Puskesmas Seyegan Fasilitasi Pelatihan Pemanfaatan Beling Kaca dan Styrofoam Menjadi Batako

Sleman – Sebanyak 20 pengurus bank sampah atau sedekah sampah yang ada di wilayah Seyegan menjadi peserta pelatihan pemanfaatan limbah kaca atau beling menjadi batako, yang digelar Puskesmas Seyegan pada, Selasa (27/5/2025) di Aula lantai II. Bimtek pengelolaan sampah tersebut menghadirkan praktisi sampah dari Sukunan yang merupakan desa wisata sampah di wilayah Gamping.
Pelatihan tersebut dilatarbelakangi oleh meningkatnya angka penderita penyakit demam berdarah di wilayah Seyegan. Tentu, hal ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Puskesmas Seyegan.
Kepala Tata Usaha Puskesmas Seyegan, Susilowati dalam sambutannya menyampaikan bahwa sampah rumah tangga harus dikelola dengan sungguh sungguh. Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan tujuan utama dalam pengelolaan sampah skala rumah tangga.
“Keterampilan pengelolaan sampah sangat penting, kemampuan itu harus disebarluaskan kepada masyarakat dengan tujuan meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat,” harap Susilowati.
Bimtek ini juga merupakan kegiatan inovatif untuk mencegah penyakit yang berbasis lingkungan.
Pengelola Sampah dari Sukunan, Suharto selaku narasumber pada kesempatan tersebut menyampaikan tentang pemilahan sampah rumah tangga. Ia menekankan untuk melakukan pemilahan minimal menjadi dua, yaitu sampah organik dan anorganik.
“Untuk pengelolaan sampah organik dapat dilakukan dengan teknologi tepat guna yang selain mudah, murah juga langsung bisa dipraktekkan,” ujarnya.
Suharto kemudian menjelaskan tentang biopori, biopot, dan komposter sebagai sarana pengelolaan sampah organik. Ia pun menjelaskan cara membuat, fungsi dan cara memanen kompos yang dihasilkan.
“Selain penanganan sampah, diharapkan masyarakat juga melakukan pengurangan sampah dengan metode 3 R,” jelas Suharto.
Secara khusus, Suharto menjelaskan tentang keterampilan daur ulang dengan memanfaatkan sampah yang tidak laku jual termasuk styrofoam dan beling atau kaca. Sampah yang banyak dijumpai di masyarakat tersebut bahkan sering membahayakan bilamana tidak dikelola dengan benar. Perlu adanya usaha yang sifatnya kreatif untuk memanfaatkan sampah tersebut. Salah satu ide kreatif yang dilakukan adalah membuat batako dengan beling/kaca dan Styrofoam sebagai campurannya.
Suharto menjelaskan, styrofoam sebelum digunakan digiling terlebih dahulu dengan mesin parut kelapa. Adapun campurannya adalah 1 bagian semen, 3 bagian pasir dan 3 bagian styrofoam.
“Yang perlu diperhatikan adalah sebelum dicampurkan, styrofoam yang sudah digiling tersebut di rendam air supaya menambah berat dan tidak berterbangan,” jelasnya.
Untuk batako dengan campuran sampah beling atau kaca sebelum dicampurkan beling digiling terlebih dulu dengan mesin pencacah. Setelah itu baru dicampurkan dengan bahan lain dengan perbandingan 1 bagian semen, 3 bagian pasir dan 3 bagian beling/kaca.
“Berdasarkan pengalaman, kualitas batako yang dihasilkan dengan campuran beling/kaca lebih bagus daripada dengan campuran Styrofoam,” ujarnya.
Setelah mendapatkan penjelasan, peserta diajak untuk praktek langsung pembuatan batako dengan campuran beling/kaca di halaman Puskesmas Seyegan. Secara keseluruhan kegiatan ini sangat penting mengingat pengelolaan sampah memerlukan ide kreatif dan inovatif yang dapat secara langsung dipraktekkan oleh masyarakat sekaligus menjawab permasalahan yang terjadi di lapangan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



