Menapak Jejak Sejarah Republik Indonesia di Gedung Agung

Sleman – Dalam rangka memperkuat pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan warisan budaya bangsa, Yayasan Little Care Yogyakarta mengadakan kunjungan edukatif ke Istana Kepresidenan Yogyakarta (Gedung Agung) pada Senin (26/5/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran luar kelas yang menekankan pentingnya nasionalisme melalui pelestarian nilai sejarah dan budaya.

Peserta diajak menyusuri kompleks Gedung Agung, salah satu dari enam Istana Kepresidenan Republik Indonesia, yang menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting perjalanan bangsa. Dalam tur tersebut, peserta mendalami asal-usul penamaan ruangan, fungsi-fungsi historis bangunan, hingga tokoh-tokoh kenegaraan yang pernah beraktivitas di dalamnya, terutama saat Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia (1946–1949).

Salah satu peserta, Muhammad Faruqi Abdurasyid, alumnus Magister UNY, mengaku terpukau dengan kemegahan bangunan bersejarah tersebut. “Biasanya saya hanya melihat dari televisi. Tapi kali ini, kami bisa menyentuh langsung ruang-ruang yang dulu menjadi pusat pemerintahan,” ungkapnya.

Faruqi menambahkan, arsitektur kolonial yang masih terjaga, pepohonan rindang, serta tata ruang penuh ornamen seni memberikan kesan mendalam. “Ini bukan sekadar kunjungan, tetapi pengalaman batin yang memperkuat rasa cinta tanah air,” imbuhnya.

Para peserta juga diajak menyimak narasi sejarah tentang peran Gedung Agung dalam mempertahankan kemerdekaan, termasuk peristiwa penting yang melibatkan Presiden Soekarno, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, hingga kedatangan tokoh dunia.

Selain menyusuri ruangan bersejarah, peserta juga mengunjungi Perpustakaan Istana Kepresidenan Yogyakarta, sebuah pusat dokumentasi dan literasi nasional yang menyimpan berbagai koleksi buku sejarah, kebudayaan, hingga politik kenegaraan.

“Banyak koleksi bacaan yang lengkap dan tersusun rapi. Kami bisa membaca, bertanya, dan mendiskusikan berbagai hal yang selama ini hanya kami pelajari secara teoritis,” ujar Faruqi.

Diskusi interaktif yang berlangsung di perpustakaan ini menjadi momen reflektif bagi para peserta, terutama dalam menyusun gagasan kreatif untuk pengembangan program pendidikan berbasis budaya di lembaga mereka.

Yayasan Little Care Yogyakarta, yang beralamat di Jalan Kaliurang Km 15, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, adalah lembaga nonprofit yang fokus pada pemberian pelajaran tambahan untuk anak-anak dari keluarga prasejahtera. Dengan pendekatan informal, pembelajaran dilakukan setiap Senin dan Jumat sore.

Mata pelajaran yang diajarkan mencakup Bahasa Inggris (Conversation), Sustainability, Seni dan Budaya Jawa, dan Nilai-nilai kebangsaan

Kunjungan ke Gedung Agung ini diharapkan menjadi sumber inspirasi dan pengayaan materi ajar, khususnya dalam menanamkan semangat kebangsaan melalui pendekatan budaya dan sejarah.

“Kami ingin anak-anak kami tumbuh tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga punya rasa cinta dan tanggung jawab terhadap negeri ini,” tutup Faruqi. (Athiful/KIM Depok)




Tangguh dan Bahagia, Upaya Menua Tanpa Demensia

Sleman – Menua adalah proses alami yang tak dapat dihindari. Namun, menua dengan sehat, mandiri, dan tanpa membebani orang lain adalah sebuah pilihan yang dapat diupayakan. Untuk itu, Sekolah Lansia “Kalimasada” hadir sebagai wadah pembelajaran bagi para lanjut usia agar dapat menjalani masa tua yang lebih bermakna, berdaya, dan bahagia.

Hal tersebut disampaikan oleh Wasingatu Zakiyah, Kepala Sekolah Lansia Kalimasada, dalam acara peluncuran jenjang S2 (Standar 2) Sekolah Lansia Kalimasada sekaligus diskusi bertema “Lansia Tangguh, Bermakna, Berdaya, dan Bahagia”, Minggu (25/5/2025) di Kayunan, Donoharjo, Ngaglik, Sleman.

Acara ini diikuti oleh 51 peserta lansia yang sebelumnya juga mengikuti kegiatan Posyandu Lansia, sebagai bentuk pendekatan holistik antara aspek kesehatan fisik dan mental.

Sesi edukasi kesehatan dalam kegiatan ini menghadirkan Yuliana Ratih dari Tim Kerja Kesejahteraan dan Pembangunan Keluarga (KSPK), BKKBN DIY, yang menyampaikan materi tentang demensia atau kepikunan pada lansia.

Yuliana menjelaskan bahwa demensia adalah kondisi penurunan fungsi daya ingat dan berpikir tanpa penurunan kesadaran, dengan gejala seperti mudah lupa, bingung, gangguan tidur, dan perubahan suasana hati.

“Penyebabnya bisa karena kerusakan sel otak, gangguan di area tertentu, penumpukan protein abnormal, atau faktor yang dapat diperbaiki seperti depresi, efek samping obat, konsumsi alkohol berlebihan, gangguan tiroid, hingga kekurangan vitamin D,” paparnya.

Yuliana menggarisbawahi bahwa tidak semua faktor risiko demensia dapat diubah, seperti usia atau genetika, namun banyak faktor yang masih bisa dicegah dan dikendalikan, terutama yang berhubungan dengan gaya hidup.

Beberapa langkah preventif yang disarankan antara lain rajin cek kesehatan secara berkala, mengelola tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol, Mengurangi konsumsi makanan berlemak dan tinggi gula, berolahraga teratur, serta menghindari rokok dan alkohol

Selain itu, aktivitas mental dan sosial yang terus diasah juga penting untuk menjaga ketajaman fungsi otak. Lansia disarankan aktif membaca, menulis, bermain teka-teki silang atau catur, mengikuti pengajian, mempelajari keterampilan baru, dan terlibat dalam kegiatan sosial.

“Jangan lupa kelola stres dengan baik. Bisa melalui relaksasi, curhat, ibadah, atau mencari bantuan profesional bila dibutuhkan,” tambah Yuliana.

Kehadiran jenjang Standar 2 Sekolah Lansia Kalimasada menjadi tonggak baru dalam upaya membekali para lansia dengan wawasan, keterampilan, dan dukungan emosional agar mampu menjalani masa tua dengan percaya diri dan berkualitas. Sekolah ini tidak hanya mengajarkan tentang kesehatan, tetapi juga menguatkan mental dan spiritual para peserta agar terus merasa berarti.

“Sekolah lansia bukan sekadar kegiatan belajar, tapi bentuk investasi sosial agar para lansia tetap aktif, tangguh, dan tidak merasa terasing di usia senja,” ujar Wasingatu Zakiyah.

Dengan pendekatan terintegrasi antara edukasi, kesehatan, dan spiritualitas, kegiatan ini menguatkan pesan bahwa menua tanpa demensia bukan hal mustahil, melainkan hasil dari kesadaran, kebiasaan sehat, dan dukungan lingkungan yang baik. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Gizi Seimbang, Kunci Hidup Sehat dan Produktif

Sleman – Gizi seimbang bukan soal mewahnya makanan, melainkan kecukupan zat gizi yang dikonsumsi sesuai kebutuhan tubuh. Ketika pola makan terjaga dengan baik, tubuh lebih bertenaga, pikiran jernih, dan imun lebih kuat—fondasi utama agar tetap produktif dalam aktivitas sehari-hari.

Kesadaran inilah yang coba dibangun oleh komunitas pengajian Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Banyuraden melalui kegiatan pengajian bertema “Sehat Produktif dengan Gizi Seimbang” yang digelar di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Minggu sore (25/5/2025). Narasumber utama, Sriwahyuningsih Swasono, , seorang ahli gizi dari RSIY PDHI, memberikan materi yang membumi dan aplikatif bagi para jamaah yang kebanyakan ibu rumah tangga.

 “Gizi seimbang bukan teori rumit atau hal mahal. Ini soal bagaimana kita mengatur makanan sehari-hari dengan bahan lokal yang mudah dijangkau, tapi bernilai gizi tinggi,” ujar Sriwahyuningsih. Ia menekankan bahwa pola makan seimbang harus mencakup karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral dalam takaran yang sesuai.

Empat pilar gizi seimbang yang disampaikan Sriwahyuningsih mencakup konsumsi makanan beragam, perilaku hidup bersih dan sehat, aktivitas fisik teratur, dan pemantauan berat badan secara berkala

Penerapan keempat pilar ini, menurutnya, sangat krusial untuk mencegah baik kekurangan gizi (seperti anemia, stunting, defisiensi vitamin) maupun kelebihan gizi (obesitas, diabetes, hipertensi, stroke)—yang semuanya berdampak langsung pada penurunan kualitas hidup dan produktivitas kerja.

Melalui pendekatan bernuansa kekeluargaan dan religius, pengajian ini juga menempatkan peran ibu sebagai sentral dalam pengelolaan gizi keluarga. Ditekankan bahwa ibu tidak hanya perlu memahami teori, tetapi juga harus mampu menyusun menu sehat dan ekonomis, memilih bahan pangan lokal, dan memasak dengan cara yang mempertahankan kandungan gizi.

“Perempuan adalah pilar gizi dalam keluarga. Kalau ibu sehat dan paham gizi, satu rumah tangga akan lebih mudah hidup sehat dan produktif,” jelas Sriwahyuningsih. Ia mengajak jamaah untuk menjadikan dapur sebagai ladang ibadah, dengan menyajikan makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tapi juga menyehatkan.

Dalam refleksi akhir pengajiannya, Sriwahyuningsih menegaskan bahwa banyak penyakit kronis dan penurunan produktivitas saat ini berasal dari kebiasaan makan yang salah. Tubuh yang kekurangan gizi akan mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan rentan sakit—hal yang tentu menurunkan produktivitas dalam belajar, bekerja, maupun beribadah.

Sebaliknya, asupan gizi yang tepat akan menjadi energi yang menjaga vitalitas tubuh, ketajaman pikiran, dan semangat hidup. Dengan menerapkan prinsip gizi seimbang, seseorang dapat mencapai kesehatan holistik: sehat fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Kegiatan pengajian ini diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, dan menjadi ruang refleksi bersama bahwa hidup sehat dan produktif tak harus mahal, cukup dimulai dari kesadaran dan kebiasaan makan yang baik. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




Transmigrasi: Peluang Hidup Lebih Sejahtera

Sleman – Warga Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, kini mendapatkan peluang baru untuk meningkatkan kesejahteraan melalui program transmigrasi. Pada Senin (26/5/2025), Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan publikasi transmigrasi di Aula Kalurahan Argomulyo, yang dihadiri pamong kalurahan dan tokoh masyarakat setempat.

Program ini menyasar warga yang siap membangun kehidupan baru di daerah pengembangan, dengan dukungan penuh dari pemerintah berupa rumah, lahan usaha, dan bantuan modal. Dalam sambutannya, Kasi Kamituwa Kalurahan Argomulyo, Ir. Haryadi, menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini dan berharap informasi yang diperoleh bisa diteruskan secara luas ke masyarakat.

Dalam paparannya, Hani dari Disnaker Sleman menjelaskan bahwa program transmigrasi terbuka untuk warga yang memenuhi kriteria antara lain Warga Negara Indonesia (WNI), sudah berkeluarga, berusia 19–49 tahun, sehat jasmani dan rohani, belum pernah ikut program transmigrasi, dan telah lulus seleksi administrasi dan teknis.

“Persyaratan ini bertujuan untuk memastikan peserta memiliki kesiapan mental dan fisik, karena hidup di lokasi transmigrasi membutuhkan adaptasi dan semangat membangun,” jelas Hani.

Pemerintah memberikan berbagai fasilitas penunjang untuk membantu peserta memulai hidup di tempat baru, antara lain rumah siap huni, lahan pekarangan dan lahan usaha, jatah hidup selama 12 bulan, dan bantuan modal usaha sebesar Rp13 juta per keluarga

Selain itu, peserta juga akan didampingi dalam proses adaptasi dan pembinaan usaha produktif sesuai potensi daerah tujuan.

Untuk tahun ini, lokasi yang disiapkan meliputi Kelase, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, serta Pulau Nibung dan Sungai Baru, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah

Lokasi tersebut merupakan kawasan pengembangan yang memiliki potensi pertanian, perkebunan, dan perikanan, yang cocok untuk keluarga yang siap bekerja keras dan mandiri.

Kabid Disnaker Sleman, Siti Nurjanah, menekankan bahwa transmigrasi adalah pilihan solusi jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan warga. “Program ini bukan pengungsian, tetapi peluang untuk mereka yang ingin memperbaiki hidup dengan semangat dan kerja keras,” ujarnya.

Sementara itu, Surono dari Pos Pelayanan Transmigrasi (Posyantrans) menyampaikan bahwa banyak peserta yang berhasil, meskipun perlu waktu untuk beradaptasi. “Pasti ada tantangan, tapi yang sungguh-sungguh akan menuai hasil. Pemerintah mendampingi, namun kunci sukses tetap pada semangat peserta itu sendiri,” tegasnya.

Program transmigrasi terbukti telah membawa perubahan positif bagi ribuan keluarga di seluruh Indonesia. Melalui kegiatan sosialisasi ini, Kalurahan Argomulyo diharapkan bisa menjaring warga yang memenuhi syarat dan bersedia menjalani proses untuk kehidupan yang lebih baik. (Marmansyah/KIM Wara Aji Cangkringan)




Musyawarah Desa Perkuat Sinergi Mahasiswa dan Masyarakat di Kalitirto

Sleman – Mahasiswa Profesi Ners Angkatan XXIII Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJAYA) Yogyakarta menggelar Musyawarah Desa di Padukuhan Baran, Kalurahan Kalitirto, Kapanewon Berbah, Sleman, pada Minggu (25/5/2025). Kegiatan ini berlangsung di kediaman Dukuh Baran dan menjadi momentum untuk menyampaikan hasil pengkajian kesehatan masyarakat sekaligus menyusun rencana tindak lanjut program pengabdian.

Citra Larasati, perwakilan mahasiswa, memaparkan bahwa setelah melakukan kegiatan lapangan selama dua pekan, ditemukan sejumlah isu kesehatan di masyarakat. Di antaranya, masih rendahnya pemahaman warga tentang penyakit leptospirosis, minimnya pengetahuan anak-anak mengenai cara menyikat gigi dan mencuci tangan yang benar, serta kurangnya informasi tentang layanan PKG (Pemeriksaan Kesehatan Gratis).

“Kami menemukan bahwa masyarakat memerlukan edukasi kesehatan yang lebih intensif dan merata. Ini menjadi dasar rencana kegiatan lanjutan yang akan kami susun bersama masyarakat,” ujar Citra.

Proses pengumpulan data dilakukan secara proporsional dengan teknik random sampling, melibatkan 100 kepala keluarga atau 171 jiwa. Pengkajian dilakukan melalui kunjungan rumah, observasi, wawancara, serta partisipasi dalam kegiatan masyarakat.

Musyawarah turut dihadiri para tokoh masyarakat, termasuk ketua RT dan RW, kader Posyandu, anggota PKK, remaja, dan komunitas lokal. Mereka memberikan saran dan masukan terkait program kesehatan yang akan dijalankan bersama.

Beberapa rencana kerja yang disepakati antara lain: senam hipertensi, penyuluhan tentang hipertensi dan kolesterol, skrining diabetes, edukasi kesehatan gigi dan tangan bagi anak-anak, sosialisasi bahaya NAPZA bagi remaja, serta penyuluhan leptospirosis bagi komunitas petani. Masyarakat masih diberikan kesempatan untuk mengusulkan tambahan kegiatan jika dibutuhkan.

Musyawarah Desa ini juga dihadiri oleh Kepala Puskesmas Berbah, Hari Pratono; Kezia Diah Purnama Sari; serta Sujono Riyadi dari UNJAYA Yogyakarta yang turut memberikan dukungan dan masukan terhadap rencana kegiatan kolaboratif tersebut.

Kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara akademisi dan masyarakat dalam membangun kesadaran serta kualitas kesehatan di tingkat komunitas melalui pendekatan partisipatif dan edukatif. (M.A. Sanusi | KIM Tirto Gumregah Berbah)