Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur melaksanakan kegiatan Studi Banding dan Peningkatan Kapasitas Pamong dan Lembaga Kalurahan Condongcatur di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, yakni tanggal 9 sampai dengan 11 Mei 2025.
Sebanyak 45 peserta yang terdiri dari Lurah beserta Pamong Kalurahan, Ketua TP PPK, Ketua LPMKal dan Ketua Karangtaruna Condongcatur, didampingi oleh Panewu Depok, Kepala Jawatan Praja Kapanewon Depok, dan Pendamping Desa.
Jagababaya Condongcatur, Rudi Antariksawan selaku pengampu bidang kegiatan menjelaskan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan pamong kalurahan dan lembaga agar dalam pelaksanaan tugas dan fungsingnya dapat lebih berdayaguna, profesional dan optimal.
Selain itu, studi banding ini juga sebagai salah satu cara untuk memahami lebih dalam tentang manajemen administrasi pemerintah kalurahan, kearifan lokal, dan pelestarian lingkungan hidup. Kemudian mempererat solidaritas dan hubungan kerja pamong kaluarahan.
“Capacity building ini telah direncanakan satu tahun sebelumnya yang dianggarkan dalam APBKal tahun 2025 dan pelaksanaan kegiatan telah mendapat izin dari Pemerintah Kabupaten Sleman Nomor 141 / 1221 tanggal 17 April 2025. Di mana, pelaksanaan kegiatan tidak menganggu atau menghentikan pelayanan di pemerintah kalurahan kepada masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan tetap berjalan, karena lima pamong kita tinggal untuk tetap memberi pelayanan umum di kantor kalurahan kepada masyarakat,” jelasnya.
Kegiatan capacity building kali ini melakukan kunjungan studi banding di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB. Dilanjutkan dengan kunjungan kerja, diskusi dan studi orientasi di Kampung Tenun Sukarara. Kemudian meeting peningkatan kapasitas dengan narasumber Panewu Depok dan Kepala jawatan Praja Kapanewon Depok, serta mengunjungi sejumlah destinasi wisata setempat.
Desa Adat Sukarara Lombok menjadi salah satu desa yang menghasilkan karya kain tenun Lombok. Sebagian besar masyarakat Desa Sukarara merupakan penghasil kerajinan tenun songket khas Pulau Lombok yang sangat terkenal. Kain tenun yang dibuat di desa ini ditenun secara langsung oleh perempuan yang ada di desa ini. Di mana, perempuan-perempuan Sukarara diharuskan bisa menenun. Keharusan tersebut dianggap sebagai cara menjaga budaya nenek moyang dengan membuat suatu peraturan kepada seluruh masyarakat yang bernuansa kearifan lokal.
Proses pembuatan kain tenun di tempat ini dilakukan secara tradisional dengan bahan pewarna alami, sehingga kain yang dihasilkan sangat cantik dan indah. Kain tenun yang diproduksi pun kebanyakan songket, yang sudah banyak dipasarkan secara internasional.
Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji saat acara peningkatan kapasitas di Ballroom Prime Park Hotel & Convention Lombok mengungkapkan bahwa peningkatan kapasitas ini bukan hanya hadir untuk sekadar mengikuti acara formal, tetapi sebagai satu keluarga besar Kalurahan Condongcatur yang memiliki tekad, visi, dan misi yang sama untuk menjadikan Condongcatur sebagai kelurahan yang tangguh, berdaya saing, dan menjadi teladan di Kabupaten Sleman bahkan di tingkat nasional.
“Saya ingin menekankan bahwa kekuatan kita bukan hanya pada fasilitas, program, atau teknologi. Kekuatan utama kita ada pada manusia, pada kekompakan pamong, keteguhan para dukuh, ketulusan para staf, dan kolaborasi dengan seluruh lembaga-lembaga kemasyarakatan baik PKK, Karang Taruna, LPMK, BKM, FPRB, Linmas, dan lainnya,” kata Reno.
“Kita ini adalah satu tim dan tim yang hebat bukanlah tim tanpa masalah, tetapi tim yang mampu menyelesaikan masalah bersama-sama dalam sebuah tim. Tidak ada yang paling penting atau paling kecil, semua saling melengkapi. Seorang dukuh yang hadir di tengah masyarakat, staf yang melayani warga dengan senyum tulus, atau lembaga yang bergerak tanpa pamrih karena semua memiliki peran luar biasa,” sambungnya.
Lurah Condongcatur pun mengajak untuk terus menjaga dan membangun solidaritas, menjaga komunikasi, menghilangkan ego sektoral, dan menjadikan semangat gotong royong sebagai napas setiap program dan pelayanan.
“Bila hari ini kita kuat sebagai satu tim, maka saya yakin dalam kondisi apapun, Condongcatur akan tetap tangguh. Tangguh secara pelayanan, tangguh secara sosial, dan tangguh dalam menghadapi tantangan zaman, semoga acara ini menjadi titik awal semangat baru bagi kita semua. Mari terus bergerak, berinovasi, dan melayani dengan hati. Karena kita bukan sekadar pamong, bukan sekadar aparat, kita adalah pengabdi masyarakat dan pengabdian itu mulia,” pungkas Reno.
Sementara itu Panewu Depok, Wawan Widiyantoro, dalam sambutan dan motivasinya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Kalurahan Condongcatur yang selama ini telah menunjukkan komitmen yang tinggi untuk melayani masyarakat dengan baik dan berhasil meraih prestasi terbaik di Kabupaten Sleman pada lomba Kalurahan Inovatif tahun 2024 yang lalu. Panewu Depok berharap pamong dan staf serta semua lembaga kemasyarakatan kalurahan terus bersinergi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menjadi pamong dan pengurus Lembaga yang memiliki “nilai” yaitu melaksanakan tugas sejalan bahkan melebihi harapan masyarakat Condongcatur
“Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan terus melakukan inovasi dalam melaksanakan tugas fungsinya. Situasi kerja yang kondusif, literasi data yang baik serta mampu menemukan akar masalah yan di hadapi masyarakta adalah kunci untuk melahirkan inovasi di kalurahan,“ pesanya. (Wasana / KIM Depok)