Harapan Baru Dari Moyudan: Ketika Pemerintah dan Kampus Bergandengan Tangan

Sleman – Pemerintah Kapanewon Moyudan memberikan harapan baru bagi generasi muda kurang mampu melalui program beasiswa pendidikan tinggi yang didanai oleh Dana Keistimewaan (Danais) DIY. Bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), program ini dirancang untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah Sleman bagian barat.

Program beasiswa ini menyasar pelajar berprestasi dari keluarga tidak mampu, yang selama ini kesulitan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena kendala ekonomi. Pendanaan bersumber dari Danais yang selama ini identik dengan pelestarian budaya dan pembangunan infrastruktur, kini mulai diarahkan untuk membiayai pendidikan warga secara langsung.

Panewu Moyudan, Agung Dwi Maryoto, saat menghadiri Rapat Koordinasi Forum Kelompok Informasi Masyarakat (FKIM) Sembada Kabupaten Sleman di Resto Gudeg Manggar Luweng Kayu, Moyudan, Sleman, Sabtu (24/5/2025), menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada rakyat kecil.

“Dana Keistimewaan jangan hanya untuk pembangunan fisik atau kegiatan budaya. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, dan kami ingin menanam benih masa depan melalui beasiswa ini,” ujar Agung di hadapan para pegiat informasi.

Agung menambahkan bahwa keistimewaan Yogyakarta semestinya tidak hanya tercermin dari warisan budaya, tetapi juga dari upaya nyata dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat. Ia berharap para penerima beasiswa dapat menjadi agen perubahan yang kelak membangun daerahnya dengan bekal ilmu dan integritas.

Program ini, menurutnya, sejalan dengan semangat Undang-Undang Keistimewaan DIY, yang menekankan pembangunan kebudayaan dan pendidikan sebagai pilar utama. Dalam konteks ini, pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan tinggi dipandang sebagai wujud pelestarian nilai keistimewaan: menciptakan warga yang cerdas, berbudaya, dan berdaya saing.

Langkah Pemerintah Kapanewon Moyudan ini menjadi contoh pemanfaatan Dana Keistimewaan yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup warga. Dengan menggandeng perguruan tinggi, khususnya UMY, pemerintah membuktikan bahwa kolaborasi antara sektor publik dan akademik dapat menghasilkan program konkret yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat.

Lebih dari sekadar pemberian beasiswa, inisiatif ini membuka jalan baru dalam pembangunan sumber daya manusia berbasis desa. Di tengah tantangan ekonomi dan sosial, program ini menjadi simbol bahwa harapan dapat tumbuh dari akar rumput, membawa masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda Moyudan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Satlat Demak Ijo Sukses di POPDA DIY 2025, Tiga Medali Dibawa Pulang

Sleman – Suasana Gedung Olahraga Among Raga Yogyakarta bergemuruh oleh sorakan penonton saat para petarung tarung derajat unjuk kemampuan dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) DIY 2025, Minggu (25/5/2025). Di tengah ratusan peserta dari berbagai kabupaten/kota se-DIY, Satuan Latihan (Satlat) Tarung Derajat Demak Ijo dari Banyuraden, Gamping, Sleman mencuri perhatian dengan prestasi gemilang.

Satlat Demak Ijo mengirimkan tiga atlet muda dan berhasil memboyong satu medali emas, satu perak, dan satu perunggu. Capaian ini menjadi bukti dedikasi tinggi dan semangat juang luar biasa dari para petarung muda binaan satlat tersebut.

Medali emas diraih oleh Muhammad Tegar Abdul Gani, siswa SMKN 4 Yogyakarta, yang tampil dominan di kelas 58,1–61 kg putra. Dalam laga final, Tegar menang mutlak atas lawannya dari Kulon Progo melalui kombinasi teknik pukulan dan tendangan khas tarung derajat yang presisi dan agresif.

“Saya persembahkan medali ini untuk pelatih dan keluarga besar Satlat Demak Ijo. Tanpa mereka, saya bukan siapa-siapa,” ungkap Tegar dengan mata berkaca-kaca usai pertandingan.

Medali perak diraih oleh Mutiara Nur Fauziah, juga siswa SMKN 4 Yogyakarta, yang turun di kelas 54,1–58 kg putri. Meski kalah tipis di babak final, Mutiara menunjukkan penampilan yang mengesankan. Sementara itu, Kristanti, siswi SMPN 8 Yogyakarta, sukses meraih medali perunggu di kelas 45,1–50 kg putri, menambah kebanggaan bagi tim Demak Ijo.

Ketiga atlet ini menjadi inspirasi bagi pelajar lain di DIY. Mereka membuktikan bahwa dengan tekad kuat, latihan disiplin, dan bimbingan yang tepat, prestasi bisa diraih meski berasal dari lingkungan latihan yang sederhana.

Usai penyerahan medali, pelatih Satlat Demak Ijo, Kang Feriyadi dan Kang Ruslan, mengungkapkan rasa bangga mereka. Feriyadi yang juga bertugas sebagai juri menyebut capaian ini sebagai buah dari latihan intensif selama berbulan-bulan.

“Yang kami latih bukan hanya fisik, tapi juga mental dan karakter. Mereka harus siap bertarung, tetapi tetap rendah hati,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa sinergi antara pelatih, atlet, dan dukungan orang tua menjadi kunci keberhasilan tim.

Meski fasilitas latihan di Satlat Demak Ijo tergolong sederhana, hal itu tak menjadi penghalang. Menurut Feriyadi, kunci kesuksesan terletak pada semangat, rasa memiliki, dan kekompakan tim. “Bukan alat mewah yang menentukan, tapi semangat tempur dan tekad yang tak mudah goyah,” tambahnya.

Senada, Kang Ruslan menyebut keberhasilan Satlat Demak Ijo di POPDA DIY 2025 sebagai bukti bahwa prestasi bukan milik mereka yang memiliki fasilitas lengkap saja. “Ini milik mereka yang gigih, kompak, dan punya mental baja,” katanya.

Ia menegaskan bahwa filosofi latihan yang dipegang Satlat Demak Ijo mengacu pada ajaran Aa Boxer, pendiri tarung derajat: “Aku adalah petarung. Aku tidak akan menyerah. Aku akan terus maju.” Nilai ini ditanamkan sejak dini hingga melekat dalam karakter setiap anggota.

Keberhasilan ini semakin mengukuhkan posisi Satlat Demak Ijo sebagai salah satu pusat pembinaan tarung derajat terbaik di Yogyakarta. Mereka tak hanya mencetak juara, tapi juga membentuk generasi muda yang tangguh, disiplin, dan berjiwa sportivitas tinggi. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Deteksi Dini Penyakit Tak Menular Melalui Posbindu

Sleman – Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Pos Pelayanan Terpadu (Posbindu) Teratai Putih Dabag, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga, khususnya usia 15 tahun ke atas, pada Minggu (25/5) di Gedung Serbaguna Dabag.

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini terhadap penyakit tidak menular (PTM) dan pemantauan faktor risikonya secara terpadu, rutin, dan periodik.

Kader Posbindu Teratai Putih, Sri Wahyuni, menjelaskan bahwa layanan yang diberikan mencakup penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, lingkar perut, pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, asam urat, dan kolesterol. Selain itu, masyarakat juga mendapat konsultasi serta penyuluhan dari kader dan tenaga kesehatan setempat.

“Harapannya, masyarakat Padukuhan Dabag dapat memperoleh derajat kesehatan yang lebih baik dan berkualitas,” ujarnya.

Sebagai Sekretaris Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Condongcatur, Sri Wahyuni menambahkan bahwa kegiatan ini dikelola oleh dan untuk masyarakat, serta diharapkan dapat terus berlanjut sebagai bentuk pelayanan kesehatan gratis yang inklusif bagi seluruh warga.

Ia juga menekankan pentingnya keberadaan Posbindu sebagai layanan kesehatan yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Melalui kegiatan ini, masyarakat diimbau untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin agar potensi gangguan kesehatan dapat ditangani lebih awal.

“Mari kita menuju usia produktif yang lebih sehat dan berkualitas melalui program yang bermanfaat ini,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)




Prokasih di Gandekan, Warga Gandeng Stakeholder Jaga Ekosistem Sungai

Sleman — Sekitar 150 warga bersama sejumlah pemangku kepentingan terlibat dalam kegiatan Program Kali Bersih (Prokasih) yang digelar di sepanjang aliran Sungai Grojogan, Kampung Gandekan, Padukuhan Nayan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sleman, pada Minggu (25/5/2025).

Aksi sosial ini merupakan agenda rutin warga Gandekan yang bertujuan menjaga kelestarian ekosistem sungai dengan melibatkan unsur masyarakat, pemerintah, perusahaan, aktivis lingkungan, dan forum kelembagaan lainnya.

Sebelum aksi dimulai, para peserta mendapatkan pembekalan dari sesepuh Padukuhan Nayan, Triyono, yang menekankan pentingnya semangat gotong royong dalam menjaga lingkungan.

“Kegiatan Prokasih ini adalah bentuk nyata tanggung jawab sosial warga dalam merawat ekosistem sungai. Ini bukan hanya soal sampah, tetapi juga soal mengembalikan fungsi sungai agar airnya kembali jernih dan bermanfaat,” ujar Triyono.

Ia juga mengapresiasi antusiasme warga yang tinggi dalam kegiatan ini dan berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi agenda rutin berbasis kolaborasi antarlembaga.

“Dengan sungai yang bersih dan terawat, kita bisa mengurangi risiko bencana seperti banjir. Lingkungan yang bersih menciptakan kehidupan yang lebih nyaman dan harmonis dengan alam,” tambahnya.

Triyono juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, khususnya di Sungai Grojogan. Menurutnya, menjaga kebersihan sungai berarti menjaga keberlangsungan kualitas hidup masyarakat.

“Kegiatan ini juga menjadi bentuk edukasi kepada masyarakat bahwa menjaga lingkungan adalah investasi penting untuk masa depan yang lebih baik,” tutupnya. (Athiful/KIM Depok)




Kesalehan Ritual dan Sosial dalam Ibadah Kurban, Refleksi Spirit Iduladha

Sleman — Ibadah kurban dalam perayaan Iduladha tidak sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan sarat makna spiritual dan sosial yang mencerminkan keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), M. Husnaini, dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid An-Nuur Sono, Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Minggu (25/5/2025).

Dalam tausiyahnya, Husnaini menegaskan bahwa kurban adalah simbol kesalehan ritual melalui ketaatan terhadap perintah Allah, dan sekaligus wujud kesalehan sosial melalui pembagian daging kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar.

“Qurban berasal dari kata ‘qaruba’ yang berarti mendekat. Ia menjadi sarana pendekatan diri kepada Allah sekaligus menumbuhkan empati sosial terhadap sesama,” jelasnya.

Ia mengisahkan keteladanan Nabi Ibrahim yang dengan ikhlas bersedia menyembelih putranya, Ismail, atas perintah Allah. Respons Ismail yang siap menjalankan perintah tersebut menjadi simbol ketundukan yang luar biasa kepada kehendak Ilahi.

“Jawaban Ismail menunjukkan betapa agungnya karakter anak saleh. Namun, pertanyaannya, sudahkah kita memiliki sikap seperti Ibrahim?” ujar Husnaini menggugah kesadaran jamaah.

Doktor jebolan International Islamic University Malaysia itu menyebut bahwa Nabi Ibrahim digelari sebagai “Bapak Para Nabi” karena konsistensinya dalam menyeru tauhid yang murni. Ia adalah figur sentral dalam sejarah kenabian yang mewariskan nilai-nilai keimanan dan keteladanan hidup.

Menurutnya, masyarakat harus memahami bahwa kurban bukanlah sekadar seremonial tahunan, tetapi bentuk nyata dari pengorbanan harta demi mendekatkan diri kepada Allah dan membantu sesama manusia.

“Ibadah kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan, tetapi harus diiringi dengan semangat altruisme—berbagi rezeki, mempererat ukhuwah, dan membangun keadaban sosial,” tambahnya.

Sebagai anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Husnaini juga mengajak umat Islam menjadikan momentum Iduladha sebagai refleksi untuk membentuk karakter bangsa yang lebih beradab, terlebih di era digital yang sering kali minim empati.

“Kesalehan ritual dan sosial harus menjadi kesadaran kolektif. Melalui ibadah kurban, umat Islam Indonesia harus tampil sebagai teladan dalam membangun kehidupan berbangsa yang berkeadaban dan bermartabat,” tutupnya. (Athiful/KIM Depok)