tahun 2024 tentang pengurangan dan penanganan sampah,” jelas Sutarto.

Pulesari sendiri sudah sejak lama mempunyai lembaga Bank Sampah yang diberi nama Dewi Pule. Namun karena terjadi permasalahan dengan pihak ketiga, kegiatannya menjadi vakum. Sosialisasi yang diadakan sekarang diharapkan membangkitkan kembali semangat pengelolaan sampahnya sehingga dapat menunjang kegiatan outbond yang sudah menjadi trademark Pulesari.

Sutarto juga menyinggung tentang kegiatan ketrampilan daur ulang yang bisa menjadi nilai tambah bagi pulesari sebagai destinasi wisata outbond. Penduduk sekitar banyak yang membuka gerai untuk menjajakan produk kuliner dan buah lokal di area sekitar outbond. Kondisi yang demikian memungkinkan untuk menjajakan juga produk keterampilan daur ulang dari sampah.

“Ibu-ibu bisa menitipkan produk daur ulangnya pada gerai yang dikelola oleh masyarakat, dan ini bisa menjadi kegiatan yang inovatif,” tambah Sutarto.

Sutarto kemudian menjelaskan cara pengelolaan sampah organik dengan teknologi tepat guna yang selain mudah, murah juga langsung bisa dipraktekkan. Pengelolaan sampah organik ini dipilih karena selama ini sampah organik belum terkelola dengan baik.

Diakhir paparannya, Sutarto sampaikan juga tentang pemanfaatan kompos untuk kegiatan budidaya tanaman sayur, tanaman hias dan tanaman obat yang dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT).

“Ini tentu bisa menjadi daya tarik dan ajang edukasi bagi pengunjung dan sekaligus bisa jadi oleh-oleh yang bisa dibawa pulang serta diduplikasi oleh pengunjung,” ujarnya. (Sutarto Agus/Kim Seyegan)




UNJAYA Yogyakarta Serahkan Mahasiswa PKL

Sleman – Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJAYA) Yogyakarta secara resmi menyerahkan mahasiwa untuk melaksakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Padukuhan Baran, Kalurahan Kalitirto, Kapanewon Berbah, pada Rabu (14/05/2025) bertempat di Pendopo Guyubrukun Padukuhan Baran.

Acara itu pun dihadiri oleh para kader KB Padukuhan Baran, Karang Taruna, BKR, RT, RW Padukuhan Baran, Lurah Kalitirto, perwakilan Kapanewon Berbah, dan Puskesmas Berbah.

Salah satu dosen pembimbing, Sujono Riyadi yang menyertai para mahasiswa dalam kata pengantarnya menyampaikan bahwa jurusan S1 Keperawatan UNJAYA Prodi Profesi Ners Angkatan XXIII Stase Keperawatan Komunitas dan Keperawatan Keluarga, dalam melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi diwajibkan untuk melaksakan praktik kerja lapangan. 

“Selanjutnya mohon ijin agar para mahasiswa dapat diterima untuk membersamai kegiatan masyarakat padukuhan Baran terutama terkait keperawatan komunitas, untuk memotret perilaku sehat atau tidak sehat, serta mohon bimbingan dan tegurannya agar dapat berkolaborasi dengan baik dengan masyarakat, untuk memperoleh hasil yang maksimal,” ujar Sujono.

Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Berebah, Andi Kurniawan yang mewakili Panewu Berbah berpesan agar para mahasiswa mendapat kesempatan untuk melengkapi dan menambah wawasan. Salah satunya dengan berinteraksi dan melayani masyarakat secara baik.

Mewakili Kepala Puskesmas Berbah, Kezia Diah Purnama menuturkan nantinya semua kegiatan yang akan dilakukan oleh mahasiswa bersama Puskesmas Berbah. Di mana, akan ada sejumlah program yang dilangsungkan di padukuhan tersebut.

“Padukuhan Baran dipilih karena adanya beberapa kegiatan pendukung yang berjalan dengan baik, seperti Kampung Keluarga Berencana, Bina Keluarga Remaja, Bina Keluarga Lansia. Di samping kegiatan rutin yang dilakukan setiap bulan yaitu pemeriksaan balita dan lansia,” ungkap Kezia.

“Ada program baru cek kesehatan gratis yang belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat,” sambungnya.  (M.A. Sanusi / KIM Tirto Gumregah Berbah)




Perkuat Layanan Hukum, Pemkab Sleman Teken MoU dengan Kejari

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman menjalin kerja sama dengan Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman dalam upaya memperkuat penyelenggaraan layanan hukum. Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Aula Kejari Sleman, Rabu (14/5).

MoU ditandatangani langsung oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya dan Kepala Kejari Sleman Bambang Yunianto. Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan daerah agar berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Langkah ini merupakan upaya preventif agar kegiatan perangkat daerah dapat terlaksana secara tepat waktu, tepat mutu, dan sesuai aturan,” kata Bupati Harda dalam sambutannya.

Harda menambahkan, kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari strategi memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah dan kejaksaan dalam memberikan layanan hukum yang transparan dan akuntabel kepada masyarakat.

Ia turut mendorong para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) untuk aktif berkonsultasi dan menjalin komunikasi dengan Kejari dalam pelaksanaan tugas yang berkaitan dengan aspek hukum.

Senada dengan itu, Kepala Kejari Sleman Bambang Yunianto berharap kerja sama ini dapat meningkatkan sinergi antara lembaga dalam mendukung pembangunan daerah.

“Kami berupaya melakukan pencegahan sedini mungkin agar pelaksanaan program dan kegiatan pemerintah berjalan optimal dan sesuai harapan,” ujarnya.

Sebagai bentuk apresiasi, dalam kesempatan yang sama Bupati Sleman juga menyerahkan piagam penghargaan kepada Kejari Sleman atas perannya sebagai mitra pendamping hukum Pemkab Sleman sepanjang tahun 2024. Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah kepala OPD di lingkungan Pemkab Sleman.




Umat Buddha Adakan Doa Syukur Hari Jadi Ke-109 Kabupaten Sleman

Pemkab Sleman kembali mengadakan acara doa syukur lintas agama dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-109 Kabupaten Sleman. Pada Senin (12/5) malam, doa syukur diadakan oleh umat Buddha bertempat di Vihara Karangdjati, Sinduadi, Mlati, Sleman.

Hadir pada acara tersebut Bupati Sleman, Harda Kiswaya, berserta jajaran. Pada acara tersebut dilakukan prosesi doa dan ibadah oleh umat Buddha yang hadir, serta acara seremonial potong tumpeng.

Harda mengucapkan terima kasih serta apresiasi kepada umat Buddha yang turut memberikan doa syukur pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman ini. Ia juga mengajak umat Buddha yang ada di Kabupaten Sleman untuk bersama-sama berkontribusi membangun Kabupaten Sleman agar lebih maju dan sejahtera.

“Saya yakin kehidupan beragama di Kabupaten Sleman ini bisa aman, nyaman dan tentram. Untuk itu, mari bahu-membahu memajukan Kabupaten Sleman,” ujarnya.

Sementara Totok Tejamano, (Romo Totok), Ketua Vihara Karangdjati, juga mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Sleman atas perhatian dan kepeduliannya terhadap umat Buddha yang ada di Kabupaten Sleman. Ia berharap Kabupaten Sleman bisa terus menjadi rumah bersama bagi semua Suku Agama Ras dan Antar golongan.

“Yaitu rumah yang inklusif bagi siapa pun tinggal di sini bisa aman, nyaman, tentram, masyarakatnya sejahtera, bisa rukun membangun Sleman,” imbuh Romo Totok.

Sebelumnya acara doa syukur lintas agama telah dilaksanakan bagi umat Nasrani pada Jumat 25 April 2025, di Goa Maria Jatiningsih, Moyudan. Lalu dilanjutkan doa syukur umat Islam pada hari Jumat 9 Mei 2025 bertempat di masjid agung Wahidin Sudirohusodo Sleman, dan doa syukur umat Hindu pada Senin sore tanggal 12 Maret 2025 yang dilaksanakan di Pura Sri Gading, Margodadi, Seyegan.




Pemkab Sleman Gelar Operasi Katarak Gratis Dalam Rangka Hari Jadi ke 109 Kabupaten Sleman

Sleman – Memperingati Hari Jadi Sleman ke-109, Pemerintah Kabupaten Sleman bekerjasama dengan RSUD Sleman dan Baznas menggelar Bakti Sosial Operasi Mata Katarak Gratis pada Minggu, (11/5) di RSUD Sleman. Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa hadir dan meninjau secara langsung pelaksanaan bakti sosial ini.

Pada kesempatan tersebut Danang juga secara simbolis menyerahkan paket obat bagi penerima manfaat operasi mata katarak gratis dalam rangka bakti sosial hari jadi Sleman ke-109.

Danang menyampaikan, kegiatan bakti sosial ini adalah wujud komitmen Pemkab Sleman dalam memberikan fasilitasi kesehatan kepada penderita katarak yang mayoritas merupakan lansia di Kabupaten Sleman.

“Saya harap dapat bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan dan kedepan dapat terus berlanjut bahkan ditingkatkan baik dari sisi jumlah penerima manfaat maupun kualitas pelayanannya,” kata Danang

Lebih lanjut, Danang mengapresiasi seluruh panitia dan tenaga kesehatan yang berkontribusi dalam menyelenggarakan bakti sosial operasi katarak gratis ini. Dengan tema hari jadi Sleman ke 109 “Gumolong Hanggayuh Mukti” menjadi semangat dan motivasi untuk membangun Sleman lebih maju dan sejahtera.

Ketua Panitia Hari Jadi Sleman ke-109, Eka Suryo Prihantoro melaporkan kegiatan ini merupakan rangkaian bakti sosial dalam rangka Hari Jadi Sleman ke-109. Sebelumnya telah dilaksanakan bakti sosial khitan massal, bedah rumah, bantuan anak yatim, dan pemberian sembako kepada masyarakat kurang mampu sebanyak paket.

“Target pasien untuk operasi mata katarak gratis pada hari yakni 30 pasien dan pasien yang memenuhi syarat yakni 15 pasien. Lebih banyak dari tahun sebelumnya,” ujar Eka

Ia menambahkan kegiatan ini dimaksudkan untuk meringankan beban masyarakat agar dapat beraktivitas seperti sedia kala sekaligus merekatkan silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat.

Direktur RSUD Sleman, Novita Krisnaeni menyampaikan katarak merupakan kondisi medis yang menjadi penyebab banyak kasus kebutaan di seluruh dunia. Sering kali katarak disebabkan karena faktor usia. Oleh karenanya RSUD Sleman berterimakasih untuk dapat dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan bakti sosial ini. Ia berharap dapat membantu masyarakat mengembalikan penglihatan pasien sehingga mampu beraktivitas seperti sedia kala dan menunjang kualitas hidup.