Kowanan Siap Kelola Sampah Mandiri

Sleman – Sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah mandiri yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, di Balai RW XI Kowanan Sidoagung, Rabu (4/6/2025).

Tata Laksana Kalurahan Sidoagung Kapanewon Godean, Waris pada kesempatan itu menuturkan bahwa masalah sampah sudah menjadi masalah nasional sehingga sampah harus bisa diselesaikan di sumbernya yaitu rumah tangga.

“Jenis sampah dari jaman dulu sampai sekarang memang berbeda. Banyaknya kemasan pabrikan juga tidak bisa dihindari. Selain menyiapkan sistem yang terbangun juga diperlukan kesadaran dari pelaku yang dalam hal ini adalah masyarakat,” jelas Waris.

Kasi Persampahan DLH Sleman, Fitria Ayu Wardani dalam pengarahannya menyampaikan sejumlah dampak utama dari pembakaran sampah plasti, mulai dari pencemaran udara, tanah dan air. Kemudian gangguan kesehatan, kerusakan ekosistem, dan kontribusi terhadap pemanasan global.

“Pembakaran sampah plastik yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis, dapat berbahaya bagi lingkungan baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek,” tandas Fitria.

Ia menambahkan bahwa gas atau bahan berbahaya yang dihasilkan dari pembakaran plastik yaitu gas dioxin dan furan, partikulat, natrium chlorida, karbon monoksida dan hidrogen chlorida.

Sementara, Sutarto Agus selaku narasumber pada sosialisasi tersebut mengajak para peserta untuk cheklist (daftar periksa) sarana pengelolaan sampah mulai dari rumah, kampung atau dusun, ruang publik, dan tempat kerja. Hal tersebut memudahkan untuk mengetahui prasarana penunjang yang belum terfasilitasi dalam menunjang layanan pengelolaan sampah.

Lebih lanjut, Perda Kabupaten Sleman Nomor 4 Tahun 2015 tantang pengelolaan sampah rumah tangga menjadi pijakan dalam pengelolaan sampah secara paripurna. Di mana, pengurangan sampah dengan 3 R dan penanganan sampah dengan pemilahan menjadi kata kunci dalam penjabaran Perda tersebut.

Di samping itu, Perda ini pun mengakomodir pembentukan KSM di tingkat RT/RW/Padukuhan. Kemudian metode pengelolaan sampah yang disepakati, kerja sama dengan pemerintah dan kerja sama dengan pihak ke-3 (pengepul).

“Perda Nomor 4 Tahun 2015 ini semangatnya sama dengan SE Nomor 0350 Tahun 2024 tentang pengurangan dan penanganan sampah,” jelas Sutarto.

Diketahui, Padukuhan Kowanan sendiri belum mempunyai lembaga pengelola sampah. Untuk itu, sosialisasi ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat para pengelola sampah dan membentuk KPSM di wilayah Kowanan.  (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Resmi Dilantik, IGABA Siap Berikan Layanan Pendidikan Anak Usia Dini yang Optimal

Sleman – Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Sleman melantik melantik pengurus baru IGABA (Ikatan Guru aisyiyah Bustanul Athfal) periode 2025 – 2029, di aula BAPPEDA Pemda Sleman, Rabu (5/6/2025).

Acara itu dihadiri oleh Bunda PAUD Kabupaten Sleman, Mila Harda Kiswaya, perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Sugeng Syaifullah, perwakilan Kemenag Sleman Ali Affandi, Wakil IGABA DIY Kus Indarti, dan tamu undangan lainnya.

Ketua Aisyiyah Kabupaten Sleman, Hanik Rosyada menyampaikan bahwa Aisyiyah adalah pelopor pendidikan kaum perempuan dan anak.

“Aisyiyah adalah pelopor pendidikan kaum perempuan dan anak. Sejak tahun 1919 sebelum negeri ini merdeka Nyi Ahmad Dahlan telah mengawali perkumpulan Sopo Tresno Wanito dan kelompok sinau (belajar) anak-anak yang disebut Frobel,” ujarnya.

Dalam perkembangannya di Sleman, telah ada 199 lembaga PAUD dan TK, bahkan PP Aisyiyah baru saja meresmikan proyek pembangunan untuk mendirikan TK ABA Semesta di wilayah Bodeh, Ambarketawang, Gamping. TK ABA Semesta merupakan layanan pendidikan anak usia dini yang global dan multi baik bahasa, budaya, serta agama, namun tetap menuju akhlak mulia cerdas berdasarkan Al Qur’an dan Sunah Rasul.

Bunda PAUD, Mila Harda Kiswaya pada kesempatan itu menuturkan generasi emas yang ditargetkan tahun 2045 dapat terwujud dengan adanya peran dan perjuangan TK ABA.

“Di telapak kakimu terbentang surga, Ditanganmulah nasib bangsa mari beramal dan berdarma bakti penuh karunia,” katanya.

Selanjutnya pada momen itu, dilantik Ketua Majelis PAUDASMEN, Naryatun, Ketua TK ABA Dadapan Godean, Retnoningsih beserta jajarannya. (Arief Hartanto / KIM Turi)




Panen Raya Jagung Serentak se-Indonesia, Danang: Pemkab Sleman Siap Beri Dukungan Lahan dan Pendampingan

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, mengikuti panen raya jagung serentak yang diadakan oleh Polresta Sleman, Kamis (5/6), di Trimulyo, Sleman. Kegiatan ini merupakan program yang diinisiasi Polri bekerja sama dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia dalam rangka mendukung program ketahanan pangan 2025.

Panen raya serentak ini digelar secara hybrid oleh 36 provinsi. Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II dari Sanggau Ledo, Bengkayang, Kalimantan Barat, dan disaksikan melalui zoom oleh wilayah lainnya.

Kapolresta Sleman, Kombes Pol Edy Setyanto Erning Wibowo, menyebutkan penanaman jagung di Kabupaten Sleman dilakukan di lahan tidur seluas 1,6 hektar yang ada di Kalurahan Trimulyo. Adapun jenis jagung yang ditanam adalah varietas Jakarin 1. Ia memprediksi hasil panen jagung kali ini sebanyak 8 ton lebih.

“Ini (jagungnya) diserap oleh Bulog,” jelasnya.

Sementara itu, Danang menyambut baik program penanaman jagung ini. Terlebih dengan memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan yang produktif. Sehingga diharapkan dapat menunjang ketahanan pangan, khususnya di Kabupaten Sleman.

“Tentu Pemkab Sleman akan selalu mendukung program ini. Kami siap sediakan lahan jika dibutuhkan, kami siap berikan pendampingan melalui Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan,” kata Danang.




Hadapi Perubahan Iklim, UGM Pasang Pemanen Air Hujan

Sleman – Sebagai bagian dari skema kolaboratif antara akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas lokal dalam pemanfaatan teknologi tepat guna berbasis lokal guna menghadapi tantangan perubahan iklim, mewujudkan ketahanan pangan, dan menjaga ketersediaan air bersih di kawasan rawan kekeringan, maka Tim Magister Manajemen Bencana (MMB) Universitas Gadjah Mada menggandeng Sekolah Air Hujan Banyu Bening Kabupaten Sleman melakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa pemasangan alat pemanen air hujan di salah satu rumah warga Dusun Pakel, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Rabu (5/6/2025).

Musim kemarau panjang selalu menjadi momok bagi warga Tepus, Gunungkidul. Wilayah yang dikenal kering ini seringkali kekurangan air bersih, memaksa sebagian warga membeli air dalam jeriken atau menempuh jarak jauh untuk mengakses sumber air. Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar slogan akademik, tetapi tindakan nyata yang memberi dampak langsung bagi kehidupan warga.

Program desa/kalurahan binaan bertajuk ‘Optimalisasi Pemanenan Air Hujan Untuk Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat Dalam Mitigasi Bencana’ ini dipimpin oleh Retnadi Heru Jatmiko selaku Ketua Pengabdian, didampingi Dina Ruslanjari bersama tiga mahasiswa Magister Manajemen Bencana Universitas Gadjah Mada: Muhamad Irfan Nurdiansyah, Nabilla Auriel Fajarian, dan Silfani.

Dalam sambutannya, Retnadi menekankan bahwa kegiatan ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-6, yaitu menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua, dan tujuan ke-13 yakni mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya.

“Kami melihat bahwa tantangan global terkait air dan pangan bisa dijawab dengan pendekatan berbasis komunitas seperti ini. Program ini menjadi upaya nyata dalam mendukung ketahanan air dan pangan masyarakat yang rentan terhadap bencana kekeringan,” terangnya.

Pemasangan alat pemanen air hujan ini dilakukan melalui pendekatan partisipatif. Tim MMB Universitas Gadjah Mada tidak hanya datang membawa teknologi, tetapi juga melibatkan warga sejak tahap perencanaan hingga pemasangan. Warga diajak memahami pentingnya konservasi air dan cara merawat sistem yang dipasang. Proses ini bukan hanya soal membangun instalasi, melainkan membangun kesadaran kolektif akan kemandirian pengelolaan sumber daya air.

Adapun, materi sosialisasi diberikan oleh Sri Wahyuningsih selaku Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Tempursari, Kabupaten Sleman yang berfokus pada inovasi elektrolisis air hujan untuk konsumsi rumah tangga. Ia mengatakan bahwa masyarakat Tepus sebenarnya telah memanen air hujan, namun metode yang digunakan belum memenuhi standar kesehatan karena sebagian besar penampungan air hujan yang dilakukan masyarakat masih terbuka.

“Hal ini memungkinkan masuknya kotoran dan hewan kecil ke dalam air, sehingga air yang digunakan belum layak konsumsi,” ucap Wahyuningsih.

Sebagai bagian dari kegiatan edukatif, dilakukan pengambilan sampel air dari beberapa rumah warga. Hasil pengukuran Total Dissolved Solids atau jumlah padatan terlarut dalam air menggunakan TDS meter menunjukkan bahwa air dari Perusahaan Air Minum Dukuh memiliki nilai 229 air hujan yang ditampung oleh masyarakat berkisar antara 51-59 ppm.

Menariknya, air hujan yang telah melalui alat pemanen dan sistem elektrolisis dari Banyu Bening menunjukkan angka TDS jauh lebih rendah, yaitu hanya 15 ppm. Hal ini menunjukkan kualitas air yang sangat baik dan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor. 492/Menkes/Per/IV/2010, yang menetapkan ambang batas maksimal TDS untuk air minum adalah 500 mg/l.

Sementara, perwakilan mahasiswa MMB UGM, Muhamad Irfan Nurdiansyah mengungkapkan bahwa pengalaman ini sangat berharga baginya. Sekaligus berharap, usai pemasangan alat pemanen air hujan, warga semakin sadar pentingnya menjaga kualitas air tampungan agar aman untuk dikonsumsi. Selanjutnya dapat secara mandiri mengelola sistem ini, bahkan mereplikasinya ke rumah-rumah yang lain.

Tim pengabdian dari Universitas Gadjah Mada merencanakan program ini berlanjut hingga akhir tahun 2025 dengan kegiatan berupa serangkaian pelatihan, evaluasi dampak, dan publikasi ilmiah sebagai luaran berkelanjutan. Harapannya, melalui model partisipatif ini, Desa Tepus bisa menjadi percontohan nasional dalam upaya menjawab tantangan krisis air bersih di wilayah karst. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Jelang Idul Adha 1446 H, JULEHA Sleman Tekankan Kehati-hatian saat Penyembelihan Hewan Qurban

Sleman – Jelang Hari Raya Idul Adha 1446 H, sejumlah pewakilan panitia qurban se-Kapanewon Berbah mengikuti sosialisasi teknik penyembelihan hewan qurban, yang berlangsung di Ruang Gumegah di Komplek Kantor Kapanewon Berbah, Rabu, (4/6/2025).

Juru Sembelih Halal (JULEHA) Kabupaten Sleman, Tri Hartanto Saputro selaku narasumber berpesan kepada panitia qurban se-Kapanewon Berbah, agar lebih berhati-hati dalam pelaksanakan penyembelihan hewan qurban.

“Kehati-hatian harus senantiasa dijaga terhadap potensi bahaya pada proses penyembelihan yang dapat terjadi dan dapat menimbulkan risiko bagi pekerja, antara lain tertendang sapi, jaga jarak dengan jangkauan kali belakang sapi, dan juga kemungkinan tersayat pisau, jangan terlalu dekat dengan sesama pekerja,” ujar Tri.

“Pengendaliannya adakan training kepada petugas penyembelihan, gunakan alat pelindung diri (APD) yang memadai, sarung tangan dan spatu boot, pelindung kepala. Pelindung diri bukan untuk mencegah kecelakaan tetapi untuk mengurangi keparahan kecelakaan,” sambuungnya.

Panewu Berbah, Djaka Sumarsono dalam sambutannya menyampaikan selamat datang dan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta dalam upaya meningkatkan kualitas pelaksanaan qurban.

“Terima kasih atas partisipasinya, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan qurban di masing-masing wilayah,” kata Djaka.

Di akhir acara, JULEHA Kabupaten Sleman menyampaikan sejumlah peralatan dan perlengkapan yang harus dimiliki juru sembelih, seperti pisau dan alat asah bilah. (M.A. Sanusi / KIM Tirto Gumregah Berbah).