Kompetisi Pegon; Menulis Masa Depan dengan Aksara Leluhur

Sleman – Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi huruf latin dalam dunia pendidikan, aksara pegon perlahan mulai kehilangan tempat di hati generasi muda. Aksara yang dulunya hidup subur di lingkungan pesantren dan literasi Islam Jawa itu kini hanya dikenal oleh segelintir orang. Karenanya, menghadirkan kompetisi menulis naskah dan kaligrafi menggunakan aksara pegon bagi pelajar menjadi langkah strategis guna membangkitkan kembali kesadaran budaya yang nyaris pudar.

Kompetisi yang berlangsung di Gedung Lantai I dan II Madrasah Aliyah Nur Iman Mlangi, Sabtu (10/5/2025) ini penting sebagai bentuk pelestarian warisan budaya literasi nusantara. Pegon bukan sekadar sistem tulisan, melainkan pintu masuk ke dunia pemikiran para ulama terdahulu yang mendokumentasikan ilmu, tafsir, akhlak, hingga cerita rakyat dalam bentuk tulisan yang khas. Dengan mengajak pelajar menulis naskah dan membuat kaligrafi beraksara pegon, mereka diperkenalkan pada bagian penting dari sejarah intelektual bangsa.

Menurut keterangan Dewan Juri lomba menulis naskah beraksara pegon, Kyai Ihsanudin, perlombaan diikuti sebanyak 20 peserta dengan materi tentang Mbah Kyai Nur Iman cikal bakal deso Mlangi. Sedangkan peserta lomba menulis kaligrafi pegon berjumlah 20 orang dengan materi kalimat ‘sregep resikan, nggugu wong tuwo, becik ketitik olo ketoro, dan sepi ing pamrih rame ing gawe narimo ing pandum (rajin bersih-bersih, patuh atau manut sama orang tua, perbuatan baik bakal keliatan, perbuatan buruk bakal ketahuan, tidak mengharap imbalan, dan semangat dalam bekerja dan nerima pemberian dengan ikhlas)’. Kalimat tersebut harus harus diselesaikan dalam waktu 120 menit.

“Lebih dari sekadar melestarikan, kegiatan ini juga membentuk kebanggaan identitas,” ujarnya.

Di saat generasi muda cenderung kagum pada budaya asing, kompetisi pegon menjadi cara halus untuk mengajarkan bahwa Indonesia punya kekayaan literasi yang tak kalah membanggakan. Ketika pelajar mampu menulis dan membaca dalam aksara pegon, mereka tidak hanya belajar menulis, tetapi juga mengenali siapa dirinya sebagai bagian dari peradaban lokal yang kaya.

Ia menambahkan, dalam aspek pembelajaran, menulis dengan aksara pegon melatih keterampilan berpikir, ketelitian, dan daya ingat. Pelajar diajak memahami struktur bahasa Jawa dan Arab sekaligus yang terwujud dalam sistem ejaan khas pegon. Menulis pegon bukan perkara teknis semata, tapi juga menuntut pemahaman makna. Hal ini akan memperkaya kemampuan literasi siswa secara menyeluruh.

Lebih lanjut, KH. Darul Azka selaku Dewan Juri lomba kaligrafi pegon mengungkapkan, kaligrafi pegon menjadi media ekspresi artistik yang unik. Peserta tidak hanya menulis indah, tetapi menyampaikan pesan moral, spiritual, dan sosial melalui goresan huruf. Ini bisa menjadi alternatif edukasi karakter yang kreatif dan menyenangkan.

“Dalam setiap lengkungan huruf dan pilihan warna, tersimpan nilai-nilai yang memperhalus rasa dan membentuk sikap,” tutur KH. Azka.

Tak kalah penting, kegiatan semacam ini menjadi jembatan antar generasi. Saat siswa belajar pegon, mereka akan berinteraksi dengan guru, kiai, atau budayawan yang lebih tua guna membangun ruang dialog yang mempererat ikatan sosial. Warisan budaya pun tidak hanya diwariskan lewat buku, tapi lewat perjumpaan nyata yang bermakna.

Dari sisi pendidikan, kompetisi pegon mendukung program penguatan profil pelajar Pancasila. Nilai-nilai gotong royong, kebhinekaan, dan kearifan lokal hadir dalam setiap proses penulisan dan perenungan isi naskah. Pelajar tidak hanya jadi cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan budaya dan spiritual.

Dengan pegon, pelajar tak sekadar menulis masa depan, melainkan sedang menorehkan harapan, dan menyambung kembali tali warisan yang nyaris putus oleh zaman. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Seni Kubro sebagai Dakwah Kultural Menjaga Spirit Islam Lewat Tarian

Sleman – Festival Mlangi telah menjadi ruang penting bagi kelompok seni lokal untuk menunjukkan eksistensinya. Diselenggarakan rutin setiap tahun di kawasan religius yang terkenal dengan tradisi pesantrennya, festival ini menjadi pertemuan antara budaya, agama, dan kreativitas warga. Di sinilah Kubro Sekar Arum Nogotirto mendapatkan panggung yang sepadan. Di tengah arus modernisasi, mereka bersikukuh menjaga warisan leluhur, menjadikannya lebih dari sekadar tontonan melainkan bentuk penghormatan pada sejarah dan spiritualitas kampung halaman.

Salah satu daya tarik dari pentas yang berlangsung di Lapangan Yayasan Nur Iman Mlangi, Jumat malam (9/5/2025) ini adalah keberanian Kubro Sekar Arum menyisipkan pesan-pesan sosial dalam aransemen lagu-lagu mereka. Lagu-lagu klasik diaransemen ulang dengan lirik bertema lingkungan, persaudaraan, dan toleransi.

Lebih dari sekadar hiburan, pentas seni Kubro Sekar Arum telah menjelma menjadi ruang perjumpaan sosial. Di sana, batasan usia maupun profesi, bahkan strata sosial luluh dalam alunan musik dan dentuman bass.

Pengurus Kubro Sekar Arum, Dian Amin menyebutkan salah satu ciri khas dari seni Kubro adalah penampilan para pesertanya yang mengenakan busana khas seperti pakaian prajurit atau kostum meriah lainnya. Gerakannya kompak dan teratur, menyerupai pasukan yang sedang berbaris atau menari dalam formasi tertentu. Musik yang mengiringi dengan irama yang menggugah semangat.

“Syair yang dilantunkan dalam pertunjukan pun berisi pesan-pesan moral dan religi, sehingga seni ini tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik secara spiritual,” terang Dian.

Selain sebagai seni religi, seni Kubro juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Pertunjukan ini menjadi ajang kebersamaan warga, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya sendiri. Di berbagai daerah, seperti Magelang, Temanggung, dan Ponorogo, seni ini bahkan menjadi identitas budaya lokal yang diwariskan lintas generasi. Sehingga, keterlibatan anak muda dalam seni ini juga menjadi cara efektif untuk melestarikan budaya Islam Nusantara di tengah arus globalisasi.

Di sini, nilai-nilai keislaman dapat berpadu dengan tradisi lokal secara harmonis. Dalam konteks modern, seni Kubro tetap relevan karena mampu menanamkan nilai moral dan membangun kebersamaan di tengah masyarakat. Keberadaannya patut dijaga dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, seni Kubro masih bertahan karena mampu bertransformasi. Banyak kelompok seni Kubro kini mendokumentasikan pertunjukan mereka melalui media sosial, menggelar acara virtual atau live streaming, bahkan mengkombinasikan iringan musik tradisional dengan audio modern. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian tradisional bisa tetap hidup dan relevan jika terus dikembangkan sesuai zaman.

Seni Kubro adalah warisan budaya yang memiliki nilai seni, spiritual, dan sosial yang sangat kaya. Sebagai sarana memperkuat identitas keagamaan dan budaya masyarakat Jawa. Upaya pelestariannya sangat penting dilakukan agar generasi muda tetap bisa menikmati, memahami, dan mewarisi kekayaan tradisi yang telah mengakar kuat di bumi Nusantara ini. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Semarak Hardiknas 2025, SD Muhammadiyah Semingin Gelar Lomba Mewarnai

Sleman – Dalam rangka menyemarakkan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025, SD Muhammadiyah Semingin menggelar Lomba Mewarnai untuk tingkat PAUD dan TK, pada Sabtu (10/5/2025). 

Menurut Kepala PAUD, Eny Purwaningsih, lomba diikuti oleh 110 anak PAUD dan TK dari Sleman, Bantul hingga Kulon Progo. 

“Selamat datang di sekolah kami. Kami siap mengantarkan siswa menjadi pribadi yang pintar berkarakter.  Bergabunglah bersama kami, banyak program beasiswa yang bisa diperoleh seperti beasiswa prestasi, orang tua asuh, PIP, dan lainnya,” papar Eny Purwaningsih saat memberi sambutan.  

Pada kesempatan itu, sejumlah kesenian seperti angklung dan kerawitan turut dipentaskan oleh para peserta didik SD Muhammadiyah Semingin.  “Ada sembilan kegiatan ekstrakurikuler, namun tidak semua bisa ditampilkan mengingat waktu,” imbuh Eny.

Perwakilan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Muhammadiyah Moyudan, Sleman, Sarjono kemudian membuka secara resmi lomba mewarnai. Ia pun mengajak seluruh peserta agar bergembira, bersungguh-sungguh, mencurahkan semua potensi saat mengikuti lomba. 

“Ikuti lomba dengan sungguh-sungguh, karena kesungguhan penting dalam meraih sukses.  Yakinlah kalian akan sukses, keyakinan menjadi tangga keberhasilan berikutnya,” tegas Sarjono. 

Di samping itu, ia pun mengapresiasi SD Muhammadiyah Semingin yang memiliki banyak prestasi dan fasilitas maupun berbagai program belajar untuk siswa-siswinya.  Hal tersebut semakin meneguhkan Sekolah Muhammadiyah sebagai tempat belajar yang nyaman dan menyenangkan.

Acara tersebut dihadiri oleh Carik Sumbersari, Junaidi, Dukuh Nasri III dan Dukuh Semingin IV, Ketua dan Anggota Komite Sekolah, Paguyuban Orang Tua Siswa, serta perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Moyudan Sleman.

Tidak hanya perlombaan, para peserta juga mendapat materi dan hiburan edukatif berupa sulap dan dongeng yang sampaikan dengan menarik oleh Ustaz Usmudz dari Unisia Yogyakarta.  Materi sulap dan dongeng tersebut bertujuan untuk menanamkan nilai, karakter dan budi pekerti, serta semangat belajar semangat meraih prestasi. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Sosialisasi dan Outbond anti Bullying, Membangun Keharmonisan Sejak Usia Dini

Sleman – Sebanyak 50 anak usia SD, SMP, SMA dan sederajat Padukuhan Penen, Donoharjo, Ngaglik, begitu antusias, bahagia dan bersemangat mengikuti outbond anti bullying. Kegiatan yang dilangsungkan pada Minggu (11/5/25), di Aula Masjid Baitul Hasanah Penen itu, dipandu oleh Eka Sastra beserta kawan-kawan dari Pordam (Pelopor perdamaian) Kabupaten Sleman, dan Satgas PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Propinsi DIY.

“Sosialisasi ini kita lakukan dengan bermain. Semoga permainan ini akan mengingatkan kalian bahwa kita semua tidak boleh melakukan bullying. Jadilah anak hebat yang bukan pelaku maupun korban bullying,” harap Eka.

Menurut Ketua Takmir Masjid Baitul Hasanah Penen, Bambang AF, kegiatan  ini diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan generasi penerus yang berbudi pekerti baik, berakhlak mulia serta cinta kepada sesama.

“Di era sekarang di mana kekerasan bisa menimpa pada siapa saja baik secara fisik, mental maupun sosial. Maka anak harus dikenalkan sejak dini tentang apa yang baik dan mana yang tidak baik agar kelak mereka tumbuh menjadi orang orang yang sukses dengan budi pekerti yang luhur dan memiliki cinta kepada sesama,” jelasnya.

Selanjutnya, Carik Donoharjo, Anang Patri Widyantoro dalam sambutannya memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan yang mengedukasi untuk menghentikan perundungan.

“Saya korban bullying. Ketika masih kecil pernah melakukan kesalahan diteriaki huuuu, itu membekas sampai sekarang. Saya berharap semua pihak menyadari perilaku bullying di sekitar kita dan mengantisipasi dampak negatifnya. Karena berbicara tentang bullying ada dua aspek yang dikuatkan. Pertama anaknya dan kedua lingkungannya,” tandas Anang.

Ia pun mencontohkan kisah Albert Einstein yang mendapat surat dari gurunya agar diberikan kepada ibunya. Albert Einstein sendiri ketika itu belum bisa membaca. Ditulis di kertas tersebut bahwa karena kurangnya kemampuan maka Albert Einstein akan dikeluarkan. Namun tanggapan sang ibu sungguh bijaksana.

“Nak, kamu orang hebat cuma mereka belum tahu. Seandainya ketika itu Ibunya menyampaikan apa yang tertulis, mungkin tidak akan pernah terlahir seorang Albert Einstein dengan karya besarnya,” kata Anang menceritakan kisah hidup Albert Einstein.

Sementara itu, perwakilan Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Ludiyanto pada kesempatan yang sama menyampaikan terima kasih atas bantuan semua pihak.

“Kegiatan ini diinisiasi oleh salah satu pilar Dinas Sosial yaitu Pordam yang merupakan singkatan dari Pelopor Rerdamaian. Pordam adalah relawan sosial yang dibentuk oleh Kementrian Sosial, salah satu tugasnya untuk mencegah konflik sosial serta mengantisipasi dampak negatif yang ditimbulkan akibat pertentangan individu maupun kelompok seperti bullying,” ucap Ludiyanto. (Endarwati/KIM Donoharjo Ngaglik)




Membaca Warisan, Menulis Peradaban Lewat Kajian dan Kursus Menulis Aksara Pegon

Sleman – Di masa lampau, aksara pegon menjadi media utama para ulama menyampaikan ilmu, menulis tafsir, dan mengekspresikan kebudayaan Islam yang membumi. Aksara Pegon digunakan untuk menulis bahasa Jawa dengan huruf Arab di sejumlah pesantren seperti Krapyak, Termas, hingga Mlangi sendiri. Pegon bukan sekadar sistem tulisan, melainkan bagian dari identitas dan laku intelektual santri.

Pentingnya melestarikan aksara pegon bagi para santri tak lepas dari upaya merawat kearifan lokal. Festival Mlangi 2025 menangkap kebutuhan ini agar generasi muda mengenal kembali warisan tulis yang kaya makna. Upaya pelestarian aksara Pegon dilakukan Dewan Kyai Pathok Negoro Mlangi melalui kajian dan kursus dasar menulis aksara Pegon yang berlangsung di Gedung Madrasah Aliyah Nur Iman Mlangi, Jumat (9/5/2025).

Acara dipandu oleh Izul Haq Lidinilah yang juga Bendahara Umum Pondok Pesantren Tanwirul Huda Majenang. Dengan menghadirkan Toha Harun Arrasyid dari Pondok Pesantren Al Falahiyyah Mlangi bersama Dewan Kyai Pathok Negoro Mlangi, Kyai Ihsanudin dan Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH. Darul Azka sebagai instruktur penulisan aksara Pegon.

Kyai Ihsanudin menuturkan, Festival Mlangi 2025 menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan secara kaku. Lewat pendekatan kreatif dan partisipatif, aksara Pegon mampu tampil memikat di tengah keramaian zaman.

“Pelatihan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah ikhtiar menjaga identitas dan memperluas cakrawala keilmuan,” tuturnya.

Ketika budaya dijaga dengan cinta dan dijalankan dengan cara yang relevan, maka budaya tidak akan sekadar bertahan, tetapi tumbuh dan memberi arah. Dalam konteks ini, aksara pegon menjadi simbol yang hidup menyatu antara iman, ilmu, dan akar budaya. Festival Mlangi 2025 telah mengambil langkah penting untuk menyalakan kembali cahaya itu.

Selain aspek kebudayaan, aksara pegon juga memiliki nilai strategis dalam penguatan literasi religius. Banyak kitab kuning dan naskah-naskah keagamaan lokal yang ditulis dalam bentuk ini. Dengan membiasakan masyarakat terutama generasi muda untuk membaca pegon, maka proses pemahaman terhadap khazanah keislaman lokal juga akan semakin kuat.

“Selain sebagai alat bantu, pegon menjadi media ekspresi intelektual. Banyak manuskrip lokal, ditemukan teks-teks tafsir, fikih, tasawuf, hingga doa-doa dan primbon, semua ditulis dalam bahasa daerah menggunakan aksara Arab Pegon,” sambung Kyai Ihsanudin.

Sementara itu, Toha Harun Arrasyid menyampaikan bahwa menyosialisasikan aksara pegon dapat dilakukan dengan berbagai cara menarik. Dirancang untuk menumbuhkan rasa cinta sekaligus memberi keterampilan praktis, agar pegon bisa hidup di luar tembok pesantren.

Ironisnya, keberadaan pegon mulai tergerus. Sistem pendidikan modern dan digitalisasi sering kali tidak memberi ruang bagi aksara ini. Generasi muda santri pun kini mulai asing dengan bacaan pegon. Padahal, tanpa kemampuan membaca pegon, akses terhadap ribuan manuskrip lokal akan tertutup. Hal ini bukan hanya kehilangan kunci literasi keislaman, tapi juga memutus satu jalur transmisi ilmu yang telah terbukti tangguh selama berabad-abad.

Antusiasme peserta cukup tinggi. Di salah satu sudut ruangan, seorang siswa Madrasah Aliyah tampak serius menulis kata-kata berbahasa Jawa menjadi tulisan berhuruf Arab.

“Awalnya sulit, tapi seru juga,” katanya.

Ia pun mengaku baru pertama kali mengetahui bahwa bahasa Jawa bisa ditulis dengan huruf Arab. Reaksi seperti ini menunjukkan betapa minimnya ruang pengenalan terhadap pegon selama ini.

Program ini juga menghidupkan kembali semangat pesantren sebagai pusat literasi. Banyak peserta menyadari bahwa kitab-kitab yang biasa mereka temui di rumah kyai atau pengajian ternyata menggunakan aksara pegon. Maka, mempelajari pegon bukan hanya belajar menulis, tapi juga membuka kunci terhadap warisan teks yang kaya dan sarat nilai. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)