Dosen UII: Energi Ibadah Jadi Penyangga Kesejahteraan Manusia

Sleman – Ibadah dalam Islam bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga memberi energi positif bagi kehidupan semesta. Hal ini disampaikan oleh dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), M. Husnaini, dalam Pengajian Malam Sabtu Pahing Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kalurahan Triharjo, Sleman, Jumat (13/6/2025).

Dalam tausiyahnya, Husnaini menguraikan bahwa setiap rukun Islam mengandung energi spiritual dan sosial yang menopang kesejahteraan manusia secara holistik.

“Syahadat adalah fondasi utama keberislaman. Ini adalah komitmen untuk menomorsatukan Allah dan menomorsekiankan dunia,” paparnya.

Ia menjelaskan bahwa syahadat menjadi titik balik dari obsesi duniawi seperti harta, jabatan, dan popularitas. Dengan syahadat, manusia diajak fokus kepada yang hakiki.

Sementara itu, shalat menurutnya adalah momen kontemplatif yang mendalam. Ia menjadi terapi jiwa untuk membentuk kepribadian utama dan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bahkan, ia menyebut, shalat dapat menjaga keseimbangan siklus alam semesta.

Berlanjut ke puasa, Husnaini menjelaskan bahwa ibadah ini merupakan proses sublimasi ruhani untuk mengosongkan diri dan menyatu dengan makna sejati kehidupan.

“Puasa membuat sistem jasmani-ruhani kita bermeditasi, dan melatih diri untuk tidak rakus terhadap kepemilikan yang belum tentu halal,” jelasnya.

Ia melanjutkan, zakat adalah manifestasi jasmani dari spiritualitas puasa. Zakat berperan dalam pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial.

“Zakat bukan semata kewajiban, tapi bentuk nyata peran sosial Islam. Ia mencegah ketimpangan dan memastikan tidak ada satu kelompok hidup dalam penderitaan, sementara yang lain bergelimang kekayaan,” tandasnya.

Sebagai penutup rukun Islam, haji menurut Husnaini adalah “pesta ruhani” yang merayakan keselamatan dan kemenangan spiritual. Ia menggambarkan haji sebagai gladi bersih menuju kematian, di mana manusia melepaskan atribut duniawi untuk kembali kepada Allah secara utuh.

“Haji mabrur adalah haji yang membersihkan sifat kebinatangan dan menumbuhkan sifat ketuhanan,” ungkapnya.

Di akhir ceramahnya, Husnaini menegaskan bahwa energi ibadah merupakan tiang penyangga kehidupan manusia. Selama manusia terus menjalin hubungan intim dengan Allah melalui ibadah yang sungguh-sungguh, maka murka Allah bisa ditangguhkan dan bumi tetap dilimpahi rahmat. (Athiful/KIM Depok)




Rezeki dalam Islam Tak Hanya Soal Harta dan Makanan

Sleman – Rezeki dalam pandangan Islam bukan semata pemberian berupa uang atau makanan, tetapi mencakup seluruh nikmat yang menopang kehidupan. Hal ini disampaikan Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), M. Husnaini, dalam ceramah di Masjid Darul Hikmah, Sembung, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Jumat (13/6/2025).

Menurut Husnaini, rezeki dapat berbentuk materi maupun nonmateri, seperti kesehatan, ilmu, keluarga yang harmonis, serta lingkungan yang baik. Ia membagi rezeki menjadi dua jenis, yaitu rizki kasbi dan rizki wahbi.

“Rizki kasbi adalah rezeki yang diperoleh lewat usaha dan kerja keras. Ia datang dari sifat rahman Allah, yakni berlaku untuk siapa pun yang mau berusaha, tanpa memandang kualitas keimanan,” jelasnya.

Ia menegaskan, kekayaan duniawi yang diperoleh melalui rizki kasbi bukan jaminan cinta Allah, karena harta bukan sesuatu yang bernilai di hadapan-Nya.

Adapun rizki wahbi, lanjut Husnaini, merupakan rezeki yang datang tanpa diduga dan tidak selalu melalui usaha.

“Ini bersumber dari sifat rahim Allah. Sering kali, rizki ini diberikan kepada orang-orang yang bertakwa, bukan karena profesinya, melainkan karena kualitas imannya,” tuturnya.

Husnaini mencontohkan, seorang pegawai rendahan bisa memiliki kekayaan berlimpah atau seorang kiai di desa tiba-tiba diberangkatkan haji oleh pemerintah.

Ia juga mengingatkan bahwa rezeki bukan hanya tentang kepemilikan materi. “Hidup dijauhkan dari maksiat, semangat dalam beribadah, anak-anak yang sehat dan cerdas, hingga lingkungan yang damai, itu semua adalah rezeki,” ujarnya.

Di akhir ceramah, Husnaini mengajak jamaah untuk meluruskan cara pandang tentang rezeki. “Mari kita mohon kepada Allah agar diberi rezeki yang halal, pasangan yang baik, anak-anak yang berbakti, dan hidup yang penuh berkah,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)




Pelatihan Olahan Bakso Berdayakan Penyandang Disabilitas Condongcatur

Sleman – Sebanyak 33 penyandang disabilitas dan pendamping mengikuti pelatihan pembuatan bakso dan olahan turunannya di Posko Destana Condongcatur, Jumat (13/6/2025). Kegiatan ini diinisiasi oleh Difa Mandiri Disabilitas Kalurahan Condongcatur sebagai upaya meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi difabel.

Materi pelatihan mencakup pembuatan bakso, tahu bakso, dan bakso tusuk. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap tahapan, mulai dari pengenalan bahan, teknik pembuatan, hingga pengemasan produk. Pelatihan ini bertujuan memberikan bekal keterampilan usaha rumahan yang dapat dikembangkan secara mandiri.

“Semangat mereka luar biasa. Saya bangga melihat antusiasme para penyandang disabilitas dalam mengikuti kegiatan ini,” ujar Setyawati Marheni, Ketua PPDI Condongcatur.

Salah satu peserta, Iptidayatun, mengaku senang mendapat kesempatan belajar membuat olahan bakso.

“Pelatihan ini menambah keterampilan kami. Harapannya bisa menjadi peluang usaha untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.

Senada dengan itu, pendamping disabilitas Partini menilai pelatihan ini memberi harapan baru bagi difabel.

“Meski memiliki keterbatasan, bukan berarti tidak bisa aktif dan produktif. Dengan keterampilan ini, mereka bisa mandiri secara ekonomi,” ungkapnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun jiwa kewirausahaan inklusif dan berkelanjutan bagi penyandang disabilitas di Condongcatur. (Tri Suhartati/KIM Depok)




BPBD Sleman Bekali Siswa MAN 4 dengan Pengetahuan Mitigasi Bencana

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memberikan edukasi kebencanaan kepada 205 peserta kegiatan Scout Camp: Building Future Leadership MAN 4 Sleman. Kegiatan berlangsung pada Kamis (12/6/2025) di Bumi Perkemahan Karangasri, Karanggeneng, Purwobinangun, Pakem, Sleman.

Dalam sesi edukasi, Tim BPBD Sleman yang dipimpin Nur Cahyo didampingi Slamet T. dan Indro menyampaikan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi berbagai jenis bencana. Hal ini mengingat Indonesia berada di kawasan Ring of Fire dan daerah tropis yang rawan gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, angin puting beliung, banjir, serta tanah longsor.

“Bencana bisa terjadi kapan saja. Maka setiap siswa perlu memahami tanda-tanda awal bencana dan tahu langkah penyelamatan diri,” ujar Nur Cahyo.

Ia menekankan bahwa saat terjadi gempa atau angin kencang, siswa harus segera menjauhi bangunan dan benda yang berpotensi jatuh, melindungi kepala dengan benda seperti buku atau tas, serta tetap tenang. Pengetahuan dasar ini dinilai penting untuk mengurangi risiko korban.

Selain itu, BPBD juga mengenalkan konsep Tas Siaga Bencana (TSB), yakni tas berisi perlengkapan penting yang dapat digunakan saat terjadi bencana. Isi TSB meliputi perlengkapan P3K, dokumen penting, peluit, lampu darurat, pakaian dalam untuk dua hari, makanan ringan, dan power bank.

“TSB sebaiknya disiapkan oleh setiap keluarga dan disimpan di tempat yang mudah dijangkau. Ini bisa menyelamatkan nyawa dan dokumen penting saat bencana,” tambah Nur Cahyo.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyimpan dokumen seperti Kartu Keluarga, akta kelahiran, dan ijazah dalam kondisi aman agar tidak rusak atau hilang saat evakuasi.

Materi disampaikan secara interaktif. Tim BPBD mengajak dialog dan memberikan hadiah kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan seputar kesiapsiagaan bencana.

Edukasi ini diharapkan meningkatkan kesadaran siswa dan keluarganya terhadap pentingnya mitigasi bencana sejak dini. (Edy/KIM Moyudan)




KIM Kertomandiri dan Kapanewon Turi Jalin Sinergi Perkuat Jaringan Publikasi

Sleman – Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kertomandiri Turi menjalin sinergi dengan Kapanewon Turi untuk memperkuat publikasi kegiatan sosial dan ekonomi wilayah. Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi bersama Tim Media Sosial Kapanewon Turi yang digelar di Kedai Sajian Ndeso, Embung Sangurejo, Wonokerto, Turi, pada Jumat (13/6/2025).

Sekretaris KIM Kertomandiri Turi, Suharno BA, menyambut baik ajakan kolaborasi tersebut. Ia menyatakan bahwa KIM siap mendukung publikasi kegiatan hingga menjangkau level kabupaten, nasional, bahkan internasional.

“Kami siap menjadi bagian dari upaya memperluas eksposur kegiatan dan potensi Turi agar lebih dikenal luas,” ungkap Suharno.

KIM Kertomandiri sendiri memiliki sejarah panjang, berawal dari kegiatan Kelompencapir dan berkembang menjadi Kelompok Informasi dan Komunikasi Masyarakat (KIKM) pascareformasi. Kini, KIM bertransformasi menjadi KIM Turi Kertomandiri yang anggotanya berasal dari berbagai kalangan, termasuk pelaku UMKM.

Suharno menambahkan, keberadaan KIM telah mendapatkan payung hukum melalui Peraturan Bupati Sleman Nomor 51 Tahun 2017. Hal ini menjadi dasar penganggaran kegiatan KIM melalui dana kapanewon, seperti untuk pertemuan rutin dan fasilitasi lomba tingkat kabupaten maupun provinsi.

Panewu Anom Turi, M. Yunan Nurtrianto, mengapresiasi kehadiran serta komitmen KIM Kertomandiri dalam mendukung publikasi wilayah.

“Koordinasi ini diharapkan menjadi langkah awal sinergi yang optimal untuk meningkatkan literasi dan ekspos kegiatan di Kapanewon Turi, baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat,” ujar Yunan.

Menurutnya, potensi Turi sangat besar dan perlu terus diekspos, termasuk melalui media sosial dan situs resmi kapanewon. Ia menambahkan bahwa pada 2024, pelayanan publik Kapanewon Turi berada di peringkat 33, dan targetnya tahun ini bisa meningkat.

Sinergi antara Kapanewon dan KIM Kertomandiri diharapkan dapat memperkuat arus informasi publik dan membawa kemajuan bersama bagi seluruh elemen masyarakat Turi. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)