Pendidikan Berkemajuan Dimulai dari Ketakwaan dan Keteladanan

Sleman — Mendidik generasi Z memerlukan pendekatan yang sesuai dengan tantangan zaman. Hal ini disampaikan oleh Arief Jamali Muis dalam pengajian bertema “Pendidikan Berkemaajuan” yang digelar di Masjid At-Taqwa, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Sabtu (31/5).

Arief menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan panduan dalam mendidik anak agar tidak menjadi generasi yang lemah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Surat An-Nisa ayat 9, yaitu dengan bertakwa dan berkata benar.

“Apabila orang tua dalam mendidik anak dilandasi dengan ketakwaan dan kedekatan kepada Allah SWT, insyaallah hasilnya akan jauh lebih baik,” jelas Arief. Ia menambahkan, berkata benar berarti orang tua perlu memberi keteladanan yang nyata bagi anak, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Menurut Arief, kebenaran dalam mendidik harus dilandasi ilmu yang memadai. Dialog yang terbuka dengan anak, sambil menjelaskan mana yang baik dan benar, merupakan pendekatan yang penting dalam pendidikan berbasis nilai.

Arief Jamali Muis saat ini menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta dan juga Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

Sementara itu, Ketua Pengajian Nurul Masajid, Muhammad Subhan, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah yang hadir dari sembilan masjid sekitar Perumnas Minomartani. Ia juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan dibuka Nurul Masajid Mart, sebuah usaha jamaah untuk memenuhi kebutuhan belanja harian masyarakat sekitar. (M.A. Sanusi/KIM Tirto Gumregah Berbah)




Saat Kita Masih Tidur, Mereka Sudah Bekerja

Sleman — Sabtu pagi pukul WIB, Alun-alun Denggung mulai terlihat bersih. Meski masih ada sisa sampah di sudut lapangan dan sepanjang jalan, para petugas kebersihan telah mulai menyapu dan mengangkut tumpukan sampah sejak sebelum fajar.

Salah satu dari mereka adalah Eko, pria paruh baya yang tengah memindahkan sampah ke dalam bak roda. Ia mengaku sudah berangkat dari rumahnya di sekitar Jembatan Krasak, sekitar 10 kilometer dari lokasi sejak subuh.

“Hari Sabtu dan Minggu kami harus berangkat lebih awal karena banyak warga yang akan berolahraga,” tuturnya sambil mengusap keringat.

Malam sebelumnya, Alun-alun Denggung dipadati pedagang dan pengunjung. Namun, begitu aktivitas usai, banyak sampah plastik, styrofoam, dan botol bekas yang ditinggalkan begitu saja. Beberapa ekor kucing liar terlihat menyusup di antara tumpukan, sementara lalat-lalat beterbangan.

Fenomena ini mencerminkan rendahnya disiplin sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Banyak yang menganggap kebersihan sebagai urusan petugas semata, padahal tanggung jawab utama justru berada di tangan para pengguna ruang publik.

“Kalau semua orang membuang sampah pada tempatnya, pekerjaan kami jadi lebih ringan,” tambah Eko.

Upaya menjaga kebersihan membutuhkan kesadaran kolektif. Diperlukan lebih banyak tempat sampah yang mudah dijangkau, kampanye kebersihan rutin, serta kerja sama dengan komunitas olahraga dan pengguna rutin alun-alun. Bahkan, penerapan sanksi ringan atau denda administratif terhadap pelaku buang sampah sembarangan bisa menjadi solusi jangka pendek.

Petugas kebersihan adalah pahlawan pagi hari yang sering tak terlihat. Saat sebagian besar masyarakat masih terlelap, mereka sudah memulai hari demi memastikan ruang publik tetap nyaman dan bersih.

Mereka pantas mendapat terima kasih, penghargaan, dan dukungan nyata bukan hanya dalam bentuk ucapan, tetapi juga dari sikap bertanggung jawab atas sampah masing-masing.

Karena sejatinya, ruang publik yang bersih bukan hanya buah dari kerja keras petugas, tapi juga cerminan etika kolektif warganya. (Sadhono Hadi | KIM Tempel)




Menangkap Langit, Konservasi Air Hujan Demi Kemandirian Air

Sleman — Ancaman krisis air bersih kian nyata. Urbanisasi, perubahan iklim, dan eksploitasi air tanah telah menciptakan ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan air. Menjawab tantangan tersebut, konservasi air hujan kembali mendapat sorotan sebagai solusi konkret dan mandiri.

“Sayangnya, sebagian besar air hujan langsung terbuang ke sungai dan laut tanpa sempat dimanfaatkan. Konservasi air hujan ingin membalik situasi ini, dari air yang terbuang menjadi air yang terselamatkan,” ujar Sri Wahyuningsih, pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, saat memberikan pelatihan konservasi air hujan di Tempursari, Kabupaten Sleman, Sabtu (31/5).

Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta dari Kelompok Tani Lestari, Karang Taruna Wonokerto Turi, serta 10 warga RW 17 Condongcatur. Hadir pula Neta Warastuti, Fungsional Penyuluh Lingkungan Hidup dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Regional Jawa.

Wahyuningsih menjelaskan, konservasi air hujan terdiri atas lima tahap: menampung, mengolah, minum, menabung, dan mandiri. Air hujan ditangkap dari atap bangunan, dialirkan melalui filter sederhana, lalu disimpan dalam tandon. Air tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan sanitasi, bahkan bisa diolah menjadi air minum.

Namun, kendala terbesar bukan pada teknologi, melainkan pola pikir masyarakat. Masih banyak yang menganggap air hujan kotor atau tidak layak dikonsumsi. Padahal, menurut penelitian lembaga seperti LIPI dan Balitbangtan, air hujan yang disaring dan diolah dengan baik memenuhi syarat sebagai air minum sehat dan berkelanjutan.

“Sosialisasi dan edukasi menjadi kunci utama agar masyarakat berani mengubah cara pandang terhadap air hujan,” tandas Wahyuningsih.

Dalam sesi praktik, dilakukan pengukuran Total Dissolved Solids (TDS) terhadap sampel air dari sumur dan PDAM milik warga Condongcatur. Hasilnya menunjukkan air sumur RT 16: 167 ppm, air sumur RT 09: 278 ppm, air sumur RT 10: 219 ppm, air sumur RT 12: 273 ppm, air PDAM: 141 ppm dan 150 ppm, serta air hujan olahan Sekolah Banyu Bening: 10 ppm

TDS merupakan indikator penting dalam menilai kebersihan air. Semakin rendah TDS, semakin sedikit kandungan zat terlarut yang dapat membahayakan kesehatan.

“Air hujan yang baru turun dan belum menyentuh tanah memiliki TDS yang sangat rendah, mendekati air murni,” imbuh Wahyuningsih.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan curah hujan tinggi—lebih dari mm per tahun di banyak daerah. Namun ironisnya, menurut BNPB, hingga Agustus 2023, lebih dari 100 kabupaten/kota mengalami kekeringan setiap tahun. Di Yogyakarta, misalnya, warga terdampak kekeringan.

Melalui konservasi air hujan, masyarakat tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memperoleh kedaulatan atas sumber air sendiri. Dengan pengetahuan dan kemauan, kemandirian air bukan lagi utopia, tetapi keniscayaan.

“Kini saatnya menangkap langit. Karena dari langit, bukan hanya hujan yang turun, tapi juga harapan,” pungkas Wahyuningsih. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




Tanam Padi Serentak di Godean, Bupati Sleman dan HKTI Dukung Ketahanan Pangan Daerah

Sleman — Bupati Sleman, Harda Kiswoyo, bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Sleman memimpin kegiatan tanam padi serentak di area persawahan Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Godean, Jumat (30/5). Kegiatan ini menjadi simbol dimulainya musim tanam 2025 di wilayah Sleman Barat, sekaligus bentuk komitmen bersama dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

Acara yang dimulai sejak pukul WIB ini dihadiri ratusan petani, Ketua DPC HKTI Sleman, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Camat Godean, Lurah Sidomulyo, penyuluh pertanian, serta tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada para petani yang tetap menjaga produktivitas di tengah tantangan seperti perubahan iklim, kelangkaan pupuk, hingga alih fungsi lahan.

“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi komitmen nyata untuk menjaga ketersediaan pangan lokal. Saya harap ini menjadi awal musim tanam yang baik dan menghasilkan panen melimpah,” ujar Harda.

Ia juga mendorong penerapan teknologi pertanian modern, seperti penggunaan pupuk organik, irigasi efisien, dan benih unggul tahan hama.

Ketua DPC HKTI Sleman, Setiyati Prihatini, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pendampingan intensif kepada petani di Sleman.

“HKTI mendorong petani tidak hanya menanam, tetapi memahami proses pertanian secara menyeluruh, termasuk pengolahan lahan hingga pemasaran hasil panen,” jelas Setiyati.

Ia menambahkan bahwa HKTI berkomitmen memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan, penyuluhan, dan kemitraan dengan pemerintah maupun sektor swasta, agar kegiatan pertanian menjadi berkelanjutan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat, produksi padi DIY tahun 2024 mencapai ton GKG, turun 15,22% dibanding tahun sebelumnya. Luas panen pun berkurang 8,25%. Situasi ini menjadi latar belakang pentingnya program tanam serentak sebagai upaya konkret mengangkat kembali produktivitas pertanian.

Puncak kegiatan ditandai dengan penanaman simbolis benih padi varietas IR 64 oleh Bupati dan jajaran. Varietas ini dipilih karena adaptif terhadap kondisi lokal dan berdaya hasil tinggi.

Salah satu petani dari Kelompok Tani Ngudi Rahayu, Joko, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan langsung dari pemerintah daerah.

“Kami senang dan termotivasi dengan kehadiran Pak Bupati. Ini jadi penyemangat baru bagi kami,” tuturnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mengantisipasi krisis pangan, memperkuat ekonomi petani, dan menegaskan sinergi lintas sektor dalam menjaga ketahanan pangan daerah. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




PPDI Kapanewon Depok Dorong Kemandirian Disabilitas Lewat Pelatihan Usaha dan Kolaborasi

Depok — Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kapanewon Depok menegaskan pentingnya penguatan kemandirian penyandang disabilitas melalui pelatihan wirausaha dan sinergi antaranggota. Hal ini disampaikan Ketua PPDI Depok, Setyawati Marheni, dalam rapat koordinasi rutin yang berlangsung Sabtu (31/5).

Menurut Setyawati, pertemuan rutin bukan sekadar forum komunikasi kelembagaan, melainkan ruang strategis untuk merancang langkah konkret pemberdayaan penyandang disabilitas.

“Pertemuan rutin ini adalah media untuk menyusun program nyata yang mendukung kemandirian teman-teman disabilitas,” ujarnya.

Salah satu fokus program tahun ini adalah peningkatan keterampilan usaha melalui pelatihan membuat batik ecoprint dan kuliner seperti bakso dan basreng. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan jiwa wirausaha dan membuka peluang usaha mandiri.

Pengurus PPDI Depok, Bonie, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen mendukung pemasaran produk-produk hasil pelatihan, khususnya produk kuliner kering yang memiliki daya simpan tinggi.

“Kami akan memprioritaskan produk makanan kering agar dapat dipasarkan secara daring, sehingga jangkauan pemasarannya lebih luas,” jelas Bonie.

Selain kuliner, pelatihan batik ecoprint juga akan dilaksanakan secara swadaya. Kegiatan ini dinilai tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan, dan menjadi alternatif usaha kreatif bagi penyandang disabilitas.

PPDI Depok menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan disabilitas bergantung pada sinergi dan kolaborasi seluruh elemen, baik dari internal komunitas maupun dukungan eksternal.

“Kunci keberdayaan adalah kerja sama. Dengan kolaborasi, penyandang disabilitas bisa lebih mandiri dan produktif,” pungkas Setyawati. (Tri Suhartati/KIM Depok)