Launching PAKISKU MERAH, Kapanewon Seyegan Berkomitmen Turunkan Stunting

Sleman – Dalam rangka mempercepat penurunan angka stunting di Wilayah Kapanewon Seyegan, Jum’at (9/5/2025) digelar launching program ‘PAKISKU MERAH’ yaitu Perbaikan Akses Air Bersih dan Perilaku Merokok di Rumah untuk Penanggulangan Stunting. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula lantai II Kapanewon Seyegan tersebut dihadiri oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Forkompinda Kapanewon Seyegan, Danramil, Kapolsek, Lurah, PKK Kapanewon Seyegan, Kepala Sekolah SMP/SMA Se Kapanewon Seyegan dan berbagai stakeholder terkait.

Panewu Seyegan, Samino, dalam laporannya menyampaikan bahwa angka stunting di Kapanewon Seyegan telah menunjukkan penurunan yang signifikan dalam tiga tahun terakhir, yaitu dari 8,13% pada tahun 2021 menjadi 7,08% pada tahun 2024. Meskipun demikian, angka ini masih cukup tinggi dibandingkan dengan Kapanewon lainnya di Sleman.

Selama ini, Kapanewon Seyegan telah melakukan berbagai langkah pencegahan stunting, seperti pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan kesehatan ibu hamil di posyandu, dan konsultasi perkawinan. Khusus untuk program PAKISKU MERAH ini, difokuskan pada intervensi determinan perilaku, seperti penyediaan air bersih dan perilaku merokok.

“Air bersih dan perilaku merokok adalah dua faktor penting yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat,” ujar Samino.

“Dukungan angka stunting di Seyegan bisa terus turun dengan cara tidak merokok di tempat-tempat umum agar menjaga anak-anak dan ibu hamil,” sambungnya.

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman, Suparmono menyampaikan seruan agar masyarakat meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan air dan lingkungan.

“Kita perlu mengkampanyekan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya air bersih dan perilaku hidup sehat sebagai faktor dominan terjadinya stunting,” ujarnya

Dalam rangka mendukung program ini, Kapanewon Seyegan juga berencana mengalokasikan anggaran untuk perbaikan jalan dan jamban pada tahun 2025. Target program ini adalah orang tua, kalangan milenial, dan generasi z. Dengan menggunakan video pendek sebagai sarana edukasi tersebut tidak saja substansinya yang mengena tapi juga metode penyampaiannya dirasakan dekat dengan generasi milenial.

Dengan launching Video Edukasi Pakisku Merah ini, Kapanewon Seyegan menunjukkan komitmennya dalam menurunkan angka stunting dan meningkatkan kesehatan masyarakat. ( ilham Agus/KIM Seyegan)




Gelar Studi Banding di Lombok, Condongcatur Komitmen Tingkatkan Kapasitas Pamong dan Lembaga Kalurahan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur melaksanakan kegiatan Studi Banding dan Peningkatan Kapasitas Pamong dan Lembaga Kalurahan Condongcatur di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, yakni tanggal 9 sampai dengan 11 Mei 2025.

Sebanyak 45 peserta yang terdiri dari Lurah beserta Pamong Kalurahan, Ketua TP PPK, Ketua LPMKal dan Ketua Karangtaruna Condongcatur, didampingi oleh Panewu Depok, Kepala Jawatan Praja Kapanewon Depok, dan Pendamping Desa.

Jagababaya Condongcatur, Rudi Antariksawan selaku pengampu bidang kegiatan menjelaskan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan pamong kalurahan dan lembaga agar dalam pelaksanaan tugas dan fungsingnya dapat lebih berdayaguna, profesional dan optimal.

Selain itu, studi banding ini juga sebagai salah satu cara untuk memahami lebih dalam tentang manajemen administrasi pemerintah kalurahan, kearifan lokal, dan pelestarian lingkungan hidup. Kemudian mempererat solidaritas dan hubungan kerja pamong kaluarahan.

“Capacity building ini telah direncanakan satu tahun sebelumnya yang dianggarkan dalam APBKal tahun 2025 dan pelaksanaan kegiatan telah mendapat izin dari Pemerintah Kabupaten Sleman Nomor 141 / 1221 tanggal 17 April 2025. Di mana, pelaksanaan kegiatan tidak menganggu atau menghentikan pelayanan di pemerintah kalurahan kepada masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan tetap berjalan, karena lima pamong kita tinggal untuk tetap memberi pelayanan umum di kantor kalurahan kepada masyarakat,” jelasnya.

Kegiatan capacity building kali ini melakukan kunjungan studi banding di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB. Dilanjutkan dengan kunjungan kerja, diskusi dan studi orientasi di Kampung Tenun Sukarara. Kemudian meeting peningkatan kapasitas dengan narasumber Panewu Depok dan Kepala jawatan Praja Kapanewon Depok, serta mengunjungi sejumlah destinasi wisata setempat.

Desa Adat Sukarara Lombok menjadi salah satu desa yang menghasilkan karya kain tenun Lombok. Sebagian besar masyarakat Desa Sukarara merupakan penghasil kerajinan tenun songket khas Pulau Lombok yang sangat terkenal. Kain tenun yang dibuat di desa ini ditenun secara langsung oleh perempuan yang ada di desa ini. Di mana, perempuan-perempuan Sukarara diharuskan bisa menenun. Keharusan tersebut dianggap sebagai cara menjaga budaya nenek moyang dengan membuat suatu peraturan kepada seluruh masyarakat yang bernuansa kearifan lokal.

Proses pembuatan kain tenun di tempat ini dilakukan secara tradisional dengan bahan pewarna alami, sehingga kain yang dihasilkan sangat cantik dan indah. Kain tenun yang diproduksi pun kebanyakan songket, yang sudah banyak dipasarkan secara internasional.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji saat acara peningkatan kapasitas di Ballroom Prime Park Hotel & Convention Lombok mengungkapkan bahwa peningkatan kapasitas ini bukan hanya hadir untuk sekadar mengikuti acara formal, tetapi sebagai satu keluarga besar Kalurahan Condongcatur yang memiliki tekad, visi, dan misi yang sama untuk menjadikan Condongcatur sebagai kelurahan yang tangguh, berdaya saing, dan menjadi teladan di Kabupaten Sleman bahkan di tingkat nasional.

“Saya ingin menekankan bahwa kekuatan kita bukan hanya pada fasilitas, program, atau teknologi. Kekuatan utama kita ada pada manusia, pada kekompakan pamong, keteguhan para dukuh, ketulusan para staf, dan kolaborasi dengan seluruh lembaga-lembaga kemasyarakatan baik PKK, Karang Taruna, LPMK, BKM, FPRB, Linmas, dan lainnya,” kata Reno.

“Kita ini adalah satu tim dan tim yang hebat bukanlah tim tanpa masalah, tetapi tim yang mampu menyelesaikan masalah bersama-sama dalam sebuah tim. Tidak ada yang paling penting atau paling kecil, semua saling melengkapi. Seorang dukuh yang hadir di tengah masyarakat, staf yang melayani warga dengan senyum tulus, atau lembaga yang bergerak tanpa pamrih karena semua memiliki peran luar biasa,” sambungnya.

Lurah Condongcatur pun mengajak untuk terus menjaga dan membangun solidaritas, menjaga komunikasi, menghilangkan ego sektoral, dan menjadikan semangat gotong royong sebagai napas setiap program dan pelayanan.

“Bila hari ini kita kuat sebagai satu tim, maka saya yakin dalam kondisi apapun, Condongcatur akan tetap tangguh. Tangguh secara pelayanan, tangguh secara sosial, dan tangguh dalam menghadapi tantangan zaman, semoga acara ini menjadi titik awal semangat baru bagi kita semua. Mari terus bergerak, berinovasi, dan melayani dengan hati. Karena kita bukan sekadar pamong, bukan sekadar aparat, kita adalah pengabdi masyarakat dan pengabdian itu mulia,” pungkas Reno.

Sementara itu Panewu Depok, Wawan Widiyantoro, dalam sambutan dan motivasinya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Kalurahan Condongcatur yang selama ini telah menunjukkan komitmen yang tinggi untuk melayani masyarakat dengan baik dan berhasil meraih prestasi terbaik di Kabupaten Sleman pada lomba Kalurahan Inovatif tahun 2024 yang lalu. Panewu Depok berharap pamong dan staf serta semua lembaga kemasyarakatan kalurahan terus bersinergi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menjadi pamong dan pengurus Lembaga yang memiliki “nilai” yaitu melaksanakan tugas sejalan bahkan melebihi harapan masyarakat Condongcatur

“Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan terus melakukan inovasi dalam melaksanakan tugas fungsinya. Situasi kerja yang kondusif, literasi data yang baik serta mampu menemukan akar masalah yan di hadapi masyarakta adalah kunci untuk melahirkan inovasi di kalurahan,“ pesanya. (Wasana / KIM Depok)




Muskercab GP Ansor Sleman; Satu Barisan Membangun Negeri Menuju Ansor Masa Depan

Sleman – Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) merupakan momentum strategis bagi Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman untuk memperkuat arah gerakan organisasi. Dalam forum ini, seluruh jajaran kepengurusan duduk bersama menyusun program kerja berdasarkan kebutuhan riil organisasi dan dinamika kekinian. Tanpa adanya musyawarah kerja, gerak organisasi bisa kehilangan arah dan menjadi tidak relevan dengan tantangan zaman.

Melalui Muskercab yang digelar di Wisma Sembada, Kaliurang, Kabupaten Sleman, Sabtu malam (10/5/2025), Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sleman dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program kerja sebelumnya. Evaluasi ini penting agar organisasi bisa belajar dari pengalaman, mengidentifikasi kekurangan, dan memperbaiki pola kerja yang belum efektif. Dari hasil evaluasi tersebut, perencanaan program ke depan bisa lebih terukur, terarah, serta berdampak nyata bagi organisasi dan masyarakat.

Mengangkat tema ‘Satu Barisan Membangun Negeri Menuju Ansor Masa Depan’ musyawarah kerja cabang kali ini tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi. Tema tersebut mencerminkan semangat persatuan dan komitmen Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman dalam partisipasinya membangun bangsa, khususnya melalui kerja sosial keagamaan, pemberdayaan pemuda, dan penguatan kapasitas kader di berbagai sektor strategis.

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman, H.M. Najib Yuliantoro dalam sambutannya menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya harus terus adaptif dan relevan. Harapannya, GP Ansor Sleman harus bergerak taktis dan visioner, tidak boleh hanya berjalan, melainkan harus berlari mengejar perubahan. Karenanya, lewat musyawarah kerja ini dapat menyatukan langkah, memperkuat barisan, dan menyusun strategi yang konkret untuk masa depan.

Ia menyebutkan, Muskercab adalah ruang konsolidasi ide dan energi. Sebagai wadah untuk menakar capaian, mengevaluasi langkah, dan menyusun program kerja ke depan yang relevan, terukur, dan berdampak.

“Mari kita jadikan forum ini sebagai ajang penyatuan semangat, memperkuat kolaborasi antar bidang, serta membangun komitmen bersama agar Ansor Sleman terus hadir dan tumbuh memberi manfaat di tengah masyarakat,” ajaknya.

Agenda mencakup evaluasi program kerja sebelumnya, pemaparan program kerja masing-masing bidang yang melibatkan dewan penasehat, pengurus harian, pengurus bidang, dan Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Kabupaten Sleman. Diskusi berlangsung hangat, namun tetap dalam bingkai ukhuwah dan semangat gotong royong. Para peserta tidak hanya menyampaikan gagasan, namun juga solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi di tingkat akar rumput.

Di tengah sesi diskusi, muncul berbagai gagasan progresif dari para kader. Ada yang mengusulkan penguatan literasi digital dan pemanfaatan media sosial untuk dakwah kebangsaan, ada pula yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, hingga komunitas-komunitas kreatif lokal. Semua ide itu terangkum dalam satu semangat mewujudkan Ansor yang responsif dan solutif.

Forum ini juga berfungsi sebagai media konsolidasi antar struktur, baik di tingkat cabang, anak cabang, hingga ranting. Musyawarah kerja menjadi wadah untuk menyamakan persepsi dan memperkuat soliditas barisan agar seluruh kader bergerak dalam satu arah yang selaras. Sehingga, semangat satu barisan membangun negeri bukan hanya slogan saja, namun menjadi ruh utama dalam merancang langkah-langkah nyata organisasi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Slawatan Jowo Mlangi sebagai Titik Temu antara Tradisi dan Masa Depan

Sleman – Mlangi adalah desa yang telah lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam dan budaya Jawa di Yogyakarta. Di tengah kepungan perkembangan kota, Mlangi tetap menyimpan denyut tradisi. Di sinilah pesantren-pesantren berdiri, tak hanya sebagai tempat mengaji kitab kuning, tetapi juga sebagai benteng pelestarian budaya lokal, termasuk tradisi slawatan. Di sela waktu antara salat dan belajar, para santri berkumpul untuk bershalawat dengan iringan alat musik tradisional yang khas, berbeda dengan slawatan Arab yang biasa terdengar di banyak pesantren lain.

Tradisi ngelik dalam Slawatan Jowo Mlangi yang digelar dalam menyemarakkan festival Mlangi di lapangan Yayasan Nur Iman Mlangi, Sabtu siang (10/5/2025) bukan sekadar pola musikal. Melainkan sebagai simbol pergeseran yang halus namun mendalam dari bait-bait pujian Nabi Muhammad SAW yang dilantunkan dalam pola repetitif menuju klimaks yang penuh makna.

Dalam struktur musikal Jawa, ngelik mencerminkan perubahan dan pencerahan. Ini sejatinya menjadi metafora perjalanan manusia dalam meniti hidup dari rutinitas menuju kesadaran, dan dari tradisi menuju pembaruan.

Di kalangan santri Mlangi, slawatan bukan sekadar ritual ibadah. Slawatan menjadi ruang perjumpaan antara spiritualitas dan kreativitas. Anak-anak muda dilibatkan dalam proses kreatif mulai dari penyusunan lirik, pengaturan nada, hingga penggunaan teknologi sederhana untuk mendokumentasikan dan menyebarkan karyanya ke media sosial. Inilah bentuk adaptasi tradisi dengan bahasa zaman yang menghidupkan nilai lama dalam wajah baru.

Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kapanewon Gamping, KH. Ahmad Mabarun menjelaskan bahwa dalam proses pelaksanaannya, para santri muda tak hanya dilatih untuk melafalkan slawatan, tetapi juga memahami makna tiap baitnya. Mereka juga diajak untuk ikut menyusun lirik baru yang relevan dengan tantangan zaman. Misalnya, dalam beberapa pertunjukan, slawatan disisipkan pesan tentang menjaga alam, menjauhi narkoba, hingga pentingnya menghormati orang tua. Semua itu dikemas dalam bahasa Jawa halus dan musikalitas yang tetap syahdu.

“Sehingga dengan begitu, slawatan menjadi sarana dakwah yang adaptif namun tetap berakar,” tutur KH. Mabarun.

Salah satu momen penting dalam revitalisasi slawatan Mlangi terjadi ketika para santri mendokumentasikan kegiatan dan mengunggahnya ke youtube. Respons yang muncul di luar dugaan. Banyak komentar datang dari masyarakat urban hingga diaspora Indonesia di luar negeri yang rindu suasana desa dan irama budaya tanah Jawa. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa tradisi tidak harus selalu disimpan di ruang lokal, namun bisa menjadi bagian dari wacana global.

Lebih dari sekadar tradisi lokal, Slawatan Jowo Mlangi kini telah menjelma menjadi model pendekatan baru dalam pelestarian budaya. Tidak kaku, tetapi juga tidak liar. Sebagai jembatan nilai-nilai Islam, kearifan lokal, dan dinamika global dalam satu paket ekspresi yang estetis dan menyentuh. Di dalamnya, tidak hanya mendengar pujian kepada Nabi Muhammad SAW, namun juga suara hati generasi yang tengah mencari jati dirinya.

Slawatan Jowo Mlangi dengan ngelik-nya adalah potret nyata bagaimana tradisi bisa menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri. Di tengah dunia yang bergerak cepat, ngelik menjadi ruang untuk melambat, merenung, dan menemukan makna dalam setiap irama sebagai proses spiritual dan sosial yang mengakar.

Pada akhirnya, ngelik bukan hanya bagian dalam musik. Ngelik adalah cara hidup yang mengajarkan bahwa dalam hidup, selalu ada momen untuk berubah arah, naik satu tangga, atau melihat dari sudut yang berbeda. Seperti bait-bait slawatan yang berpindah nada untuk memperkaya makna, manusia pun bisa tumbuh tanpa harus meninggalkan akarnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




PMR MAN 4 Sleman Eksis di Ajang Nasional Chreaphoria 16 Surakarta

Sleman — Palang Merah Remaja (PMR) MAN 4 Sleman kembali menunjukkan eksistensinya di kancah nasional sebagai finalis di Chreaphoria 16 yang diselenggarakan oleh PMR Wira SMA Negeri 1 Surakarta. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, yaitu pada Sabtu (10/5/2025) sampai dengan Minggu (11/5/2025).

Ajang tahunan ini merupakan kegiatan bergengsi di bidang kepalang merahan, diikuti ratusan peserta dari berbagai sekolah di seluruh Indonesia.  Selain sebagai sarana kompetisi, kegiatan juga menjadi wadah pengembangan keterampilan, solidaritas, dan semangat kemanusiaan bagi anggota PMR.

MAN 4 Sleman pun mengirimkan 22 siswa yang berpartisipasi dalam berbagai cabang lomba, seperti Perawatan Keluarga, Cerdas Cermat, Tandu Darurat, Pendidikan Remaja Sebaya (PRS), dan Pertolongan Pertama.  Seluruh peserta tampil penuh semangat dan antusiasme, mencerminkan kesiapan serta kerja keras yang telah dilakukan dalam proses latihan.

Tim PMR MAN 4 Sleman didampingi tiga pembina sekaligus pendamping, yaitu Nira Intan Sari, Halida Zhavira, dan Satria Pradana.  Beberapa siswa yang mencuri perhatian karena penampilannya yang menonjol antara lain Cinday Pandanway Jayasari, Aqmal Hafidh Saputra, Bilqis Adelia Saputro, dan Nazwa Khaira Jauza.

“Kami bangga atas semangat dan dedikasi para siswa.  Ini bukan sekadar lomba, tetapi juga ajang pembelajaran dan penguatan karakter,” ujar Satria Pradana.

Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf menyampaikan apresiasi terhadap semangat para siswa dan dukungan para pembina.  Arif berharap kegiatan seperti ini terus mendapat ruang agar siswa-siswi MAN 4 Sleman mampu berkembang secara utuh, baik secara akademik maupun non akademik. 

“Apapun hasilnya, tim tampil prima dan pastinya memperoleh banyak pengalaman berharga dalam bidang kepalangmerahan,” tegas Arif.

“Partisipasi dalam ajang nasional seperti ini merupakan bentuk nyata dan komitmen madrasah dalam mendukung pengembangan potensi peserta didik yang beragam, sekaligus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial,” pungkasnya.  (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)