Sholawat Jawa Jembatan Spiritualitas Masa Lalu untuk Masa Depan

Sleman – Dalam deretan warisan agung Keraton Yogyakarta, dua karya sholawat berbahasa Jawa menempati tempat Istimewa yakni Dhasar Bagus dan Sulthon Syarif. Keduanya merupakan karya ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, raja sekaligus pujangga yang memimpin Keraton pada awal abad ke-20. Di tangan beliau, sholawat bukan sekadar pujian kepada Nabi Muhammad SAW, namun juga sebagai media dakwah budaya dan perenungan spiritual yang sangat dalam.

Dalam gelaran Festival Mlangi yang berlangsung di lapangan Yayasan Nur Iman Mlangi, Rabu malam (7/5/2025) tersebut, grup sholawat Madyo Laras pimpinan Murwanto selain membawakan kedua karya ini juga melantunkan sholawat berjudul Sekar Kinanthi, Pamularsih, dan Citra Rini secara utuh, lengkap dengan iringan gamelan klasik dan tata panggung yang merefleksikan suasana religius. Penonton tidak hanya mendengar, tetapi juga menghayati sholawat dalam bentuk yang mendalam baik suara, lirik, getaran rasa, dan nuansa spiritual khas Jawa.

Koordinator Bidang Pelestari Budaya Madyo Laras, Arifin Yudhi menuturkan bahwa Sholawat Jawa Madyo Laras Sambisari merupakan kelompok kesenian yang memadukan tradisi sholawat dengan seni budaya Jawa, berlokasi di Masjid Kagungan Dalem Sambisari, Kalasan, Kabupaten Sleman. Terdaftar secara resmi di Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 20 Januari 2022 dengan nomor registrasi yang memiliki 46 anggota.

Menurut Yudhi, pesan yang terkandung dari kedua sholawat itu sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Di tengah dunia yang bising dan cepat, Dhasar Bagus mengajak manusia untuk kembali ke inti kebaikan. Sedangkan Sulthon Syarif menyadarkan kita bahwa pemimpin sejati bukan hanya yang berkuasa, tapi yang membawa rahmat dan cahaya.

“Melalui bahasa Jawa dan seni, keduanya menjembatani masa lalu yang agung dengan masa depan yang berakar,” tandasnya.

Mengangkat karya Sri Sultan Hamengku Buwana VIII adalah bagian dari strategi menghidupkan warisan Islam lokal sebagai warisan budaya tak benda tinggalan kerabat Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yaitu Kyai Hasan besari dan Kyai Salim sejak adanya Kagungan Dalem Masjid Sambisari dan Pesarean Sambisari Karaton Ngayogyakatya  Hadiningrat pada 1 Maret 1770.

“Kita tidak sedang membandingkan dengan sholawat Arab atau modern, tetapi sedang menyambung akar spiritual yang telah ditanam oleh para leluhur. Karya ini bukan hanya milik keraton, tapi milik umat,” tambah Yudhi.

Kini, upaya dokumentasi, pembelajaran, dan penyebaran sholawat keraton seperti ini menjadi bagian penting dari gerakan Islam kultural. Bukan hanya untuk nostalgia, tetapi untuk merancang arah baru dakwah Islam yang tidak kehilangan wajah lokalnya. Saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwana VIII hadir bukan sekadar sebagai raja, tapi sebagai pujangga ruhani yang menyatukan iman, budaya, dan cinta.

Beliau menulis sholawat ini tidak untuk pertunjukan semata. Melainkan menciptakannya sebagai bentuk integrasi nilai-nilai Islam dalam kebudayaan Jawa guna menyatukan cinta kepada Nabi Muhammad SAW dengan filosofi lokal. Sekaligus menyadari bahwa bahasa dan seni adalah jalan terbaik untuk menjangkau hati masyarakat. Karenanya, digunakan tembang, gamelan, dan struktur estetika Jawa sebagai kendaraan spiritualnya.

Kedua sholawat ini dahulu hanya dikenal dalam lingkungan terbatas, terutama dalam lingkaran abdi dalem dan kegiatan religi keraton. Namun kini, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya Islam Nusantara dan dakwah berbasis budaya, Dhasar Bagus dan Sulthon Syarif mulai mendapat tempat lebih luas, termasuk dalam pentas besar seperti Festival Mlangi 2025. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Belajar Sejarah di Gedung Agung Istana Kepresidenan Yogyakarta

Sleman — Istana Kepresidenan Yogyakarta atau yang dikenal sebagai Gedung Agung menjadi saksi penting perjalanan sejarah bangsa, terutama pada masa revolusi kemerdekaan. Gedung ini merupakan salah satu dari lima istana kepresidenan resmi Republik Indonesia, sejajar dengan istana di Jakarta, Bogor, Cipanas, dan Tampaksiring.

Hal tersebut disampaikan oleh Nurhadi, Humas Istana Kepresidenan Yogyakarta, saat menerima kunjungan Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Jumat (9/5/2025).

Dalam pemaparannya, Nurhadi menjelaskan bahwa Gedung Agung menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia ketika ibu kota negara berpindah ke Yogyakarta pada tahun 1946. Gedung ini sempat menjadi kantor dan kediaman resmi Presiden Soekarno, sementara Wakil Presiden Mohamad Hatta berkantor di gedung sebelahnya, yang kini menjadi Markas Korem 072/Pamungkas.

“Gedung Agung memiliki nilai sejarah tinggi. Beberapa tokoh penting dunia pernah berkunjung ke sini, seperti Ratu Elizabeth II, Paus Yohanes Paulus II, dan Kaisar Akihito,” ungkap Nurhadi. Ia juga menambahkan bahwa Presiden Megawati Soekarnoputri lahir di istana ini.

Gedung Induk Istana dilengkapi sejumlah ruangan penting, seperti Ruang Garuda, Ruang Sudirman, Ruang Diponegoro, Ruang Jamuan VVIP, dan Ruang Kesenian. Di tempat inilah, Jenderal Sudirman dilantik sebagai Panglima Besar TNI pada 3 Juni 1947.

Kunjungan Forum KIM Depok ini merupakan bagian dari program Istana untuk Rakyat (Istura) yang memungkinkan masyarakat melihat langsung isi dan sejarah Gedung Agung. Salah satu peserta, Adi Yananta, mengaku terkesan dengan pengalaman tersebut.

“Saya sangat terkesan melihat langsung arsitektur megah dan koleksi seni yang bersejarah. Ruang-ruangnya penuh kemewahan yang mencerminkan masa lalu,” tuturnya.

Adi juga menyatakan bahwa kunjungan ini menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap sejarah serta warisan budaya Indonesia.

“Pengalaman ini membuat saya semakin menghargai sejarah bangsa dan kekayaan budaya yang kita miliki,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)




Tinjau RTP Gatotkaca Mrican, Bupati Sleman Dukung Pemerataan Ruang Publik

Sleman — Bupati Sleman, Harda Kiswaya, bersama jajaran Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, meninjau Ruang Terbuka Publik (RTP) Gatotkaca di Kelurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, pada Jumat (9/5/2025). Peninjauan ini merupakan bagian dari evaluasi program revitalisasi kawasan yang sebelumnya tergolong wilayah permukiman kumuh.

Revitalisasi RTP Gatotkaca Mrican diinisiasi oleh Kementerian PUPR melalui kerja sama dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) DIY dan Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) DIY. Dalam kunjungan tersebut, Bupati Sleman juga meninjau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Condongcatur serta berinteraksi langsung dengan warga sekitar.

Harda menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah pusat atas dukungan terhadap pembangunan ruang terbuka publik di Sleman, khususnya di kawasan Mrican.

“Saya mewakili masyarakat Sleman mengucapkan terima kasih kepada Kemenko Infrastruktur dan Kementerian PUPR atas pembangunan RTP di Mrican ini. Kami berharap pembangunan dapat dilanjutkan ke zona 2 dan 3, agar penataan kawasan kumuh di Sleman bisa terus berjalan,” ujarnya.

Revitalisasi RTP ini merupakan bagian dari upaya Pemkab Sleman dalam mengentaskan kawasan kumuh. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Sleman Nomor 83.2/, luas kawasan kumuh di Sleman mencapai 86,20 hektare yang tersebar di 14 lokasi, termasuk kawasan Mrican yang mencakup 21,16 hektare.

Asisten Deputi Pengembangan dan Penataan Kawasan Permukiman Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Radian Nurcahyo, menjelaskan bahwa Mrican merupakan kawasan padat penduduk yang menghadapi permasalahan kekumuhan struktural akibat urbanisasi yang tidak seimbang dengan daya dukung lingkungan.

Upaya penataan dimulai sejak inisiatif Pemkab Sleman tahun 2018 dan kemudian terintegrasi dalam Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) milik Kementerian PUPR sejak 2021. Keberhasilan proyek RTP Gatotkaca ini juga ditopang oleh partisipasi aktif masyarakat, pendekatan ekologis yang adaptif, desain inklusif berbasis edukasi, serta kolaborasi lintas sektor.

Dengan hadirnya RTP Gatotkaca Mrican, diharapkan kualitas hidup masyarakat meningkat seiring dengan penataan kawasan yang lebih layak, sehat, dan inklusif.




Berbekal Rintisan Desa Wisata, Grajegan Ikuti Evaluasi Kampung Hijau Kabupaten Sleman 2025

Sleman – Padukuhan Grajegan, Kalurahan Margokaton terpilih dan ditunjuk mewakili Kapanewon Seyegan dalam lomba Evaluasi Kampung Hijau tingkat Kabupaten Sleman tahun 2025. Padukuhan Grajegan terpilih karena menonjolkan budaya lokal yaitu kegotong royongan.

Penilaian administrasi dan fisik di lapangan dilangsungkan pada Kamis (8/5/2025). Proses ini dilakukan oleh tim penilai kabupaten, terdiri dari Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, Dinas Kesehatan, Bappeda, DLH Kabupaten Sleman, dan LSM.

Lurah Margokaton, Anggit Bimanyu dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada tim penilai dari Kabupaten Sleman, dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Padukuhan Grajegan atas partisipasi dan kerja samanya dalam menjaga dan mengelola lingkungan. Evaluasi Kampung Hijau sebagai langkah awal seluruh elemen masyarakat untuk menjaga dan peduli lingkungan yang berkelanjutan.

“Segala upaya yang dilakukan berkaitan dengan pelestarian lingkungan tidak terbatas pada pelaksanaan lomba atau evaluasi saja. Namun menjadi kebutuhan dari masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hidup dengan mengelola lingkungan yang sehat,” ucap Anggit.

Sebelumnya pada bulan Pebruari lalu, Padukuhan Grajegan pernah kedatangan tim juri untuk melakukan pelatihan sekaligus pemberian arahan terkait kriteria penilaian, dan hal-hal yang harus dipersiapkan untuk lomba kampung hijau.

Ketua Tim Juri Kabupaten Sleman, Eni Yuliani sekaligus Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan DLH Kabupaten Sleman dalam sambutannya memperkenalkan Tim Juri yang didominasi dari DLH Sleman dan OPD terkait. Sementara aspek atau indikator penilaian kampung hijau antara lain pengelolaan sampah, penghijauan dan pemanfaatan Ruang Publik (RTH), partisipasi masyarakat, sanitasi dan kebersihan lingkungan, upaya konservasi Sumber Daya Air.

Kurang lebih 1 jam tim verifikasi lapangan melihat aspek penilaian fisik di lapangan, dari pemanfaatan ruang terbuka hijau, lahan rumah warga yang penuh dengan tanaman sayur,

“Kami dari tim penilai Kabupaten Sleman salut dengan kekompakan dan kegotongroyongan warga Padukuhan Grajegan dalam menata lingkungan dan administrasinya, guyub rukun warganya tetap terjaga dengan sangat baik dan antusias setiap kegiatan yang ada,” ujar Eni.

Diakhir acara Panewu Seyegan, Samino berharap semoga Padukuhan Grajegan dapat meraih hasil terbaik dalam evaluasi Kampung Hijau ini. Dengan modal sosial yang dipunyai benar benar menjadi potensi dalam mengelola lingkungan.

“Warga Padukuhan Grajegan rata-rata sudah sadar akan pentingnya penanaman tanaman hias, tanaman perindang, tanaman sayur maupun tanaman obat yang dapat membantu dan melindungi ekosistem lingkungan. Sebagian besar warga juga sadar bahwa adanya ruang publik yang bersih dan nyaman akan tercapai kehidupan yang sehat material spiritual,” tuturnya.

Diakhir sambutannya Samino menekankan program kampung hijau yang tidak sebatas pada lomba. Namun pengelolaan lingkungan dengan banyak aspek tetap dipertahankan bahkan ditingkatkan sehingga mempunyai nilai lebih bagi masyarakat. (Sutarto Agus / KIM Seyegan)




Waringin Sungsang; Simbol Islam Mataraman di Tengah Arus Zaman

Sleman – Festival Mlangi 2025 bukan hanya pesta budaya dan religi, tetapi juga menjadi ajang perenungan mendalam atas jejak-jejak peradaban Islam Jawa. Salah satu sesi diskusi ilmiah yang paling menyita perhatian mengenai ‘Waringin Sungsang dan Ngelmu Sunan Kalijaga’ dalam Islam Mataraman digelar di Gedung Madrasah Aliyah Nur Iman Mlangi, Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu sore (6/5/2025).

Pada kesempatan itu, seorang Budayawan, Nur Khalik Ridwan menyingkap lapis-lapis makna dari Waringin Sungsang pohon beringin yang tumbuh terbalik secara alami. Namun dalam tradisi lokal diyakini sebagai simbol spiritualitas Islam Jawa yang membumi sekaligus menjulang.

Diskusi yang dibiayai dengan Dana Keistimewaan melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah ini menghadirkan tokoh lintas disiplin di antaranya, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, M. Yaser Arafat, Direktur , Irfan Afifi, Pengurus Yayasan Nur Iman Mlangi, Kyai Muslich Muchtar, dan Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY, Aris Eko Nugroho yang bertindak sebagai Keynote Speech.

Dalam narasi sejarah Islam Mataram, simbol ini digunakan untuk menggambarkan sikap hidup para ulama yang tidak menonjolkan diri, namun memiliki pengaruh besar di masyarakat. Para ulama zaman Mataram, termasuk yang bermukim di Mlangi, menjadikan filosofi waringin ini sebagai pedoman kuat dalam prinsip teduh dalam penyampaian. Nur Khalik pun mengingatkan bahwa tantangan saat ini adalah bagaimana tetap sungsang dalam dunia yang serba ingin menjulang.

“Waringin Sungsang bukan sekadar anomali alam. Melainkan metafora dari jalan spiritual para wali yang merunduk ke bumi, mengakar ke dalam, namun sebenarnya sedang menuju ke langit,” tuturnya.

Selain itu, Waringin Sungsang erat kaitannya dengan proses dakwah Islam yang santun, membumi, dan penuh kearifan lokal yang bisa dijadikan simbol strategis dalam merancang masa depan Islam Nusantara. Pesan filosofisnya perlu dikembangkan dalam media baru, seperti film pendek, karya mural, dan literasi digital.

“Jika simbol sebesar ini hanya berhenti sebagai cerita lokal saja, maka kita kehilangan peluang besar membentuk narasi Islam yang khas Indonesia,” terang Nur Khalik.

Beberapa peserta diskusi yang merupakan generasi muda tampak antusias. Para panelis yang dipandu Gus Mustafied selaku moderator mengajak semua kalangan muda terlibat dalam transformasi warisan menjadi visi yang dirancang sebagai laboratorium kebudayaan Islam Mataraman. Menurutnya, jika menginginkan Islam bertahan dan memberi keteduhan di masa depan, maka harus mau membenamkan akarnya dalam sejarah dan tanah tempat berpijak.

Festival ini tidak hanya sekedar merayakan masa lalu, tetapi juga menyusun strategi kebudayaan Islam ke depan. Melalui simbol seperti Waringin Sungsang, masyarakat diajak untuk menengok ke dalam terhadap nilai-nilai lokal yang dalam diamnya menyimpan kekuatan besar untuk menghadapi tantangan zaman. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)