Genjot Edukasi Sampah, Pemkab Sleman Gandeng Tokoh Masyarakat dan Pemuda

Sleman— Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menggelar sosialisasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Dusun Gondang, RT 2 Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Jumat (2/5). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari hibah kendaraan roda tiga yang diberikan melalui pokok-pokok pikiran (pokir) anggota DPRD Sleman kepada Bank Sampah Berkah yang telah berdiri sejak lima tahun lalu.
Sosialisasi ini dihadiri anggota DPRD Sleman R. Kaptono, pamong kalurahan, serta 23 peserta dari unsur tokoh masyarakat, kelompok wanita, dan pemuda setempat. Tujuan kegiatan adalah menyegarkan kembali pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan sampah mandiri, seiring dengan dukungan sarana prasarana (sarpras) yang telah diterima warga.
Dukuh Gondang, Ari Wandono, dalam sambutannya menegaskan pentingnya memanfaatkan kendaraan hibah untuk mendukung kegiatan masyarakat, khususnya pengelolaan sampah. Ia juga mengimbau peserta yang hadir untuk menyebarluaskan informasi dan pengetahuan yang didapat kepada kelompok-kelompok lain di wilayah Gondang.
Senada, Ulu-Ulu Kalurahan Donokerto, Ari Krismiyanto, mengapresiasi dukungan anggota dewan dalam penyediaan sarpras yang dibutuhkan masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya gotong royong sebagai kearifan lokal yang masih kuat di Dusun Gondang. Ari menambahkan bahwa dalam waktu dekat Donokerto akan memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang diharapkan dapat membantu mengurangi volume sampah di wilayah Sleman.
Anggota DPRD Sleman, R. Kaptono, mengingatkan bahwa sarpras yang diberikan harus dirawat dan dimanfaatkan tidak hanya untuk pengelolaan sampah, tetapi juga untuk menunjang kegiatan masyarakat lainnya.
Sementara itu, narasumber dari praktisi pengelolaan sampah, Sutarto Agus Raharjo, mendorong peserta untuk menjadi agen perubahan dalam pengelolaan sampah. Ia menekankan pentingnya peran masyarakat sebagai fasilitator dan stimulator, dengan fokus pada dua aspek utama: pengurangan dan penanganan sampah.
Dalam paparannya, Sutarto menjelaskan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai fondasi dalam pengurangan sampah. Ia juga membahas pentingnya penguatan kelembagaan, kerja sama lintas sektor, dan pemanfaatan hibah untuk mendukung program pelatihan serta sarpras.
Lebih lanjut, Sutarto menyoroti pentingnya pengelolaan sampah organik yang selama ini belum banyak disentuh. Ia memperkenalkan berbagai teknologi tepat guna seperti jugangan/rolak, biopori, biopot, Losida, dan komposter, lengkap dengan cara pembuatan, manfaat, hingga pemanenan kompos. Kompos hasil pengelolaan ini dapat dimanfaatkan untuk tanaman sayur, tanaman hias, dan tanaman obat, yang telah dijalankan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat.
“Kita punya pengetahuan soal sampah, tapi belum cukup action. Sekarang waktunya bergerak,” ujar Sutarto, menutup sesi pemaparannya.
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif antara peserta dan narasumber, menandai semangat kolaboratif dalam pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



