Dorong Ketahanan Pangan, Petani di Moyudan Kembangkan Tanaman Talas

Sleman — Upaya mewujudkan ketahanan pangan terus dilakukan di wilayah Sleman Barat, khususnya di Kapanewon Moyudan. Minimnya aliran air dan serangan hama yang kerap merusak tanaman padi membuat sebagian petani enggan mengolah lahannya. Padahal, Moyudan diharapkan menjadi salah satu lumbung pangan bagi Kabupaten Sleman.

Menjawab tantangan ini, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Fx. Wagiman, memperkenalkan budidaya tanaman talas sebagai alternatif pangan yang tahan terhadap gangguan hama dan tidak membutuhkan banyak air. Penanaman dilakukan di Bulak Gesikan, Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman.

“Talas lebih tahan terhadap hama, termasuk tikus, dan cocok ditanam di daerah dengan pasokan air terbatas,” jelas Prof. Wagiman dalam kegiatan panen perdana yang digelar pada Senin (2/6/2025).

Tahun lalu, Prof. Wagiman menggandeng Bappeda Sleman dalam program pengembangan talas dan menerima bantuan dana sekitar Rp50 juta untuk membudidayakan varietas Prima 1. Ia menyebutkan bahwa tanaman talas bisa menjadi solusi dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan daerah.

“Talas adalah tanaman herba tropis. Satu pohon bisa menghasilkan 3–4 kilogram dengan harga jual sekitar per kilogram. Selain itu, masa tanamnya relatif singkat, hanya sekitar tujuh bulan,” paparnya.

Perawatan talas juga terbilang mudah, cukup dipupuk satu kali dengan pupuk ZA selama masa pertumbuhan.

Dalam panen perdana tersebut, sebanyak bibit talas juga dibagikan kepada para petani. Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kalurahan Sumbersari, Fx. Naryanto, berharap pembagian bibit ini mampu mengurangi jumlah lahan yang tidak digarap.

“Target kami, dalam tiga tahun ke depan tidak ada lagi lahan yang dibiarkan nganggur,” ungkap Naryanto.

Talas, atau dikenal juga sebagai keladi atau kimpu, kaya akan nutrisi. Umbi ini mengandung karbohidrat, protein, serat, vitamin, dan mineral, serta dikenal baik untuk kesehatan. Kandungan kaliumnya membantu menjaga tekanan darah tetap stabil, mengurangi risiko hipertensi, dan mendukung kesehatan jantung.

Dengan nilai ekonomi dan manfaat kesehatan yang menjanjikan, talas diharapkan menjadi komoditas alternatif unggulan dalam mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di Sleman. (Giek/KIM Moyudan)




Revitalisasi Pancasila, Menyalakan Kembali Api Persatuan Bangsa

Sleman — Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Pemerintah Kapanewon Gamping menggelar upacara pengibaran bendera Merah Putih di halaman kantor kapanewon, Minggu (1/6/2025). Bertindak sebagai inspektur upacara, Wakil Komandan Koramil 17/Gamping Kapten Infanteri Wahyani menyampaikan amanat Bupati Sleman yang menekankan pentingnya revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Upacara ini dihadiri oleh Panewu Gamping Suyanto, Panewu Anom R. Hery Subagio, perwakilan Kepolisian Sektor Gamping, serta lurah dan pamong kalurahan se-Kapanewon Gamping.

Dalam amanatnya, Kapten Wahyani menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh hanya menjadi agenda seremonial, melainkan harus menjadi momentum refleksi dan penguatan ideologi negara. Ia menekankan bahwa revitalisasi nilai-nilai Pancasila harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, terutama untuk menjangkau generasi muda yang hidup di era digital.

“Pola sosialisasi nilai-nilai Pancasila harus adaptif terhadap pola pikir masing-masing generasi, dengan pendekatan nyata dan keteladanan agar lebih mudah diterima dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Wahyani.

Menurutnya, Pancasila bukan sekadar dokumen normatif, melainkan platform bersama yang merekatkan keberagaman bangsa. Dalam konteks Indonesia yang multikultural, Pancasila menjadi dasar inklusif untuk berdialog dan hidup berdampingan tanpa menghapus identitas masing-masing. Namun, tanpa revitalisasi, ruang kebangsaan ini dapat terancam oleh polarisasi dan intoleransi.

Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda di Sleman, untuk memahami, mengimplementasikan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan pribadi maupun sosial. “Nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan sosial, dan kemanusiaan harus kembali menjadi roh dari kebijakan publik dan relasi sosial kita,” tegasnya.

Revitalisasi Pancasila, lanjutnya, memerlukan langkah konkret seperti pendidikan karakter sejak usia dini, penguatan demokrasi, serta konsistensi para pemimpin dalam memberikan keteladanan. Pendidikan juga berperan penting agar Pancasila tidak hanya menjadi hafalan semata, tetapi menjadi nilai hidup yang membimbing perilaku generasi muda.

“Sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu berkolaborasi untuk menumbuhkan semangat kebangsaan dan tanggung jawab sosial. Pancasila harus menjadi etika publik, bukan sekadar wacana,” pungkas Wahyani. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




SMP Musade Sleman Lepas 115 Siswa, Tekankan Karakter Unggul dan Nilai Kemuhammadiyahan

Sleman — SMP Muhammadiyah 1 Depok (Musade) Sleman menggelar acara pelepasan purna siswa angkatan ke-54 pada Senin (2/6/2025) di aula sekolah. Sebanyak 115 siswa kelas IX secara resmi dilepas setelah menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun di jenjang menengah pertama.

Kegiatan berlangsung khidmat dan menjadi momen membanggakan bagi para siswa serta orang tua. Acara ini mengusung tema “Being an Educated, Virtuous, and Wise Intellectual” sebagai wujud harapan agar lulusan Musade menjadi generasi berilmu, berkarakter, dan bijaksana.

Kepala SMP Musade Sleman, Abidin Fuadi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh siswa dan rasa terima kasih kepada para orang tua atas dukungan yang diberikan selama proses pendidikan.

“Kami berterima kasih kepada wali murid yang senantiasa mendukung pendidikan anak-anak selama ini,” ujarnya.

Abidin menekankan bahwa acara ini tidak hanya sebagai pelepasan, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan siswa dalam menyelesaikan studi. Ia berharap nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang diajarkan selama ini menjadi bekal penting dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

“Teruslah melangkah dengan integritas, kerja keras, dan semangat belajar tinggi. Insya Allah, kesuksesan selalu menyertai derap langkah anak-anakku di mana pun berada,” pesannya.

Menariknya, dalam akhir sambutannya, Abidin mengajak siswa mengambil pelajaran dari filosofi pohon kelapa. Menurutnya, pohon kelapa mencerminkan ketahanan, kebermanfaatan, dan semangat belajar yang terus tumbuh.

“Pohon kelapa mampu bertahan meski diterpa angin kencang. Ini mengajarkan kita untuk tangguh menghadapi tantangan. Setiap bagiannya bermanfaat bagi manusia, mengajarkan kita untuk terus memberi kontribusi positif,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, seperti pohon kelapa yang terus menjulang tinggi, siswa juga harus terus belajar dan berkembang sepanjang hayat.

Acara ditutup dengan doa bersama, sesi foto masing-masing kelas bersama wali kelas, serta foto seluruh guru dan tenaga kependidikan SMP Musade Sleman. (Athiful/KIM Depok)




Mentoring Menulis: Merangkai Gagasan, Menempa Diri

Sleman — Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kapanewon Gamping menggelar pelatihan menulis bertajuk Mentoring Circle With Writers di Pondok Pesantren Putri Al-Miftah Mlangi, Minggu sore (1/6/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 30 mahasiswa dari Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Kegiatan yang menjadi bagian dari program Ngaji Santai Barokah (Ngasah) ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Ketua Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahjo, dan jurnalis , Fadhilatul Aisyah.

Dalam pemaparannya, Adnan menjelaskan bahwa artikel yang efektif adalah tulisan yang menyampaikan gagasan secara jelas, padat, dan mudah dipahami. Menurutnya, efektivitas ditentukan oleh struktur tulisan yang baik, bahasa yang lugas, serta pemilihan diksi yang tepat.

“Pembaca saat ini sangat selektif. Mereka ingin mendapatkan informasi dengan cepat tanpa harus membaca ulang. Karena itu, penulis harus mampu langsung ke inti dan tidak membingungkan,” ujarnya.

Adnan juga menekankan pentingnya kemampuan menulis di lingkungan akademik maupun profesional. Mahasiswa, katanya, perlu menguasai berbagai bentuk penulisan, mulai dari makalah, artikel ilmiah, hingga konten digital. Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dasar dan lanjutan peserta agar karya tulis mereka tidak hanya informatif, tetapi juga menarik dan komunikatif.

Sementara itu, Fadhilatul Aisyah membagikan panduan menulis berita dengan struktur yang tepat, mulai dari headline (judul), lead (pembuka), body (isi), hingga ekor berita. Ia menekankan bahwa judul berperan penting untuk menarik perhatian pembaca.

“Buatlah judul yang mampu membangkitkan rasa penasaran pembaca agar mereka terdorong untuk membaca sampai akhir,” ujarnya.

Aisyah juga menjelaskan bahwa lead berfungsi memberikan gambaran awal isi tulisan dan menjadi penentu apakah pembaca akan melanjutkan membaca atau tidak. Lead yang baik, katanya, harus singkat, padat, dan memuat unsur 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, dan How).

Selain efektivitas, pelatihan ini juga menekankan pentingnya kreativitas. Menurut para narasumber, di era digital yang penuh dengan informasi, gaya menulis yang unik, sudut pandang yang segar, dan analogi yang menarik menjadi pembeda utama agar tulisan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.

Pelatihan ini dirancang untuk membantu mahasiswa mengasah kemampuan menyampaikan gagasan secara terstruktur, komunikatif, dan kreatif. Keterampilan ini berguna tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam berbagai sektor seperti promosi, kampanye sosial, penyuluhan, dan presentasi proyek. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Sinau Bareng Qurban, Bekal Teknis dan Syar’i untuk Juru Sembelih Halal

Sleman — Manajemen penyembelihan hewan qurban yang baik sangat penting untuk menjamin proses yang aman, tertib, dan sesuai syariat Islam. Hal ini disampaikan oleh Ustadz Nurhadi Bambang Handoko dalam acara Sinau Bareng Juru Sembelih Halal yang digelar di Aula Masjid Baitul Hasanah Penen, Minggu (1/6/2025).

Kegiatan ini diikuti lebih dari 50 peserta yang berasal dari takmir tiga masjid, yaitu Masjid Baitul Hasanah Penen, Masjid Hidayatullah Gondangan, dan Masjid Baitur Rohim Tegal Mulyo. Dalam paparannya, Ustadz Nurhadi menjelaskan bahwa manajemen qurban mencakup tiga tahapan utama: persiapan, pelaksanaan penyembelihan, dan pengelolaan daging qurban.

“Seorang juru sembelih harus tenang, percaya diri, dan memperlakukan ternak dengan baik. Tidak boleh takut, ragu, kasar, atau menimbulkan kebisingan yang dapat menakuti hewan,” ujar Ustadz Nurhadi.

Ia menekankan pentingnya menyiapkan tempat transit hewan yang tenang, tertutup, cukup luas, dan terpisah dari lokasi penyembelihan. Hewan disarankan berpuasa selama 12 jam sebelum disembelih untuk menjaga ketenangan, meskipun tetap diperbolehkan minum.

Dalam praktiknya, lokasi transit, penyembelihan, dan pengulitan sebaiknya dipisahkan. Jika tidak memungkinkan, maka harus dipasang sekat agar hewan tidak melihat proses penyembelihan. Untuk sapi, bisa digunakan penutup wajah yang kini tersedia secara daring.

Terkait alat penyembelihan, ia menyarankan penggunaan pisau yang sangat tajam, minimal 30 cm untuk sapi dan 15–25 cm untuk kambing. “Ketajaman pisau bisa diuji dengan memotong kertas. Selain itu, juru sembelih harus membawa pisau cadangan untuk mengantisipasi insiden,” jelasnya. Ia juga menekankan agar pengasahan pisau tidak dilakukan di depan hewan.

Lebih lanjut, Ustadz Nurhadi menggarisbawahi pentingnya koordinasi tim penyembelihan yang dibagi menjadi beberapa kelompok: tim sembelih, tim kelet (pengulitan), tim timbang, tim pisah tulang, tim potong daging, dan tim pengemasan. Area kerja juga dibagi menjadi zona merah (transit, penyembelihan, pengulitan) dan zona biru (pemotongan dan pengemasan daging). Petugas dari zona merah tidak diperbolehkan memasuki zona biru tanpa pembersihan diri. Merokok pun dilarang di kedua zona karena dapat memengaruhi kualitas daging.

Ketua Takmir Masjid Baitul Hasanah Penen, Bambang Ananto, yang juga menjabat sebagai ketua panitia, menyampaikan bahwa tahun ini masjid mereka akan menyembelih 7 ekor sapi dan 16 ekor kambing, dan jumlah ini kemungkinan masih akan bertambah.

“Kami berharap pelatihan ini dapat menambah wawasan dan keterampilan tim. Meskipun kami telah berpengalaman, kami ingin terus belajar agar pelaksanaan qurban tahun ini lebih baik dan lebih syar’i,” tuturnya. (Endarwati / KIM Donoharjo)